LOGINDi luar ballroom tampak Mark yang tampak panik karena tidak berhasil menemukan Jeni setelah pesta usai.
"Kau yakin dia sudah meminumnya?" ucap Mark kesal, dia bahkan hampir membentak pelayan yang sudah dibayarnya untuk memberikan wine kepada kekasihnya "Tentu tuan. Nona bahkan menghabiskan minumannya" jawab pelayan pria itu Mark mengepalkan tangannya, merasa kesal karena rencananya tidak berjalan sesuai harapannya "Pergilah!" usir Mark Pelayan pria itu menunduk dan pergi meninggalkan Mark. Lalu Victoria datang menghampiri Mark dan menyodorkan segelas wine padanya "Tenanglah Mark.. mungkin Jeni sedang tertidur di suatu kamar di hotel ini" "Bagaimana bisa kau tau?" kata Mark masih tampak kesal "Aku tidak sengaja melihatnya keluar dari toilet dan masuk ke sebuah kamar" "Benarkah? Dimana dia?" Wanita berambut cokelat dan bertubuh ramping itu mengelus pundak Mark dengan sensual "Aku bisa mengantarmu menemui Jeni. Tapi sebelum itu minumlah dulu, agar kau lebih baik" Tanpa merasa curiga sama sekali, Mark menenggak wine yang diberikan oleh Victoria. Dia adalah salah satu teman Jeni, meskipun mereka tidak begitu akrab tapi Mark cukup mengenalnya karena mereka beberapa kali memiliki kelas yang sama di universitas. Victoria mengajak Mark pergi mencari Evgenia dan tepat di depan sebuah kamar, Victoria membukakan pintu kamar itu dan menyuruh Mark masuk "Apa kau yakin Jeni ada di kamar ini?" "Tentu saja" Mark memegangi kepalanya yang berdenyut, sejak meninggalkan ballroom Mark sudah merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Semakin dalam Mark berjalan masuk ke kamar itu semakin terasa bergemuruh pula dadanya. Mark mendudukkan dirinya di sebuah sofa di ruang tamu kamar itu "Kau baik-baik saja Mark?" tanya Victoria "Entahlah.. aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku" "Kau mungkin lelah. Beristirahatlah sebentar" "Dimana Jeni?" "Oh.. Jeni mungkin sedang tertidur" "Aku harus menemuinya" ucap Mark seraya mencoba berdiri namun tubuhnya kembali limbung dan Victoria segera menangkapnya "Kau tunggulah disini. Aku akan membangunkannya" "Tidak" ucap Mark seraya menahan tangan Victoria mencegahnya untuk membangunkan kekasihnya itu, jika itu terjadi maka hancurlah semua rencananya untuk memiliki tubuh gadis itu Victoria tersenyum lalu mengelus wajah Mark lalu berbisik sensual "Baiklah kalau begitu. Aku yang akan membawamu kepadanya" Mark mengangguk pelan, matanya sudah sayu dan tubuhnya semakin terasa panas Victoria membantu Mark berdiri dan merebahkannya di tempat tidur. Mark mengernyitkan dahinya, merasa tidak seorangpun berada disana "Dimana Jeni?" "Akan ku lihat apakah dia ada di kamar mandi" Mark mengangguk. Kepalanya semakin terasa berat dan rasa panas menjalar diseluruh tubuhnya, seakan tubuhnya ingin mengeluarkan sesuatu yang berat. Saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, Mark melihat seorang wanita berambut pirang kecoklatan dan dia langsung menyergap tubuh wanita itu ke dalam pelukannya "Jeni.. sayang.." Wanita itu hanya tersenyum kecil dan mengelus bahu Mark Mark langsung mencumbu bibir wanita itu, dia sudah tidak bisa menahan gairahnya lagi. Victoria tersenyum dalam ciuman itu, dia berhasil menjebak Mark. Akhirnya malam itu dilalui oleh keduanya dengan berbagi peluh dan desahan. Di sebuah kamar presiden suite, mata Lev akhirnya terbuka dan dia tidak mendapati wanita yang sudah menghabiskan malam panas bersamanya di sampingnya. Pria itu turun dari tempat tidur dan memakai celana pendeknya, mengambil ponselnya yang terletak di meja di sudut kamar dan menekan sebuah nomor "Feliks, cari tau siapa wanita yang masuk ke dalam kamarku semalam" ucap Lev lalu menutup teleponnya Lev berdiri di depan cermin besar di ruang tamu kamar hotel itu, dia menyentuh bibirnya yang sedikit lecet. Wanita semalam sudah berani menggigit bibirnya dan ada juga jejak cakaran di punggungnya. "Wanita yang menarik" ucapnya tersenyum Di kamar lain, Mark terkejut saat terbangun dan mendapati Victoria tidur di sampingnya. Apakah semalam dia bukan bercinta dengan Jeni melainkan Victoria? Bukankah semalam Victoria mengatakan Jeni berada di kamar ini, lalu bagaimana bisa dia berakhir tidur bersama dengannya? Lalu dimana Jeni sebenarnya? Victoria menggeliat dan membuka matanya, dia tersenyum melihat Mark "Selamat pagi Mark.." "Apa yang kau lakukan disini Victoria?" "Lebih tepatnya apa yang kita lakukan disini" Mark menaikan satu alisnya, menatap tidak suka padanya "Apa perlu ku ingatkan lagi seberapa ganasnya kau semalam?" "Tidak! Jangan katakan apapun lagi. Jadi dimana Jeni?" "Entahlah.." jawab Victoria seraya mengangkat bahunya "Apa maksud ucapanmu? Bukankah semalam kau mengatakan jika Jeni ada di kamar ini?" "Benarkah? Aku tidak ingat pernah mengatakannya" "Kau...!" geram Mark, tangannya sudah terkepal "Lagipula apa yang kau harapkan dari anak manja itu? Dia bahkan tidak mau kau menyentuhnya, bukankah seharusnya kau mulai meragukan perasaannya padamu?" Mark menahan emosinya namun perkataan Victoria menggema di pikirannya. Apakah benar Jeni tidak benar-benar mencintainya? Melihat perubahan ekspresi Mark, membuat Victoria tersenyum tipis. Dia akan melakukan apapun untuk memisahkan keduanya, karena hanya dialah yang akan memiliki Mark. Mark segera turun dari tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya, setelah itu dia pergi meninggalkan Victoria disana. Victoria tidak merasa sakit hati setelah ditinggalkan begitu saja, karena dia yakin hubungan Mark dan Jeni tidak akan berjalan baik setelah ini. Mark keluar dari kamar hotel dan mencari keberadaan Evgenia, sampai seorang pelayan datang dan memberikan tas milik kekasihnya itu. Mark mengernyitkan dahinya. Kemana Evgenia pergi sebenarnya? Mark akhirnya menelpon kediaman Vasiliev, namun wanita itu belum kembali sejak semalam. Mark mengepalkan tangannya, dia segera masuk ke dalam mobilnya. Di kediaman Stainslav, Bella yang baru saja menaruh bunga mawar segar di vas meja ruang tamu terkejut melihat putranya yang kembali dalam keadaan kacau "Kau baik-baik saja Mark?" "Ya bu" "Kau yakin?" "Ya" Mark berusaha menahan rasa kesalnya dan berbalik untuk memeluk Bella, dia tidak ingin membuat sang ibu khawatir "Aku baik-baik saja bu.. mungkin hanya lelah karena pesta semalam" ucap Mark tersenyum tipis Bella tersenyum dan menepuk bahunya "Jangan terlalu banyak minum" Mark mengangguk "Bersihkan tubuhmu dan beristirahat lah. Malam ini akan ada makan malam bersama" Mark mengernyitkan dahinya heran "Maksud ibu?" "Lev kembali"Di rumah sakit Botkin, Moskow, keluarga Yaroslav dan Matvei sudah datang terlebih dulu "Selamat siang tuan Matvei.." sapa Alexe seraya menjabat tangannya "Selamat siang dokter Lavrentiy" Alexe juga menyapa keluarga Yaroslav "Aku disini akan membantu mengawasi jalannya tes Non-Invasive Prenatal" "Terima kasih dokter, mohon bantuannya" jawab Bella Alexe mengangguk, dia memberikan senyum tipis ketika melihat Mark Mark sedikit mengernyitkan dahinya heran Selang beberapa menit kemudian, keluarga Zhanna pun datang "Maafkan kami terlambat, kami memastikan kondisi Victoria dalam keadaan baik terlebih dulu" "Apa terjadi sesuatu?" tanya Bella khawatir "Hanya mual ringan, tapi dia sudah baik-baik saja sekarang" jawab Tisha Mark menatap sinis ke arah Victoria, entah apa yang direncanakan wanita itu lagi. Victoria bersama Tisha dan Bella masuk ke dalam ruang dokter untuk melakukan pemeriksaan "Masuklah ke dalam, Mark" ucap Yegor "Untuk apa ayah?" "Bagaimanapun dia a
Lev melumat bibir Evgenia dengan kasar Evgenia mendorong Lev untuk menghentikan ciumannya, setelah berhasil terlepas, Evgenia menamparnya "Apa yang kau lakukan hah?!" ucapnya marah, Evgenia menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya "Aku tidak suka kau dekat dengan pria lain, terutama Mark. Ingat! Dia sudah mencampakanmu" "Itu urusanku dengan Mark. Kau tidak berhak mengaturku" "Tentu saja itu menjadi urusanku!" kata Lev tegas Evgenia terdiam "Ingat Eve! Aku sudah menandaimu sebagai milikku, jadi aku tidak mau lagi melihatmu dekat dengan pria lain selain diriku" "Itu hanya kesalahan satu malam Lev, jangan berlebihan" "Bagiku tidak. Kau adalah milikku. Camkan itu" "Kau sudah gila" ucap Evgenia lalu pergi meninggalkan Lev disana Evgenia kembali ke ruangannya dengan wajah kesal, dia tidak percaya Lev akan memperlakukannya seperti itu. Lev kembali ke ruangannya, dia memukul dinding disana, meluapkan rasa kesal yang menjalar di dadanya. Entah mengapa dia semakin
Evgenia memperkenalkan Mark kepada ketiga temannya dan Mark menyambut mereka dengan hangat. Akhirnya mereka makan bersama dengan diselingi obrolan, tanpa terasa waktu makan siang pun berakhir dan mereka kembali ke kantor bersama. "Aku tidak menyangka kau akan bekerja disini, Jeni" ucap Mark Evgenia tersenyum "Begitupun denganku" "Tapi dengan kemampuanmu, aku tau kau pasti bisa melakukannya" "Terima kasih Mark" ucap Evgenia tersenyum "Aku tidak tau kenapa keluargamu harus berbohong padaku dengan mengatakan kau pergi di luar negeri" Evgenia terkejut, dia memang tidak menceritakan kepada Mark alasan dia pergi ke Moskow. Evgenia hanya tersenyum menanggapinya Evgenia dan Mark berpisah di depan lift "Senang bisa berjumpa denganmu Mark" ucap Alisa seraya melambaikan tangan, Elena dan Nail mengangguk setuju Mark tersenyum kepada ketiganya, lalu menoleh ke arah Evgenia "Sampai jumpa lagi Jeni" Evgenia tersenyum Mark masuk ke dalam lift petinggi perusahaan, dia datang
Evgenia tidak berani mengatakan apapun saat melihat sorot mata tajam Lev setelah mendapat panggilan telepon. Namun dari mimik wajah Lev, dia tau jika ada sesuatu yang tidak baik sudah terjadi. Evgenia terdiam sampai mereka tiba di Moskow. Saat turun dari pesawat pribadi milik Stainslav, Feliks langsung mendekati Lev dan keduanya tampak membicarakan hal yang serius. Ketika mereka akan keluar dari bandara, Lev menghentikan langkahnya, sehingga membuat Feliks hampir menabrak dirinya karena dia sedang memeriksa tablet di tangannya tanpa melihat sekitar. "Ada apa Lev?" Lev berbalik Evgenia menahan napasnya, seketika dia menghentikan langkahnya, dia berjarak beberapa langkah di belakang pria itu. "Suruh Krit untuk mengantar Eve pulang" perintah Lev kepada Feliks "Eh?" ucap Feliks dan Evgenia bersamaan "Tapi Lev.." kata Feliks sedikit keberatan "Kita ke kantor menggunakan taksi" ucap Lev seraya berbalik untuk melihat situasi "Aku saja yang menggunakan taksi. Kau pergi
Lev menghentikan mobilnya di area yang cukup dekat dengan jalan rubinstein, tempat itu terdapat banyak bar dan tempat kuliner. Lev menarik tangan Evgenia untuk bergabung dengan orang-orang yang sedang menikmati malam dalam kemeriahan. "Ramai sekali disini" kata Evgenia setengah berteriak Lev tertawa "Ya. Disini orang-orang tidak pernah tidur" Lev mengajak Evgenia ke sebuah bar, Lev memesan campari dan Evgenia memesan cider. "Ingin mencoba milikku?" Evgenia sedikit ragu, namun dia mengangguk, dia langsung terbatuk saat rasa pahit itu melewati tenggorokanya, Lev tertawa melihatnya. "Tidak. Aku tidak akan pernah meminumnya lagi" ucap Evgenia sedikit kesal Lev tertawa dan menepuk pelan kepala wanita itu Mereka menikmati malam itu dengan beberapa gelas alkohol dan makanan ringan, layaknya pasangan pada umumnya, keduanya saling bergandengan tangan dan berkeliling melihat pemandangan kota itu. Evgenia melihat beberapa orang yang menjadi musisi jalanan sedang menggelar per
Sore hari setelah kunjungan ke cabang usaha Stains Corp, Lev, Evgenia dan Feliks kembali ke hotel. "Apa kau sudah menyiapkan apa yang ku minta?" "Ya. Aku sudah menaruhnya di kamar mu" Lev mengangguk Ketiganya kembali ke kamar mereka "Mandilah. Kita akan menghadiri makan malam setelah ini" Evgenia mengangguk dan dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya Ketika Evgenia kembali ke kamarnya, dia terkejut melihat dua buah kotak dan satu paperbag ada di atas tempat tidurnya. Evgenia segera membukanya, matanya kembali melebar saat mendapati sebuah slip dress satin panjang berwarna champagne, dengan tali bahu spaghetti. Di kotak lainnya terdapat sepasang heels berwarna putih dengan permata berbentuk bunga menghiasi ujung sepatu, sedangkan paperbag berisikan sebuah clutch berwarna putih senada dengan heels. Semua barang-barang itu tentulah barang branded dan Evgenia tidak tau berapa banyak uang yang sudah Lev keluarkan untuk menyiapkan semua ini. Setengah jam kem







