Beranda / Romansa / Wanita Rahasia Billionaire / BAB 5 - BERTEMU TUNANGAN ZACK

Share

BAB 5 - BERTEMU TUNANGAN ZACK

Penulis: Blezzia
last update Terakhir Diperbarui: 2023-10-04 17:18:14

Betapa mudahnya Rania mengenali sosok yang berada di hadapan. Pada Tubuh jangkung dan tegap yang berdiri di celah antrean itu, hingga kemeja pas badan yang mencetak jelas otot-otot liat di baliknya, serta rambut blonde yang ditata rapi dan juga garis-garis wajah yang maskulin itu. Sungguh, Rania mengenal Zack dengan sangat baik.

Laki-laki yang hanya memakai kemeja hitam tersebut masih berdiri memesan sesuatu, sedangkan wanita yang bersamanya adalah perempuan yang dikabarkan bertunangan dengannya.

Wanita itu sungguh cantik dengan kaki jenjang dan penampilan layaknya seorang putri konglomerat.

Keduanya benar-benar sangat serasi.

Bagaimana mungkin Rania dapat bersaing dengan wanita seperti itu. Dirinya bahkan tidak mungkin bisa memasuki pergaulan elit yang wanita itu miliki.

Rasa rindu teramat sangat pun menyeruak dengan hebatnya. Dia benar-benar merindukan dekapan laki-laki itu. Bibir Rania bergetar menahan diri agar tidak bersuara. Entah bagaimana membendung serbuan emosi yang dengan cepat bergumul di dada.

Keberadaan laki-laki itu sungguh sangat menyiksa.

Tanpa sadar, Rania mengelus perutnya perlahan. “Dia tidak menginginkan kita, Nak,” ucapnya dengan mata pedih berkaca-kaca. “Ibu benar-benar minta maaf. Tidak seharusnya kau ikut merasakan perasaan seperti ini.”

Kepala Rania menunduk perlahan, seolah hendak menyembunyikan diri.

Kedatangan Jennie yang membawakan senampan berisi steak, membuat Rania tersadar. Dia menegakkan kepala kembali dan memberikan senyuman tipis pada sahabatnya. Sengaja menyembunyikan air mata yang sempat mendekati pelupuk.

“Astaga … antreannya benar-benar panjang. Tidak heran orang-orang makan ke tempat ini, ternyata mereka sudah viral di mana-mana,” keluh Jennie sembari menaruh nampannya di atas meja. “Kau pasti sudah lapar. Maaf ya, terlalu lama menunggu. Ini, aku sengaja memilihkan yang terbaik untukmu!” Dia meletakkan salah satu piring ke hadapan Rania. “Makanlah yang banyak. Ibu hamil harus dipenuhi asupan gizinya.”

Mendapati daging di atas piringnya, entah mengapa ada perasaan mual mencium aromanya.

“Mmm … a-aku rasa, aku tidak ingin makan daging,” gumam Rania dengan tangan membekap mulut, Bersiap-siap untuk muntah.

Melihat raut wajah wanita di hadapannya, seketika saja Jennie merasa khawatir. “Oh, astaga …apa kau merasa mual? Ya ampun, apa yang harus kita lakukan.” Jelas sekali ada kepanikan dari nada suara Jennie. Wanita itu seketika berdiri dan siap menyusul Rania ketika wanita itu memberikan isyarat tidak perlu lewat tangannya.

Rania berjalan cepat sembari mencari-cari lokasi toilet di sana. Bahkan, dia tidak lagi peduli apabila Zack melihatnya.

Setelah mengeluarkan isi perutnya pada salah satu bilik, Rania membersihkan bibirnya dari sisa-sisa muntahan ketika dengan tiba-tiba pintu toilet terbuka dan seorang wanita masuk ke dalam. Awalnya Rania tidak memedulikan, dia sibuk membersihkan diri dan menyeka wajahnya yang basah pada salah satu westafel.

Namun, bulu kuduknya berdiri begitu mendengar suara yang memanggil namanya dari belakang.

“Rania Camerry?”

Suara yang lembut dan penuh penekanan itu membuat kepala Rania menoleh dan matanya bertemu pandang dengan wajah yang seringkali ia lihat di layar televisi bersama Zack.

Deg …

Itu adalah wajah dari wanita yang Zack gandeng masuk ke restoran.

Wanita itu berjalan mendekat. Tumit sepatu haknya berbunyi nyaring saat berbenturan dengan lantai, menghasilkan suara yang terdengar menegangkan bagi Rania.

Dengan senyum merekah yang memamerkan bibir penuh bersapukan lipstick merah delima, wanita itu memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan. “Aku Amanda Harlot. Kau pasti tahu siapa aku, kan?”

Rania memandang bisu pada sosok berparas rupawan yang berdiri di hadapan.

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Aku sampai berpikir kau sedang membuntuti Zack.” Wanita itu tertawa dengan sorot mata misterius yang membuat Rania ingin menghindar darinya.

Dari mana wanita ini mengenalnya? Mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya.

Paras top model kelas dunia itu terangkat angkuh dengan lirikan cukup tajam. “Kau mungkin sudah tahu, aku adalah tunangan Zack dan dia bilang padauk ada wanita gila yang mengaku-ngaku hamil padanya baru-baru ini. Aku hanya tidak mengira, wanita berwajah polos sepertimu mencoba memanipulasi pria seperti dia.” Pandangan Amanda turun pada perut Rania yang terlihat masih rata.

Spontan Rania menutupi perutnya lalu mundur waspada. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan kondisinya saat ini.

Seketika saja wanita itu mendengus, “lihatlah dirimu. Kau bahkan tidak pantas bersanding dengan Zack. Apa kau benar-benar seingin itu menjadi istri seorang Zack Lawson? Please, jangan bermimpi kejauhan. Kau bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi pada Zack bila bersama dengan wanita seperti dirimu.”

Ucapan wanita di hadapannya sedikit menampar kesadaran Rania. Rasa sakit cukup tajam menghunjam hingga ke ulu hati.

Dia tahu bahwa perkataan wanita itu ada benarnya. Namun, egonya masih terluka akan penolakan Zack akan keberadaan bayi dalam kandungannya.

“Apa kau sudah menggugurkan kandunganmu? Kuharap kau tidak berangan-angan memiliki pria itu dengan cara kotor.” Amanda tertawa kecil, tawa yang sarat penghinaan. “Jangan pernah berpikir untuk mengikat Zack Lawson dengan kehamilanmu. Kau akan sangat rugi bila melakukan itu. Apa perlu aku menjelaskan padamu mengapa wanita sepertimu hanya akan menderita bila mencoba menjebak laki-laki dari kalangan atas dengan menjadi sebuah kehamilan?”

Rania merasa sangat tercekat. Tenggorokannya seakan-akan menelan pasir. Dia tidak mengira Zack akan menceritakan segalanya pada wanita ini.

Setelah berdeham pelan, Rania pun mencoba untuk bersuara.

“Tidak. Aku tidak ingin mendengar apa pun.”

Bibir Rania bergetar, dan sekuat tenaga dia menahan berat tubuhnya dengan menyandar pada westafel yang berada di belakang tubuhnya.

“Lalu, kenapa kau masih mempertahankan kehamilanmu? Masih menunggu keajaiban Zack akan datang padamu kemudian meminta-minta maaf, sembari berlutut dan mengatakan agar kau Kembali ke pelukannya?” Amanda seolah merasa geli saat mendengar ucapannya sendiri, sehingga wanita itu pun tertawa sinis. “Ah, dia mungkin juga akan melamarmu dengan cara yang sangat romantis, Rania Camerry.”

Seolah puas telah menyakiti Rania, Amanda pun berjalan ke westafel yang berada di sebelah Rania. Dia tampak sibuk mencuci tangan, sembari mulutnya tidak berhenti merendahkan.

“Sadarlah, sifat asli laki-laki itu jauh dari Impian banyak wanita. Dia hanya tampak manis di awal, dan begitu merasa bosan, kau akan dicampakkan dengan mudah. Selayaknya barang mainan, wanita tidak begitu berharga di matanya.”

Rania membeku dengan gigi yang bergemelutuk, sehingga dia kehilangan kata-kata untuk membalas.

“Jangan pernah bemimpi untuk bersanding dengannya, karena kau tidak ada bedanya dengan puluhan wanita yang pernah dia tiduri. Kau sama saja dengan wanita-wanita tanpa nama yang sering dia bawa ke rumah.” Pandangan keduanya pun bertemu di cermin, dan Rania dapat melihat sekelebat emosi di balik mata Amanda.

Cukup lama mereka saling pandang, sebelum akhirnya wanita bergaun summer itu melanjutkan.

“Ingatlah, kau hanya wanita murahan yang dia jadikan sebagai pelampiasan nafsu sesaat, hanya penghangat ranjang. Catat itu baik-baik di kepalamu, agar kau sadar begitu tidak berharganya dirimu di mata pria seperti Zack Lawson!”

Serangan telak itu kembali menghancurkan Rania. Kedua kakinya gemetar dan ia hanya mampu berpegangan pada pinggiran wastafel.

“Aku adalah perempuan yang akan dia nikahi dan menjadi pendampingnya. Jadi perempuan miskin dan murahan sepertimu jangan pernah bermimpi terlalu tinggi.” Mata Amanda menyorot tajam pada perut Rania. “Dan segera gugurkan anak itu. Tidak ada gunanya kau mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas ditolak keberadaannya.”

Sudah cukup. Rania bisa saja tahan dihina oleh Zack, tapi wanita yang bahkan baru pertama kali dia temui ini sudah melewati batas.

“Tutup mulutmu! Kau tidak berhak menghakimiku seperti ini! Aku juga tidak sudi menikah dengan pria seperti dirinya, jadi berhentilah mengucapkan hal-hal yang tidak berguna.” Sengaja Rania melemparkan tatapan tajam pada wanita di hadapan, mengabaikan segala perih yang mencabik-cabik hatinya.

Amanda menyeringai. “Oh ya? Lalu untuk apa kau mempertahankan kehamilanmu? Zack menunggu kapan kau menggugurkan kandungan itu, dia pasti kesal karena kau masih mempertahankannya.”

“Ini urusanku dengan Zack. Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan kami berdua. Tidak peduli, apakah aku menggugurkannya atau membesarkannya, Zack tidak perlu tahu. Dia tidak berhak mengatur keputusanku! Jadi, katakan pada tunanganmu, untuk focus saja pada pernikahan kalian berdua, dan jangan urusi kehidupanku lagi.”

“Wah wah … sombong sekali. Bersikap seolah-olah menjadi perempuan terhormat. Akui saja, kau cuma memanfaatkan kehamilanmu untuk menjebak Zack.”

Rania menggeleng cepat, menolak tuduhan tersebut. “Tidak! Aku tidak pernah menjebaknya.”

“Kalau begitu gugurkan kandungan itu. Lenyapkan bayi itu!”

Amanda mendorong sebelah bahu Rania sampai dia hampir saja terjatuh jika saja Rania tidak berpegangan pada pinggiran wastafel.

“Kalian tidak berhak menyuruhku melenyapkan bayi ini! Dia anakku.”

“Zack tidak menginginkan anak itu!”

“Tapi aku menginginkannya!”

Betapa pun hatinya hancur oleh semua perkataan Amanda, Rania masih mencoba tegar. Tak ia redupkan pandangan matanya kendati air mata itu sudah menggenang di pelupuk mata.

“Kau mau membesarkan anak itu untuk dibawa ke hadapan Zack suatu saat nanti lalu menuntut status dan uang. Apa itu yang kau rencanakan?”

Rania membalas tatapan tajam itu. Rasa lelah seketika menguasai kesadarannya,

“Saat aku sudah menjadi istri seorang Zack Lawson dan bahagia bersama anak-anak kami, aku tidak akan membiarkan dirimu datang bersama anakmu ataupun menghancurkan kehidupanku bersama Zack!”

Satu dorongan yang keras membuat pegangan Rania terlepas dan ia akhirnya terjatuh. Pinggang dan bokongnya menghantam lantai dengan keras. Punggungnya terbentur pada dinding.

Rania meringis. Matanya terpejam merasakan sakit yang menyengat naik ke perut. Sementara Amanda menatapnya dari atas dengan tatapan tidak berdosa.

“Oops … apa kau terluka?” ucap Amanda basa-basi dengan raut teramat datar. “Oh … sepertinya kau membutuhkan ambulans.” Amanda melempar selembar uang seratus dollar ke udara yang perlahan-lahan jatuh di dekat sepatu, tepat di tempat Rania yang terduduk di lantai.

Mata Amanda melirik darah yang perlahan menetes dari paha Rania. Dengan Langkah angkuh, wanita itu berjalan menjauh.

Ketika mata Rania terbuka, dia tak lagi melihat keberadaan Amanda, yang terdengar hanyalah suara tumit sepatunya yang perlahan-lahan menghilang di lorong.

Seketika, rasa sakit yang teramat sangar merambat naik ke seluruh tubuhnya. Rania merintih dan meraih wastafel untuk mencoba bangkit, tapi lagi-lagi tangannya tergelincir dan ia kembali terjatuh.

Darah merembes dari pangkal pahanya. Rasa panas semakin mendera perutnya. Melebihi daripada rasa sakit, Rania amat sangat ketakutan.

Sungguh … dirinya tidak ingin kehilangan anak ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 26 - ANGKAT KAKI DARI PULAU INI

    Zack menahan kedua tangan Rania, dan membawanya begitu dekat hingga jarak tidak lagi jadi prioritas. Begitu dekatnya, sampai-sampai Zack dapat merasakan tubuh Rania yang menggigil karena sapaan angin malam."Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini olehmu! Kau pria paling brengsek yang pernah kukenal. Oh, betapa bodohnya aku tiga tahun lalu!"Gadis itu tetap konsisten dengan amarahnya hingga dia memberontak hendak lepas. Akan tetapi, Zack tidak memberinya kesempatan. Pria itu terus memeganginya.Satu tangan pria itu mengunci kedua lengan Rania di dadanya, sementara satunya lagi pelan-pelan melingkar di pinggang mungil yang ukurannya bahkan sudah dia hapal dengan sangat baik.Sekilas mata Zack sedikit menyala. Dia tidak mengira gairahnya terpancing hanya dengan sikap berontak dari gadis keras kepala yang kini berada dalam genggamannya.Sekuat tenaga Zack mengendalikan diri di tengah-tengah pergulatan itu."Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Kau bahkan mencoba memanfaatkanku. Ji

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 25 - AKU MEMBENCIMU

    "Aku tidak mengira kau sangat menyukai laki-laki yang memiliki uang. Apa begini caramu menarik perhatian para laki-laki itu?" Suara Zack yang datang dari arah gelapnya jalanan pun mengejutkan Rania seketika. Wanita itu menarik tangannya cepat dari gagang pintu, dan seketika dia berbalik. Menghadap sumber suara yang kini berjalan mendekat. Tanpa sadar, Rania mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak pintu. Kini, dia benar-benar terjebak antara sosok maskulin Zack Lawson dan pintu toko roti. "Apa kau benar-benar tidak ada pekerjaan hingga memata-mataiku?" ucap Rania di sela-sela geraman kesal. Tatapan yang wanita itu lemparkan pada pria di hadapannya benar-benar menusuk. Zack tersenyum sinis, langkah kakinya semakin mendekat, hingga jarak tak lagi ada di antara mereka. "Kau sangat tahu aku punya segudang pekerjaan, Rania. Tapi keberadaanmu di pulau ini benar-benar mengganggu pandanganku." Hanya dengan sentuhan ringan pada anak rambut Rania yang terkibas angin, Zack Law

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 24 - BIMBANG

    Rania tampak termenung di salah satu kursi setelah menutup tokonya. Cukup lama wanita itu berdiam di sana, dan pandangannya tampak kosong menghadap jalanan di depan pertokoan yang lampunya perlahan-lahan dimatikan.Malam tampaknya semakin larut, akan tetapi pikiran Rania masih berkelana pada penuturan Sofia sore tadi. Bawahannya itu menjelaskan secara rinci bagaimana Oliver diantar oleh salah satu pegawai dari hotel yang baru dibangun itu.Tanpa menanyakan identitas, Rania tahu siapa pegawai yang dimaksud.”Hhh ....” Dia menarik napas dalam-dalam. Batinnya tidak tenang. Peringatan dari Cintya membawa ingatan tiga tahun lalu. “Kupikir hidupku akan mudah di tempat ini. Mengapa takdir membawaku kembali padanya.”Tidak seharusnya Rania menyalahkan takdir, tetapi hanya itu satu-satunya yang bisa ia lakukan.Tidak mungkin dia pergi meninggalkan toko roti yang sudah dibangun dengan susah payah begitu saja. Lagi pula pria itu juga tidak berhak mengusiknya sejauh ini. Kelahiran Oliver juga tid

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 23 - KETEMU, OLIVER!

    Hari menjelang sore saat Mrs. Mallory datang ke toko dengan tergesa-gesa. Cukup lama wanita itu memandangi Rania dari ambang pintu.Ada gurat kegelisahan dari balik wajah paruh baya itu, membuat senyum Rania yang tadinya terkembang pun berbalik bertanya. Sementara matanya menyapu sekitar, mencari sosok balita yang biasanya berlari menerjang pintu.”Apa yang terjadi? Dimana Oliver?”Mrs. Mallory pun menggenggam tangan Rania erat. Matanya menunjukkan ketakutan yang cukup kentara.”Maafkan aku, tapi ... aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu.”Mendengar itu, jantung Rania berdesir seketika. Dan rasa takut itu pun menular dengan cepat.Kini, kedua wanita itu saling menggenggam tangan.“Katakan padauk, ada apa Mrs. Mallory? Apakah putraku baik-baik saja?”Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rania. Dia benar-benar tidak bisa menahan perasaan jika menyangkut anak semata wayangnya. Segala skenario mulai berputar di kepala. Melihat gelagat dari wanita tua di hadapan, segala

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 22 - BUKAN TUGAS MUDAH

    Zack keluar dari kamar pribadinya setelah memastikan anak balita yang bersamanya tadi tertidur pulas di atas ranjang. Dia mempercepat langkah menuju gedung kantor. Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok Huges yang masih setia menunggu kedatangannya di dekat lift. Langkah Zack melambat. Dia memperhatikan asisten lamanya dengan seksama. Entah mengapa, setiap memandang sosok Huges, Zack merasakan sesuatu yang janggal di hati. Ditepisnya rasa itu. Dan tatapannya lebih lekat, memandangi Huges yang berdiri mematung di dekat lift dengan tatapan kosong menghadap dinding. Tidak tahu apa yang sedang pria itu perhatikan ataupun pikirkan, Zack tidak cukup peduli untuk bertanya. Namun, begitu langkahnya semakin dekat, Huges pun menyadari kehadirannya. Pria itu sedikit berjingkat, terkejut. Namun Zack dapat melihat bagaimana ekspresi itu berubah cepat. Begitu lama mereka bekerja bersama, Zack tidak benar-benar mengenal Huges dengan baik. Selama ini dia hanya peduli d

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 21 - DADDY & MOMMY

    Zack Lawson terpaku, pada mata sebiru samudra yang terasa sangat familiar. Sesuatu seakan bergetar pelan di dada, namun dia sungguh tidak yakin. Dan ada rasa tercekat di pernapasan yang membuatnya kehilangan sedikit tenaga, nyaris menjatuhkan bola dalam genggaman. Untuk beberapa saat, udara di sekitar seakan menarik diri. Semilirnya menyisakan sesak. “Paman ... kembalikan bolaku.” Suara kecil yang terdengar sedikit ragu itu pun menarik sadar Zack dari perangkap rasa yang sulit ia mengerti. Seketika, tatapan Zack jatuh pada bola yang masih berada di antara kedua tangannya. Dan saat itulah dia sadar, dirinya tengah berhadapan dengan seorang anak balita tanpa pengawasan orang tua. Sebuah senyum lembut terlukis indah di paras rupawan seorang Zack Lawson yang langka. Tanpa bisa ditahan, tangan Zack mengelus pucuk kepala anak kecil tersebut. “Di mana orang tuamu?” tanya Zack, sembari menarik sisi celana sebelum berlutut, menyamakan pandangan dengan sepasang mata polos di hadapan. “Ap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status