로그인Taksi yang ditumpangi Evgenia berhenti di depan sebuah minimarket di pinggiran kota Moskow. Lilia sedang membereskan beberapa barang di rak, sampai matanya tidak sengaja menangkap sosok Evgenia berdiri di depan minimarket, wanita itu melambaikan tangan padanya. Lilia bergegas keluar dan menghampirinya
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini di tempat ini Jeni?" Evgenia hanya nyengir sambil mengusap lengannya yang masih sedikit basah akibat hujan "Apa kau menerobos hujan sampai basah kuyup seperti ini?!" ucap Lilia khawatir "Bisakah aku tinggal di tempatmu malam ini Lili?" "Kenapa? Apa sesuatu terjadi?" Evgenia hanya tersenyum menanggapinya "Tunggulah disini. Jam kerjaku akan selesai dalam lima belas menit. Ini pakailah jaketku. Dan sebentar. Akan ku bawakan cokelat hangat untukmu" Evgenia tersenyum "Terima kasih Lili. Kau memang sahabat terbaikku" Lima belas menit kemudian, Lilia keluar setelah mengunci minimarket, dia segera mendekati Evgenia "Maaf membuatmu menunggu Jeni" Evgenia tersenyum dan menggeleng "Tidak. Aku justru berterima kasih kau mau menampungku" Lilia berdecak "Dasar bodoh. Tentu saja kau ini sahabatku. Sudah selayaknya kita saling membantu" Evgenia tersenyum, dia bersyukur masih memiliki Lilia dalam hidupnya Lilia Golubev adalah sahabatnya yang Evgenia temui saat di universitas. Hidup Lilia juga bisa dibilang tidak seberuntung Evgenia yang masih memiliki keluarga lengkap. Lilia justru harus kehilangan kedua orang tuanya ketika dia masih remaja, bahkan saat itu Lilia baru menginjak tahun ketiganya di SMP. Kedua orang tua Lilia meninggal karena kecelakaan mobil ketika hendak pergi bekerja, sebuah truk besar kehilangan kendali dan membuat kecelakaan beruntun saat itu, beberapa mobil rusak parah dan korban berjatuhan, dan kedua orang tua Lilia tercatat dalam korban yang tidak bisa diselamatkan. Setelah itu, Lilia tinggal bersama Gelya Petrov - bibinya dan sepupunya yang berusia empat tahun dibawahnya. Suami Gelya meninggal akibat penyakit TBC, ketika itu Toni Petrov - sepupu Lilia baru berusia sepuluh tahun. Hal itu juga yang membuat Gelya harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, sekaligus berperan sebagai ayah untuk Toni. Lilia dan Evgenia masuk ke dalam apartemen milik Lilia. Selama berkuliah, Lilia sudah tinggal sendiri, untuk memudahkannya bekerja part time di minimarket setelah kuliah. Setelah lulus dari universitas, Lilia mendapat pekerjaan sebagai redaksi di sebuah media cetak di kota Moskow dan malam harinya, dia akan kembali bekerja part time di minimarket. "Maaf jika tempatku tidak begitu nyaman untukmu Jeni" "Omong kosong. Tempat ini justru lebih baik dibandingkan dengan rumahku Lili" "Apa sudah terjadi sesuatu disana?" Evgenia yang tengah meminum teh hangat seketika terdiam, matanya kembali memanas "Pertunanganku dan Mark dibatalkan" "Apah?!" Air mata Evgenia kembali menetes "Bagaimana bisa?" "Mark akan menikah dengan Victoria" "Victoria? Victoria Zhanna?" Evgenia mengangguk "Kau ingat hari dimana kau menjemputku di Swissotel?" Lilia mengangguk "Malam itu juga Mark mengkhianatiku" "Maksudmu.. Mark tidur bersama Victoria?" Evgenia mengangguk dan air matanya kembali menetes "Dan sekarang Victoria tengah mengandung anaknya" "Apah?!" suara Lilia hampir memenuhi seluruh apartemen itu karena keterkejutannya Evgenia terisak "Mungkin ini salahku yang terlalu naif sampai Mark harus pergi pada wanita lain" Lilia mendekati Evgenia dan memeluknya "Jangan salahkan dirimu Jeni.. kau hanya berusaha menjaga dirimu untuk pria yang kau cintai" "Tapi pada akhirnya aku tidak melakukannya Lili!" ucap Evgenia merasa kesal pada dirinya "Itu kecelakaan Jeni.. kau tidak menginginkannya" "Tetap saja.. seharusnya aku berhenti saat itu.." kata Evgenia pelan "Apa kau memakan atau meminum sesuatu yang aneh sebelumnya?" Evgenia mengerutkan dahinya, mencoba memikirkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya. Ingatan Evgenia kembali pada saat malam naas itu terjadi. Terdengar suara musik klasik yang indah memenuhi ballroom sebuah hotel mewah di kota Moskow. "Nona.. silahkan minumannya" ucap seorang pelayan pria "Oh.. terima kasih" jawab Evgenia tersenyum Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan Evgenia. Evgenia tersenyum melihat pemandangan indah yang menghiasi ballroom hotel. Dia senang dengan kejutan yang diberikan kekasihnya. "Selamat untukmu Jeni.." ucap seorang wanita berambut hitam pendek "Terima kasih Sofia.." jawab Evgenia tersenyum "Mark sungguh hebat bisa membuat pesta megah seperti ini" ucap seorang wanita berambut cokelat kemerahan "Kau benar Alexa.. Mark begitu mencintai Jeni sampai rela melakukan apapun untuknya" ucap seorang wanita berambut pirang "Ya kau benar Fenya... aku jadi semakin iri pada Jeni" jawab Alexa Evgenia hanya bisa tersenyum mendengar ucapan ketiganya. Mereka saling mengadu gelas sebagai ucapan selamat untuk Evgenia. Tidak lama kemudian tiba-tiba Evgenia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. "Kau baik-baik saja Jeni?" tanya Fenya "Um.. ya kurasa begitu" jawab Evgenia tidak yakin "Apa kau perlu segelas air putih?" tanya Sofia "Tidak. Terima kasih" "Apa kau ingin aku memanggilkan Mark untukmu? Wajahmu terlihat pucat Jeni" ucap Alexa Evgenia menggeleng "Tidak apa-apa. Mungkin aku sedikit mabuk saja. Aku ke toilet sebentar" Evgenia pergi meninggalkan ketiga temannya yang memandangnya khawatir. "Kau hebat Mark. Kau bisa membuat pesta megah seperti ini" ucap seorang pria berambut pirang "Tentu saja Nick. Mark juga penerus Stainslav. Tidak heran dia bisa membuat pesta mewah seperti ini" ucap seorang pria berambut cokelat bernama Dom Pria berambut hitam bernama Mark itu hanya menaikkan sudut bibirnya lalu menyesap wine yang ada di tangannya. Pesta itu adalah pesta ulang tahun kekasihnya Evgenia Vasiliev yang ke dua puluh tiga. Mark sengaja menggelar pesta di ballroom salah satu hotel mewah di Moskow, agar banyak orang yang melihat terutama kalangan atas bahwa dia juga layak menjadi penerus kerajaan Stainslav. Stainslav adalah satu dari beberapa jajaran keluarga konglomerat di kota Moskow. Stainslav bergerak di bidang perdagangan dan manufaktur dengan perusahaan utama yang bergerak di bidang pembuatan perhiasan. "Jadi apa rencanamu selanjutnya?" ucap Nick "Tentu saja membuat Jeni tidak akan bisa menolakku lagi malam ini" seringai Mark Nick dan Dom terkekeh mendengarnya. Keduanya cukup kagum kepada Mark karena masih bisa bertahan berkencan dengan seorang wanita selama bertahun-tahun tanpa menyentuhnya sama sekali. Mereka menganggap jika Evgenia itu sangat naif, dia berpegang teguh pada prinsip kolotnya bahwa seks hanya akan dilakukan oleh dua orang yang sudah menikah. Mark dan Evgenia sudah menjalin hubungan sejak awal SMA dan mereka akan bertunangan tidak lama lagi, namun Evgenia hanya mengijinkan Mark menyentuhnya sampai tahap berciuman. Mark tentu kesal, namun karena rasa cintanya, dia tetap bertahan dengan wanita itu. Di sudut ruangan tidak jauh dari ketiga pria itu berdiri, seorang wanita berambut cokelat mendengar pembicaraan itu. Wanita itu adalah Victoria Zhanna, dia tersenyum misterius lalu menyesap wine di tangannya. Victoria mempunyai rencana sendiri untuk menaklukkan orang yang dia sukai.Setibanya di tempat pertemuan, Lev mengernyitkan dahinya saat melihat seorang pria yang tengah berjabat tangan dengan kliennya. Ketika keduanya berpapasan, pria itu hanya menarik sudut bibirnya tipis, lalu berjalan pergi. "Oh anda sudah tiba tuan Stainslav, silahkan duduk" Lev menatap Feliks seolah memberinya isyarat. Feliks mengangguk mengerti, dia segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada anak buahnya. "Anda datang lebih awal dari waktu perjanjian tuan Stainslav" "Maaf jika mengganggu anda tuan Lorenzo" "Tentu tidak tuan, saya baru saja selesai membahas proyek dengan tuan Pavel" "Apa anda mengenal pria itu?" "Hmm.. tidak begitu baik. Saya mendapatkan informasi jika tuan Pavel adalah salah satu pengusaha logam yang cukup terkenal di kota Ryazan" Lev hanya diam mendengarkan. "Ada apa tuan Stainslav?" "Tidak ada tuan. Jadi perhiasan apa yang anda inginkan, tuan Lorenzo?" Lorenzo memberi kode pada asistennya, dan pria itu berjalan mendekat untu
Di bandara Sheremetyevo, pesawat yang membawa Matvei dan Albert akhirnya mendarat. "Lihat. Ini cucu keponakanku, sekarang dia sudah menjadi mahasiswa hukum di Oxford" ucap Albert seraya menunjukkan foto seorang gadis cantik yang tengah berpose di depan menara Eiffel "Dia sangat cantik" Albert tersenyum "Ya, ibunya memiliki keturunan bangsawan Inggris, jadi tidak heran jika paras putrinya cantik" Matvei mengangguk "Bagaimana dengan kabar cucu kesayangan mu, Mat?" "Dia baik-baik saja. Bahkan dia mendapat kerjasama dengan Avraam Bogdashha untuk membuat desain perhiasan milik keluarga kerajaan" "Benarkah? Itu luar biasa sekali" Matvei tersenyum bangga "Lalu kapan dia berniat menikah?" "Entahlah.. ku pikir dengan kembalinya putri Gusev, mereka akan segera memberikan kabar baik, tapi sepertinya mereka masih menunda hal itu" "Kelihatannya mereka kembali dekat" "Ya sepertinya begitu. Lev tidak menjauhinya meskipun hubungan mereka sudah berakhir. Mungkin mereka hanya ma
Lev menatap tajam kepada dua wanita yang berdiri ketakutan. "Jika ingin melakukan kejahatan, lakukanlah dengan cantik. Bukankah kalian justru membuka kebodohan kalian sendiri" ucap Lev "Kurasa kalian sudah mengerti sekarang, jadi silahkan keluar dan lakukan tugasmu dengan baik Grigori" "Baik tuan. Maafkan saya atas masalah ini" Grigori memberi isyarat kepada Julie dan Disca untuk keluar. Namun saat berdiri dekat Evgenia untuk mengajaknya keluar, wanita itu tidak bergeming. Dan melihatnya membuatnya merasa merinding, dia seolah berhadapan dengan Lev versi wanita. Grigori pun berjalan keluar bersama Julie dan Disca. Melihat Evgenia yang masih berdiri disana, membuat Feliks mengernyitkan dahinya. "Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi nona Vasiliev?" tanya Feliks heran Namun Lev segera mengangkat tangannya untuk menghentikan Feliks. "Keluarlah" Feliks bingung, dia melirik kepada Lev. Kedua orang itu masih saling menatap dan membuat Feliks mengerti isyarat itu di
"Apa yang ingin kau katakan Feliks?" Suara Lev seketika menghentikan langkah Feliks yang baru saja berbalik, berniat keluar dari ruangan CEO. "Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ku dapatkan" Lev mengangkat wajahnya, memandang asistennya. Feliks berjalan kembali mendekati Lev, dan menunjukkan sesuatu padanya. Lev hanya diam, dan Feliks tidak tau apa yang dipikirkan olehnya. "Apa kau berniat membantunya kali ini?" "Bawa mereka kemari" "Tentu" Feliks segera pergi ke ruang divisi perancangan setelah mendapat perintah dari Lev. Ketika ketiga orang yang diperintahkan sudah datang, Grigori menahan napasnya saat merasa aura mencekam di dalam ruangan itu. Julie yang tadinya masih tersenyum kemenangan, tiba-tiba merasa sedikit mengerut ketika tatapan Lev menghunus tajam padanya. Saat semuanya sudah berdiri di hadapan Lev, terdengar suara lain di dalam ruangan itu. "Ya. Aku berhasil membuatnya dalam masalah" Mata Julie seketika melebar. "Kau memang hebat.
Karol yang saat itu tengah memainkan game di ponselnya mengernyitkan dahinya heran melihat ibunya yang tampak gelisah. Zilya terus mondar-mandir, sambil memegang ponselnya. Karol mengangkat bahunya tidak peduli, dia kembali memainkan ponselnya. Meskipun Ivan melarang mereka keluar rumah, Karol tidak memperdulikannya, justru dia senang karena tidak perlu repot mengurusi perusahaan yang hampir bangkrut itu. Zilya melihat ponselnya yang berdering, dia segera mengangkatnya "Bagaimana?!" "Maafkan saya nyonya, wanita itu ternyata berhasil selamat" "Sialan!" Zilya merasa sangat geram mendengarnya, lalu dia tiba-tiba menyeringai seolah merencanakan sesuatu "Carilah orang yang bisa membantu kita, dan pastikan wanita itu tidak akan bisa selamat kali ini" "Baik nyonya, akan segera saya lakukan" Zilya menyeringai, dia yakin kali ini Evgenia akan dengan sukarela kembali dan menyerahkan dirinya. Dan setelah hal itu terjadi, maka dia akan terbebas dari jeratan ancaman Gleb Pavel
"Apa wanita itu sudah mencampakkan mu sehingga akhirnya kau mau kembali?" "Apa yang sebenarnya kau katakan?" "Tidak perlu berpura-pura Mark.. aku sudah melihat semuanya. Kau dan Jeni masih menjalin hubungan" Mata Mark melebar seketika, terkejut dengan ucapan Victoria. "Jadi itu alasan kau tidak pernah kembali ke rumah? Kau menyimpan wanita lain di tempatmu begitu?!" "Hentikan tuduhan mu itu Victoria!" "Tuduhan katamu?! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kau membawanya ke apartemen milikmu dan kalian hanya berdua disana. Apakah dia sudah berubah menjadi wanita penggoda sekarang?!" "Jeni tidak seperti yang kau katakan!" "Lalu seperti apa aku harus menyebutnya?! Jika ada wanita lain yang bersama dengan suamiku dalam tempat yang sama, menurutmu apa pendapat orang-orang padanya?!" Mark mengepalkan tangannya "Kau tidak tau apa-apa. Aku hanya ingin menolongnya" "Dengan tinggal bersama di apartemen mu? Itu yang kau katakan menolong?!" "Aku tidak memiliki pil
Mark melajukan mobilnya membelah jalanan kota Moskow malam itu. Tangannya mencengkram setir dengan erat, dia bertekad untuk bertemu dengan Evgenia. Bagaimanapun pernikahan itu hanyalah sebuah keterpaksaan belaka, dia sama sekali tidak mencintai Victoria. Beberapa waktu berlalu, sampailah dia d
Kabar mengenai anak yang dikandung Victoria adalah positif milik Mark, membuat perasaan Evgenia semakin suram. Evgenia berusaha menghapus air mata yang menerobos dari sudut matanya, dia akan menyibukkan diri dengan bekerja untuk melupakan hal buruk yang menghancurkan hatinnya. Setelah keluar st
Beberapa hari berlalu, hasil tes DNA itu akhirnya dikeluarkan. Mark bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari seorang petugas. Alexe memberikan sebuah map kepada Mark, dengan jantung yang berdebar, Mark membaca setiap kata yang tertera disana, namun matanya melebar saat menemukan
Keesokan harinya, di sebuah rumah sakit di kota Kolomna, terlihat sebuah perdebatan di depan ruang rawat Alleya. "Tuan... anda tidak bisa menerobos masuk seperti itu.." "Diam kau! Aku akan mencabut sendiri semua alat sialan itu" "Tidak bisa tuan.. nyonya Alleya membutuhkan semua itu untuk pen







