LOGINMohit melirik Jivano. Mata mereka berdua penuh keterkejutan dan kecurigaan.Kekuatan ular piton putih itu telah melampaui imajinasi semua orang. Di antara para ahli sihir tingkat kegelapan, Wahid jelas termasuk yang kuat, bahkan Mohit sendiri tak mampu menandinginya.Namun, Wahid pun hanya mampu melukai kulit luar ular piton putih itu. Jangankan Mohit, bahkan jika pemimpin sekte datang, dia merasa belum tentu akan berhasil.Dengan pengalamannya, Mohit bisa melihat sedikit pola. Ular piton putih itu berdiam di Kolam Dingin Miles, menyerap energi dingin hingga membentuk energi jahat. Formasi Roh Dingin menyerap energi tersebut, lalu memantulkannya kembali menjadi hawa dingin, memperkuat satu sama lain.Mungkin jika ular piton putih itu dipancing ke tempat lain, daya tempurnya tak akan sekuat ini. Namun, di sekitar Kolam Dingin Miles, kekuatannya meningkat drastis."Dia bisa menang?" tanya Mohit kepada Jivano.Jivano menggeleng. Dia hanya pernah melihat Arlo menggunakan petir, tetapi Wahi
Namun, satu serangan itu meleset. Ular piton putih tampak sangat murka. Dia membuka mulut besarnya yang berlumur darah. Seorang pengawal yang tadi berdiri di belakang Wahid sudah ketakutan hingga membeku di tempat. Dia digigit hingga kepalanya putus.Ular piton mengibaskan kepala yang tergigit itu, lalu menyemburkan kabut abu-abu. Begitu kabut itu menyentuh tubuh manusia, orang itu langsung membeku menjadi patung es.Hanya dengan satu semburan energi dingin itu, empat atau lima orang langsung membeku dan mati di tempat."Ambil senjata!" teriak Nardi dengan keras. Dia memaksa diri menahan napas, mengangkat senjata, lalu menembaki ular piton putih itu bertubi-tubi.Para pengawal lain meskipun sudah ketakutan setengah mati, naluri profesional mereka masih ada. Mereka semua mengeluarkan senjata api, mundur sambil menembak liar ke arah ular piton putih itu.Namun, peluru yang menghantam tubuh ular piton putih itu seperti mengenai pelat baja, hanya memercikkan bunga api, sama sekali tak mamp
Risty merangkak dan berguling untuk bersembunyi di belakang Wahid. Kalau beberapa orang tua itu benar-benar bisa mengendalikan hantu dan tadi mereka bilang ingin membunuh untuk membungkam saksi, bukankah itu tinggal dilakukan dengan mudah?Melihat mereka bahkan tidak takut pada peluru, seluruh harapan Risty kini bertumpu pada Wahid.Rafi juga ketakutan setengah mati. Jiwanya serasa melayang. Semua yang terjadi di depan matanya sudah melampaui pemahamannya. Kakinya lemas karena panik. Dia ingin lari, tetapi tak mampu bergerak.Para pengawal yang dibawa Nardi pun tampak pucat.Saat itu, wajah Wahid menjadi suram. Dia melangkah maju dan berdiri di depan semua orang, lalu membentuk segel tangan dan api merah kembali muncul mengelilingi tubuhnya."Dari Sekte Hantu, ya? Aku Wahid, kultivator mandiri dari Hondaria. Beri muka sedikit, biarkan kami masuk, kali ini akan kumaafkan kalian. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar.""Sejak dulu saat aku melihat data tentang Kolam Ding
Mohit sebenarnya ingin mengatakan, "Gunung Naga Harimau nggak sempat membasmi sekelompok sampah seperti kalian sebelumnya, jadi nggak ada salahnya kami datang untuk melakukan pembantaian sekarang". Namun sebelum dia sempat membuka mulut, Jivano sudah menariknya ke belakang.Jivano terkekeh aneh beberapa kali, lalu menunjuk Risty."Hehe, yang ini adalah putri Keluarga Hadju dari Hondaria. Bukan kami yang bawa jalan bagi mereka untuk cari harta karun. Mereka punya penunjuk jalan sendiri. Kami cuma datang untuk menonton!"Sepatah kalimat itu langsung melempar tanggung jawab kepada Risty."Lardo, kalau ada yang ingin kamu katakan, ngomong saja sama Bu Risty ini! Kami hanya menonton!" Jivano mengangkat bahu dengan ekspresi licik.Sudut bibir Arlo sedikit berkedut. Jivano dan Mohit benar-benar pasangan yang unik. Yang satunya tidak tahu malu, satunya lagi jujur setengah mati.Mohit mengerucutkan bibirnya, lalu berbisik kepada Arlo, "Yang itu namanya Lardo. Yang tua di belakangnya itu namanya
Hutan lebat di gunung itu tidak ada jalan besar sama sekali. Hanya di bagian luar sekitar 50 kilometer lebih, para pemburu sering keluar masuk sehingga terbentuk jalan tanah kecil. Mobil masih bisa lewat dengan terguncang-guncang.Namun semakin masuk ke dalam, tidak ada jalan lagi sama sekali. Mereka hanya bisa berjalan kaki.Risty dan rombongannya sengaja menjaga jarak dari Arlo.Mohit mengernyit dan mengingatkan Arlo dengan hati-hati, "Mereka bawa pemburu itu sebagai penunjuk jalan karena nggak percaya sama kita!""Mereka juga sengaja menjaga jarak. Entah rencana apa yang sedang mereka susun. Pak Arlo harus berhati-hati!"Arlo tersenyum tipis."Aku punya dendam sama Risty. Siapa pun yang mendapatkan kulit ular putih, mereka nggak berniat membiarkanku pergi hidup-hidup. Mengundang pemburu tua sebagai penunjuk jalan hanya karena mereka takut tersesat waktu keluar gunung nanti!"Jivano menundukkan kepala dan tidak berkata apa-apa. Arlo terlihat muda, tetapi ternyata sangat penuh perhitu
"Jangan-jangan, kalian berdua ini sedang bercanda?"Melihat Wahid mencibir, Jivano merasa tidak senang dan dia berkata dengan marah, "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, mana mungkin palsu?"Wahid berkata dengan tidak acuh, "Maksudmu, kejadian waktu kamu mencuri dan menjual jimat tempurung itu?""Kamu bahkan tahu soal itu?" tanya Jivano dengan ekspresi yang sedikit berubah."Aku nggak pernah bertarung tanpa persiapan!" Wahid tersenyum puas. Anies juga seorang praktisi tingkat kegelapan. Karena dia pulang dengan kekalahan, tentu Wahid harus melakukan persiapan menyeluruh."Kejadian hari itu sudah kutanyakan secara rinci sama Tuan Muda Keluarga Sarkuta. Arlo itu cuma mengeluarkan pusaka dan melepaskan petir! Sekarang, pusaka seperti itu kemungkinan besar sudah barang sisa. Kekuatannya juga melemah setiap kali dipakai!""Lucu sekali kalian berdua ini. Keturunan Gunung Naga Harimau malah ditakuti sama sebuah pusaka. Bahkan dipermainkan oleh anak muda yang nggak punya asal-usul!"H







