Share

Bab 216. Tidak Ada Rasa Peduli

Penulis: Dera Tresna
last update Tanggal publikasi: 2026-04-19 03:38:47

Mata Rosely menyapu area parkir di depan bar tersebut dan melihat Leonard memasukkan wanita yang tadi dirangkulnya ke mobil.

“Leonard ...!” teriak Rosely berusaha mencegah kepergian suaminya, tapi pria itu tidak mendengarnya.

Rosely mencoba berlari, tapi rasa nyeri kembali menghantam perutnya membuat dia terhenti dan memegangi perutnya.

“Leonard, tunggu aku ...!”

“Berhenti ...!”

Dia masih terus berteriak dari tempatnya berdiri, tapi mobil Leonard t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 208. Titik Awal dari Kebahagiaan yang Sempurna

    Bukan kematiannya sendiri yang dia takutkan, tapi hidup Delano akan hancur jika kehilangan dirinya dan anaknya. “Delano, maafkan aku,” batin Natasya, sambil meneteskan air mata. Delano merasa gelisah karena Natasya tidak kunjung menghubunginya, padahal dia memperkirakan jika istrinya seharusnya sudah sampai di rumah mertuanya satu jam yang lalu. Dia tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam pertemuan yang dihadiri, saat mempunyai kesempatan untuk keluar, dia segera meninggalkan pertemuan tersebut. Kekhawatir Delano semakin besar, ketika dia tidak bisa menghubungi Natasya. Nomor ponsel Natasya tidak aktif dan itu tidak seperti biasanya, apalagi istrinya itu sudah berjanji akan menghubunginya jika sampai di rumah papanya. Merasa sesuatu yang buruk telah terjadi, Delano segera menghubungi Papa Mertuanya untuk menanyakan istrinya. “Halo Pa, apakah Natasya sudah sampai rumah?” tanya Delano tidak sabar. “

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 269. Berjuang Mendapatkannya Kembali

    “Apa maksud Aunty?” tanya Celsea.“Penculikan yang Evans lakukan mengingatkan Aunty akan penculikan yang Ryan lakukan. Kamu tahu sendiri bagaimana akhir dari cerita Ryan. Dia harus kehilangan nyawanya karena tidak mau menyerahkan diri,” kata Natasya mengingat kejadian penculikan yang dilakukan oleh Ryan.“Setelah Evans menyadari jika dia melakukan kesalahan besar, dia pun ingin mati seperti cara Ryan mati. Saat itu Aunty menceritakan semua kebenaran tentang Ryan, posisi Evans sedang menatap jendela dan dia tahu para pria Rodriguez sedang mendekatinya. Dia sengaja mendekati Aunty dengan pisau di tangannya dan sudah memperhitungkan kapan Delano dan papamu akan masuk ke gedung sehingga sengaja membuat seolah-olah dirinya ingin menyakiti Aunty,” lanjut Natasya.“Apakah Aunty pikir, Evans berharap siapapun akan membunuhnya dengan apa yang dilakukannya? Bagaimana jika Evans memang benar-benar ingin melukai Aunty,” tanya Celsea.“Tidak, pisau itu tidak d

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 268. Sama-Sama Terluka Namun Terasa Hina

    “Dasar pengecut ...! Apakah hanya begini saja yang mampu kalian lakukan? Mana keberanian keluarga Rodriguez?” teriak Evans mencoba memancing kemarahan Theodor. Sayangnya pria itu terlihat tidak terpengaruh oleh perkataannya.Evans kemudian berteriak dan menangis sendiri di dalam gedung itu. Sekarang dia telah menerima hukumannya. Ternyata apa yang dia pikirkan untuk mati seperti Ryan, tidak Tuhan kabulkan. Saat Delano terus menghajarnya, dia berpikir akan mati, kenyataannya dia masih bernafas sampai detik ini.Pandangannya kemudian mengabur dan menggelap. Dia pun tidak sadarkan diri setelah menerima pukulan dari Delano. Dia berharap tidak akan bisa bangun lagi untuk selamanya dan meninggalkan kehidupan penuh kepahitan yang dia derita selama ini.Evans terbangun di kamar yang tidak dia kenal dengan sekujur tubuh yang terasa sakit. Matanya menyapu kamar tersebut yang tampak begitu asing baginya. Baru saja dia ingin bangun, pintu kamar terbuka dan terlihat Cl

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 207. Firasat Perasaan Tidak Enak

    Theodor menepuk pundak Delano saat melihat adiknya tidak bisa menahan air mata kegembiraannya. Dengan cepat Delano mengusap air matanya dan menyambut tangan Natasya saat Torres menyerahkan putrinya.“Jaga putriku, dia segalanya untukku,” ucap Torres.“Aku akan selalu menjaganya Pa. Terimakasih untuk restumu,” kata Delano yang ditanggapi senyuman oleh Torres.“Kamu sangat cantik,” bisik Delano di telinga Natasya .“Kamu sangat tampan, membuat jantungku berdetak kencang.”“Sebentar lagi pria tampan ini akan menjadi milikmu.”“Dan wanita cantik ini juga akan menjadi milikmu sepenuhnya.”“Apakah gaunmu menyusahkanmu?” tanya Delano.“Sebenarnya gaunnya sangat berat tapi sangat mengagumkan. Aku menyukainya,” jawab Natasya.Pendeta di depan mereka berdehem untuk menghentikan obrolan Delano dan Natasya. “Apakah kita bisa memulainya sekarang?” tanya pendeta itu.“Tentu saja, aku sudah tidak sabar untuk

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 267. Cerita Tragis Membuat Ingin Mati

    “Di situlah aku merasa terpuruk karena kebodohanku, bukan hanya masa depanku yang hancur tapi juga kehidupan Evans. Setelah menerima penolakan, aku berniat kembali ke rumah. Aku meninggalkan Evans seharian, dia pasti ketakutan. Sayangnya semua tidak berjalan seperti yang aku rencanakan, karena saat aku menyeberang jalan, sebuah mobil menabrakku dan membuatku koma selama hampir sebulan,” Clara melanjutkan ceritanya.Mendengar cerita tersebut, Celsea masih ragu. Benarkah Clara mengalami kecelakaan atau itu hanya alasannya saja. “Lalu apa yang kamu lakukan setelah terbangun dari koma?” tanya Celsea masih dengan nada dingin.“Setelah aku sehat, tentu saja aku mencari Evans ke rumah, tapi aku harus kecewa karena rumah itu telah kosong, tidak ada Evans di sana. Aku mencari dan menanyakan keberadaan Evans ke penduduk kampung yang dekat dengan rumahku, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu di mana keberadaan Evans,” jelas Clara.“Tentu saja rumahmu kosong,

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 206. Pernikahan untuk Anak Terakhir

    Setelah ledakan pagi mereka, Natasya menutup tubuhnya dengan selimut sambil menatap Delano yang berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun. Pemandangan paling indah yang pernah dia lihat. Tubuh yang sempurna, otot yang berada di tempat yang tepat dan warna kulit putih keemasan karena keringat dan pantulan cahaya matahari yang menerpa permukaan tubuh Delano membuat pria itu semakin mempesona.Baru saja pintu kamar mandi tertutup, ponselnya berbunyi. Dia langsung mengambil ponsel tersebut untuk memeriksa siapa yang menelepon.“Emily?” seru Natasya dengan gembira, pertemanan mereka pun semakin dekat.“Kamu tidak lupa kan, hari ini adalah operasiku?” tanya Emily dari seberang teleponnya.“Tentu saja tidak. Sebentar lagi aku dan Delano akan ke rumah sakit. Apakah kamu sedang sendiri?”“Tidak, Kenric di sebelahku. Bukannya membuatku tenang, dia malah membuatku semakin panik, sikapnya super posesif, karena itu aku meneleponmu agar membuatk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status