Beranda / Fantasi / Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan / BAB 6 - Api Yang Terbangun Dalam Darah

Share

BAB 6 - Api Yang Terbangun Dalam Darah

Penulis: Alorastory
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 13:43:30

Cahaya glyph di dada Raynar semakin terang, berdenyut seperti jantung kedua yang baru saja terbangun. Setiap denyutannya memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Bayangan naga di belakangnya semakin jelas—sisik emas samar, mata tajam seperti bintang yang terjaga dari tidur panjang.

Raynar terhuyung.

Ia jatuh berlutut, telapak tangannya menghantam lantai batu aula. Retakan halus menjalar di bawah sentuhannya, seolah batu itu tak sanggup menahan tekanan energi purba yang keluar dari tubuhnya.

“Agh…!” Raynar menggertakkan gigi. Tubuhnya terasa seperti hendak terbelah dua.

Suara itu kembali terdengar—kali ini tidak lagi seperti bisikan jauh.

Melainkan… tepat di dalam kepalanya.

“Jangan menahan api itu.”

Raynar terengah. “Kau… kau lagi…”

“Aku selalu di sini. Darahmu adalah pintu. Dan kini pintu itu telah terbuka.”

Ledakan lain terdengar dari luar aula. Jeritan murid sekte bercampur dengan raungan makhluk kegelapan. Tanah berguncang hebat—sebuah bangunan runtuh di kejauhan, debu membubung ke langit malam.

Tetua Bara mengangkat tongkatnya, membentuk penghalang emas di pintu aula. “Makhluk-makhluk itu mencoba menembus ke sini!”

Linara berlutut di sisi Raynar. Wajahnya pucat, tapi matanya dipenuhi tekad. “Raynar, dengarkan aku. Jangan biarkan energi itu mengambil alihmu. Tarik napas. Fokus padaku!”

Raynar mencoba menatap Linara, tetapi penglihatannya kabur. Dunia di sekelilingnya seperti terdistorsi, seolah ia melihat dua realitas sekaligus—satu adalah aula sekte, satu lagi lautan api dan sisik naga yang membentang tanpa akhir.

“A-aku tidak tahu bagaimana mengendalikannya…!” teriak Raynar putus asa.

“Karena kau mencoba mengendalikanku.”

Suara naga itu kini terdengar lebih dalam, lebih berat. “Bukan begitu caranya.”

Raynar menggigil. “Lalu apa yang harus kulakukan?!”

“Terimalah.”

Ledakan keras menghantam penghalang Tetua Bara. Retakan muncul pada perisai emas itu. Salah satu makhluk kegelapan—lebih besar dari yang sebelumnya—menempel di sisi luar penghalang, tubuhnya merayap seperti bayangan hidup.

“Mereka menargetkan Raynar!” teriak salah satu tetua.

Tetua Bara mengertakkan gigi. “Aku tahu.”

Ia menoleh ke Raynar. “Anak muda! Dengarkan baik-baik! Jangan melawan kekuatan itu—kau akan kalah. Biarkan ia mengalir, tapi jangan biarkan ia menguasai hatimu!”

Raynar menelan ludah. Keringat dingin bercampur panas mengalir di wajahnya.

Terima kekuatan itu… tanpa kehilangan diri sendiri?

Bagaimana caranya?

Makhluk kegelapan itu menjerit nyaring. Penghalang emas akhirnya pecah dengan suara menggelegar. Fragmen cahaya berhamburan seperti hujan bintang yang mati.

“Raynar!” teriak Linara.

Makhluk itu melompat masuk ke aula.

Namun kali ini—

Raynar mengangkat kepalanya.

Matanya bersinar emas.

Ia tidak tahu kapan tepatnya ia berhenti gemetar. Tidak tahu kapan rasa takut itu mereda. Yang ia tahu hanyalah—api itu kini mengalir di nadinya, hangat dan ganas, tetapi… patuh.

“Aku… akan melindungi tempat ini,” gumam Raynar.

Ia berdiri.

Saat kakinya menjejak lantai, semburan api emas menyebar membentuk lingkaran. Udara meraung, panas menyambar, dan simbol-simbol naga kuno muncul berputar di sekeliling tubuhnya.

Makhluk kegelapan itu terhenti mendadak.

Untuk pertama kalinya—

ia mundur.

“Apa itu…?” desis salah satu tetua.

Tetua Bara terdiam, matanya bergetar. “Api Naga Purba…”

Raynar mengangkat tangannya tanpa sadar. Api emas terkondensasi di telapak tangannya, membentuk cakar naga raksasa yang berpendar.

Ia tidak berteriak. Tidak mengamuk.

Ia hanya mengayunkan tangannya ke depan.

BOOOOM!

Gelombang api menghantam makhluk kegelapan itu, membakarnya dari dalam. Tubuhnya tidak hancur—melainkan… terurai. Bayangan hitamnya menguap, jeritannya lenyap seperti abu yang tertiup angin.

Keheningan menyelimuti aula.

Raynar terengah-engah. Api di sekelilingnya meredup perlahan, namun glyph di dadanya tetap bersinar—lebih stabil, lebih terkendali.

Linara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Raynar…”

Raynar menoleh padanya, wajahnya pucat tapi tekadnya nyata. “Aku… masih aku, kan?”

Linara tersenyum kecil meski air mata mengalir. “Ya. Kau masih Raynar.”

Tetua Bara melangkah maju, suaranya berat. “Ini baru awal.”

Raynar menatap ke arah gerbang yang runtuh, tempat kegelapan masih bergolak di kejauhan. Ia bisa merasakannya sekarang—puluhan makhluk, sumber kegelapan yang lebih dalam, dan sesuatu yang… mengawasinya dari balik kabut hitam.

“Mereka akan datang lagi,” suara naga itu bergema pelan. “Dan lain kali, bukan hanya makhluk rendahan.”

Raynar mengepalkan tangan.

“Aku siap,” katanya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Di luar, langit malam bergetar, dan di kedalaman kegelapan, sesuatu tersenyum—

karena Warisan Dewa Naga

akhirnya…

telah benar-benar terbangun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 9 - Ujian Makam Api

    Angin panas berdesir rendah di Tanah Terlupakan, membawa butiran abu yang beterbangan seperti salju hitam. Langit merah tak bergerak, seolah waktu sendiri enggan mengalir di tempat ini.Penjaga Makam Api berdiri tegak, pedang hitamnya mengarah lurus ke Raynar. Aura yang terpancar darinya bukan seperti makhluk Jurang—tidak busuk, tidak liar—melainkan dingin dan tajam, seperti tekad yang telah ditempa selama ribuan tahun.Raynar menelan ludah.Ia bisa merasakan tekanan yang luar biasa. Bukan tekanan fisik semata, melainkan tekanan jiwa—seolah setiap keraguan, setiap ketakutan dalam dirinya ditarik ke permukaan tanpa ampun.“Jika kau ingin warisan itu,” ulang Penjaga Makam Api dengan suara parau, “kau harus membuktikan bahwa kau layak memikulnya.”Raynar menurunkan kuda-kudanya. Api emas samar menyelimuti lengannya, namun ia menahan dorongan untuk melepaskannya.“Apa yang harus kulakukan?” tanya Raynar.Penjaga itu tidak menjawab.Ia melangkah maju.Dalam sekejap, dunia terasa menyempit.

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 8 - Jalan Pengasingan Sang Pewaris

    Langit di atas Gunung Thevrion berwarna kelabu pucat, seolah matahari sendiri ragu untuk menyinari tanah yang baru saja disentuh Jurang. Kabut hitam telah lenyap, namun bekasnya tertinggal—tanah menghitam, bangunan runtuh, dan aura dingin yang belum sepenuhnya menguap.Raynar berdiri di tepi pelataran sekte.Di bawah sana, murid-murid membersihkan puing dalam diam. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan. Hanya kelelahan dan kesadaran pahit bahwa dunia mereka tidak lagi aman.Ia mengepalkan tangan.Glyph di dadanya berdenyut pelan, seolah merespons setiap penderitaan di sekitarnya.“Semalam… tiga puluh dua murid terluka parah. Lima tidak selamat.”Suara Tetua Bara terdengar di belakangnya.Raynar tidak menoleh. “Aku tahu.”Ia merasakan mereka pergi—benang-benang kehidupan yang putus di tengah malam, ditelan kegelapan sebelum sempat berteriak.Tetua Bara berdiri di sampingnya, wajah tua itu tampak lebih tua dari biasanya. “Makhluk Jurang tidak akan berhenti. Setelah mereka menemukan jej

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 7 - Bisikan Dari Jurang Kegelapan

    Api emas yang tersisa perlahan memudar di udara, menyisakan bau hangus dan keheningan yang terasa tidak wajar. Aula utama sekte Thevrion dipenuhi retakan, puing-puing batu, dan wajah-wajah murid yang membeku antara lega dan ketakutan.Raynar masih berdiri di tengah aula.Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup bara hangat. Glyph di dadanya tidak lagi meledak-ledak, namun berdenyut pelan—teratur—seperti jantung naga yang sedang tidur dengan satu mata terbuka.Keheningan itu pecah oleh suara gemuruh jauh di luar tembok sekte.Makhluk-makhluk kegelapan belum pergi.“Mereka mundur,” gumam salah satu tetua, menatap ke luar dengan mata menyipit. “Tapi tidak kabur.”Tetua Bara mengangguk pelan. “Mereka sedang menilai.”Raynar menoleh. “Menilai… apa?”“Dirimu,” jawab Tetua Bara tanpa ragu.Kata itu menghantam Raynar lebih keras dari serangan makhluk mana pun. Ia mengepalkan tangan, merasakan panas samar mengalir di bawah kulitnya.Linara berdiri di sisinya. Meski wajahnya masi

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 6 - Api Yang Terbangun Dalam Darah

    Cahaya glyph di dada Raynar semakin terang, berdenyut seperti jantung kedua yang baru saja terbangun. Setiap denyutannya memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Bayangan naga di belakangnya semakin jelas—sisik emas samar, mata tajam seperti bintang yang terjaga dari tidur panjang. Raynar terhuyung. Ia jatuh berlutut, telapak tangannya menghantam lantai batu aula. Retakan halus menjalar di bawah sentuhannya, seolah batu itu tak sanggup menahan tekanan energi purba yang keluar dari tubuhnya. “Agh…!” Raynar menggertakkan gigi. Tubuhnya terasa seperti hendak terbelah dua. Suara itu kembali terdengar—kali ini tidak lagi seperti bisikan jauh. Melainkan… tepat di dalam kepalanya. “Jangan menahan api itu.” Raynar terengah. “Kau… kau lagi…” “Aku selalu di sini. Darahmu adalah pintu. Dan kini pintu itu telah terbuka.” Ledakan lain terdengar dari luar aula. Jeritan murid sekte bercampur dengan raungan makhluk kegelapan. Tanah berguncang hebat—sebua

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 5 - Bayangan Yang Mengintai Darah Nagaku

    Malam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh gunung Thevrion. Tidak biasanya angin berhenti bergerak, seolah semua alam menahan napas. Langit begitu gelap hingga lentera-lentera sekte tampak seperti titik cahaya rapuh yang bergetar di tengah kekosongan. Raynar berjalan pelan keluar dari ruang penyembuhan. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi pikirannya resah. Suara gema—halus seperti bisikan angin—bergetar di benaknya sejak bangun. “Pewarisku… Kegelapan telah mencium jejakmu.” Ia menggigil. Suara itu bukan suara manusia, bukan pula suara dari dalam dirinya. Itu… suara naga itu lagi. Ketika Raynar menatap ke kejauhan, ia melihat kabut hitam tipis mulai turun dari puncak hutan di bawah gunung. Kabut itu bukan kabut biasa. Terasa berat. Pekat. Seolah memiliki kehendak sendiri. Dan dari kejauhan terdengar sesuatu— suara gesekan yang tidak seharusnya dimiliki makhluk hidup. Sek-sek-sek… Raynar merinding. “Raynar!” Ia menoleh cepat. Linara berlari menghampirinya, napasnya me

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 4 - Saat Langit Bergetar Memanggil Namaku

    Suasana lembap menyelimuti kamar kecil tempat Raynar tinggal. Dinding kayu yang mulai rapuh itu belum pernah terasa sedingin malam itu. Api lampu minyak menari kecil, seolah takut padam, sementara Raynar duduk di lantai, kedua tangannya menggenggam lutut, napasnya pendek—penuh tekanan yang bukan berasal dari tubuhnya sendiri. Glyph naga itu kembali berdenyut. Cahaya keperakan muncul dari balik kulitnya, merayap seperti sulur hidup hingga ke lengan dan dada. Setiap denyutan seperti memukul jantungnya dari dalam, membuatnya terhuyung, menahan teriakan. “A—ahh… tidak lagi… tolong berhenti…” desis Raynar, menekan dadanya. Tetapi glyph itu tidak peduli pada permintaannya. Ia hidup. Ia bergerak. Ia memilih. Dan ia memilih dirinya. Raynar merasakan energi asing mengalir melalui nadi, mengikis batas tubuhnya, membuat ototnya menegang dan tulangnya seolah retak oleh sesuatu yang tak terlihat. Bayangan suara—gema asing—tiba-tiba mengalun di benaknya. “Pewarisku…” Raynar terhenti. Tub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status