Beranda / Rumah Tangga / Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku / Bab 56 Rahasia Setiap Hela Napas

Share

Bab 56 Rahasia Setiap Hela Napas

Penulis: Celestial Soul
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 00:07:07

“Savita? Kamu mau cerai?”

Ami bertanya lagi untuk kedua kalinya ketika Savita terdiam mencari pembelaan yang tepat.

Pertanyaan Ami pelan akan tetapi menusuk itu memecah keheningan di kamar Citra yang sudah tidak ditinggali. Ami memegang kertas gugatan cerai tersebut seperti vonis yang dibaca terlalu cepat.

“Savita, bisa dijelaskan sama Tante?” tanya Ami lagi. Nadanya masih sama. Lembut. Namun, ada ketegasan di sana.

Jantung Savita yang sebelumnya lega, saat ini seperti berhenti berdetak. Semua udara di paru-parunya lenyap dan berganti kepanikan yang menjalar dari ujung jari tangan hingga ke tulang punggung.

Savita membeku karena merasa tertangkap basah karena rahasianya ketahuan begitu saja. Langkah pemberontakan pertama dan satu-satunya yang dia lakukan.

“Tante … ini bukan kayak yang Tante bayangkan.”

Suara Savita akhirnya keluar seperti bisikan. Ucapannya itu merupakan kalimat sederhana. Kalimat pertahanan pertama yang lemah dari orang yang rahasianya baru saja terbongkar.

Savita be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 95 Surat Suara

    Tepat ketika pecahan kaca itu menggores permukaan kulitnya.BZZT… BZZT…Sebuah suara pelan dan ritmis terdengar. Savita membuka matanya karena terganggu. Gerakannya mengiris lengannya terhenti.“Suara apaan itu?” tanyanya pelan.BZZT… BZZT…Suara getaran itu tidak berhenti. Getaran itu seakan-akan merambat dari lantai, naik ke tubuhnya, lalu menyentuh jiwanya yang hampir saja padam. Getaran itu kembali menyadarkannya.Savita menatap pecahan di tangannya, lalu menatap ke arah tempat tidur. Getaran itu masih terdengar di telinganya. Savita melihat pantulan cahaya dari kolong tempat tidurnya. Itu ponsel Kaivan.Di dalam ponsel itu ada semuanya. Rekaman pengakuan Mahendra, foto-foto lukanya, dan juga jurnal penderitaannya.‘Kalau mati sekarang, semuanya bakalan sia-sia,’

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 94 Titik Nadir

    “Bagaimana kalau aku nyerah aja?”Pertanyaan itu melayang dalam benak Savita. Bahkan menggodanya layaknya lagu pengantar tidur yang mematikan. Dia tidak menangis ataupun berteriak. Dia memilih berbaring di lantai dingin dengan mata menatap kosong pada langit-langit kamar.Bisikan terakhir Mahendra terus bergema di dalam kepalanya. Bisikan itu menjadi tumpang tindih dengan jerit ketakutan Kaivan.“Buat apa lagi aku bertahan?” gumamnya pada ruangan yang sepi. “Kaivan aja udah lihat aku kayak monster. Duniaku lihat aku begitu.”Rasa sakit di hatinya sudah melampaui batas air mata. Hatinya terasa tidak ada. Kosong. Bukan lagi hancur lebur. Lubang hitam hampa menyedot semua emosinya. Dia telah mengalami breakdown mental. Jiwanya sudah menyerah total.“Dia benci aku,” gumamnya. “Anak aku sendiri benci aku. Nggak suka sama aku.&rdquo

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 93 Panggilan 'Bunda'

    “Ada Bunda, Sayang. Tenang, ya. Ada bunda jagain kamu kok.”Suara Gita yang menenangkan itu terdengar bagaikan melodi surga di telinga Kaivan yang sangat ketakutan. Namun, bagi Savita layaknya racun paling mematikan yang masuk ke telinga. Savita masih terduduk di lantai dingin. Lebih tepatnya di ambang pintu kamarnya yang masih terbuka.Tubuhnya membeku oleh pemandangan yang menghancurkan jiwanya. Savita seolah mati rasa dalam hal apa pun. Dia tidak bisa merasakan tubuhnya yang meronta kesakitan.Dia tidak merasakan tenggorokannya yang kering bagai di gurun sahara. Kini, seluruh panca inderanya terfokus pada satu titik di anak tangga terbawah.‘Kaivan, Nak, kamu kenapa begitu?’Itu hanya bisa keluar dalam pikiran Savita. Tidak ada yang bisa diucapkannya dengan jelas.Kaivan memeluk Gita erat seolah-olah wanita itu merupakan satu-satuny

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 92 Penolakan

    “Kaivan, ini Mama, Nak. Mama sayang banget sama Kaivan.”Permohonan itu keluar dari bibir Savita yang pecah-pecah dengan lirih. Setiap ucapan diwarnai kerinduan dan keputusasaan yang teramat mendalam. Air matanya mengalir deras hingga menciptakan jejak basah di wajahnya yang pucat.Penolakan Kaivan tidak lantas membuatnya jera. Dia masih merangkak. Tangannya terulur hendak menggapai. Dia hanya beberapa senti dari Kaivan yang bersembunyi ketakutan di balik kaki Mahendra.“Nggak. Bukan Mama aku!” cicit Kaivan masih bersembunyi. “Mama nggak kayak gitu. Mama aku cantik.”“iya, Nak. Ini Mama, Sayang,” bujuk Savita. Dia mencoba membuat suaranya selembut dan sehalus mungkin walau meskipun yang keluar hanya bisikan serak. “Mama kan cuma sakit. Tapi Mama ini tetap Mama kamu, Nak. Mama nggak bakalan sakiti kamu. Sini, Nak. Coba kamu pegang tangan Mama.&rdqu

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 91 Pertemuan yang Menghancurkan

    “Siti, panggil penontonnya kemari.”Kali ini Mahendra yang memerintahkan Siti. Wanita muda itu mengangguk patuh lalu keluar dari kamar Savita yang berantakan seperti terkena badai. Siti seolah tahu yang dimaksud oleh Tuannya tersebut tanpa bertanya lagi.Gita tersenyum miring pada savita. Sementara Mahendra menatap Savita tajam.“Tuan,” ucap Siti.Tidak lama dia datang lagi. Savita tidak perlu menebak. Di belakang Siti, Kaivan memeluk pinggang wanita itu.Savita, yang masih duduk di pojok kamarnya segera menegang. Jantungnya berdebar kencang dan suaranya tercekat di tenggorokan.Mahendra menoleh.“Kaivan, kemari, Nak,” pinta Mahendra dengan nada sabar.Seperti seorang ayah yang sedang mengajari anaknya belajar. “Papa mau tunjukin sama kamu. Kenapa kamu nggak boleh dekat-dekat lagi ke kamar in

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 90 Panggung Sandiwara

    “Siti, bantu saya. Kamu berantakin kamarnya. Bikin kamar itu kayak baru aja ada perang di sini.”Perintah Mahendra terdengar keesokan paginya hingga membuat Savita yang sedang meringkuk di tempat tidur segera waspada. Savita sudah bangun pagi-pagi sekali, akan tetapi tubuhnya memilih untuk tetap tidursaja sebab tidak ada yang bisa dia kerjakan di kamar itu.Savita bahkan mendengar Siti menjawab patuh, “Baik, Tuan Mahendra.”Tidak lama kemudian, pintu kamar Savita menjeblak terbuka. Savita duduk di atas tempat tidur. Tatapannya waspada karena bukan hanya Siti yang masuk tetapi Mahendra dan Gita ikut masuk ke kamar itu.Savita segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tiba-tiba gemetar. Beruntung kali ini dia tidur menggunakan penutup kepala.“Mau ngapain kalian?” tanyanya. Walau suaranya lemah tetapi penuh perlawanan dan waspada.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status