MasukTempus fugit adalah sebuah tempat untuk menghabiskan malam bersama deretan wanita terbaik. Waktu akan berlalu, tapi masalah tidak akan berlalu jika tidak diselesaikan. Setelah ayahnya kabur dan meninggalkan utang besar, Ayunda Betari telah menumbuhkan kebencian khusus terhadap laki-laki. Namun, pekerjaan dengan gaji terbaik yang bisa dia dapatkan adalah di kelab malam. Tak ada yang mengira, Ayunda yang membenci laki-laki, bekerja sebagai Miss A di kelab malam. Ia memasuki kehidupan malam sebagai seorang wanita yang elegan, cantik dan menawan untuk menghibur pria dengan minum, berbicara dan menemani mereka. Suatu malam, saat menemani pelanggannya, Ayunda bertemu dengan Adrian Laksana, musuh bebuyutannya di SMA. Waktu memang sudah lama berlalu. Namun, dendam itu masih meronta untuk diluapkan. Adrian perlahan-lahan menjadi pelanggan tetap dan—menggodanya. Akankah Ayunda bertahan menghadapi Adrian—lelaki sinting yang kerap kali mempermainkan wanita?
Lihat lebih banyakRuang rawat itu masih sama seperti terakhir kali Ayunda datang—putih pucat, bau disinfektan samar-samar, dan jendela kecil di pojok yang menatap ke taman rumah sakit. Di kursi dekat tempat tidur, Adinda sedang menyuapi ibunya bubur ayam, sementara suara pelan dari TV menggantung di udara, menampilkan program berita hiburan.Ayunda berdiri di ambang pintu. Tangannya membawa kantong besar berisi buah-buahan. Tapi langkahnya ragu. Ia butuh beberapa detik sebelum akhirnya melangkah masuk.“Eh, Kak!” Adinda menyambut dengan suara pelan, lalu meletakkan sendok. “Ibu bangun sejak tadi. Tapi agak bingung tadi waktu aku bilang Kakak mau datang.”Ayunda mengangguk pelan, mencoba tersenyum. “Nggak apa-apa.”Ibunya menoleh pelan, matanya sudah mulai redup dan berkabut karena usia dan penyakit. Tapi begitu melihat Ayunda, ekspresi di wajahnya berubah.Bukan karena mengenali.Tapi karena … mengira.“Eh,” gumam ibu mereka. “Itu … yang di TV…”Ayunda mendekat pelan. “Bu, ini Ayunda. Kakak, Bu.”Tapi
Studio masih dipenuhi sisa suara tawa, kru bersiap membereskan peralatan setelah wawancara eksklusif dengan MOST Live. Lampu sorot masih menyala, membiaskan bayangan lembut di wajah Ayunda yang duduk di kursi tengah. Nafasnya pelan, tapi jantungnya belum berhenti berdebar.Wawancara itu berjalan mulus—setidaknya sampai segmen terakhir. Sang host, dengan nada hangat namun penuh rasa ingin tahu, menanyakan hal yang selama ini tak pernah benar-benar Ayunda ceritakan pada publik.“Ayunda, kamu tampil luar biasa di dunia modeling. Tapi banyak orang penasaran, kamu berasal dari mana? Sepertinya kamu bukan dari latar belakang fashion?”Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk. Untuk sesaat, Ayunda menelan ludah. Pandangannya sempat mencari arah, tapi tak ada tempat untuk bersembunyi. Kamera menyorot wajahnya, menunggu.“Aku… bukan dari dunia modeling,” ujarnya akhirnya, suara tenang tapi jujur. “Aku dulu kerja apa saja yang bisa aku lakukan. Mulai dari jaga toko, jadi cleaning service, bahkan
“Jadi mereka berdua masih di studio?” tanya Boy sambil menyeruput minumannya.Amanda mengangguk sambil menggigit croissant setengah hati. “Masih. Katanya tinggal beresin properti. Tapi itu udah satu jam lalu.”Mereka duduk di lounge kecil lantai enam, tempat favorit staf untuk kabur dari tekanan kantor. Dari tempat duduk mereka, jendela kaca menghadap ke arah studio yang sudah sepi, tapi lampunya masih menyala samar.Boy meletakkan gelasnya. “Aman nggak kalau gue bilang… kayaknya mereka akhirnya mulai nggak jaim satu sama lain?”Amanda menyeringai. “Lo baru sadar sekarang?”“Bukan. Gue baru mengakui sekarang.” Boy memutar bola matanya dramatis. “Dan gue cukup dewasa buat bilang… mereka cocok. Tapi juga cukup realistis buat bilang, ini bakal ribet banget.”Amanda tertawa pelan. “Setidaknya, Adrian kelihatan lebih hidup sekarang. Dan Ayunda… dia kayak versi dirinya yang dulu, tapi lebih kuat.”Boy menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Gue sempat mikir, Ayunda nggak akan pernah buka hati lagi.
Studio sudah sepi. Kru dan tim kreatif sudah pulang lebih dulu. Bahkan Amanda dan Boy yang biasanya paling betah lembur sudah pamit satu jam lalu, dengan senyum menggoda yang tidak bisa Ayunda lupakan.Tinggal Adrian dan Ayunda.Lampu utama sudah dipadamkan. Hanya pencahayaan lembut dari pojok ruangan yang menyala, cukup untuk menerangi sisa-sisa properti yang belum dibereskan.Adrian sedang berdiri di dekat rak bahan kain, tangannya menyentuh sampel tekstur yang digunakan untuk gaun kampanye. Ayunda berdiri beberapa meter darinya, masih mengenakan blouse satin putih dan celana linen berpotongan tinggi.“Kamu nggak pulang?” tanya Ayunda pelan, mencoba memecah hening.Adrian menoleh, suaranya tenang. “Aku bisa tanya hal yang sama ke kamu.”Ayunda tersenyum tipis. “Aku cuma … belum pengen pulang.”Adrian menatapnya sejenak. “Karena kamu takut merasa sendiri lagi, kan?”Ayunda terdiam.Jawaban itu terlalu tepat. Terlalu dalam.Dia ingin menyangkal, tapi tidak ada gunanya. Jadi dia hanya
“Apa menjadi model untukmu ... bisa membebaskan aku?” Pertanyaan wanita itu kadang tidak pernah terduga dan terlalu mengejutkan—to the point.Adrian menatap wanita itu begitu serius, bahkan lebih dari serius.“Reuni denganmu … membuatku bertanya-tanya tentang kebebasan. Sementara aku pernah terbuang s
Malam ini, Adrian tak datang lagi.Ayunda memastikan itu berkali-kali di ponselnya. Laman itu sudah sekian kali ia refresh, tapi tidak ada daftar klien lain yang masuk. Sementara itu, Venus sudah memanggilnya untuk menemui klien selanjutnya. Sepertinya ini klien terakhir. Sudah lewat tengah malam d
“Kamu tegang sekali.” Adrian benar-benar tidak bisa mengelak. “Kamu tegang sekali, Ian. Mau kubantu?” Wajah Ayunda yang menggoda terus-menerus melesak di antara celah kedua tungkai kakinya. Adrian mereguk air liurnya. Ia menahan napas seketika wanita itu kembali tersenyum dan bicara, “Kubantu sini
Peraturan Tempus Fugit:1. Klien dan staf tidak diperkenankan untuk bertukar kontak apalagi menjalin hubungan setelah sesi berakhir.2. Klien tidak diperkenankan untuk mempertanyakan identitas asli staf.3. Klien diperkenankan untuk bicara apa saja termasuk masalah mereka. Staf akan mendengarkan da


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.