Beranda / Fantasi / Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan / BAB 7 - Bisikan Dari Jurang Kegelapan

Share

BAB 7 - Bisikan Dari Jurang Kegelapan

Penulis: Alorastory
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 13:50:52

Api emas yang tersisa perlahan memudar di udara, menyisakan bau hangus dan keheningan yang terasa tidak wajar. Aula utama sekte Thevrion dipenuhi retakan, puing-puing batu, dan wajah-wajah murid yang membeku antara lega dan ketakutan.

Raynar masih berdiri di tengah aula.

Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup bara hangat. Glyph di dadanya tidak lagi meledak-ledak, namun berdenyut pelan—teratur—seperti jantung naga yang sedang tidur dengan satu mata terbuka.

Keheningan itu pecah oleh suara gemuruh jauh di luar tembok sekte.

Makhluk-makhluk kegelapan belum pergi.

“Mereka mundur,” gumam salah satu tetua, menatap ke luar dengan mata menyipit. “Tapi tidak kabur.”

Tetua Bara mengangguk pelan. “Mereka sedang menilai.”

Raynar menoleh. “Menilai… apa?”

“Dirimu,” jawab Tetua Bara tanpa ragu.

Kata itu menghantam Raynar lebih keras dari serangan makhluk mana pun. Ia mengepalkan tangan, merasakan panas samar mengalir di bawah kulitnya.

Linara berdiri di sisinya. Meski wajahnya masih pucat, bahunya kini tegak. “Raynar, apa yang kau rasakan sekarang?”

Raynar terdiam sejenak, mencoba jujur pada dirinya sendiri. “Seperti… ada sesuatu yang terhubung denganku. Jauh. Dalam. Aku bisa merasakan kegelapan di luar sana.”

Para tetua saling bertukar pandang.

“Itu tidak seharusnya mungkin,” gumam Tetua Ketiga, seorang pria tua bermata abu-abu. “Kecuali…”

“Kecuali warisan itu lebih lengkap dari yang tercatat,” lanjut Tetua Bara dengan suara berat.

Tiba-tiba—

DUM.

Getaran kuat mengguncang tanah.

Lentera-lentera berayun liar. Beberapa murid menjerit. Dari luar, kabut hitam berputar membentuk pusaran raksasa di udara, seolah langit sedang ditarik ke dalam lubang tak kasatmata.

Raynar merasakan glyph-nya berdenyut lebih kuat.

Dan lalu—

ia mendengar sesuatu.

Bukan suara naga.

Melainkan… suara lain.

“Akhirnya aku menemukanmu.”

Raynar tersentak.

Suara itu dingin. Dalam. Tidak bergema di kepalanya seperti suara naga—melainkan menembus langsung ke jiwanya, seperti jarum es.

“Kau mendengarnya?” tanya Linara cepat.

Raynar menoleh padanya, wajahnya menegang. “Ada… suara lain.”

Para tetua langsung siaga. Tetua Bara menghantam tongkatnya ke lantai, membentuk formasi pelindung di sekeliling aula.

“Jangan menjawab suara apa pun,” perintahnya. “Apa pun yang terjadi.”

Namun suara itu kembali datang, kali ini lebih jelas.

“Warisan Dewa Naga yang Terlupakan…”

“Sudah ribuan tahun kami mencarimu.”

Raynar menutup mata, giginya terkatup rapat. “Siapa kau…?”

Tetua Bara berteriak, “Raynar, jangan—!”

Terlambat.

Kabut hitam di luar aula berputar semakin cepat, lalu membentuk sebuah sosok raksasa di langit—bukan tubuh utuh, melainkan bayangan setengah jadi dengan jubah kegelapan yang menjuntai seperti asap.

Dua mata merah menyala terbuka di dalam kabut.

Para murid berjatuhan berlutut, tubuh mereka gemetar hebat.

“Aura… ini…” Linara berbisik, nyaris tak sanggup berdiri. “Ini bukan makhluk biasa.”

Tetua Bara mengertakkan gigi. “Utusan Jurang.”

Sosok itu tertawa pelan—suara retak seperti batu digerus perlahan.

“Oh? Masih ada yang mengingat kami rupanya.”

Langit di atas sekte menggelap total. Bintang-bintang menghilang, seolah ditelan tirai kegelapan mutlak.

Raynar membuka matanya.

Entah bagaimana, ia bisa melihat sosok itu dengan jelas—bukan dengan mata, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Garis-garis energi hitam mengalir dari makhluk itu ke tanah, menyebar seperti akar busuk.

“Kenapa kau mencariku?” tanya Raynar, suaranya bergetar namun tidak pecah.

Makhluk itu tersenyum—atau setidaknya, bayangannya melengkung seperti senyum.

“Karena darahmu adalah kunci.”

“Kunci untuk membangunkan sesuatu yang bahkan para dewa takutkan.”

Glyph di dada Raynar memanas drastis.

“Jangan dengarkan dia,” suara naga itu akhirnya muncul lagi, kali ini penuh kewaspadaan.

“Makhluk itu adalah pembohong yang memakan harapan.”

Raynar menarik napas panjang. “Apa yang kau inginkan dariku?”

Bayangan itu tertawa lebih keras.

“Bukan darimu.”

“Dari apa yang ada di dalam dirimu.”

Tiba-tiba tanah di luar aula retak, dan dari celah-celah itu muncul makhluk-makhluk kegelapan baru—lebih kecil, lebih cepat, bergerak seperti bayangan cair.

“Mereka menyerang lagi!” teriak seorang tetua.

Tetua Bara mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. “Semua murid mundur ke ruang bawah tanah! Tetua, siapkan formasi pengorbanan—!”

“Tidak!” Raynar memotong dengan suara keras.

Semua mata tertuju padanya.

“Aku bisa merasakannya,” lanjut Raynar. “Makhluk itu… belum bisa masuk sepenuhnya. Ia butuh aku mendekatinya.”

Linara menatapnya tajam. “Raynar, jangan gila! Itu bunuh diri!”

Raynar menoleh padanya. Matanya tidak lagi hanya emas—ada kedalaman lain di sana. Kesadaran. Pilihan.

“Jika aku tidak melangkah,” katanya pelan, “mereka akan terus datang. Sekte ini tidak akan bertahan.”

Tetua Bara menatapnya lama, lalu menutup mata sejenak.

“Warisan naga bukan sekadar kekuatan,” katanya lirih. “Itu beban.”

Raynar mengangguk. “Aku tahu.”

Ia melangkah maju, melewati batas formasi pelindung.

Sekketika, angin hitam menerjangnya. Tubuhnya terasa seperti dihantam ribuan jarum es, namun api emas di nadinya membentuk lapisan pelindung.

Bayangan raksasa itu mendekat, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Raynar.

“Beraninya kau, pewaris kecil.”

Raynar menatap balik tanpa berkedip. “Katakan pada tuanmu,” katanya dengan suara dingin, “aku tidak akan menjadi milik Jurang.”

Untuk sesaat—

seluruh dunia terasa membeku.

Lalu bayangan itu tertawa, keras dan bergema hingga gunung-gunung bergetar.

“Kalau begitu…”

“Kami akan menghancurkan segala sesuatu yang kau lindungi.”

Kabut hitam meledak, mendorong Raynar terpental kembali ke aula. Tetua Bara segera menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam dinding.

Langit perlahan kembali normal. Bayangan raksasa itu menghilang, meninggalkan kehancuran dan keheningan yang mencekam.

Namun Raynar tahu—

itu bukan akhir.

Itu adalah… peringatan.

Ia menatap langit malam, dadanya naik turun.

Perang antara Warisan Dewa Naga

dan Jurang Kegelapan

baru saja dimulai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 9 - Ujian Makam Api

    Angin panas berdesir rendah di Tanah Terlupakan, membawa butiran abu yang beterbangan seperti salju hitam. Langit merah tak bergerak, seolah waktu sendiri enggan mengalir di tempat ini.Penjaga Makam Api berdiri tegak, pedang hitamnya mengarah lurus ke Raynar. Aura yang terpancar darinya bukan seperti makhluk Jurang—tidak busuk, tidak liar—melainkan dingin dan tajam, seperti tekad yang telah ditempa selama ribuan tahun.Raynar menelan ludah.Ia bisa merasakan tekanan yang luar biasa. Bukan tekanan fisik semata, melainkan tekanan jiwa—seolah setiap keraguan, setiap ketakutan dalam dirinya ditarik ke permukaan tanpa ampun.“Jika kau ingin warisan itu,” ulang Penjaga Makam Api dengan suara parau, “kau harus membuktikan bahwa kau layak memikulnya.”Raynar menurunkan kuda-kudanya. Api emas samar menyelimuti lengannya, namun ia menahan dorongan untuk melepaskannya.“Apa yang harus kulakukan?” tanya Raynar.Penjaga itu tidak menjawab.Ia melangkah maju.Dalam sekejap, dunia terasa menyempit.

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 8 - Jalan Pengasingan Sang Pewaris

    Langit di atas Gunung Thevrion berwarna kelabu pucat, seolah matahari sendiri ragu untuk menyinari tanah yang baru saja disentuh Jurang. Kabut hitam telah lenyap, namun bekasnya tertinggal—tanah menghitam, bangunan runtuh, dan aura dingin yang belum sepenuhnya menguap.Raynar berdiri di tepi pelataran sekte.Di bawah sana, murid-murid membersihkan puing dalam diam. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan. Hanya kelelahan dan kesadaran pahit bahwa dunia mereka tidak lagi aman.Ia mengepalkan tangan.Glyph di dadanya berdenyut pelan, seolah merespons setiap penderitaan di sekitarnya.“Semalam… tiga puluh dua murid terluka parah. Lima tidak selamat.”Suara Tetua Bara terdengar di belakangnya.Raynar tidak menoleh. “Aku tahu.”Ia merasakan mereka pergi—benang-benang kehidupan yang putus di tengah malam, ditelan kegelapan sebelum sempat berteriak.Tetua Bara berdiri di sampingnya, wajah tua itu tampak lebih tua dari biasanya. “Makhluk Jurang tidak akan berhenti. Setelah mereka menemukan jej

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 7 - Bisikan Dari Jurang Kegelapan

    Api emas yang tersisa perlahan memudar di udara, menyisakan bau hangus dan keheningan yang terasa tidak wajar. Aula utama sekte Thevrion dipenuhi retakan, puing-puing batu, dan wajah-wajah murid yang membeku antara lega dan ketakutan.Raynar masih berdiri di tengah aula.Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup bara hangat. Glyph di dadanya tidak lagi meledak-ledak, namun berdenyut pelan—teratur—seperti jantung naga yang sedang tidur dengan satu mata terbuka.Keheningan itu pecah oleh suara gemuruh jauh di luar tembok sekte.Makhluk-makhluk kegelapan belum pergi.“Mereka mundur,” gumam salah satu tetua, menatap ke luar dengan mata menyipit. “Tapi tidak kabur.”Tetua Bara mengangguk pelan. “Mereka sedang menilai.”Raynar menoleh. “Menilai… apa?”“Dirimu,” jawab Tetua Bara tanpa ragu.Kata itu menghantam Raynar lebih keras dari serangan makhluk mana pun. Ia mengepalkan tangan, merasakan panas samar mengalir di bawah kulitnya.Linara berdiri di sisinya. Meski wajahnya masi

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 6 - Api Yang Terbangun Dalam Darah

    Cahaya glyph di dada Raynar semakin terang, berdenyut seperti jantung kedua yang baru saja terbangun. Setiap denyutannya memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Bayangan naga di belakangnya semakin jelas—sisik emas samar, mata tajam seperti bintang yang terjaga dari tidur panjang. Raynar terhuyung. Ia jatuh berlutut, telapak tangannya menghantam lantai batu aula. Retakan halus menjalar di bawah sentuhannya, seolah batu itu tak sanggup menahan tekanan energi purba yang keluar dari tubuhnya. “Agh…!” Raynar menggertakkan gigi. Tubuhnya terasa seperti hendak terbelah dua. Suara itu kembali terdengar—kali ini tidak lagi seperti bisikan jauh. Melainkan… tepat di dalam kepalanya. “Jangan menahan api itu.” Raynar terengah. “Kau… kau lagi…” “Aku selalu di sini. Darahmu adalah pintu. Dan kini pintu itu telah terbuka.” Ledakan lain terdengar dari luar aula. Jeritan murid sekte bercampur dengan raungan makhluk kegelapan. Tanah berguncang hebat—sebua

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 5 - Bayangan Yang Mengintai Darah Nagaku

    Malam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh gunung Thevrion. Tidak biasanya angin berhenti bergerak, seolah semua alam menahan napas. Langit begitu gelap hingga lentera-lentera sekte tampak seperti titik cahaya rapuh yang bergetar di tengah kekosongan. Raynar berjalan pelan keluar dari ruang penyembuhan. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi pikirannya resah. Suara gema—halus seperti bisikan angin—bergetar di benaknya sejak bangun. “Pewarisku… Kegelapan telah mencium jejakmu.” Ia menggigil. Suara itu bukan suara manusia, bukan pula suara dari dalam dirinya. Itu… suara naga itu lagi. Ketika Raynar menatap ke kejauhan, ia melihat kabut hitam tipis mulai turun dari puncak hutan di bawah gunung. Kabut itu bukan kabut biasa. Terasa berat. Pekat. Seolah memiliki kehendak sendiri. Dan dari kejauhan terdengar sesuatu— suara gesekan yang tidak seharusnya dimiliki makhluk hidup. Sek-sek-sek… Raynar merinding. “Raynar!” Ia menoleh cepat. Linara berlari menghampirinya, napasnya me

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 4 - Saat Langit Bergetar Memanggil Namaku

    Suasana lembap menyelimuti kamar kecil tempat Raynar tinggal. Dinding kayu yang mulai rapuh itu belum pernah terasa sedingin malam itu. Api lampu minyak menari kecil, seolah takut padam, sementara Raynar duduk di lantai, kedua tangannya menggenggam lutut, napasnya pendek—penuh tekanan yang bukan berasal dari tubuhnya sendiri. Glyph naga itu kembali berdenyut. Cahaya keperakan muncul dari balik kulitnya, merayap seperti sulur hidup hingga ke lengan dan dada. Setiap denyutan seperti memukul jantungnya dari dalam, membuatnya terhuyung, menahan teriakan. “A—ahh… tidak lagi… tolong berhenti…” desis Raynar, menekan dadanya. Tetapi glyph itu tidak peduli pada permintaannya. Ia hidup. Ia bergerak. Ia memilih. Dan ia memilih dirinya. Raynar merasakan energi asing mengalir melalui nadi, mengikis batas tubuhnya, membuat ototnya menegang dan tulangnya seolah retak oleh sesuatu yang tak terlihat. Bayangan suara—gema asing—tiba-tiba mengalun di benaknya. “Pewarisku…” Raynar terhenti. Tub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status