Se connecterAryana dengan cepat menghapus air mata di sudut matanya saat pintu kamar mandi dibuka. Albert dan Narana keluar dengan mengenakan baju pasangan yang tadi Albert beli.
"Tunggu sebentar!" Narana menahan tangan Albert, lalu mengambil rambut palsu dari tasnya.
Albert mengernyit. "Untuk apa kamu memakai wig?"
"Untuk penyamaran, Al." Narana menjawab tanpa menatap Albert. Dia sibuk menata rambut palsunya. "Untuk berjaga-jaga. Kita tidak tahu apakah kakekmu menyuruh orang untuk mengawasi kalian selama liburan atau tidak."
Narana berbalik menatap Albert setelah memastikan rambut palsu yang dikenakannya rapi. "Bagaimana? Kira-kira kalau dari kejauhan, aku sudah mirip dengan Aryana tidak?"
Albert dan Aryana terkejut. Namun, keterkejutan keduanya sangat berbanding terbalik. Albert terkejut karena tidak menyangka Narana memikirkan kemungkinan terburuk untuk mereka, sementara Aryana terkejut karena tidak menyangka Narana begitu licik dengan menyamar sebagai diri
Argandara tampak tenang saat Alvonso menyebut mendiang ibunya. Namun, kedua tangannya yang berada di atas paha terkepal erat, tapi itu hanya sesaat. Argandara berhasil menenangkan diri.Argandara menggeleng pelan. "Tidak, Kek. Aku tidak pernah memikirkannya. Bagiku, apa yang sudah terjadi di masa lalu, biarlah berlalu. Aku lebih suka memikirkan masa depanku dibandingkan mengingat hal yang sudah berlalu, Kek. Jadi, tidak perlu mengingat dan mengungkitnya lagi, Kek."Tentu saja apa yang dikatakan Argandara itu semuanya bohong. Sampai kapan pun dia akan selalu mengingat pesan terakhir mendiang ibunya.Alvonso tahu Argandara berbohong. Dia sadar jika kepeduliannya kepada Argandara belakangan ini pasti membuat pemuda itu terkejut. Sebab selama ini dia tidak pernah sedikit pun peduli ataupun memperhatikan Argandara."Pokoknya, kalau kamu memerlukan sesuatu, baik itu modal untuk rumah makanmu atau yang lainnya, beri tahu aku."Mungkin terlambat bagi Alvon
Aryana dengan cepat menghapus air mata di sudut matanya saat pintu kamar mandi dibuka. Albert dan Narana keluar dengan mengenakan baju pasangan yang tadi Albert beli."Tunggu sebentar!" Narana menahan tangan Albert, lalu mengambil rambut palsu dari tasnya.Albert mengernyit. "Untuk apa kamu memakai wig?""Untuk penyamaran, Al." Narana menjawab tanpa menatap Albert. Dia sibuk menata rambut palsunya. "Untuk berjaga-jaga. Kita tidak tahu apakah kakekmu menyuruh orang untuk mengawasi kalian selama liburan atau tidak."Narana berbalik menatap Albert setelah memastikan rambut palsu yang dikenakannya rapi. "Bagaimana? Kira-kira kalau dari kejauhan, aku sudah mirip dengan Aryana tidak?"Albert dan Aryana terkejut. Namun, keterkejutan keduanya sangat berbanding terbalik. Albert terkejut karena tidak menyangka Narana memikirkan kemungkinan terburuk untuk mereka, sementara Aryana terkejut karena tidak menyangka Narana begitu licik dengan menyamar sebagai diri
Setelah dua jam berlalu, akhirnya Albert mengakhiri panggilan teleponnya. Aryana yang sejak tadi pura-pura tidur, perlahan membuka mata. Dia menunggu setengah jam sebelum bangkit dari sofa dan menghampiri tempat tidur dengan langkah sangat pelan.Ponsel Albert tergeletak begitu saja di tengah kasur. Aryana melambaikan tangan di wajah Albert yang terlelap, memastikan bahwa sang suami terlelap sebelum mengambil ponsel pria itu. Akan tetapi, Aryana kesulitan membuka layar ponsel Albert yang terkunci.'Apa pasword-nya?' pikir Aryana setelah berkali-kali gagal memasukkan angka di ponsel Albert.Walau begitu, Aryana tidak menyerah. Dia terus memasukkan angka-angka meski pada akhirnya tetap sia-sia.Aryana menghela napas. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia harus tidur sekarang jika tidak ingin besok bangun terlambat.'Sepertinya aku tidak akan bisa mencegah Narana untuk tidak mengganggu liburanku dengan Mas Albert,' pikir Aryana kecewa.
Argandara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Handaryana menuju Kala Rasa. Bayangan wajah pucat Aryana dan ucapan Alvonso terus terngiang di kepalanya. Beberapa kali Argandara menghela napas kasar untuk melonggarkan dadanya yang sesak.“Arga!” Nehan melambai kepada Argandara yang baru saja memasuki kafe.Argandara mengedarkan pandangan sebelum akhirnya dia menemukan sosok sang sahabat. Dengan langkah lebar Argandara menghampiri Nehan.“Sudah lama?” Argandara menarik dan menduduki kursi di hadapan Nehan.“Ya, lumayan. Lyla bilang katanya kamu baru berangkat ke kediaman Handaryana waktu aku datang.” Nehan mengernyit saat memperhatikan wajah Argandara. “Kenapa sama mukamu? Kok kusut begitu?”“Tidak ada apa-apa.”Nehan tentu saja tidak percaya. “Apa Pak Tua itu membuat masalah lagi padamu? Atau, Albert yang membuatmu seperti ini?”Argandara menggeleng pelan. “Kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang mereka sih, Han?”“Ya jangan menyalahkan aku berpikiran bur
Aryana tersenyum kecil menatap pantulan wajahnya di kaca wastafel. Sembap di matanya sudah berkurang. Dan Aryana bisa menutupinya dengan riasan sedikt tebal agar tidak terlihat, seperti yang dia lakukan tadi siang.Aryana terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati sosok Albert di depan pintu. Tangan pria itu terangkat untuk mengetuk pintu.Albert menatap marah Aryana. “Apa yang kamu lakukan di kamar mandi sampai begitu lama, hah? Kamu tidak lihat sekarang sudah jam berapa?”“Maaf, Mas. Aku tadi mengompres mataku supaya tidak bengkak, makanya lama di kamar mandi.” Aryana menjawab pelan dengan kepala tertunduk.Albert berdecak keras. “Cepat ganti baju. Jangan sampai Kakek berpikir aku menyiksamu karena terlambat ke meja makan.”Setelah mengatakan itu, Albert menuju sofa dan melanjutkan panggilan videonya bersama Narana.Aryana menatap Albert. Cemburu dan sakit hati bercampur menjadi satu. Meskipun dia istri Albert, tapi nyatanya dia tidak bisa mendapatkan hati suaminya.Aryana
Argandara mengalihkan pandangannya kepada Albert yang berdiri di belakang Aryana hanya dengan mengenakan jubah mandi. Kedua tangannya terkepal erat. Kemarahan menguasai dirinya, tapi Argandara berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak lepas kendali.“Tidak. Tapi kenapa kakak harus menyakitinya?” Argandara berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar marah.“Bukan urusanmu! Dia istriku, jadi aku berhak melakukan apa saja padanya.” Albert mengalihkan tatapannya kepada Aryana, sorot matanya masih sama. “Untuk apa masih di sini? Pergi!”Aryana tidak membantah dan langsung pergi tanpa melihat Argandara. Karena hari semakin sore, Aryana pun memutuskan untuk mandi sambil mengompres matanya yang sembap.Argandara yang mendengar bentakan Albert kepada Aryana pun semakin geram dengan sikap sang kakak memperlakukan Aryana.Albert kembali menatap Argandara. “Untuk apa kamu ke kamarku? Mau merayu istriku, ya? Apa di kafe tadi kamu masih belum puas merayunya, sampai-sampai kamu ingin merayunya di







