LOGINYusuf sangat gembira setelah Arlo menyetujuinya, bahkan kegembiraan itu bercampur sedikit rasa bangga. Bahkan Brandon pun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Tak disangka, Yusuf benar-benar berhasil memperjuangkan hak distribusi Air Suci untuknya! Kesempatan seperti ini adalah sesuatu yang diidam-idamkan oleh banyak tokoh besar.Jika dilihat dari kekuatan, Keluarga Raharjo sebenarnya sama sekali belum memenuhi syarat untuk menjadi agen Air Suci!Sheila memandang dua orang dari Keluarga Raharjo yang tampak seperti baru saja mendapatkan harta karun. Di dalam hatinya, dia hanya bisa menggeleng pelan dan merasa sayang pada mereka.Banyak orang mengatakan bahwa pilihan lebih penting daripada usaha. Kalimat itu terasa sangat tepat untuk situasi saat ini. Yusuf sudah sangat "berusaha" menciptakan kesempatan sehingga Arlo mau muncul di "meja perundingannya".Arlo juga sudah memberikan mereka sebuah kesempatan. Sayangnya, mereka memilih untuk menolaknya. Setelah keluar dari rumah Keluarga
Sheila mencibir. "Sudahlah, Pak Yusuf. Sandiwara begini sudah nggak ada artinya sekarang."Brandon juga merasa malu sampai wajahnya memerah. Dia meminta Yusuf menyimpan kembali cek itu. "Pak Arlo bersedia datang kali ini sepenuhnya karena permintaan Bu Sheila."Vior dan Naufal sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya menatap dengan bingung.Arlo langsung memotong basa-basi itu dan berkata terus terang, "Pak Yusuf mengundangku untuk mengobati penyakit hanyalah salah satu alasan. Sepertinya masih ada hal lain. Lebih baik langsung saja."Wajah Yusuf sedikit menunjukkan keterkejutan. Ketajaman Arlo benar-benar di luar dugaannya. Bahkan Brandon pun tidak menebak maksudnya. Dia melihat ke arah Brandon dan benar saja, wajah pemuda itu penuh kebingungan.Yusuf pun tidak berbelit-belit lagi dan langsung berkata, "Master Antasari benar-benar luar biasa. Kemampuan dan caramu bertindak sangat mengagumkan. Aku akan bicara terus terang.""Di bawah tekanan Keluarga Sinaga, bisnis per
"Anak muda, waktuku sangat berharga. Aku nggak punya waktu untuk bermain-main denganmu," kata Saraka dengan ekspresi seolah sudah muak dengan sandiwara ini."Kamu masih muda, jadi biarlah kali ini saja. Aku nggak akan mempersulitmu. Mulai sekarang jangan lagi bicara sembarangan. Untung aku orang yang mudah diajak bicara. Kalau orang lain, kamu pasti sudah dipaksa memakan tumpukan bata itu!"Saraka hendak pergi dengan mengibaskan lengan bajunya.Namun tepat saat itu, para pelayan kembali menjatuhkan beberapa bata. Bersama bata-bata yang runtuh itu, sebuah kotak besi berkarat juga ikut terjatuh."Ternyata benar ada sesuatu!" Para pelayan segera mengerubungi tumpukan bata itu dan dengan cepat mengeluarkan kotak besi tersebut.Saraka yang hampir pergi pun berhenti dan berbalik kembali. Arlo hanya melirik kotak besi itu sekilas lalu langsung berkata, "Itu dia. Buka!"Orang-orang yang lain tidak melihat sesuatu yang aneh. Mereka hanya merasa itu kotak besi berkarat, mungkin saja tercampur sa
Ucapan Arlo langsung membuat Saraka tertawa. Bahkan lokasi yang tepat pun tidak bisa ditentukan. Jelas hanya tahu setengah-setengah! Yusuf juga merasa tidak nyaman. Dia menatap Brandon dengan tajam.Orang-orang selalu mengatakan betapa hebatnya Master Antasari dari Hareast, tetapi semua itu berkaitan dengan kemampuan medis dan Air Suci.Kalau tidak mengerti fengsui, seharusnya mengaku saja tidak mengerti. Kenapa harus berpura-pura seperti seorang ahli? Orang yang berpura-pura serba bisa seperti ini biasanya memang suka pamer.Memikirkan hal itu, Yusuf pun mulai meragukan nilai sebenarnya dari "Master Antasari". Dia merasa Arlo hanya terkenal di usia muda, lalu menjadi sedikit besar kepala.Yang paling penting adalah setelah namanya semakin terkenal, banyak orang merasa harus menghargainya dan berpura-pura mengikuti permainannya. Namun, saat ini dia masih membutuhkan bantuan Arlo. Selain urusan pengobatan, ada juga masalah bisnis Brandon dan urusan Air Suci.Yusuf hanya bisa melambaikan
Melihat situasi itu, Brandon segera melangkah maju dan berkata, "Kakek, Bibi, Paman, ini Pak Arlo. Keahlian medisnya sangat luar biasa. Aku yang mengundangnya untuk mengobati Kakek."Bibinya, Vior, melirik Arlo sekilas, lalu menatap Brandon. Nada bicaranya agak rumit saat berkata, "Kamu memang perhatian, Brandon."Beberapa hari terakhir Keluarga Raharjo dibuat kacau oleh penyakit Yusuf, sehingga mereka tidak terlalu mengetahui kejadian di luar.Paman Brandon, Naufal, jelas terlihat agak tidak senang. Khawatir Saraka tersinggung, dia buru-buru menjelaskan, "Master Saraka, Brandon sering berada di wilayah Hareast. Orang yang dia bawa mungkin nggak terlalu memahami keadaan di sini."Wajah Saraka langsung menjadi dingin. Dia jelas tidak senang karena Arlo tiba-tiba menyela dan bahkan menyangkal ucapannya."Pak Arlo, Master Saraka adalah ahli fengsui yang sangat terkenal di provinsi kami. Kata-katanya tentu nggak salah."Yusuf yang terbaring di tempat tidur sebenarnya sudah sedikit mengetah
Arlo tersenyum dan berkata, "Nggak perlu terlalu kaku. Panggil namaku langsung juga nggak masalah."Brandon tersenyum dengan hormat. "Sekarang kamu adalah orang penting, Pak Arlo. Aku benar-benar nggak berani memanggil namamu begitu saja." Sambil berkata demikian, dia membuka pintu mobil dan mempersilakan Arlo masuk.Di perjalanan, Brandon menjelaskan secara rinci kondisi kakek keduanya.Penyakit aneh itu mulai muncul sekitar satu bulan lalu. Setiap malam dia mengalami mimpi buruk, dada terasa sesak dan napasnya pendek. Belakangan ini bahkan sudah sampai pada tahap batuk darah.Keluarga Raharjo sudah mengundang banyak dokter pengobatan tradisional maupun dokter modern, tetapi jangankan menyembuhkan, bahkan penyebab penyakitnya pun tidak bisa ditemukan.Arlo menanyakan beberapa detail. Di dalam hatinya dia langsung memiliki dugaan bahwa lelaki tua itu mungkin bukan sakit biasa, melainkan terkena energi jahat.Meskipun Kota Yanda berada di provinsi tetangga, jaraknya dari Kota Naldern ha
Zaki sama sekali tidak percaya Arlo bisa punya pengaruh sebesar ini. "Kak Hendro, pasti ada salah paham, 'kan? Kenapa tiba-tiba jadi begini?" tanyanya sambil memaksa tersenyum.Namun, Hendro langsung menampar keras wajah Zaki dengan penuh amarah, "Dasar keparat! Kamu sendiri nggak tahu apa yang suda
Di telepon tadi, Dina mengatakan bahwa dokumen itu sangat sulit diurus dan perlu banyak cap resmi, jadi dia meminta Isyana keluar agar bisa menjelaskan lebih detail. Namun dari nada bicara senior bernama Nico barusan sepertinya tidak begitu.Dina tetap tampak tenang, lalu berkata dengan nada datar,
Sheila membombardir balik dengan kalimat-kalimatnya.Zaki marah dan berkata, "Nona cantik, jangan salahkan aku nggak memperingatkanmu. Kalau kamu tetap keras kepala mau membela seorang pecundang rendahan ini, kamu akan menyinggung keluargaku dan keluarga Pak Johan. Itu kerugian besar bagimu!""Lingk
Arman mengerutkan kening. Saat ini dia bahkan hampir yakin bahwa Victor memang tidak mau bayar, makanya masalah jadi sebesar ini.Setelah ragu sejenak, Arman maju mendekati dua polisi itu dan merendahkan suara, "Aku Arman, cucu Herman. Bisa nggak kalian hargai aku sedikit? Soal penahanan jangan dibi







