Home / Romansa / Wanita yang Mendambakan Suamiku / Bab 6. Pertemuan di Balik Rencana

Share

Bab 6. Pertemuan di Balik Rencana

Author: Bintu Hasan
last update publish date: 2025-02-19 12:49:09

Langit malam masih gelap ketika Liam duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang kini terasa lebih berat dari biasanya. Percakapan yang baru saja terjadi masih terngiang di kepala, berputar seperti rekaman yang enggan berhenti. Ada sesuatu dalam nada suara di seberang sana yang membuat pikiran pria itu terusik meskipun hati menolak untuk mempercayai sepenuhnya.

Di depannya, sang istri berdiri dengan tangan bersedekap, tatapannya tajam dan penuh ketidaksetujuan. Dia sudah mendengar semuanya—tentang telepon yang diterima, tentang janji pertemuan yang diminta. Dan yang paling tidak dia suka, tentang kebimbangan yang kini terlihat jelas di wajah pria itu.

“Kamu mau ketemu dia, Mas?” Suara wanita itu terdengar dingin, seperti peringatan yang tak perlu diucapkan dua kali. Ada nada ketegasan yang membuat udara di antara mereka terasa lebih berat.

Liam menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “Dia bilang ini soal nyawa, Sayang.” Kalimat itu keluar dengan nada datar, tapi ada ketegangan di dalamnya. Mata mereka bertemu, menyalurkan ketidakpastian yang sama kuatnya dengan keyakinan masing-masing.

Keheningan menggantung sejenak, menciptakan ruang yang dipenuhi dengan pemikiran yang bertabrakan. Pria itu tahu, ada luka lama yang belum benar-benar sembuh. Istrinya itu pun tahu, tak mudah meyakinkan seseorang yang pernah terluka untuk tidak jatuh ke lubang yang sama.

Liam mengalihkan pandangan ke arah jendela, membiarkan pikirannya bekerja lebih cepat dari perasaan. Dia tak percaya begitu saja dengan ucapan yang baru didengarnya, tapi ada sesuatu yang mengusik naluri. Jika memang ada sesuatu yang lebih besar, maka dia harus memastikan segalanya dengan mata sendiri.

"Kalau gitu aku ikut," ucap Rosa dengan suara tegas, seakan tak memberi ruang untuk perdebatan. Rahangnya mengeras, menunjukkan bahwa dia sudah memutuskan sesuatu dan tak akan mengubah pikirannya.

Pria dengan hidung bangir itu menatapnya, jelas tak setuju dengan ide itu.

"Ros, ini bukan ide bagus," jawabnya, kali ini dengan nada yang lebih lembut. Dia tahu perempuan di depannya keras kepala, tapi ini bukan sesuatu yang bisa dihadapi bersama.

"Tapi dia mantan kamu, Mas. Malah dia jelas-jelas mengakui kamu masih jadi miliknya tadi. Kamu pikir aku gak denger itu semua?"

"Seperti aku yang percaya sama kamu. Kamu pun harus percaya sama aku."

"Baiklah." Suara Rosa hampir terdengar seperti bisikan. Dia tahu dirinya sulit bertindak karena kehadiran Raka. Namun, wanita itu sudah punya rencana sendiri. Jika suaminya tak mau membawanya serta, maka dia akan menemukan jalan itu sendiri.

***

Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan. Matahari sudah tinggi ketika Rosa berdiri di depan cermin, menatap bayangannya dengan penuh pertimbangan. Rencana yang dia susun sudah matang dan dia yakin bisa menjalankannya dengan baik.

Kunci mobil ada dalam genggaman, langkahnya ringan tapi penuh kehati-hatian. Namun, saat dia baru saja hendak keluar dari kamar, suara lembut, tapi tegas menghentikan langkahnya.

"Mau ke mana?"

Suara itu datang dari wanita yang lebih tua, yang kini berdiri di ambang pintu dengan ekspresi khawatir. Wajahnya menyiratkan kelelahan, tapi sepasang mata tetap tajam, seakan bisa membaca apa yang sedang direncanakan anaknya.

Rosa menelan saliva, berusaha untuk tetap tenang. Dia tak ingin berbohong, tapi juga enggan menjawab dengan jujur. Namun, sorot mata di depannya menuntut kejelasan.

"Jangan bilang kamu mau ngikutin suamimu," tebak Bu Rini, kali ini suaranya terdengar lebih tegas.

Rosa menggigit bibir, jari-jarinya mengepal di sisi tubuhnya. Dia bisa saja mengelak, tapi sang mama terlalu cerdas untuk dibohongi.

Wanita paruh baya yang masih terlihat segar itu mendekat karena berusaha menyampaikan sesuatu, suaranya sedikit melembut.

"Zaman sekarang pelakor makin berani, Ros Kamu hati-hati," katanya, penuh kekhawatiran.

Kalimat itu membuat hati Rosa bergetar, menyadarkan dirinya akan sesuatu yang selama ini selalu dia takutkan. Dia tak ingin terlihat seperti wanita yang cemburu tanpa alasan, tapi apakah ini hanya soal kecemburuan? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam dari itu?

"Tapi Mama tahu Liam ke mana hari ini selain kerja?"

"Mama tahu. Tadi waktu kamu lagi mandi, Liam cerita soal Evelyn—"

"Dan Mama bilang apa?"

"Sudahlah, kamu harus percaya sama Liam. Kamu pun ada masalah yang menyangkut tentang Raka, kan?"

Rosa mengangguk lemah. Keinginannya untuk pergi perlahan memudar. Dia tak ingin membuat mamanya semakin cemas, tak ingin menambah beban yang sudah cukup berat di pundaknya. Dengan berat hati, ia memilih untuk tetap tinggal, meski hatinya masih dipenuhi kegelisahan.

***

Di sebuah kafe dengan pencahayaan redup, dua orang duduk berhadapan. Aroma kopi menguar di udara, bercampur dengan keheningan yang membentang di antara mereka. Percakapan belum dimulai, tapi tatapan mata sudah cukup untuk menunjukkan ketegangan yang menggantung.

Pria itu tetap diam, menunggu lawan bicaranya membuka suara lebih dulu, sementara wanita yang ada di depannya menatap cangkir kopi di tangan, seakan mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya berbicara.

"Aku nggak pernah benar-benar pergi karena mau." Suara Evelyn terdengar pelan, hampir seperti pengakuan. Jari-jarinya saling meremas di atas meja, menunjukkan ketegangan yang tak bisa disembunyikan. "Aku pergi buat lindungin kamu, bukan karena aku ninggalin kamu."

Liam sengaja mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. Luka lama kembali menganga, meninggalkan sensasi yang dulu pernah begitu menyakitkan. Dia tak ingin mendengar alasan, tapi suara di depannya terus berbicara.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati dari kejauhan. Seorang perempuan duduk di sudut kafe, mengangkat ponselnya dengan gerakan cepat. Jemarinya lincah, menangkap momen yang mungkin akan menjadi awal dari badai baru. Sebuah pesan singkat terkirim dalam hitungan detik, membawa kabar yang bisa mengubah segalanya.

"Aku masih ingat semua tentang kita, Liam." Evelyn melanjutkan, suaranya nyaris bergetar. Ada kesungguhan dalam sorot matanya, seakan berharap pria itu akan merasakan hal yang sama. "Dan aku tahu, jauh di dalam hati, kamu masih ingat juga."

Jari-jari Liammengetuk meja, pikirannya sibuk memilah-milah kenyataan dan kenangan. Dia tak ingin terjebak di masa lalu, tapi kata-kata itu menggoyahkan benteng yang selama ini dia bangun.

Namun, saat ia hendak membuka mulut untuk menjawab, wanita berambut kuning kecokelatan itu kembali bicara. Kali ini, topik yang diangkat membuat mata pria itu menyipit waspada.

"Kamu inget Raka, kan?" Nama itu meluncur begitu saja, membawa sensasi tak nyaman dalam dada Liam. Dia menegakkan punggung, menatap lawan bicaranya dengan pandangan penuh selidik. "Aku yakin kamu nggak tau semua tentang istri kamu."

"Kamu ngajak aku ketemu cuma buat dengerin ini, Evelyn?"

"Liam, aku mencintaimu. Aku gak pernah ninggalin kamu. Di antara kita, kamu yang punya pasangan. Aku berusaha meyakinkan orang tuaku untuk balik ke sini, tapi kabar yang kudengar adalah kamu akan menikah."

"Lantas, kenapa kamu datang tepat di hari pernikahanku? Malah menuduh Rosa dan membawa Raka. Sebenarnya apa yang kamu mau?"

"Aku mau kamu, tapi tentang Rosa itu bukan kebohongan!"

Keheningan langsung memenuhi ruang di antara mereka. Udara di sekitar terasa lebih dingin, lebih menekan. Untuk pertama kalinya dalam percakapan ini, pria itu merasa seakan sedang terjebak dalam permainan yang dia tak mengerti aturannya.

"Kalau kamu tahu siapa dia sebenarnya," lanjut perempuan itu, suaranya lebih pelan dan menusuk, "mungkin kamu nggak akan segini percayanya sama dia."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 41

    Sembilan bulan berlalu sejak tangis penyesalan dan pengampunan bergema di lereng Gunung Lawu. Waktu berjalan seperti air yang mengalir perlahan, mengikis satu per satu batuan tajam trauma yang selama ini menyumbat aliran kebahagiaan di antara Liam dan Rosa.Segala bentuk kemewahan palsu yang dulu menjadi pemicu petaka telah mereka tanggalkan tanpa sisa. Rumah utama yang penuh kenangan pahit, saham-saham warisan yang tercemar sengketa, hingga posisi mentereng Liam di ibu kota, semuanya telah dilepaskan dan dialihkan untuk mendanai panti asuhan serta yayasan sosial korban kecelakaan kerja.Kini, mereka berada di sebuah kota yang jauh lebih tenang, di pinggiran Jogjakarta, tempat di mana langit sore selalu berwarna jingga hangat tanpa sekat kepulan polusi.Liam membangun kembali hidupnya dari titik paling dasar. Tidak ada lagi setelan jas mewah seharga puluhan juta atau ratusan karyawan yang membungkuk hormat. Pria tegap itu kini hanya memimpin sebuah perusahaan kontraktor lokal kecil-ke

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 40

    Dia mencoba mengangkat tangan kirinya yang tertancap jarum infus, memberikan isyarat dengan gerakan lemah agar Rosa mendekat ke arahnya. Liam menoleh ke belakang, menatap Rosa dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Ada permohonan yang tak terucap dari mata Liam, sebuah permohonan dari seorang anak yang sedang menyaksikan ibunya sekarat, meminta agar sang istri sudi memberikan secercah kebaikan di ujung jalan kematian ini. Rosa menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kamar yang dingin, lalu mengembuskannya dengan sangat perlahan untuk menguasai gejolak emosi di dalam dadanya. Dia melangkah maju dengan langkah kaki yang teratur dan tegar, memutari ranjang, hingga kini dia berdiri tepat di sisi lain tempat tidur, berhadapan langsung dengan ibu mertuanya. Begitu Rosa berada cukup dekat, Bu Diana dengan gerakan yang tergesa-gesa langsung meraih jemari tangan kanan Rosa. Cengkeraman tangan wanita tua itu terasa dingin namun dipenuhi oleh keputusasaan yang luar

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 39

    Perjalanan darat menembus pekatnya malam menuju lereng Gunung Lawu terasa bagai sebuah migrasi panjang tanpa akhir. Di dalam kabin mobil yang kedap, kesunyian bergulir di antara deru mesin yang konstan dan sapuan lampu sorot yang membelah jalanan aspal berkelok-kelok. Di kanan dan kiri jalan, siluet pohon-pohon jati dan pinus yang rapat tampak seperti barisan raksasa hitam yang membisu, menyaksikan pelarian sebuah keluarga yang sedang dikejar oleh waktu. Liam memfokuskan pandangannya pada marka jalan di depan. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang memerah akibat kantuk dan sisa tangis terasa sangat perih, namun dia menolak untuk menepi walau hanya untuk sekadar memejamkan mata selama lima menit. Di dalam dadanya, ada ketakutan yang teramat sangat ketakutan bahwa dia akan terlambat, ketakutan bahwa ibunya akan pergi sebelum dia sempat mendengar satu patah kata pun penjelasan, atau sebelum dia sempat memberikan satu pen

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 38

    Ruang tengah itu mendadak kehilangan seluruh suplainya akan udara.Kesunyian yang tercipta pasca-pengakuan Rosa terasa begitu pekat, menindih dada siapa pun yang ada di sana hingga terasa sesak.Naina yang duduk di sudut sofa langsung membekap mulutnya sendiri, air matanya ikut meleleh melihat bagaimana takdir sedang menguliti sahabatnya dengan cara yang begitu kejam.Liam menatap layar laptop, lalu beralih menatap Rosa yang duduk mematung dengan pandangan kosong.Tubuh pria itu bergetar hebat.Rasa bersalah yang selama berbulan-bulan ini membakar dirinya, kini berubah menjadi sebuah kehancuran mental yang mutlak."Ros..." suara Liam tercekat, nyaris tak terdengar.Dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke lantai, berlutut dan mencoba meraih kaki Rosa dengan tangan yang gemetar."Rosa, aku... demi Allah, aku nggak tahu... Aku nggak pernah tahu kalau perusahaan Ayah dulu...""Jangan sentuh aku dulu, Mas. Tolong," potong Rosa, suaranya sangat pelan, sangat tenang, namun getaran luka di dalamn

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 37

    Angin siang yang berembus kencang di pekarangan teras membuat dedaunan pohon mangga saling bergesekan, menciptakan suara gemeresik yang seolah memperingatkan Rosa akan bahaya baru.Rosa masih berdiri mematung di dekat pagar besi, menatap benda pipih berwarna perak di atas pilar beton dengan pandangan nanar.Genggamannya pada selang air melonggar hingga air mengalir membasahi rumput di bawah kakinya tanpa dia sadari.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rosa akhirnya mematikan keran air, lalu meraih flashdisk pemberian Rainer itu.Logam dinginnya terasa seperti es yang menyengat kulit telapak tangannya.Kalimat terakhir Rainer terus bergaung di dalam kepalanya seperti mantera yang menakutkan:Dosa besar di masa lalu yang membuat ibunya bersedia menghancurkan pernikahanmu.Baru saja Rosa hendak melangkah masuk ke dalam rumah, sebuah mobil taksi online berhenti di depan pagar.Pintu belakang terbuka, dan Naina keluar dengan membawa sekotak martabak manis kesukaan Rosa.Senyum ceria sahaba

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 36

    Malam-malam di rumah baru mereka kini berjalan dengan pola yang berbeda, namun esensi jarak itu masih ada.Tiga minggu telah berlalu sejak dua garis merah itu mengubah status Rosa menjadi seorang calon ibu.Perubahan fisik mulai terlihat; wajah Rosa terkadang tampak lebih bersinar, namun gurat lelah di matanya akibat morning sickness yang parah tidak bisa disembunyikan.Liam benar-benar membuktikan ucapannya.Pria itu berubah total menjadi sosok yang sangat domestik.Setiap pagi sebelum matahari terbit, Liam sudah terbangun untuk menyiapkan air hangat dan wedang jahe di nakas tempat tidur Rosa.Dia mengambil alih cucian, memesan makanan bernutrisi, bahkan mengurangi jam kerjanya di kantor secara drastis demi bisa berada di rumah lebih lama.Namun, bagi Rosa, semua perhatian fisik itu belum cukup untuk meruntuhkan benteng pertahanan di dalam dadanya.Rosa masih sulit percaya pada Liam.Jauh di dalam lubuk hatinya, trauma enam bulan disidang dan dituduh secara kejam oleh suaminya sendir

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 7. Jejak Masa Lalu

    "Memangnya Rosa kayak gimana?""Apa aku masih harus mengeja?"Liam terdiam. Tak lama kemudian, dia menghela napas panjang beriring harapan bahwa tuduhan itu tidaklah benar.Masih di dalam kafe yang remang-remang, Evelyn menatap pria di hadapannya dengan mata penuh harapan. Aroma kopi bercampur deng

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 5. Permainan Dimulai

    Pria itu menatapnya lekat-lekat. "Aku akan tetap bersamamu. Aku juga minta maaf soal tadi." Kata-kata itu terasa manis, tetapi juga menakutkan. Bisakah mereka benar-benar bertahan melawan dunia? Wanita itu menarik napas panjang. Dia ingin percaya, tetapi hatinya masih penuh ketakutan. Karena ken

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 4. Pergulatan Hati

    “Kamu mau ke mana, Liam? Keluarga kita sedang dipermalukan dan kamu masih mau membela perempuan ini?” Suara ibunya tajam, hampir seperti ancaman. Namun, Liam tidak goyah. Dia melangkah mendekati Rosa dan menggenggam tangannya dengan kuat, memberi isyarat bahwa dia tidak akan melepaskannya begitu saj

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 3. Retaknya Kepercayaan

    Liam dan Rosa melangkah ke dalam aula pernikahan, tetapi suasana yang menyambut mereka sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Bisikan-bisikan tajam terdengar di antara para tamu, menciptakan suasana penuh ketegangan yang menusuk hingga ke tulang. Mata-mata yang menatap mereka bukanlah ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status