LOGINIsyana menghela napas dalam hati. Pria ini benar-benar dominan.Seperti ciuman ini, begitu kuat, seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat, seolah-olah seluruh ketidakpuasan di masa lalu ingin dia luapkan dalam satu ciuman ini.Perasaan yang sudah lama ditekan kini akhirnya tak lagi dibendung.Saat ini, pikiran Arlo terasa begitu lepas. Dia sudah memikirkannya dengan jelas. Semua kesalahpahaman di masa lalu itu memang bukan apa-apa.Saat melihat Isyana di Suku Maia, dia benar-benar merasa senang. Rasa senang di detik itulah isi hatinya yang sebenarnya. Orang bisa membohongi orang lain, tetapi tidak perlu membohongi diri sendiri.Isyana memeluk pinggang Arlo, merasakan dominasi dan hasrat pria itu. Di bawah langit malam, suara napas berat keduanya membuat orang mudah membayangkan macam-macam.Sayangnya, tak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa memutus keintiman mereka."Mas ... Master Arlo ...." Nirkasa yang datang dan melihat pemandangan itu langsung merasa sesak.Bidadarinya
Arlo langsung menjepit kepala Paula di bawah ketiaknya, lalu menampar pantat montok gadis itu.Plak! Plak! Plak! Beberapa tamparan mendarat di pantat Paula. Arlo sampai mengibaskan tangannya. Harus diakui, sensasi pantat gadis ini ternyata lumayan juga.Hmm, menampar pantat gadis lain tepat di depan istri sendiri ... ternyata cukup memicu adrenalin juga.Namun, Arlo memang sudah bertekad memberi Paula sedikit pelajaran. Setelah beberapa tamparan, Paula yang awalnya meronta dan menjerit, perlahan berubah menjadi isak tangis kecil."Hiks, hiks .... Jahat! Aku bakal suruh ibuku hajar kamu sampai mati!""Hiks .... Mesum!"Paula menangis dengan sangat sedih. Seumur hidup, baru kali ini pantatnya dipukul pria!Awalnya dia hanya ingin bersaing dan menang dari Arlo, tetapi ternyata selalu ditekan di setiap sisi.Dia pikir dengan serangga seribu wajah, dia bisa mengerjai Arlo sekali, lalu memegang kelemahannya dan mengejeknya beberapa kalimat. Kenapa memangnya kalau dia seorang grandmaster? Tet
Wajah Isyana memerah, di matanya masih tersisa sedikit rasa malu.Adegan di kamar tadi, saat Arlo memeluk wanita yang menyamar menjadi dirinya sambil mengatakan ingin bersenang-senang dengan istrinya, terus terbayang di kepalanya.Rasa malu dan kesal karena awalnya berniat "menangkap basah" pun tanpa sadar banyak menghilang. Lagi pula, dia juga merasa ada yang janggal.Bahkan kalau Arlo benar-benar pria mesum, tidak mungkin baru saja tertangkap olehnya di kamar, langsung keluar dan menangkap Paula untuk lanjut berbuat macam-macam."Ehem ... kalian berdua sebenarnya salah paham apa?" tanya Isyana yang memberanikan diri.Arlo menunjuk Paula dengan kesal. "Tanya sendiri dia habis ngapain!"Paula bersembunyi di belakang Isyana. Dalam hati, dia juga sangat terkejut. Di kamar tadi dia hanya merasa Arlo mungkin menyadari penyamarannya, sekarang dia hampir yakin dia sudah benar-benar ketahuan.Serangga seribu wajah ini disiapkan langsung oleh Raja Sihir untuknya supaya dia bisa memiliki identi
Di lantai atas, wanita yang menyamar sebagai Isyana mulai panik. Tangan Arlo sudah bergerak ke arah dadanya. Kalau begini terus, jangankan berhasil menggali informasi, dia malah bakal lebih dulu dimanfaatkan.Tunggu dulu, bukannya pria ini impoten? Kalau tidak, mana mungkin istrinya masih perawan setelah tiga tahun menikah?Sial, kalau begitu, bagaimana dia mau bersenang-senang? Jangan-jangan dia sebenarnya pria mesum yang menyimpang? Kata orang pria impoten memang banyak yang aneh!Ekspresi wanita itu langsung berubah. Dia mengerahkan seluruh tenaga untuk melepaskan diri dari pelukan Arlo.Jangankan dia yang cuma seorang wanita, bahkan pria kekar seperti Bode pun tidak akan bisa menandingi tenaga Arlo!Wanita itu merasa Arlo seperti sudah mengetahui penyamarannya, tetapi rasanya itu mustahil! Ini adalah serangga seribu wajah. Selama bisa mendapatkan darah target, dia bisa menyamar!Dia bahkan sudah sengaja mengorek banyak informasi dari Isyana! Mana mungkin ketahuan?Namun, melihat Ar
"Kalau begitu, tanya saja apa yang ingin kamu tahu." Arlo terdiam sesaat sebelum berkata.Isyana mundur beberapa langkah, lalu menoleh sambil tersenyum manis. "Tiga tahun lalu kamu masih orang biasa. Gimana bisa tiba-tiba jadi grandmaster tenaga transformasi?"Sudut bibir Arlo terangkat, agak heran. "Kamu sampai tahu soal grandmaster tenaga transformasi?""Tentu saja. Kamu kira selama di wilayah Suku Maia, aku cuma main-main?" Isyana mengedipkan mata.Arlo menyentuh hidungnya. Sejak kapan gaya Isyana menjadi seperti ini?Dia mengamati wanita di depannya dengan saksama. Wajah ini, ekspresi ini, bahkan suara dan cara bicaranya, semuanya memang benar-benar Isyana!Tiba-tiba, Arlo tersenyum dan melangkah maju, langsung merangkul pinggang wanita itu.Tubuh Isyana jelas menegang sesaat, tetapi dia tidak melawan. Dia membiarkan Arlo memeluknya, bahkan tersenyum tipis. "Kamu belum jawab pertanyaanku."Arlo tidak menjawab. Dia malah menarik wanita itu semakin erat ke pelukannya, lalu mendekatka
Dia memang tidak mungkin bisa lepas dari tanggung jawab.Masalah sebesar ini jelas tidak mungkin ditutup-tutupi. Sambil menelepon pihak resmi, Nirmala juga menyuruh orang mengangkat mayat Jarot.Semua orang memandang mayat Jarot sambil bertukar tatapan. Tak seorang pun berani bernapas keras.Suara Nirmala sedingin es. "Segel seluruh desa! Semua orang boleh masuk, tapi nggak boleh keluar sampai penyelidikan selesai!"Setelah terdiam sejenak, dia kembali bertanya, "Orang-orang asing itu tadi pergi lewat mana? Ada yang mengikuti mereka?"Nirkasa menjawab, "Aku sudah tanya. Orang kita mengikuti mereka sampai melihat mereka keluar dari kampung."Nirmala mengangguk pelan, lalu memandang Arlo. "Kenapa kamu bisa terpikir Pak Jarot akan kena masalah?"Arlo menggeleng. "Sekarang aku masih belum pasti. Orang-orang Organisasi Sembilan Ular punya markas di Kota Maia. Begitu ketemu, beri tahu aku.""Selain itu, kalau memungkinkan, besok aku ingin langsung masuk ke Lembah Sepuluh Ribu Naga!"Nirmala
Saat Arlo kembali ke rumah, Keluarga Hanafi sudah beristirahat. Dia mencuci muka dan berganti pakaian, lalu kembali ke kamarnya untuk mulai bermeditasi. Dalam Kitab Medis Abadi tertulis sebuah kalimat, "mencari jalan menuju pencerahan itu sulitnya setara dengan naik ke langit, tidak boleh ada kelala
Isyana mengangguk kecil, lalu mengikuti Arman dan Ramos masuk ke gedung Grup Leopard.Meski dari luar tampak seperti gedung kantor resmi, begitu masuk, suasananya sama sekali tidak seperti perusahaan normal. Dari satpam sampai karyawan, hampir semuanya pria bertampang beringas. Begitu Isyana dan ked
"Kamu tunggu saja! Kalau hari ini kamu masih bisa keluar dari pintu ini, aku bukan lagi Keluarga Raliansyah!" Saking kesakitan, dahi Renaldi sampai dipenuhi keringat dingin. Dia bergerak mundur beberapa langkah dan berlindung di belakang para pengawal sambil memberi isyarat agar mereka menelepon ora
Wajah Arlo sedikit menggelap. Jika tabrakan jip yang pertama tadi masih bisa dianggap satu persen kemungkinan sebagai kecelakaan, maka kali ini sudah jelas benar-benar ditujukan untuk mereka."Ayah, pegang yang kuat!" ucap Arlo dengan suara berat, lalu mengentak pedal gas. Mobil langsung melesat ke







