Share

Wanita yang Diarak Keliling Kampung itu, Istriku
Wanita yang Diarak Keliling Kampung itu, Istriku
Penulis: Naffa Aisha

Penggerebekan

Wanita yang Diarak Keliling Kampung itu, Istriku

Bab 1 : Penggerebekan

"Man, cepat pulang! Istrimu, Man, istrimu .... " Satrio--temanku datang dengan napas ngos-ngosan, wajahnya juga terlihat memucat.

"Shadaqallahul adzim." Segera kututup Al-Qur'an di hadapan.

"Ayo, cepat, Man!" Satrio menarik tanganku, ia terlihat sudah tidak sabar untuk mengajakku pulang dari mushola ini.

"Wenny kenapa, Sat?" Hatiku jadi bimbang melihat gelagat temanku yang dijuluki bujang tua ini.

"Susah jelasinnya, pokoknya kamu cepat pulang saja dan lihat sendiri!" Satrio sudah menarik tanganku untuk naik ke boncengan motornya.

Aku menurut saja, perasaan semakin tak enak saja. Jangan-jangan Wenny sakit, padahal tadi saat aku pamit ke mushola hendak sholat magrib sampai isya, dia baik-baik saja. Ya Allah, semoga istriku tidak kenapa-kenapa.

"Sat, kok nggak ke arah rumahku?" tanyaku sambil menepuk pelan pundaknya.

"Kita langsung ke balai desa saja, sepertinya istrimu sudah diarak ke sana," jawab Satrio dengan suara yang beradu dengan angin, yang membuatku semakin tak paham akan apa yang sedang terjadi pada istriku.

Belum sempat aku bertanya, Satrio sudah menghentikan motornya. Di depan kami terlihat kerumunan warga yang sedang mengarak dua orang, pria dan wanita.

"Hukum rajam saja!"

"Dibakar saja kerak api neraka itu!"

"Pezinah itu harus mati!"

"Baiknya dinikahkan saja!"

"Dia wanita bersuami, sungguh hina kelakuannya!"

Aku langsung turun dari motor Satrio dan berlari mendatangi kerumunan yang sedang menghujat dua orang yang sudah dijatuhkan di halaman balai desa.

"Ampun ... kumohon jangan bakar kami!"

"Jangan hakimi kami seperti ini!"

Terdengar tangisan dari dua orang itu. Aku segera menyibak kerumunan itu sebab ingin memastikan kalau wanita yang diarak dengan tanpa pakaian itu bukanlah istriku.

"Wenny!" Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat wanita yang kunikahi dua tahun yang lalu itu sedang tertunduk menutupi bagian tubuh sensetifnya.

"Bang Arman!" Tangis Wenny semakin pecah, sedangkan pria di sampingnya juga terlihat menutupi bagian tubuhnya yang kini tanpa benang sehelai pun itu. Ternyata keduanya diarak tanpa busana, entah ditel*nj*ngi warga ataukah mereka kepergok memang sudah tanpa busana begitu.

"Ya Allah, Wen, apa yang terjadi? Apa kamu ... agghh ... berselingkuh ... dengan pria ini?" Dadaku terasa sesak, dunia ini terasa runtuh.

"Maafkan aku, Bang, semuanya tak seperti dugaanmu, aku tak selingkuh, Bang!" Wenny langsung memeluk lututku.

Pak RT mendekat, dan Bu RT terlihat membawa selimut dan menutupi tubuh Wenny. Aku juga tak tega melihat istriku diarak tanpa busana begini.

"Maafkan kami, Arman, karena telah melakukan semua ini sebab ... kami tak mau ada perjinahan lagi di kampung kita ini, biar ada efek jera bagi yang lain. Apalagi ... mengingat Wenny ini istrimu--wanita bersuami. Selingkuhannya ini pria kampung sebelah, yang memang sudah lama kami intai, tapi kami tak tahu ke rumah mana ia sering berkunjung dan baru malam ini warga membuntutinya. Ternyata dia ke rumahmu, dan saat kami gerebek, keduanya sedang beraksi di ruang tamu." Pak RT menjelaskan dengan berapi-api, aku tahu dia emosi, aku juga sebenarnya tapi aku masih shock akan semua ini.

Aku melepas mengusap wajah, perasaanku campur aduk sekarang, antara percaya dan tidak.

"Bang, semuanya tak seperti yang diceritakan Pak RT, kami tak sedang berbuat maksiat. Dia ini Fatur, teman lamaku yang hanya datang bertamu. Mereka semua yang telah membuat kami tanpa busana begini!" Wenny berkata dengan setengah berteriak.

"Man, mana ada pencuri mau mengaku! Istrimu ini tukang selingkuh, segera talak dia! Dasar, istri durhaka, suami sedang tadarusan di mushola, dia malah berbuat tak senonoh di rumah." Pak RT yang berstatus pamanku itu berteriak lantang sambil menunjuk istriku, dia terlihat sangat marah. Wajar saja pamanku bersikap seperti itu , aku ini keponakannya yang diselingkuhi.

"Bang, percayalah kepadaku, aku tak berjinah, Bang!" Wenny masih berlutut di kakiku.

"Arman, benar kata Wenny, kami hanya berteman. Aku ... hanya datang bertamu saja ke rumahmu, dan aku tak tahu kalau dirimu tak ada di rumah. Warga desa telah memfitnah kami, mereka yang melepas pakaian kami!" Pria bernama Fatur itu ikut berlutut di kakiku.

Aku dilema, antara mempercayai penuturan Pak RT yang merangkap sebagai pamanku itu, atau mempercayai istriku. Aku tak bisa berpikir dengan jernih, semua ini membuat kepalaku berdenyut nyeri.

"Man, ceraikan wanita tukang selingkuh ini sekarang juga! Kami masih muda dan tampan, tak sulit bagimu mencari pengganti istri yang tidak bisa menjaga diri ini!" Pak RT menepuk pundakku.

Kuedarkan pandangan ke warga lainnya lalu meminta kesaksian dari mereka satu persatu dan perkataan mereka sama dengan perkataan Pak RT. Kutarik napas panjang dan menguatkan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya tak pernah kubayangkan akan terjadi pada pernikahanku dan Wenny, wanita yang sempat berpacaran satu tahun denganku sebelum kami memutuskan untuk menikah.

Kehidupan rumah tangga kami memang masih sepi, sebab di usia pernikahan yang sudah menginjak dua tahun ini, Wenny tak kunjung hamil juga. Mungkin dia menginginkan anak, makanya selingkuh dariku dan menganggap aku ini pria yang tak mampu membuahinya.

"Wenny Meylany binti Abdul Karim, aku jatuhkan talakku padamu malam ini juga! Besok akan kuurus berkas perceraian kita, segeralah menikah dengan selingkuhan ini setelah masa iddahmu habis!" ujarku lantang lalu beralih lirih, karena air mata tak dapat kutahan untuk berjatuhan.

"Bang Arman!" Wenny berteriak.

Aku segera menepis tangannya dari lututku, lalu membalik badan menuju pulang. Satrio mengejarku dan menawarkan naik ke motornya, tapi aku tidak mau. Perasaanku benar-benar hancur sehancur-hancurnya malam ini, rumah tanggaku hancur malam ini dengan sebab perselingkuhan Wenny. Benarkah keputusanku ini? Apa tidak terlalu gegabah? Entahlah, aku tak bisa berpikir dengan waras lagi saat ini.

***

Lima bulan berlalu pasca kandasnya pernikahanku dengan Wenny. Di malam petaka itu, aku langsung meninggalkannya di balai desa dan sudah tak perduli lagi dengannya. Dia juga tak pernah kembali ke rumah lagi. Dia juga tak pernah datang di persidangan gugatan cerai yang kuajukan, sehingga pada sidang kedua keputusan cerai langsung ketuk palu.

Berita yang kudengar, dia kembali ke rumah orangtuanya dan semoga pasangan selingkuhnya itu mau menikahinya. Walau hati masih sakit, tapi aku akan berdoa untuk kebahagiaannya.

Sore ini, sepulang dari bekerja, aku sengaja ingin lewat di depan rumah orangtua mantan istriku itu. Terus terang, aku merindukannya, walau kesalahannya begitu fatal. Aku berharap bisa melihatnya dari kejauhan.

Aku menghentikan motor dan menatap ke arah rumah sederhana yang warna catnya sudah memudar itu, terlihatlah istriku dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya, sedang duduk di kursi terasa sambil memegangi perutnya yang membuncit.

Ya Allah, Wenny hamil? Apa itu hasil perbuatannya di malam sebelum diarak warga? Kami baru berpisah kurang lebih lima bulan, kemungkinan kalau dia hamil dari malam itu, usianya baru 4 bulan, tapi kini perutnya sudah segede orang hamil 9 bulan. Ada apa ini? Apalah Wenny hamil anakku ataukah dia memang sudah lama berselingkuh dengan pria kampung sebelah itu?

Bersambung ....

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Saputri
Kasihan juga
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status