LOGINMalam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh gunung Thevrion. Tidak biasanya angin berhenti bergerak, seolah semua alam menahan napas. Langit begitu gelap hingga lentera-lentera sekte tampak seperti titik cahaya rapuh yang bergetar di tengah kekosongan.
Raynar berjalan pelan keluar dari ruang penyembuhan. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi pikirannya resah. Suara gema—halus seperti bisikan angin—bergetar di benaknya sejak bangun. “Pewarisku… Kegelapan telah mencium jejakmu.” Ia menggigil. Suara itu bukan suara manusia, bukan pula suara dari dalam dirinya. Itu… suara naga itu lagi. Ketika Raynar menatap ke kejauhan, ia melihat kabut hitam tipis mulai turun dari puncak hutan di bawah gunung. Kabut itu bukan kabut biasa. Terasa berat. Pekat. Seolah memiliki kehendak sendiri. Dan dari kejauhan terdengar sesuatu— suara gesekan yang tidak seharusnya dimiliki makhluk hidup. Sek-sek-sek… Raynar merinding. “Raynar!” Ia menoleh cepat. Linara berlari menghampirinya, napasnya memburu. “Apa yang kau lakukan di luar?! Kau seharusnya istirahat—” Ia berhenti ketika melihat kabut hitam itu. Wajahnya langsung pucat. “…Tidak mungkin,” bisiknya. “Ka—kau mengenal kabut itu?” tanya Raynar. “Bukan kabut.” Linara memegang lengan Raynar erat. “Itu tanda kedatangan mereka.” “S—siapa?” “Terlalu cepat… seharusnya tidak secepat ini…” Linara menggigit bibirnya. “Makhluk kegelapan.” Raynar menelan ludah. Sebuah bulu halus berdiri di tengkuknya. Makhluk kegelapan. Nama yang terdengar seperti legenda—atau mimpi buruk. Sebelum ia sempat bertanya lagi, suara gemuruh terdengar dari arah gerbang sekte. Teriakan murid-murid, dentingan senjata, dan suara ledakan spiritual mengguncang udara. Raynar membelalakkan mata. “Kita diserang?!” “Raynar, dengarkan aku.” Linara menatapnya intens. “Ini bukan pasukan manusia. Ini kekuatan yang bergerak di balik bayangan. Mereka… mencari sumber energi antik.” Raynar menegang. “Energi… glyph itu?” Linara tidak menjawab. Ia justru menarik Raynar lebih kuat. “Kita harus pergi ke ruang dewan tetua. Mereka perlu melihatmu—dan kau butuh perlindungan.” Namun sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, suara lain muncul. Sangat dekat. Sangat… salah. Sek… sek… Raynar menoleh ke sisi kanan. Sosok itu muncul dari balik bayangan salah satu bangunan. Raynar awalnya mengira itu manusia. Tetapi semakin dekat, semakin jelas bahwa bentuknya… cacat. Tubuhnya tinggi dan kurus seperti kayu mati, kulitnya retak penuh garis hitam, wajahnya tanpa mata, hanya rongga kosong yang mengucurkan cairan gelap. Makhluk itu bergerak dengan kaki terpuntir aneh, setiap langkahnya terdengar seperti tulang patah. Raynar mundur spontan. “Linara… apa itu…?” “Corrupted One,” jawab Linara dengan suara gemetar. “Makhluk kegelapan yang lahir dari sisa-sisa jiwa manusia yang tercemar. Raynar, jangan membuat suara apapun. Mereka berburu berdasarkan—” Makhluk itu tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Ia menoleh lurus ke arah Raynar. “…energi,” lanjut Linara dengan suara lirih. Raynar merasakan glyph di dadanya berdenyut, seolah menyalakan suar yang menarik monster itu. “Lari!” teriak Linara. Makhluk itu menjerit—suara tinggi dan bergetar seperti kaca pecah. Secepat kilat ia melesat ke arah mereka. Raynar dan Linara berlari menuruni jalan menuju aula tengah. Suara monster itu tidak pernah jauh—terus mengikuti, terus mendekat. Setiap teriakan membuat lantai bergetar halus. Raynar merasakan jantungnya hendak pecah. “Linara—bagaimana kita menghentikannya?!” “Kita tidak bisa! Hanya tetua kelas tinggi yang bisa!” Raynar menoleh sekilas. Makhluk itu kini melompat dari atap bangunan, mendarat hanya beberapa langkah dari mereka, tanah bergetar saat tubuhnya yang ringan menghantam lantai. Linara langsung menarik Raynar dan mendorongnya masuk ke aula. “Mundur!” Ia membentangkan jarinya, menciptakan formasi kecil. Cahaya ungu muncul, membentuk dinding tipis. Makhluk itu menghantam formasi— dan formasi retak seketika. “Sial!” Linara bergumam. Raynar melihat cahaya formasi itu seperti lilin di tengah badai. Mereka tidak akan bertahan lama. Tiba-tiba pintu aula besar terbuka, dan Tetua Bara serta dua tetua lainnya keluar. “Apa yang terjadi?!” teriak Tetua Bara. “Makhluk kegelapan menyerbu sekte!” balas Linara. Raynar hampir jatuh berlutut. “Tetua… makhluk itu mengejarku.” Tetua Bara menatapnya dalam. “Tentu saja. Jejak glyph nagamu terlalu jelas.” Raynar terdiam. Ia tidak menyangka warisan itu… benar-benar menjadi magnet bagi kegelapan. Makhluk itu kembali menjerit, memecahkan formasi Linara sepenuhnya. Cahaya pecah seperti kaca dan lenyap. Monster itu melompat ke arah Raynar. Namun sebelum makhluk itu sempat menyentuhnya— Tetua Bara menghantam tanah dengan tongkatnya. Gelombang energi emas menyebar, menciptakan badai spiritual. Angin mengamuk seperti topan, menghantam makhluk kegelapan hingga tubuhnya terpelanting jauh dan menabrak dinding batu. Dinding itu retak. Makhluk itu bangkit lagi. Raynar membeku. “Mereka… kuat sekali…” “Ini baru satu,” gumam Tetua Bara. “Di luar sana, ada puluhan.” Raynar menelan ludah. “Puluhan…?!” Tetua Bara menatap Raynar, tatapannya berat, murung, namun penuh keputusan. “Raynar. Kekuatanmu telah bangkit. Dan karenanya… sekte ini dalam bahaya.” Raynar merasa dadanya disayat. “A-apakah… semua ini salahku?” Tetua Bara tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjawab. Raynar merasa seluruh dunia menekan dadanya. Linara memandang Tetua Bara dengan marah. “Jangan salahkan Raynar! Dia tidak meminta glyph itu!” Tetua Bara menghela napas panjang. “Aku tahu. Tetapi kegelapan tidak peduli apakah ia meminta atau tidak.” Tiba-tiba suara ledakan besar terdengar. Mereka menoleh ke luar. Di kejauhan, langit merah menyala. Lusinan makhluk kegelapan merayap seperti semut raksasa, menyerbu gerbang utama. Murid-murid sekte mencoba bertahan, tetapi setiap serangan mereka seperti angin lewat. Makhluk-makhluk itu menembus daging tanpa rasa. Membunuh tanpa suara. Raynar menutup mulut, menahan mual dan ketakutan. Ia tidak pernah melihat sesuatu sejelas ini: Sekte ini… akan hancur dalam semalam bila kegelapan terus datang. Tetua Bara memegang bahu Raynar. “Dengarkan aku, anak muda.” Raynar menoleh, matanya bergetar. “Kau adalah satu-satunya yang memiliki cahaya untuk menahan kegelapan ini.” “Aku…? Tapi aku bahkan tidak bisa mengendalikan glyph itu!” “Tepat. Karena itu kau harus mempelajarinya sekarang juga.” Tetua Bara menatapnya tajam. “Jika tidak… semua ini akan menjadi kuburan kita.” Raynar merasa tubuhnya bergetar. Antara ketakutan dan kewajiban. Antara kehancuran sekte… dan warisan naga yang memanggil dalam darahnya. Tiba-tiba glyph di dadanya berdenyut lagi—lebih kuat daripada sebelumnya. Seperti menanggapi kegelapan yang mendekat. Bayangan naga muncul samar di belakang Raynar, seolah menatap dunia dengan mata keemasan yang terbangun. Linara terbelalak. “Raynar… glyph-mu—” Tetua Bara mundur selangkah. “Takdir telah berbicara.” Raynar memegangi dadanya, napasnya tercekat. Energi itu membakar tubuhnya dari dalam—bukan rasa sakit, tetapi kekuatan purba yang meminta untuk dibebaskan. Dan di luar, puluhan makhluk kegelapan merayap semakin dekat. Raynar menatap cahaya glyph yang memancar dari dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu… Bahwa mungkin ia tidak bisa lari lagi.Angin panas berdesir rendah di Tanah Terlupakan, membawa butiran abu yang beterbangan seperti salju hitam. Langit merah tak bergerak, seolah waktu sendiri enggan mengalir di tempat ini.Penjaga Makam Api berdiri tegak, pedang hitamnya mengarah lurus ke Raynar. Aura yang terpancar darinya bukan seperti makhluk Jurang—tidak busuk, tidak liar—melainkan dingin dan tajam, seperti tekad yang telah ditempa selama ribuan tahun.Raynar menelan ludah.Ia bisa merasakan tekanan yang luar biasa. Bukan tekanan fisik semata, melainkan tekanan jiwa—seolah setiap keraguan, setiap ketakutan dalam dirinya ditarik ke permukaan tanpa ampun.“Jika kau ingin warisan itu,” ulang Penjaga Makam Api dengan suara parau, “kau harus membuktikan bahwa kau layak memikulnya.”Raynar menurunkan kuda-kudanya. Api emas samar menyelimuti lengannya, namun ia menahan dorongan untuk melepaskannya.“Apa yang harus kulakukan?” tanya Raynar.Penjaga itu tidak menjawab.Ia melangkah maju.Dalam sekejap, dunia terasa menyempit.
Langit di atas Gunung Thevrion berwarna kelabu pucat, seolah matahari sendiri ragu untuk menyinari tanah yang baru saja disentuh Jurang. Kabut hitam telah lenyap, namun bekasnya tertinggal—tanah menghitam, bangunan runtuh, dan aura dingin yang belum sepenuhnya menguap.Raynar berdiri di tepi pelataran sekte.Di bawah sana, murid-murid membersihkan puing dalam diam. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan. Hanya kelelahan dan kesadaran pahit bahwa dunia mereka tidak lagi aman.Ia mengepalkan tangan.Glyph di dadanya berdenyut pelan, seolah merespons setiap penderitaan di sekitarnya.“Semalam… tiga puluh dua murid terluka parah. Lima tidak selamat.”Suara Tetua Bara terdengar di belakangnya.Raynar tidak menoleh. “Aku tahu.”Ia merasakan mereka pergi—benang-benang kehidupan yang putus di tengah malam, ditelan kegelapan sebelum sempat berteriak.Tetua Bara berdiri di sampingnya, wajah tua itu tampak lebih tua dari biasanya. “Makhluk Jurang tidak akan berhenti. Setelah mereka menemukan jej
Api emas yang tersisa perlahan memudar di udara, menyisakan bau hangus dan keheningan yang terasa tidak wajar. Aula utama sekte Thevrion dipenuhi retakan, puing-puing batu, dan wajah-wajah murid yang membeku antara lega dan ketakutan.Raynar masih berdiri di tengah aula.Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup bara hangat. Glyph di dadanya tidak lagi meledak-ledak, namun berdenyut pelan—teratur—seperti jantung naga yang sedang tidur dengan satu mata terbuka.Keheningan itu pecah oleh suara gemuruh jauh di luar tembok sekte.Makhluk-makhluk kegelapan belum pergi.“Mereka mundur,” gumam salah satu tetua, menatap ke luar dengan mata menyipit. “Tapi tidak kabur.”Tetua Bara mengangguk pelan. “Mereka sedang menilai.”Raynar menoleh. “Menilai… apa?”“Dirimu,” jawab Tetua Bara tanpa ragu.Kata itu menghantam Raynar lebih keras dari serangan makhluk mana pun. Ia mengepalkan tangan, merasakan panas samar mengalir di bawah kulitnya.Linara berdiri di sisinya. Meski wajahnya masi
Cahaya glyph di dada Raynar semakin terang, berdenyut seperti jantung kedua yang baru saja terbangun. Setiap denyutannya memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Bayangan naga di belakangnya semakin jelas—sisik emas samar, mata tajam seperti bintang yang terjaga dari tidur panjang. Raynar terhuyung. Ia jatuh berlutut, telapak tangannya menghantam lantai batu aula. Retakan halus menjalar di bawah sentuhannya, seolah batu itu tak sanggup menahan tekanan energi purba yang keluar dari tubuhnya. “Agh…!” Raynar menggertakkan gigi. Tubuhnya terasa seperti hendak terbelah dua. Suara itu kembali terdengar—kali ini tidak lagi seperti bisikan jauh. Melainkan… tepat di dalam kepalanya. “Jangan menahan api itu.” Raynar terengah. “Kau… kau lagi…” “Aku selalu di sini. Darahmu adalah pintu. Dan kini pintu itu telah terbuka.” Ledakan lain terdengar dari luar aula. Jeritan murid sekte bercampur dengan raungan makhluk kegelapan. Tanah berguncang hebat—sebua
Malam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh gunung Thevrion. Tidak biasanya angin berhenti bergerak, seolah semua alam menahan napas. Langit begitu gelap hingga lentera-lentera sekte tampak seperti titik cahaya rapuh yang bergetar di tengah kekosongan. Raynar berjalan pelan keluar dari ruang penyembuhan. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi pikirannya resah. Suara gema—halus seperti bisikan angin—bergetar di benaknya sejak bangun. “Pewarisku… Kegelapan telah mencium jejakmu.” Ia menggigil. Suara itu bukan suara manusia, bukan pula suara dari dalam dirinya. Itu… suara naga itu lagi. Ketika Raynar menatap ke kejauhan, ia melihat kabut hitam tipis mulai turun dari puncak hutan di bawah gunung. Kabut itu bukan kabut biasa. Terasa berat. Pekat. Seolah memiliki kehendak sendiri. Dan dari kejauhan terdengar sesuatu— suara gesekan yang tidak seharusnya dimiliki makhluk hidup. Sek-sek-sek… Raynar merinding. “Raynar!” Ia menoleh cepat. Linara berlari menghampirinya, napasnya me
Suasana lembap menyelimuti kamar kecil tempat Raynar tinggal. Dinding kayu yang mulai rapuh itu belum pernah terasa sedingin malam itu. Api lampu minyak menari kecil, seolah takut padam, sementara Raynar duduk di lantai, kedua tangannya menggenggam lutut, napasnya pendek—penuh tekanan yang bukan berasal dari tubuhnya sendiri. Glyph naga itu kembali berdenyut. Cahaya keperakan muncul dari balik kulitnya, merayap seperti sulur hidup hingga ke lengan dan dada. Setiap denyutan seperti memukul jantungnya dari dalam, membuatnya terhuyung, menahan teriakan. “A—ahh… tidak lagi… tolong berhenti…” desis Raynar, menekan dadanya. Tetapi glyph itu tidak peduli pada permintaannya. Ia hidup. Ia bergerak. Ia memilih. Dan ia memilih dirinya. Raynar merasakan energi asing mengalir melalui nadi, mengikis batas tubuhnya, membuat ototnya menegang dan tulangnya seolah retak oleh sesuatu yang tak terlihat. Bayangan suara—gema asing—tiba-tiba mengalun di benaknya. “Pewarisku…” Raynar terhenti. Tub







