Home / Romansa / Wanita Kelas Atas Milik sang CEO / Bab 28: A Striking Name

Share

Bab 28: A Striking Name

Author: Geesandrj
last update Last Updated: 2025-06-09 11:58:29

Dua hari setelah pertemuan tak terduga itu, nama Ayunda Betari tiba-tiba muncul di grup internal Stardust. Bukan sebagai cleaning service. Bukan pula sebagai tamu misterius Adrian. Tapi sebagai model utama untuk kampanye terbaru yang digadang-gadang akan mengubah arah brand Stardust secara besar-besaran.

Amanda nyaris menjatuhkan cangkir kopinya saat membaca briefing internal itu. Foto-foto awal Ayunda sudah masuk ke sistem—bukan yang sudah di-retouch, tapi raw, dan bahkan dalam bentuk video be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 43. Yang Selalu Terlupakan

    Ruang rawat itu masih sama seperti terakhir kali Ayunda datang—putih pucat, bau disinfektan samar-samar, dan jendela kecil di pojok yang menatap ke taman rumah sakit. Di kursi dekat tempat tidur, Adinda sedang menyuapi ibunya bubur ayam, sementara suara pelan dari TV menggantung di udara, menampilkan program berita hiburan.Ayunda berdiri di ambang pintu. Tangannya membawa kantong besar berisi buah-buahan. Tapi langkahnya ragu. Ia butuh beberapa detik sebelum akhirnya melangkah masuk.“Eh, Kak!” Adinda menyambut dengan suara pelan, lalu meletakkan sendok. “Ibu bangun sejak tadi. Tapi agak bingung tadi waktu aku bilang Kakak mau datang.”Ayunda mengangguk pelan, mencoba tersenyum. “Nggak apa-apa.”Ibunya menoleh pelan, matanya sudah mulai redup dan berkabut karena usia dan penyakit. Tapi begitu melihat Ayunda, ekspresi di wajahnya berubah.Bukan karena mengenali.Tapi karena … mengira.“Eh,” gumam ibu mereka. “Itu … yang di TV…”Ayunda mendekat pelan. “Bu, ini Ayunda. Kakak, Bu.”Tapi

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 42. Cahaya yang Tak Menyerah

    Studio masih dipenuhi sisa suara tawa, kru bersiap membereskan peralatan setelah wawancara eksklusif dengan MOST Live. Lampu sorot masih menyala, membiaskan bayangan lembut di wajah Ayunda yang duduk di kursi tengah. Nafasnya pelan, tapi jantungnya belum berhenti berdebar.Wawancara itu berjalan mulus—setidaknya sampai segmen terakhir. Sang host, dengan nada hangat namun penuh rasa ingin tahu, menanyakan hal yang selama ini tak pernah benar-benar Ayunda ceritakan pada publik.“Ayunda, kamu tampil luar biasa di dunia modeling. Tapi banyak orang penasaran, kamu berasal dari mana? Sepertinya kamu bukan dari latar belakang fashion?”Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk. Untuk sesaat, Ayunda menelan ludah. Pandangannya sempat mencari arah, tapi tak ada tempat untuk bersembunyi. Kamera menyorot wajahnya, menunggu.“Aku… bukan dari dunia modeling,” ujarnya akhirnya, suara tenang tapi jujur. “Aku dulu kerja apa saja yang bisa aku lakukan. Mulai dari jaga toko, jadi cleaning service, bahkan

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 41. Yang Diam-diam Kita Tahu

    “Jadi mereka berdua masih di studio?” tanya Boy sambil menyeruput minumannya.Amanda mengangguk sambil menggigit croissant setengah hati. “Masih. Katanya tinggal beresin properti. Tapi itu udah satu jam lalu.”Mereka duduk di lounge kecil lantai enam, tempat favorit staf untuk kabur dari tekanan kantor. Dari tempat duduk mereka, jendela kaca menghadap ke arah studio yang sudah sepi, tapi lampunya masih menyala samar.Boy meletakkan gelasnya. “Aman nggak kalau gue bilang… kayaknya mereka akhirnya mulai nggak jaim satu sama lain?”Amanda menyeringai. “Lo baru sadar sekarang?”“Bukan. Gue baru mengakui sekarang.” Boy memutar bola matanya dramatis. “Dan gue cukup dewasa buat bilang… mereka cocok. Tapi juga cukup realistis buat bilang, ini bakal ribet banget.”Amanda tertawa pelan. “Setidaknya, Adrian kelihatan lebih hidup sekarang. Dan Ayunda… dia kayak versi dirinya yang dulu, tapi lebih kuat.”Boy menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Gue sempat mikir, Ayunda nggak akan pernah buka hati lagi.

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 40. Diam yang Tak Lagi Asing

    Studio sudah sepi. Kru dan tim kreatif sudah pulang lebih dulu. Bahkan Amanda dan Boy yang biasanya paling betah lembur sudah pamit satu jam lalu, dengan senyum menggoda yang tidak bisa Ayunda lupakan.Tinggal Adrian dan Ayunda.Lampu utama sudah dipadamkan. Hanya pencahayaan lembut dari pojok ruangan yang menyala, cukup untuk menerangi sisa-sisa properti yang belum dibereskan.Adrian sedang berdiri di dekat rak bahan kain, tangannya menyentuh sampel tekstur yang digunakan untuk gaun kampanye. Ayunda berdiri beberapa meter darinya, masih mengenakan blouse satin putih dan celana linen berpotongan tinggi.“Kamu nggak pulang?” tanya Ayunda pelan, mencoba memecah hening.Adrian menoleh, suaranya tenang. “Aku bisa tanya hal yang sama ke kamu.”Ayunda tersenyum tipis. “Aku cuma … belum pengen pulang.”Adrian menatapnya sejenak. “Karena kamu takut merasa sendiri lagi, kan?”Ayunda terdiam.Jawaban itu terlalu tepat. Terlalu dalam.Dia ingin menyangkal, tapi tidak ada gunanya. Jadi dia hanya

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 39. Sorot yang Terlalu Terang

    Sejak kemunculan majalah MOST edisi eksklusif dengan wajah Ayunda di sampul depannya, dunia seakan mulai berputar lebih cepat. Undangan wawancara datang hampir setiap hari—dari stasiun TV nasional hingga kanal YouTube independen yang naik daun. Semua ingin tahu siapa wanita yang bisa mengguncang industri fashion dalam semalam.Amanda sibuk memilah-milah permintaan yang masuk. Boy sibuk memilih outfit mana yang layak untuk sesi live berikutnya. Ayunda… sibuk mengatur napasnya.“Aku masih merasa ini semua mimpi,” kata Ayunda sambil duduk di sofa ruang tunggu, memandangi layar ponsel yang dipenuhi notifikasi.Amanda menoleh dari mejanya. “Kamu harus mulai percaya. Kamu ada di MOST, Yun. Itu salah satu fashion bible paling elit di Asia Tenggara.”“Dan mereka bilang ini belum puncaknya,” tambah Boy, masuk dengan secangkir kopi yang ditaruhnya di hadapan Ayunda. “Kamu belum lihat video dokumenter pendek yang mereka tayangkan tadi pagi, kan?”Ayunda menggeleng pelan. “Belum. Aku belum berani

  • Wanita Kelas Atas Milik sang CEO   Bab 38. Perasaan yang Perlahan Luruh

    Mereka tidak langsung bicara lagi setelah itu. Hanya ada denting sendok di gelas anggur, suara-suara samar dari meja lain, dan jazz Nina Simone yang seperti menyelinap masuk ke dada.Ayunda menarik napas pelan, lalu memainkan lipatan serbet di pangkuannya.“Kamu tahu nggak,” ujarnya akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan, “waktu kamu bilang kamu suka aku dulu … aku ngerasa takut.”Adrian menoleh, keningnya berkerut lembut. “Takut?”Ayunda mengangguk pelan. “Karena aku pikir, kalau aku percaya kamu, aku bisa kalah. Dan aku benci kalah. Apalagi … kalah sama perasaan sendiri.”Adrian tersenyum miring. “Padahal kamu udah sering bikin aku kalah dalam debat, hukuman, dan kecurian tempat parkir.”“Lagian,” lanjut Ayunda tanpa menggubris lelucon itu, “kamu terlalu bebas. Terlalu … acak. Aku nggak tahu harus naruh kepercayaan itu di mana.”“Sekarang kamu tahu?”Ayunda menatapnya. Wajah Adrian masih sama seperti dulu—t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status