Share

Bab 142

Author: Jayden Carter
Sekarang, tatapan Renata terhadap Arman sudah seperti melihat menantu kaya. Hal ini membuat Arman merasa dirinya semakin dekat dengan target yang ingin dia dapatkan.

"Asing sekali rasanya Isyana panggil aku Pak Arman. Kita ini teman baik, panggil saja aku Arman!" Arman tersenyum penuh keakraban.

Wajah Renata dipenuhi senyum. "Arman, Isyana itu anak polos. Kamu ajak dia lebih banyak melihat dunia luar ya!"

Setelah makan malam selesai, Arman mengantar Keluarga Hanafi keluar.

Arman bahkan berinisia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Priyo Handoko
akhirnya bisa ditebak,, Isyana sama Arlo berselisih terus malah Lidya yang tahu siapa Arlo.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1038

    "Kak Cortis!" Winola buru-buru mengejar sambil memanggilnya. Namun, Cortis sama sekali tidak menoleh dan langsung pergi dengan langkah cepat."Arlo, ini ... aku mewakili Kak Cortis minta maaf! Dia ... dia mungkin ...."Winola mendapati dirinya sama sekali tidak mampu menjelaskan situasinya.Di satu sisi ada penyelamat nyawa ayahnya. Di sisi lain ada kakak seperguruannya. Dia benar-benar berada dalam posisi yang sulit.Arlo menggeleng dan berkata dengan tenang, "Kamu adalah kamu, dia adalah dia. Selama kamu membayar biaya pengobatanku sesuai kesepakatan, aku nggak akan menyeretmu ke dalam urusan lain."Winola menggigit bibirnya. "Aku tetap berharap kamu dan kakak seperguruanku nggak benar-benar sampai bermusuhan. Selama beberapa tahun terakhir, dia sudah mengenal banyak tokoh besar. Belum tentu kamu bisa unggul kalau berhadapan dengannya.""Lagian, dia benar-benar bukan orang jahat."Hati Winola memang tidak buruk.Arlo menatapnya sambil berkata penuh makna, "Yakin dia bukan orang jahat

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1037

    Sudut bibir Arlo melengkung membentuk senyum tipis saat dia berjalan menuju pintu masuk. Di sana, lima atau enam orang sedang tertahan di depan pintu. Masing-masing membawa kotak obat di tangan mereka.Yang membuat Arlo sedikit terkejut adalah, dari semua orang itu, hanya satu yang dia kenal. Yaitu pria yang dulu memperkenalkan dirinya sebagai Bravy.Saat Konferensi Pengobatan Tradisional berlangsung, ketika dia bertarung melawan Bados, ada seorang praktisi independen yang berdiri membelanya karena merasa tidak adil. Pria kekar itu adalah orang yang sama.Bravy melangkah maju lalu langsung menyodorkan kotak obat di tangannya kepada Arlo."Barang ini didapat temanku secara kebetulan. Waktu dengar bahwa kamu membutuhkannya, aku langsung mengantarkannya ke sini.""Untung lokasinya masih di kota tetangga. Aku bahkan dapat bantuan helikopter dari kepala Keluarga Raharjo untuk mengantarkannya. Kalau nggak, aku pasti nggak sempat tiba."Arlo menangkupkan kedua tangannya sebagai penghormatan.

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1036

    Cortis berbicara dengan nada santai.Mendengar perkataannya, beberapa orang yang mengetahui bahwa Arlo pernah menekan Keluarga Kushanto mulai menceritakan kejadian itu dengan suara pelan. Suasana di lokasi seketika menjadi hening. Orang-orang yang tadi begitu bersemangat bahkan tanpa sadar mulai menjaga jarak.Keluarga Prijaya dan Keluarga Kushanto adalah keluarga besar yang sangat berpengaruh. Bahkan para praktisi independen yang biasanya hidup bebas juga tidak banyak yang bersedia berhadapan dengan mereka.Cortis tersenyum tipis lalu memandang Arlo. "Sepertinya barang itu memang ditakdirkan menjadi milikku."Arlo hanya tersenyum samar. "Belum tentu.""Oh?" Cortis mencibir."Waktu yang tersisa bahkan belum sampai 50 menit. Aku benar-benar nggak melihat bagaimana caramu mendapatkan Rumput Surai."Setelah berkata demikian, dia menoleh ke arah pemuda penjual patung dewa batu. "Kamu bisa langsung jual ke aku saja. Nggak mungkin dia bisa memenuhi syarat yang kamu minta dalam waktu satu jam

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1035

    Arlo mengeluarkan ponselnya dan hendak menelepon seseorang. Cortis mencibir lalu berkata, "Jangan lupa, yang kamu minta adalah satu jam. Kalaupun anak buahmu berhasil menemukan bahan obat itu, waktunya tetap nggak cukup untuk mengantarkannya ke sini."Kemudian dia menoleh ke pemuda penjual di sudut ruangan. "Tadi kamu sendiri yang bilang, kalau dalam satu jam dia nggak bisa membayar, barang itu akan dijual kepadaku."Pemuda itu ragu sejenak sebelum mengangguk. "Tentu saja aku akan menepati janji."Arlo melangkah maju ke tengah kerumunan. Lalu, dia langsung melepas topengnya dan berkata dengan tenang, "Namaku Arlo. Aku ingin membeli sebatang Rumput Surai. Syaratnya, barang itu harus bisa dikirim ke tempat ini dalam waktu satu jam.""Sebagai imbalannya, aku bisa membayar dengan uang, pil, atau kemampuan medisku. Aku bersedia mengobati satu penyakit untuk pemiliknya, penyakit apa pun, dengan standar sembuh total."Suara Arlo dipenuhi energi murni. Bergema seperti guntur di telinga semua o

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1034

    Semua orang serempak menoleh ke arah patung dewa batu itu. Sebagian besar tidak melihat sesuatu yang istimewa. Beberapa orang mulai berdiskusi pelan."Benda ini kelihatannya nggak ada kegunaan apa pun.""Aku merasa ada sedikit energi negatif di dalamnya. Agak aneh.""Jangan-jangan dipakai biksu sesat untuk menyembah dewa jahat?""Hei, Nak! Apa kegunaan benda itu? Atau apa keistimewaannya? Nggak mau peragakan sedikit untuk kami?"Pemuda kurus itu menundukkan kepala dan berkata dengan suara pelan, "Barang ini akan menemukan pemilik yang berjodoh dengannya. Aku nggak akan menjelaskan lebih banyak.""Cih ... jangan-jangan kamu sendiri juga nggak tahu?"Begitu ada seseorang yang tertawa keras, yang lainnya juga ikut tertawa.Namun, tidak ada niat jahat di dalam tawa itu. Hanya saja sebagian besar langsung kehilangan minat terhadap patung dewa batu tersebut. Bagaimanapun, transaksi di tempat seperti ini sepenuhnya bergantung pada kemampuan menilai barang. Kalau rugi, tidak ada yang akan memb

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1033

    Winola menatap Arlo dengan ekspresi aneh."Mana mungkin semua orang seperti kamu, bahas soal membunuh dan merampas melulu.""Kakak seperguruanku orang yang sangat jujur. Delapan tahun lalu, dia terjebak lama nggak bisa mencapai tingkat kesempurnaan tenaga transformasi. Saat itu ada keluarga bangsawan di ibu kota yang menawarkan bantuan agar dia bisa menembus tingkat grandmaster, asalkan dia mau berpindah kubu dan bergabung dengan mereka.""Tapi dia menolak tanpa ragu.""Dia bertahan selama tiga tahun penuh hanya mengandalkan ketekunan dan akumulasi kekuatan untuk menerobos batas itu. Bisa dibilang setelah bertahun-tahun menumpuk fondasi, akhirnya dia meledak sekaligus. Setelah berhasil menerobos tingkatan, kemajuannya sangat pesat. Sekarang kekuatannya sudah mencapai grandmaster tenaga transformasi tingkat lima."Mendengar ucapannya, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benak Arlo. Dia langsung bertanya, "Ayahmu mulai sakit sekitar lima tahun lalu, 'kan?""Kenapa kamu tahu?" Winola ter

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 104

    Isyana mengangguk kecil, lalu mengikuti Arman dan Ramos masuk ke gedung Grup Leopard.Meski dari luar tampak seperti gedung kantor resmi, begitu masuk, suasananya sama sekali tidak seperti perusahaan normal. Dari satpam sampai karyawan, hampir semuanya pria bertampang beringas. Begitu Isyana dan ked

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 95

    Wajah Arlo sedikit menggelap. Jika tabrakan jip yang pertama tadi masih bisa dianggap satu persen kemungkinan sebagai kecelakaan, maka kali ini sudah jelas benar-benar ditujukan untuk mereka."Ayah, pegang yang kuat!" ucap Arlo dengan suara berat, lalu mengentak pedal gas. Mobil langsung melesat ke

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 69

    Mendengar ucapan Arlo, Arman jelas-jelas tidak percaya. Dia mengejek dengan sinis, "Memangnya kamu ngerti barang antik? Cuma bisa ngomong besar!"Arlo mengeluarkan pecahan keramik yang sebelumnya dia temukan bermasalah, lalu menyodorkannya ke tangan Arman. "Buka matamu lebar-lebar, lihat baik-baik!"

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 78

    Semua orang langsung menoleh, tapi tak seorang pun berani buka mulut.Arlo mengerutkan kening. Dia tidak menyangka Renaldi searogan itu, bahkan sampai memukul orang yang tidak sependapat dengannya.Separuh wajah Nico bengkak seketika, tetapi dia tetap tidak berani melawan. Dia hanya berdiri dan berg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status