LOGINSeorang Pria berjalan memasuki bangunan yang terlihat sepi. Victor, dia terus memikirkan perempuan yang ditemuinya semalam. Tanpa memberitahu namanya dan meninggalkan rasa penasaran yang mendalam. Banyak gadis cantik di luar sana namun malam itu seorang wanita menghampirinya dengan berani.
Semalaman dia mencoba membuang pikirannya itu namun tak bisa. Tatapan mata yang membuatnya luluh, dan senyuman manis dari bibir merahnya. Dia gila dalam semalam. Di dalam sana ada beberapa pekerja yang membereskan ruangan. Victor menghampiri salah seorang bartender yang menyusun botol di rak. "Permisi." "Loh, ada apa, Pak? Ada yang bisa dibantu?" "Boleh saya bertanya tentang.... Wanita yang bekerja di sini?" Tanya Victor mengecil di akhir kalimat. Pria bertato itu tertawa pelan. Tidak aneh lagi, beberapa pria datang kemari setelah melakukan one night stand dengan wanita di sini. Bisa dibilang sudah biasa. "Namanya siapa?" Victor mengatupkan kedua bibirnya. Itulah masalahnya. "Saya tidak sempat berkenalan dengan dia." "Susah, dong. Perempuan di sini banyak. Ada juga yang ga mau identitas pribadinya disebar. Jadi ciri-cirinya?" "Tinggi sebahu saya. Rambutnya coklat bergelombang. Pakaian hitam dan nail art merah mencolok," katanya sambil berusaha mengingat-ingat. Apa yang dideskripsikan Pria dia hadapannya mirip dengan seseorang, namun jelas dia bukan pekerja di sini. Jo, pria itu terbatuk sesaat dan menelisik Victor dari atas sampai bawah. "Saya tau siapa yang Bapak maksud. Tapi dia gak kerja di sini, dia cuma pelanggan biasa. Teman saya." "Bisa saya minta alamatnya atau nomornya?" "Gak bisa. Itu privasi dia, Pak," jawab Jo. Victor masih terlihat tenang namun entah kenapa dia mulai terlihat senang hingga sedikit sudut bibirnya terangkat. "Oke. Tapi apa malam ini dia akan datang lagi?" "Dia kalau datang bisa satu bulan sekali atau bahkan dua bulan sekali." "Jadi begitu, ya?" Sepertinya malam itu adalah pertemuan pertama dan terakhir mereka. Wanita itu sengaja menggodanya dan menghilang meninggalkan rasa penasaran yang besar. Harusnya Victor tidak pergi semalam dan memiliki waktu sedikit lebih lama. Tanpa diduga ia mengeluarkan beberapa uang lembar berwarna merah dan diletakan di atas meja. "Kalau nanti bertemu dengan dia, katakan Vee mencarinya." *** Saat ini Lyra dan Kinan tengah berada di mall untuk pergi ke salon yang ada di sana. Setelah memastikan butiknya beres sekarang saatnya memastikan Lyra tampil bersinar di acaranya. Bukan tak mungkin dia akan bertemu dengan teman bisnis kakeknya. "Mari, kak. Silahkan duduk." Mereka berdua duduk bersebelahan cukup berjarak. Tempat langganan Kinan yang direkomendasikan pada Lyra. Selain pegawai yang telaten hasil akhirnya juga memuaskan. Harga memang tidak bisa bohong. "Ra, tadi Jonan ngajak kita ketemuan," kata Kinan pada Lyra yang tengah menutup mata. "tunggu satu jam aja, kita ketemu di depan mall kayaknya ada cafe." "oke." Beberapa menit kemudian seorang wanita masuk ke dalam sana dengan raut wajah yang terlihat kesal. "Saya mau protes sama pegawai di sini," kesalnya. Semua orang dia sana menoleh. Tak terkecuali Lyra dan Kinan. Wanita itu datang dengan amarah dan membuat keributan tiba-tiba. Salah satu pegawai menghampiri mencoba menenangkan. "Ada apa, Bu?" "Saya sudah atur jadwal hari ini dan jam ini, tapi saya harus antri lagi. Apa di sini tidak profesional? Saya mau bertemu dengan Nita, dia yang buat jadwal saya di sini." Ternyata Nita yang dimaksud adalah pegawai yang tengah melayani Kinan. Keributan semakin terjadi saat wanita itu ingin dilayani sekarang juga tentu saja Kinan tidak setuju karena rambutnya belum selesai. "Saya mau sekarang." "Gak bisa dong, saya juga udah atur jadwal dan ini belum selesai," tolak Kinan tak terima. "Saya pelanggan tetap di sini." "Saya juga." Melihat keributan di hadapannya Lyra segera bangkit dan mengambil tas miliknya. "Di sini aja Mbak. Sebelumnya maaf tapi teman saya ini ga salah, jadi kalau mau protes ke pihak yang bersangkutan." "Kenapa kamu ngalah, sih? nanti lama kalau kamu ga selesai sekarang," sahut Kinan mendelik. Wanita tadi tersenyum puas ke arah Kinan lalu menatap Lyra. "Makasih, ya. Harusnya teman kamu ini juga tau sopan santun sama yang lebih tua." "Dasar tua, kuno," ejek Kinan pelan. "Kamu ini kurang ajar, ya! Kamu ga tau siapa saya, kan? suami saya bukan orang sembarangan, saya bisa aja minta dia buat tutup mulut kamu itu." "Dasar ibu-ibu. Udah ga zaman sembunyi di ketiak orang lain buat ngadu." Kinan melihat orang itu mengambil botol air dihadapannya berniat menyiram namun segera dicegah oleh pegawai di sana. "jangan ribut di sini, Bu. kalau tidak lebih baik keluar saja." Sementara itu Lyra tak ikut berdebat karena itu bukan tipenya. Lyra tak suka membuang waktu untuk berdebat sesuatu yang tidak penting. **** Dilain tempat Jo terlihat menunggu kedua teman perempuannya. Memang dasarnya perempuan selalu saja lama, apalagi soal urusan salon. mereka sudah terlambat 30 menit. Dan selalu saja begitu setiap mereka bertemu. "Mas, ini coffee-nya." "Terimakasih." Sesaat ia melirik jam di dinding. ting! Bunyi lonceng menjadi ciri khas kedatangan seseorang yang datang. Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Dua wanita cantik berjalan masuk dengan wangi semerbak yang langsung Jo kenali. "Lama banget, ga bisa on time?" deliknya. "Ada masalah dulu tadi," sahut Kinan merebut coffee milik Joo begitu saja. "ah... haus." "Malam nanti acaranya jadi, Ra?" atanya Jo melirik Lyra yang focus dengan ponselnya. "Jadi, dong. Ini aja Kakek udah nanyain terus. Kamu harus ikut, awas aja kalau engga." "Jadi gandengan Lo?" "Iya." Lyra, Wanita ini terlihat begitu manis. Terkadang dia bersikap kekanak-kanakan, namun juga bisa menjadi dewasa. Tidak heran banyak pria tergila-gila padanya, apalagi mantannya saja tidak ingin melepaskan. "Kalau bukan temen gue, udah gue sikat Lo," kata Jo terkekeh pelan sambil mengurai rambutnya ke belakang. Lyra menimpali, "Mau? Emangnya kamu mau sama aku?" Matanya menatap lekat pria di hadapannya. mata itu..... "Liatnya biasa aja, dong. Gue khilaf gimana? Kalau baper mau tanggung jawab?" "eh, eh, kalau mau jadi cowok dia harus kuat," timpal Kinan tertawa kecil. "kuat di ranjang?" "kuat dompetnya! dasar otak mesum." "Yaudah sama Lo aja gimana?" Pria itu menarik turunkan alisnya menggoda. Kinan melotot. "Jangan gitu, deh. Keliatan banget ga lakunya." "Sialan Lo!" Lyra yang menatap ponselnya seketika wajahnya berubah. Ia terlihat kesal dan sebegera memasukan ponselnya itu ke dalam tas. Hal tersebut ternyata disadari oleh Kinan. "Kenapa, Ra?" "Harry," balasnya yang dapat dimengerti kedua temannya. Mereka tau bagaimana awal hubungan Lyra dengan mantannya dan bagaimana mereka berakhir. Sangat disayangkan namun pria itu memang sudah menyakiti Lyra. Menyia-nyiakan kepercayaannya. "Kamu perlu kita ngomong sama dia buat jangan ganggu kamu?" "Ga perlu, biar ini jadi urusan aku aja." Seketika Jo teringat kejadian pagi tadi. "Ada yang nyariin Lo, Ra. Cuma gue lupa namanya." "Siapa?" "Cowok yang Lo cium semalam," jawabnya santai kemudian menyeruput kopi. Mendengar hal itu Kinan langsung heboh. "Tuh kan, pasti ada sesuatu semalam. Lo bilang Bapak-bapak kan, Jo? Yang perutnya buncit sama ada kumis tebel gitu?" "Itu Bapak Lo kali. Selera Lyra itu sugar Daddy. Tapi menurut gue sih umur segitu ga mungkin single." Lyra masih mencoba mengingat-ingat. Apakah benar dia mencium seseorang semalam? "Lo ga inget? Itu cowok udah baper sama Lo, ati-ati aja." "Ah, berisik! Orang gue ga inget apa-apa.""Selamat datang, Pak. Maaf karena Pak Johan belum datang. Dia masih di jalan terjebak macet.""Tidak apa-apa. Saya bisa tunggu.""Silahkan masuk ke dalam."Domini masuk ke ruang meeting setelah mendapat sambutan hangat. Di dalam ruang meeting sana sudah ada beberapa kolega yang sudah berkumpul. Salah satunya ada pria termuda yang ada di sana. Victor."Wah, akhirnya bertemu lagi secara langsung. Aku kira sudah digantikan dengan cucumu itu," celetuk seorang pria berumur dengan rambut yang ditutupi uban hampir setengahnya. "Dia belum siap, katanya masih muda. Takut belum bisa tanggung jawab.""Padahal kalau sudah turun ke dunianya bakal lebih mudah. Nanti juga bisa menyesuaikan."Domini hanya tersenyum. Dia tentu tak akan memaksa Lyra. Baginya keputusan Lyra untuk mengambil alih perusahaannya harus atas keinginan sendiri. Domini tak mau karena memaksanya justru menjadi beban untuk cucunya itu.Pria tua itu duduk di samping Victor yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diar
"Kakek mau kemana pagi-pagi udah rapih?" Lyra meletakkan sendoknya di atas piring dan menatap pria tua itu keluar kamar."Ada meeting penting di kantor. Kamu ke butik?""Iya. Aku gak enak sama karyawan di sana karena aku jarang datang ke butik. Pasti di sana repot."Domini tersenyum. Tangannya menggenggam erat tongkat kayu yang membantu langkahnya. "Suatu hari nanti kamu juga harus ambil alih usaha Kakek, semua. Kakek udah tua, gak bisa ngurus semuanya terus menerus."Lyra mengangguk pelan, hampir tak terlihat. Dia belum siap dengan tanggung jawab yang lebih besar. Mengurus butik saja terkadang masih kewalahan. Sayangnya mau tidak mau hari itu akan tiba. Kakeknya benar, umur setua itu tidak mungkin terus mengurus perusahaannya. Lyra pasti akan menggantikannya secepat mungkin."Kamu mau berangkat bareng?" tanya Domini sambil melangkah pergi."Duluan aja, aku mau makan dulu."Suara dentingan sendok kembali terdengar. Domini tau Lyra tak ingin semua ini, tapi yang dia punya sekarang hany
Victor berdiri menatap rumah megah di hadapannya. Dia ingin masuk ke dalam sana dan bertemu dengan seseorang yang mungkin akan merubah alur. Hidupnya sudah berantakan, jadi ia rasa sudah terlanjur. Kenapa tidak langsung membawa dirinya ke hal yang lebih ekstrim?"Mau bertemu siapa, Pak? Biar saya sampaikan ada tamu," ucap satpam menghampiri Victor yang sejak tadi diam di depan gerbang. "Tidak perlu. Saya pacarnya Lyra, dan udah buat janji ketemu sama kakeknya."Pria paruh baya itu mencoba mengingat wajah Victor dan dia ingat jika pria ini pernah datang bersama Lyra. Saat itu ia bahkan melihat sendiri Lyra digendong masuk ke dalam. Sepertinya tidak perlu laporan lagi."Kalau begitu langsung masuk saja, Bapak ada di dalam. Non Lyra dan teman-temannya juga ada.""Teman-temannya?"Victor menyadari jika ada mobil Harry di sana. Bibirnya tertarik membentuk senyum misterius. Akan lebih menyenangkan jika ada adik kesayangannya di sini.Langkah kakinya berjalan dengan tegas masuk ke area peka
Huek...Kinan dan Jonan terbangun mendengar suara Lyra yang muntah-muntah. Dengan cepat Kinan menghampiri Lyra ke kamar mandi, sementara Jo berniat membangunkan Harry namun pria itu tak ada di sana."Kamu kenapa?""Kayaknya gara-gara kebanyakan minum semalam." Lyra mencuci mulutnya dan mengambil tisu di dekat wastafel."Kamu ingat kejadian semalam?"Wanita itu menatap dirinya di cermin sambil mengangguk. Wajahnya memerah. Dia pikir Victor berbeda. Sampai nanti ia bertemu lagi dengan orang itu Lyra berjanji untuk membalasnya. "Yang penting Kakek jangan sampai tau semua ini.""Kakek?" Kinan teringat sesuatu. "Astaga! Ini jam berapa? Kakek kan pulang pagi ini, kamu harusnya udah pulang sekarang.""Ya ampun aku lupa."Mereka kembali ke kamar dan melihat Jonan sedang berbicara dengan Harry di depan pintu masuk. Ternyata Harry sudah bangun sejak tadi. Setelah mendengar alarm di ponsel Kinan pria itu pergi ke luar mencari udara segar.Harry yang melihat Lyra berniat mendekatinya tapi Kinan
"kamu gak apa-apa, kan? Dia udah ngapain aja?""Tolongin aku, panas."Lyra berdiri dan mendekati Harry. Jelas selimut yang sebelumnya menutupi tubuh kini tersingkap dan jatuh. Tubuh Harry terpaku sejenak. Wanita itu memeluknya dan berjinjit, mencoba mencium bibirnya. Tak ada balasan, Harry masih diam tanpa respon. Tubuh Lyra kembali merasa tersengat begitu bersentuhan dengan Harry. Ia bersemangat dan menggoda pria di hadapannya sambil meraba tubuh seakan ingin lebih. Bahkan air matanya luruh karena tak kuat menahan hasrat.Tak ingin semakin lama melihat Lyra tersiksa, Harry langsung melepaskan ciuman dan mengangkat tubuh wanita itu ke pundaknya. Menggendong layaknya karung beras."Lepasin! Plis sentuh aku. I need your touch... My skin.""If not because that fucking drug, I will. Kamu bakal marah sama aku besok kalau aku lakuin itu malam ini."Harry membawa Lyra ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran air di bathtub, mengisinya dengan air dingin. Setelah terisi setengah ia memasukan
"panas, gak kuat.""Aku bakal bantu kamu. Buka bajunya sekarang."Victor membantu melepaskan pakaian yang dikenakan Lyra. Satu persatu kain yang menutupi tubuhnya tersingkirkan. Meninggalkan bra dan panties. Tubuhnya meremang melihat pemandangan tersebut. Lyra yang menggeliat dan meremat seprai dengan kuat.Tak ada cara lain, untuk membuat Lyra menetap di hidupnya adalah dengan memberikan benihnya. Dengan begitu Lyra tak akan pernah meninggalkannya. Dia tak bisa kehilangan cinta barunya."Lama banget sih!" Lyra yang semakin hilang kendali langsung mendorong Victor ke atas kasur. Dirinya melepas kancing baju pria tersebut dan menciumnya."Oh, shit. Apa gue kebanyakan ngasih obatnya?" gumam Victor hampir tak terdengar.Kini Victor kembali memegang kendali. Ia mempermainkan tubuh Lyra hingga wanita itu menggelinjang. Mata indahnya bergulir karena rasa nikmat. Desah demi desah terdengar dari setiap sentuhan yang didapat."Ahh... Cepet masukin," titah Lyra dengan nafas terengah.Di tengah







