Share

WAI Part 03

Bismillahirrahmanirrahim.

"Apa kamu bilang? Ibu sakit! tadi pagi ibu baik-baik sajaaku tinggal. Kenapa tiba-tiba sakit?"

"Tidak tahu Mas,” lirih Nuri pelan.

“Jangan bercanda kamu, tidak mungkin ibu tiba-tiba sakit,tanpa sebab. Pasti telah terjadi sesuatu pada ibu, jatuh atau apa gitu, katakan sebenarnya Nuri, apa yang terjadi pada ibu,  kenapa ibu bisa sakit.”

“Aku tidak mengerti Mas, aku tidak berbuat yang aneh-anehpada ibu. Makanan yang disantap ibu juga sehat. Ibu juga tidak jatuh.” Sahut Nuriberkelit.

“Lalu ibu sakit apa?”

“Sakit perut Mas, ibu tidak berhenti memegang perutnya.” LaporNuri seraya terisak kecil.

“Jangan-jangan mag ibu kambuh, tadi saat mas pergi, kamusudah pastikan ibu sarapan?”

“Jangan-jangan kamu lupa mengingatkan ibu.”

“Tidak Mas, tadi ibu menolak sarapan bareng aku, katanyasebentar lagi. Setelah sarapan, aku tinggal ke kamar. Sedangkan ibu berada ditaman belakang sedang menyiram tanaman. Entah ibu sudah sarapan apa belum, akutidak tahu pasti Mas. Ibu bilang akan makan kalau sudah lapar. Apa yangdilakukan ibu setelah itu, aku tidak tahu lagi. Tak lama kemudian,  tiba-tiba ibu teriak bilang sakit.”

Sandiwara apa lagi yang kamu mainkan Nuri, pura-puramenangis, padahal kamu sendiri yang menyebabkan ibu seperti ini.

Kamu itu cocoknya jadi penulis, pintar mengarang cerita.

"Buruan susul ke rumah sakit Mas, kasihan melihat ibusangat menderita," pintanya dengan deraian air mata.

Preet....

Kasihan katanya, tadi kenapa melarang ibu makan.

“Iya, Rumah Sakit mana?”

Setelah mendapatkan jawaban, aku segera mematikan sambungantelepon dan merapikan berkas kerja dan menyimpannya di lemari.

Tanpa membuang waktu, aku segera berangkat ke rumah sakitBunda, tempat yang diberitahu Nuri tadi. Aku mengemudi mobil dengan kecepatanpenuh, jangan sampai ibu pergi dan meninggalkanku untuk selamanya. Tak lupa akumengabari Bia, supaya menyusul ke rumah sakit.

Tak lama kemudian. Kini aku telah berada di ruang tempat ibudirawat. Dokter baru saja selesai memeriksa.

"Bagaimana kondisi ibu saya Dok?"

"Mag ibu anda kambuh, sepertinya beliau telat makan.Alhamdulillah sekarang beliau telah melewati masa kritis, tolong lebihperhatikan makannya. Jangan sampai telat lagi," nasehat dokter sebelumpergi.

“Terima kasih banyak Dok.” Sahutku ramah. Kemudian berpalingke arah Nuri.

Aku pandangi Nuri dengan perasaan marah dan kecewa. Tegasekali dia melarang ibu makan. Karena perbuatannya, ibu harus menginap di sini.Rasanya mau kucakar saja mukanya, melampiaskan amarah yang sudah sampai diubun-ubun. Namun sayang, aku tak memiliki keberanian bertindak karena belum adabukti.

Meskipun tadi pagi, aku menyaksikan langsung, bisa saja Nuriberkilah dan minta pembenaran pada ibu.

"Nuri! Kamu dengar kata dokter tadi bukan, kenapa ibusampai telat makan. Apa kamu tidak mengingatkan ibu supaya sarapan."

"Sudah Mas, tapi ibu menolaknya."

"Kenapa? Lauknya tidak enak?"

"Kata ibu, beliau tidak berselera," dalih Nuriberalasan.

Entah kebohongan apalagi yang Nuri tunjukkan di depanku.Padahal sangat jelas, Nuri yang tidak mengizinkan ibu makan. Aku lihat sendiri,bagaimana wanita tua itu memohon supaya diizinkan makan.

"Nuri, rasanya tidak mungkin ibu bilang tidakberselera, sejak kapan ibu pilih-pilih makanan. Setahu ku, ibu akan memakan apasaja tanpa pantangan."

“Mungkin ibu lagi kurang sehat Mas, aku telah berusahamembujuk ibu, tapi ibu tetap tidak mau makan.”

Kulihat pergerakan di tempat tidur, rupanya ibu bangunmendengar pembicaraan kami.

“Kalau Mas tidak percaya, tanyakan saja pada ibu. Itu lihat!ibu sudah bangun.”

“Bu, kenapa mag-Nya sakit lagi. Ibu telat makan,” tanyakuseraya mengusap bahu ibu pelan. Berharap beliau berkata jujur.

“Ibu tidak berselera makan Nak, entah kenapa belakangan iniibu merasa tidak enak badan.”

“Nah! Mas dengar sendiri-kan perkataan ibu.” Ketus Nuri.

Ya Allah, lagi dan lagi ibu tidak mau berterus terang. ApaNuri selalu mengancamnya dan harus berkata sesuai instruksinya. Aku semakincuriga dengan sikap ibu dan Nuri, bisa-bisanya mereka bersekongkol. Akupura-pura saja sementara waktu, sampai aku dapatkan bukti kuat, saat itu tibakamu tidak akan bisa berkilah. Aku ikuti permainanmu Nuri.

“Baiklah Bu, sekarang ibu istirahat saja.”

Suasana hening sejenak.

Tak lama berdiam diri, seorang perawat masuk membawa sebuahnampan yang berisi makanan untuk ibu.

“Maaf Pak, Bu, ini saya anterin makanan untuk pasien, tolongdimakan sekarang juga. Itu pesan Dokter,” ucap perawat seraya meletakkan nampandi nakas di sebelah kanan tempat tidur.

“Baik Sus, terima kasih.”

Nuri serta merta mengambil piring yang berisi nasi lembekalias bubur dan menyiramnya dengan sayur bening. “Biar aku yang suapi ibu Mas,”pinta wanita licik itu.

Aku hanya mengangguk lemah. Sesekali mataku menatapinteraksi Nuri dan ibuku.

“Ayo Bu dimakan, meskipun ibu tidak berselera, kali iniharus ibu paksakan. Biar ibu segera keluar dari rumah sakit.”

“Iya Nak, sahut ibu lemah.”

Nuri mulai menyuapi ibu dengan setengah hati terpaksakayaknya. Itu dilakukannya, karena ada aku di depannya. Andai aku tidak ada disini, entah apa yang diperbuatnya. Bisa saja ibu dipaksa makan sendiri.

Tak lama kemudian, terdengar pintu di dorong dari luar. Biamuncul dengan raut cemas dan khawatir.

"Mas! Kenapa dengan ibu?" Tanyanya langsungmendekati tempat tidur ibu.

"Mag ibu kambuh." Sahutku pelan.

“Kok bisa, emang Mbak Nuri tidak mengingatkan ibu untuk sarapan!”

Nuri kesal dituduh oleh Bia, saking kesalnya sendok jatuhmental ke bawah.

“Apaan sih kamu Bia, datang-datang main tuduh sembarangan. Bukanmbak tidak mengingatkan ibu, itu karena ibu sedang tidak berselera makan saja.”

Nuri, ada yang perlu aku bicarakan dengan Bia sebentar.Tolong suapi ibu sampai selesai ya. Paksa ibu untuk menghabiskan makannya.

“Baik Mas,” sahut Nuri pelan.

"Kamu ikut Mas sebentar," tanpa menunggu jawabanBia, aku langsung menarik tangan adikku untuk ikut denganku. Setelah cukupjauh, kutatap wajah Bia dengan sendu.

"Kenapa Mas? Mengapa menatapku begitu?"

"Kamu gak datang ke rumah siang tadi, seperti yang Masinstruksikan."

Bia menggeleng dengan raut heran.

"Kenapa? Apa perkataan Mas kurang jelas."

"Maaf Mas, aku belum sempat, karena sedangkuliah."

"Kamu lebih mementingkan kuliahmu dari pada kesehatanibu. Kalau saja kamu tadi siang datang ke rumah, maka ibu tidak akan dibawa kesini. Mag ibu tidak akan kambuh."

"Aku jadi tidak mengerti, kenapa Mas justru memintakudatang ke rumah. Kenapa tidak meminta Mbak Nuri saja yang melakukan."

“Mbak Nuri bisa meminta ibu makan, kenapa harus aku yangpulang.” Cerocos Bisa melanjutkan.

“Emangnya Mbak Nuri tidak masak, hingga perlu aku bawakanmakanan.”

“Bukan begitu, harusnya kamu kerjakan dulu permintaan Mas.”

Aku menyugar rambutku kasar. Bia tidak mau disalahkan atasapa yang terjadi pada ibu.

Aku mengerti, mana Bia tahu apa yang selama ini di deritaibu. Aku yang tinggal se-rumah saja, baru mengetahui hari ini. Apatah Bia yangtinggal jauh dari ibu.

"Kamu seharusnya bilang Dek, kalau sedang kuliah. Masbisa minta tolong orang lain."

"Sebenarnya ada apa sih, Mas. Jangan membuatku bingung,”tanya Bia mengernyitkan kening.

"Baiklah! Mas akan cerita. Tapi tolong rahasiakan duludari Mbak Nuri, jangan beberkan padanya."

Aku ceritakan semua hal yang aku saksikan dan aku lihat dirumah pagi tadi, tidak ada yang aku tutupi.

“Apa Mas, tidak mungkin Mbak Nuri setega itu. Selama ini akumelihat ibu sangat menyayangi Mbak Nuri. Mana mungkin Mbak Nuri sanggupmelakukan hal serendah itu.

“Tapi itulah kenyataannya Dek.”

Bersambung...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status