Share

Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku
Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku
Author: Vellichor_Ann

Pertemuan yang panas

Author: Vellichor_Ann
last update Last Updated: 2025-09-12 12:16:45

Lampu neon berkelip dengan warna merah dan biru, berpadu dengan dentuman musik yang membuat dinding klub malam itu bergetar. Aroma parfum mahal bercampur dengan alkohol menyebar di udara, membuat kesan yang memabukkan.

Di tengah keramaian, seorang wanita menarik perhatian hampir semua pasang mata. Lyra, cantik, seksi, dan berkarisma. Gaun hitam membalut tubuhnya dengan pas, menonjolkan lekuk yang membuat banyak pria terdiam hanya untuk menatap. Bibirnya merah berani.

"Mana Harry?" tanya seorang bartender di sebrang sana dengan sedikit berteriak.

Wanita itu menoleh dan menekuk bibirnya. "Jangan bahas dia lagi."

"Loh, kenapa?"

Ia menyandarkan tubuhnya pada meja bar, jemari lentiknya memutar gelas cocktail berwarna merah. Dulu setiap datang ke tempat ini Lyra selalu datang dengan mantannya. Pria itu tak mengijinkan kekasihnya untuk datang sendiri ke tempat seperti ini.

"Ck, udah basi."

Dari arah pintu masuk, datang sosok pria matang dengan aura berbeda. Memiliki aura yang mendominasi hingga kehadirannya langsung terasa. Kemeja putihnya digulung sebatas siku, menampilkan kesan maskulin yang memikat.

Itu juga menarik perhatian Lyra. Wanita itu memperhatikan penampilan orang yang terlihat berbeda. Terlalu formal berada di tempat seperti ini. Wajahnya seperti tidak asing. Mirip seseorang.

Lyra sudah meneguk lebih banyak cocktail daripada biasanya. Matanya makin berkilau, setengah sadar dia tersenyum menatap gelas di tangannya. telunjuknya bergerak mengetuk meja mengikuti alunan musik.

Kembali mengangkat wajah. Matanya menangkap kembali pria yang sejak awal masuk ke tempat ini hanya berdiri kaku. Berada di pojok ruangan, sendirian. Entah dorongan dari mana wanita itu berjalan mendekati pria yang sejak tadi menarik perhatiannya.

"Hi," sapanya tersenyum lembut.

Pria di depannya mengangkat sebelah alis. Seorang wanita muda, cantik, berlenggok menghampiri ke arahnya. Bahkan bau alkohol itu tercium begitu Lyra membuka mulutnya. Sepertinya wanita ini memang dalam pengaruh alkohol. Apa dia salah satu wanita malam yang bekerja di sini?

"Siapa?"

"Kamu mirip mantan aku. Tapi lebih tampan," ucapnya sambil tertawa pelan.

Ya, kini Lyra mulai sadar jika wajah yang tak asing itu mirip seperti mantannya. Atau hanya perasaannya saja? Apa karena dia rindu jadi melihat seseorang mirip sang mantan? Ah, mana mungkin.

"Pergi!" Pria itu masih memasang wajah datarnya. Masih belum mengerti tujuan perempuan ini menghampirinya.

“Kaku banget. Mau gabung sama aku? masa cowok seganteng ini ga ada yang godain," ajak Lyra dengan suara serak namun terdengar manis.

Pria itu meneguk ludahnya kasar. Sesaat menatap tubuh wanita di depannya dari atas sampai bawah. “Kamu sendirian di sini?" balasnya setengah berbisik.

Lyra tersenyum, menatapnya sambil menggigit bibir bawahnya. “Siapa bilang aku sendirian?"

"Apa kamu sedang menggoda saya? Kalau iya, kamu dalam bahaya."

"Bahaya?" ia tertawa kecil, lalu jari-jarinya yang ramping mulai menelusuri kerah kemeja manusia kaku di hadapannya, pura-pura membersihkan sesuatu yang tidak ada. “Pria lain biasanya udah menyerah kalau aku menatap mereka begini.”

Ya! Hanya saja Lyra tidak tau orang itu tengah menahan sesuatu.

Tidak kalah, pria tersebut mendekatkan wajahnya, hampir menempel ke wajah Lyra. Wanita ini apa sengaja menggodanya? Entah kenapa dia justru tertantang dan adrenalinnya terpacu. Napas hangat bercampur aroma alkohol, menggoda sekaligus berbahaya.

“Kenapa? Sekarang takut?” bisiknya, matanya berkilat menatap mata indah dihadapannya.

Lyra tertegun. Dia sendiri tidak tau kenapa tubuhnya menjadi memanas, wajahnya pasti merah sekarang. Jika tidak dalam pengaruh alkohol tidak mungkin dia melakukan hal seperti ini. Terlalu berani.

"Victor," ucapnya menjulurkan tangan, tiba-tiba memperkenalkan diri.

"Aku ga tanya nama kamu."

"Tapi kamu butuh nama itu untuk mendesah malam ini."

Tiba-tiba Victor menarik lengan Lyra hingga menabrak dada bidangnya. Lyra menatap mata tajam pria di hadapannya. kakinya menjinjit, mengecup lembut bibir menggoda. Victor sempat terkejut namun membalas. Tidak terburu-buru, begitu lembut.

Tangan kekar itu memeluk pinggang Lyra denga mesra, satu tangan menekan tengkuk leher. Decapan bibir mulai terdengar. Untungnya orang-orang di sini fokus pada diri masing-masing.

"Emh.. Vee," lenguh Lyra yang kehabisan nafas. Mengerti dengan hal itu Victor menghentikan ciumannya, namun wajah mereka masih dekat.

Vee? panggilan unik yang pernah ia dapatkan. Victor terdiam sesaat dan meremat pinggang Lyra dengan sensual. "yes, call me like that."

drttt...

Suara panggilan telepon menghentikan aktifitas sepasang sejoli yang tengah bercumbu mesra. Lyra sudah kehilangan akal, dia bahkan memeluk pria yang baru ia temui itu.

"Saya harus pergi."

"Kenapa? Kita belum selesai," jawabnya dengan mata sayu.

"Kamu mabuk. Nanti jika kita bertemu lagi kita lanjutkan saat kamu sadar."

Tanpa mengatakan apapun Victor pergi dari sana dengan terburu-buru. Meninggalkan Lyra yang menyandarkan tubuhnya di dinding hampir hilang kesadaran. Matanya terasa begitu berat. Sebelum matanya tertutup dia sempat melihat temannya, bartender tadi menghampiri ke arahnya.

"Pantes aja dulu Harry ga biarin dia minum sendiri."

***

Cahaya pagi menembus jendela besar apartemen modern itu. Seorang wanita berdiri di depan jendela, siluet tubuhnya tercermin sempurna. Tinggi semampai, lekuk tubuhnya tegas namun anggun. Dengan gerakan tenang, ia menguncir rambut hitam bergelombangnya, lalu membiarkannya jatuh elegan di bahu. Tubuhnya terbungkus gaun satin sederhana.

"Pusing banget. Kayaknya semalam kebanyakan minum." Lyra memijat pelipisnya lembut. "Tapi yang nganterin aku pulang siapa?"

Suara ponselnya yang bergetar mengalihkan perhatian Lyra yang tengah menatap jalanan ibu kota.

"Halo?" sapanya lembut pada orang di sebrang sana.

"Good morning Kitten." Terdengar suara berat mengalun di telinganya.

Sesaat Lyra menatap layar ponselnya. Tak ada nama yang tertera di sana namun dia tau betul siapa pemilik suara ini. Pria yang ia hindari selama setahun itu kembali menghubunginya. Panggilan itu, hanya satu orang yang memanggilnya.

Wanita itu menarik nafas kesal. "Kapan kamu berhenti ganggu aku?"

"Sampai kamu mau terima aku lagi. Emangnya kamu ga kangen sama aku? Sama Harry kecil," balas pria di sebrang sana dengan sedikit menggoda.

"Gila kamu! Stop hubungi aku! Aku udah punya pacar baru."

Dengan cepat Lyra mematikan panggilan telepon tersebut. Suasana hatinya langsung berubah. Tidak, Lyra tak punya kekasih sekarang namun Harry pasti akan berhenti mengganggunya jika tau dia punya kekasih baru.

"Ra, udah bangun belum?" teriak seseorang di luar kamar.

Lyra berjalan ke arah pintu dan menbukanya. Terlihat wanita seusianya yang terlihat begitu rapih. Kinan, teman dekatnya. "Kamu di sini?"

"Ya menurut kamu siapa yang bawa kamu pulang semalam? Jo ngasih tau aku, kamu mabuk sendirian di sana. Udah dibilang kamu ga bisa minum. Jangan nekat, deh," jawabnya mengomel.

Seketika Lyra mengalami Flashback tentang kejadian semalam. Dia tak ingat jelas, namun seingatnya terakhir adalah dia minum banyak alkohol dan Lyra menghampiri seorang pria semalam. Sisanya begitu samar.

Kinan berdecak melihat temannya yang justru melamun. "Ra! ayo siap-siap! kamu lupa hari ini kamu mau nyiapin acara nanti malam?"

oh, ya ampun! Hampir saja ia lupa malam ini adalah acara peresmian butiknya. Hadiah dari Kakeknya sebagai tanda kelulusan Lyra yang baru saja wisuda bulan kemarin. Dia harus memastikan acara ini berjalan dengan lancar.

"Yaudah aku mau mandi dulu,"ucap Lyra hendak pergi namun ditahan.

"Sebentar! Jo bilang semalam kamu godain cowok? bapak-bapak?"

Wanita itu melotot tak terima. "Ih, ngaco kamu. Mana ada aku godain cowok, apalagi bapak-bapak."

"Bagus, deh. Jangan sampe kamu godain suami orang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   penghancur hubungan keluarga

    Plak!"Keterlaluan kamu!"Lyra memegangi pipinya yang terasa panas. Air matanya menetes begitu saja setelah tamparan yang didapatnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya seseorang menampar wajahnya. Semarah apapun kakeknya dia tak pernah seperti ini, tapi kali ini tandanya sebuah kesalahan besar.Melihat kejadian di depannya Harry yang ada di sana berniat menghampiri Lyra, sayangnya Domini menahan dan meminta orang-orang di sana keluar ruangan meninggalkan dirinya berdua dengan sang cucu. Yang ternyata di sana juga memang sudah ada Kinan dan Jonan. Mereka mendapat kabar ini justru lebih awal."Kurang ajar Abang Lo kalau dia sampe nyebar berita kayak gitu. Mana jelas-jelas foto mesra yang malah bikin orang berpikir buruk," ucap Jonan menggerutu.Kinan nampak kurang setuju. "Tapi kayaknya bukan dia. Coba deh logika aja. Bukannya Harry sendiri bilang kalau abangnya gak pernah koar-koar kalau dia punya istri? Tapi jelas di postingan itu udah ada orang komen kalau beberapa tau tentang status

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Untung atau buntung?

    "Selamat datang, Pak. Maaf karena Pak Johan belum datang. Dia masih di jalan terjebak macet.""Tidak apa-apa. Saya bisa tunggu.""Silahkan masuk ke dalam."Domini masuk ke ruang meeting setelah mendapat sambutan hangat. Di dalam ruang meeting sana sudah ada beberapa kolega yang sudah berkumpul. Salah satunya ada pria termuda yang ada di sana. Victor."Wah, akhirnya bertemu lagi secara langsung. Aku kira sudah digantikan dengan cucumu itu," celetuk seorang pria berumur dengan rambut yang ditutupi uban hampir setengahnya. "Dia belum siap, katanya masih muda. Takut belum bisa tanggung jawab.""Padahal kalau sudah turun ke dunianya bakal lebih mudah. Nanti juga bisa menyesuaikan."Domini hanya tersenyum. Dia tentu tak akan memaksa Lyra. Baginya keputusan Lyra untuk mengambil alih perusahaannya harus atas keinginan sendiri. Domini tak mau karena memaksanya justru menjadi beban untuk cucunya itu.Pria tua itu duduk di samping Victor yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diar

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Penyebar rahasia

    "Kakek mau kemana pagi-pagi udah rapih?" Lyra meletakkan sendoknya di atas piring dan menatap pria tua itu keluar kamar."Ada meeting penting di kantor. Kamu ke butik?""Iya. Aku gak enak sama karyawan di sana karena aku jarang datang ke butik. Pasti di sana repot."Domini tersenyum. Tangannya menggenggam erat tongkat kayu yang membantu langkahnya. "Suatu hari nanti kamu juga harus ambil alih usaha Kakek, semua. Kakek udah tua, gak bisa ngurus semuanya terus menerus."Lyra mengangguk pelan, hampir tak terlihat. Dia belum siap dengan tanggung jawab yang lebih besar. Mengurus butik saja terkadang masih kewalahan. Sayangnya mau tidak mau hari itu akan tiba. Kakeknya benar, umur setua itu tidak mungkin terus mengurus perusahaannya. Lyra pasti akan menggantikannya secepat mungkin."Kamu mau berangkat bareng?" tanya Domini sambil melangkah pergi."Duluan aja, aku mau makan dulu."Suara dentingan sendok kembali terdengar. Domini tau Lyra tak ingin semua ini, tapi yang dia punya sekarang hany

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Akankah tersebar?

    Victor berdiri menatap rumah megah di hadapannya. Dia ingin masuk ke dalam sana dan bertemu dengan seseorang yang mungkin akan merubah alur. Hidupnya sudah berantakan, jadi ia rasa sudah terlanjur. Kenapa tidak langsung membawa dirinya ke hal yang lebih ekstrim?"Mau bertemu siapa, Pak? Biar saya sampaikan ada tamu," ucap satpam menghampiri Victor yang sejak tadi diam di depan gerbang. "Tidak perlu. Saya pacarnya Lyra, dan udah buat janji ketemu sama kakeknya."Pria paruh baya itu mencoba mengingat wajah Victor dan dia ingat jika pria ini pernah datang bersama Lyra. Saat itu ia bahkan melihat sendiri Lyra digendong masuk ke dalam. Sepertinya tidak perlu laporan lagi."Kalau begitu langsung masuk saja, Bapak ada di dalam. Non Lyra dan teman-temannya juga ada.""Teman-temannya?"Victor menyadari jika ada mobil Harry di sana. Bibirnya tertarik membentuk senyum misterius. Akan lebih menyenangkan jika ada adik kesayangannya di sini.Langkah kakinya berjalan dengan tegas masuk ke area peka

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   malaikat penjaga

    Huek...Kinan dan Jonan terbangun mendengar suara Lyra yang muntah-muntah. Dengan cepat Kinan menghampiri Lyra ke kamar mandi, sementara Jo berniat membangunkan Harry namun pria itu tak ada di sana."Kamu kenapa?""Kayaknya gara-gara kebanyakan minum semalam." Lyra mencuci mulutnya dan mengambil tisu di dekat wastafel."Kamu ingat kejadian semalam?"Wanita itu menatap dirinya di cermin sambil mengangguk. Wajahnya memerah. Dia pikir Victor berbeda. Sampai nanti ia bertemu lagi dengan orang itu Lyra berjanji untuk membalasnya. "Yang penting Kakek jangan sampai tau semua ini.""Kakek?" Kinan teringat sesuatu. "Astaga! Ini jam berapa? Kakek kan pulang pagi ini, kamu harusnya udah pulang sekarang.""Ya ampun aku lupa."Mereka kembali ke kamar dan melihat Jonan sedang berbicara dengan Harry di depan pintu masuk. Ternyata Harry sudah bangun sejak tadi. Setelah mendengar alarm di ponsel Kinan pria itu pergi ke luar mencari udara segar.Harry yang melihat Lyra berniat mendekatinya tapi Kinan

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Dalam masalah

    "kamu gak apa-apa, kan? Dia udah ngapain aja?""Tolongin aku, panas."Lyra berdiri dan mendekati Harry. Jelas selimut yang sebelumnya menutupi tubuh kini tersingkap dan jatuh. Tubuh Harry terpaku sejenak. Wanita itu memeluknya dan berjinjit, mencoba mencium bibirnya. Tak ada balasan, Harry masih diam tanpa respon. Tubuh Lyra kembali merasa tersengat begitu bersentuhan dengan Harry. Ia bersemangat dan menggoda pria di hadapannya sambil meraba tubuh seakan ingin lebih. Bahkan air matanya luruh karena tak kuat menahan hasrat.Tak ingin semakin lama melihat Lyra tersiksa, Harry langsung melepaskan ciuman dan mengangkat tubuh wanita itu ke pundaknya. Menggendong layaknya karung beras."Lepasin! Plis sentuh aku. I need your touch... My skin.""If not because that fucking drug, I will. Kamu bakal marah sama aku besok kalau aku lakuin itu malam ini."Harry membawa Lyra ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran air di bathtub, mengisinya dengan air dingin. Setelah terisi setengah ia memasukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status