Masuk“Minum sampai habis. Saya disuruh tungguin sampai kosong gelasnya.”
Suara Siti terdengar dingin dan tanpa emosi di telinga Savita. Bagaikan suara mesin. Wanita muda itu berdiri menjulang di hadapan Savita yang masih duduk di lantai. Di tangannya, terdapat segelas susu putih.
Ini merupakan kunjungan keduanya Siti di hari yang sama. Setelah sebelumnya Savita tidak menyentuh bubur encer yang dibawakan. Kali ini, Siti datang dengan misi yang jelas: memastikan Savita menelan sesuatu.
Savita menatap gelas di tangan Siti waspada. Dia tidak bodoh. Setelah insiden Bi Uti tersebut, dia tahu Gita tidak akan biarkannya lolos begitu saja.
Matanya kemudian menangkap sesuatu yang aneh pada gelas yang dipegang Siti. Pada pinggiran dalam gelas itu, menempel buih kecil berwarna kuning yang tidak wajar. Hal itu berbeda sekali dengan buih susu biasa.
Savita sering membuatkan susu untuk K
Pagi harinya, Savita terbangun dengan pintu menjeblak terbuka. Mendengar itu, dia segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tipis.Dia tidak ingin orang lain melihat rambut di kepalanya yang rontok. Biasanya dia akan memakai penutup kepala. Namun, saat hendak tidur, dia melepasnya.“Bangun, Nyonya.”Itu suara Siti.Terdengar suara sesuatu benda dikeluarkan dari dalam plastik lalu membentur nampan beberapa kali. Savita diam tidak bergerak.“Kata Non Gita, Nyonya hari ini makanannya roti kering aja. Ini jatahnya sampai makan malam.”Terdengar pintu tertutup lalu terkunci dari luar. Savita keluar dari selimut. Dia melihat di nakas terdapat roti kering yang jumlahnya menurutnya sedikit lebih banyak. Dia menghela napas pelan. Dia tidak ingin makan. Kembali dia menarik selimutnya. Dia lebih memilih tidur lagi.Sore
“Kamu tahu nggak kenapa Mama dikurung di kamar itu?”Suara Mahendra yang terdengar bijaksana dari ruang tengah. Savita yang sedang menelan roti kering jatah makan malamnya, segera berhenti mengunyah. Sudah beberapa jam sejak kedatangan polisi dan rumah itu terasa sunyi.Dia merangkak menuju pintu lalu menempelkan telinganya di sana. Dia dapat membayangkan Kaivan duduk di karpet, di antara Mahendra dan Gita berusaha mendengarkan penuh perhatian.“Nggak tahu aku, Pa,” jawab Kaivan. “Katanya Mama lagi sakit ya?”“Betul, Mama lagi sakit,” sahut Mahendra. “Tapi bukan sakit biasa kayak batuk pilek. Ini sakit yang bikin orang jadi beda.”Savita mengepalkan kedua tangannya. Dia tahu arah pembicaraan itu. itu merupakan strategi yang terkoordinasi.
“Selamat siang, Pak. Maaf ganggu waktunya. Kami dari Polsek setempat.”Suara formal itu terdengar dari ruang tamu hingga membuat Savita yang sedang berbaring lemas diatas tempat tidur segera duduk menegakkan tubuh. Polisi. Kata itu bergema di kepalanya bagaikan lonceng harapan.“Apa mereka datang buat aku? Apa Tante Ami berhasil?” bisiknya pada diri sendiri.Savita turun dari ranjang. Dia berjalan ke arah pintu lalu menempelkan telinganya. Dia dapat mendengar Mahendra berbicara seramah mungkin.“Oh iya, selamat siang juga, Pak Polisi. Ada yang bisa saya bantu? Silakan duduk dulu, Pak.”“Nggak usah, Pak. Kami cuma sebentar,” jawab polisi itu. “Kami ke sini karena ada laporan keributan kecil di lingkungan ini beberapa hari lalu. Apa betul?”Harapan Savita meredup. Itu bukan tentangnya melainkan h
teman-teman, bab 84 dan 85 tertukar posisinya ya. mohon maaf banget. aku nggak ngeh karena pake timer. jadi, baca dulu bab 84 setelah itu baru 85. Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini ya.
“Kalau aku cuma tiduran pasti rasa sakit yang bakalan menang.”Bisikan keluar dari bibir Savita yang kering. Pemikiran itu muncul di dalam kegelapan kamarnya. Malam telah turun dengan membawa hawa dingin menusuk dan rasa nyeri menggerogoti dari dalam.Seluruh tulangnya terutama pada bagian punggung dan panggul terasa bagaikan ditusuk ribuan jarum. Itu menjadi pengingat betapa kejam leukemia yang bekerja tanpa henti. Savita meringis merasakan itu pada tubuhnya.“Aku nggak boleh nyerah sama rasa sakit ini,” katanya bergumam pada diri sendiri. “Aku mesti ngelakuin sesuatu. Sesuatu yang buat penderitaan ini lebih berarti.”Dia merangkak bagaikan pencuri di dalam kamarnya sendiri, menuju kolong tempat tidur. Tangannya terulur mengambil ponsel Kaivan.Power bank masih tersambung di soket ponselnya untuk memberi napas hidup pada perangkat lama itu. In
“Ya Tuhan, Hpnya mau rusak,” bisik Savita menahan kesedihan.Bisikan putus asa Savita menggantung di udara kamar. Savita menatap layar ponsel Kaivan dengan napas tertahan. Layar itu berkedip lagi lalu gambar di galeri muncul. Jantungnya berdebar campuran antara lega sekaligus panik.Ponselnya sedang sekarat dan bersamaan dengan itu, semua bukti yang susah payah dikumpulkan terancam lenyap selamanya.“Datanya harus dipindahin ini,” gumamnya. “Gimana caranya? Aku nggak punya laptop. Mau dikirim ke akun pemyimpanan awan, wifi rumah ini paswordnya ganti. Nggak tau apa yang baru.”Savita terperangkap dalam jebakan teknologi lama. Rasa frustrasi membuat Savita ingin melempar ponsel itu ke dinding. Namun, dia menahannya. Akhirnya, dimatikan layar ponsel untuk menghemat sisa daya baterai kemudian menyembunyikannya di tempat paling aman.“Aku Bi U







