Se connecter"Kak Cortis!" Winola buru-buru mengejar sambil memanggilnya. Namun, Cortis sama sekali tidak menoleh dan langsung pergi dengan langkah cepat."Arlo, ini ... aku mewakili Kak Cortis minta maaf! Dia ... dia mungkin ...."Winola mendapati dirinya sama sekali tidak mampu menjelaskan situasinya.Di satu sisi ada penyelamat nyawa ayahnya. Di sisi lain ada kakak seperguruannya. Dia benar-benar berada dalam posisi yang sulit.Arlo menggeleng dan berkata dengan tenang, "Kamu adalah kamu, dia adalah dia. Selama kamu membayar biaya pengobatanku sesuai kesepakatan, aku nggak akan menyeretmu ke dalam urusan lain."Winola menggigit bibirnya. "Aku tetap berharap kamu dan kakak seperguruanku nggak benar-benar sampai bermusuhan. Selama beberapa tahun terakhir, dia sudah mengenal banyak tokoh besar. Belum tentu kamu bisa unggul kalau berhadapan dengannya.""Lagian, dia benar-benar bukan orang jahat."Hati Winola memang tidak buruk.Arlo menatapnya sambil berkata penuh makna, "Yakin dia bukan orang jahat
Sudut bibir Arlo melengkung membentuk senyum tipis saat dia berjalan menuju pintu masuk. Di sana, lima atau enam orang sedang tertahan di depan pintu. Masing-masing membawa kotak obat di tangan mereka.Yang membuat Arlo sedikit terkejut adalah, dari semua orang itu, hanya satu yang dia kenal. Yaitu pria yang dulu memperkenalkan dirinya sebagai Bravy.Saat Konferensi Pengobatan Tradisional berlangsung, ketika dia bertarung melawan Bados, ada seorang praktisi independen yang berdiri membelanya karena merasa tidak adil. Pria kekar itu adalah orang yang sama.Bravy melangkah maju lalu langsung menyodorkan kotak obat di tangannya kepada Arlo."Barang ini didapat temanku secara kebetulan. Waktu dengar bahwa kamu membutuhkannya, aku langsung mengantarkannya ke sini.""Untung lokasinya masih di kota tetangga. Aku bahkan dapat bantuan helikopter dari kepala Keluarga Raharjo untuk mengantarkannya. Kalau nggak, aku pasti nggak sempat tiba."Arlo menangkupkan kedua tangannya sebagai penghormatan.
Cortis berbicara dengan nada santai.Mendengar perkataannya, beberapa orang yang mengetahui bahwa Arlo pernah menekan Keluarga Kushanto mulai menceritakan kejadian itu dengan suara pelan. Suasana di lokasi seketika menjadi hening. Orang-orang yang tadi begitu bersemangat bahkan tanpa sadar mulai menjaga jarak.Keluarga Prijaya dan Keluarga Kushanto adalah keluarga besar yang sangat berpengaruh. Bahkan para praktisi independen yang biasanya hidup bebas juga tidak banyak yang bersedia berhadapan dengan mereka.Cortis tersenyum tipis lalu memandang Arlo. "Sepertinya barang itu memang ditakdirkan menjadi milikku."Arlo hanya tersenyum samar. "Belum tentu.""Oh?" Cortis mencibir."Waktu yang tersisa bahkan belum sampai 50 menit. Aku benar-benar nggak melihat bagaimana caramu mendapatkan Rumput Surai."Setelah berkata demikian, dia menoleh ke arah pemuda penjual patung dewa batu. "Kamu bisa langsung jual ke aku saja. Nggak mungkin dia bisa memenuhi syarat yang kamu minta dalam waktu satu jam
Arlo mengeluarkan ponselnya dan hendak menelepon seseorang. Cortis mencibir lalu berkata, "Jangan lupa, yang kamu minta adalah satu jam. Kalaupun anak buahmu berhasil menemukan bahan obat itu, waktunya tetap nggak cukup untuk mengantarkannya ke sini."Kemudian dia menoleh ke pemuda penjual di sudut ruangan. "Tadi kamu sendiri yang bilang, kalau dalam satu jam dia nggak bisa membayar, barang itu akan dijual kepadaku."Pemuda itu ragu sejenak sebelum mengangguk. "Tentu saja aku akan menepati janji."Arlo melangkah maju ke tengah kerumunan. Lalu, dia langsung melepas topengnya dan berkata dengan tenang, "Namaku Arlo. Aku ingin membeli sebatang Rumput Surai. Syaratnya, barang itu harus bisa dikirim ke tempat ini dalam waktu satu jam.""Sebagai imbalannya, aku bisa membayar dengan uang, pil, atau kemampuan medisku. Aku bersedia mengobati satu penyakit untuk pemiliknya, penyakit apa pun, dengan standar sembuh total."Suara Arlo dipenuhi energi murni. Bergema seperti guntur di telinga semua o
Semua orang serempak menoleh ke arah patung dewa batu itu. Sebagian besar tidak melihat sesuatu yang istimewa. Beberapa orang mulai berdiskusi pelan."Benda ini kelihatannya nggak ada kegunaan apa pun.""Aku merasa ada sedikit energi negatif di dalamnya. Agak aneh.""Jangan-jangan dipakai biksu sesat untuk menyembah dewa jahat?""Hei, Nak! Apa kegunaan benda itu? Atau apa keistimewaannya? Nggak mau peragakan sedikit untuk kami?"Pemuda kurus itu menundukkan kepala dan berkata dengan suara pelan, "Barang ini akan menemukan pemilik yang berjodoh dengannya. Aku nggak akan menjelaskan lebih banyak.""Cih ... jangan-jangan kamu sendiri juga nggak tahu?"Begitu ada seseorang yang tertawa keras, yang lainnya juga ikut tertawa.Namun, tidak ada niat jahat di dalam tawa itu. Hanya saja sebagian besar langsung kehilangan minat terhadap patung dewa batu tersebut. Bagaimanapun, transaksi di tempat seperti ini sepenuhnya bergantung pada kemampuan menilai barang. Kalau rugi, tidak ada yang akan memb
Winola menatap Arlo dengan ekspresi aneh."Mana mungkin semua orang seperti kamu, bahas soal membunuh dan merampas melulu.""Kakak seperguruanku orang yang sangat jujur. Delapan tahun lalu, dia terjebak lama nggak bisa mencapai tingkat kesempurnaan tenaga transformasi. Saat itu ada keluarga bangsawan di ibu kota yang menawarkan bantuan agar dia bisa menembus tingkat grandmaster, asalkan dia mau berpindah kubu dan bergabung dengan mereka.""Tapi dia menolak tanpa ragu.""Dia bertahan selama tiga tahun penuh hanya mengandalkan ketekunan dan akumulasi kekuatan untuk menerobos batas itu. Bisa dibilang setelah bertahun-tahun menumpuk fondasi, akhirnya dia meledak sekaligus. Setelah berhasil menerobos tingkatan, kemajuannya sangat pesat. Sekarang kekuatannya sudah mencapai grandmaster tenaga transformasi tingkat lima."Mendengar ucapannya, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benak Arlo. Dia langsung bertanya, "Ayahmu mulai sakit sekitar lima tahun lalu, 'kan?""Kenapa kamu tahu?" Winola ter
Beberapa mahasiswi itu kesal setengah mati. Semuanya menatap Aciel dengan cemberut.Aciel pun merasa harga dirinya diinjak-injak. Dia menatap Arlo dengan tatapan tidak senang. "Demi Diana, anggap saja ucapanmu barusan nggak disengaja. Minta maaflah pada teman-temanku."Arlo malah tertawa kecil, lalu
Anton bertanya, "Keluarga Sriwandi menghasut Zainal untuk menantang Keluarga Simarta di arena. Ambisi mereka sangat besar. Di baliknya tampaknya ada kekuatan lain. Perlukah kita memberi peringatan?"Tristan menyesap teh dengan tenang. "Itu semua perkara kecil. Kota Naldern hanyalah sudut kecil. Mena
Yudha mendadak menyusutkan pupil matanya, sementara wajah Omran berubah sangat muram.Orang yang datang itu adalah tangan kanan paling bengis milik Zainal, Baitun! Julukannya, Si Gila Baitun.Dua tahun lalu, Zainal pernah memerintahkan Baitun untuk membunuh Omran. Untungnya, Yudha lebih dulu mendapa
Clarissa tertegun dua detik, lalu tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya gemetar. "Kupikir kamu punya trik hebat apa! Menghancurkan papan nama? Gimana caranya? Bawa tangga, lalu naik untuk memecahkannya?"Orang-orang di sekitar juga merasa itu lucu.Arlo tersenyum dengan ekspresi usil. "Perlu seribe







