LOGIN"Hahaha, kalau kalian nggak berani, kami juga nggak memaksa. Soal investasi triliunan itu, kami bisa pelan-pelan bicarakan dengan pihak resmi kalian."Pria asing yang lebih pendek itu menunjukkan rasa percaya diri yang kuat.Jarot berdeham dan berkata, "Nirmala, menurutku kalian harus mempertimbangkan segala hal dengan matang. Nggak bisa hanya memikirkan kepentingan kelompok kecil, harus melihat kepentingan semua orang!"Pranata langsung mengangguk setuju.Lembah Sepuluh Ribu Naga memang tanah suci bagi suku sihir, tetapi tidak semua orang Maia adalah bagian dari suku sihir. Bagi mereka, nilai "tanah suci" itu belum tentu sama.Saking marahnya, Nirmala sampai tertawa kesal, "Bertaruh tanpa harus menanggung kerugian kalau kalah, tapi kalau menang ingin mengambil Lembah Sepuluh Ribu Naga? Orang-orang barat seperti kalian memang sudah terbiasa melakukan bisnis tanpa modal!""Hehe, kalau Nona Nirmala bilang begitu, gimana kalau aku keluarkan 50 juta dolar sebagai taruhan?" tanya pria asing
Lalu apa hubungan para orang asing ini dengan Jarot dan Nirmala?Apakah yang mencoba membunuh Arlo tadi memang mereka? Kalau benar, apakah itu untuk mencegahnya mendukung Isyana?Baru tiba di Kota Maia sudah menghadapi begitu banyak hal, Arlo juga merasa sulit memahami situasinya untuk sesaat. Namun, dia tidak terburu-buru. Kalau terus mengikuti perkembangan, semuanya pasti akan jelas.Saat ini, semua perhatian tertuju pada kelompok orang asing yang masuk. Di antara mereka, dua orang di depan yang tampil paling mencolok. Kedua pria itu satunya tampak lebih tinggi daripada yang lainnya.Yang tinggi memiliki wajah khas kebarat-baratan. Selain warna kulitnya, bentuk tubuhnya seperti raksasa. Tingginya hampir dua meter, otot-ototnya kekar, lengan atasnya bahkan lebih besar dari kepala orang biasa.Arlo melirik sekilas. Orang ini tidak lemah, terlihat seperti ahli latihan fisik.Meskipun disebut lebih pendek, pria satunya lagi memiliki tinggi sekitar 180 cm. Dia tersenyum santai saat berkat
Arlo mengangguk ringan memberi salam kepada semua yang hadir, lalu membawa Isyana duduk di samping Jemma. Jemma mengira Arlo datang demi Isyana, lalu mulai memperkenalkan orang-orang di ruangan itu satu per satu."Ini Nirmala. Bu Nirmala adalah pejabat penanggung jawab program pengentasan kemiskinan di tiga belas desa Maia sekitar sini!"Arlo tertegun. Nirmala punya identitas resmi memang tidak aneh, tapi jabatan sebagai pejabat pengentasan kemiskinan ini benar-benar di luar dugaannya. Nirmala menatap Arlo sambil tersenyum penuh arti."Ini Pak Jarot, wali kota Kota Maia! Hari ini acara api unggun Desa Guting, khusus diundang oleh Bu Nirmala."Dalam hati Arlo menggerutu. Sudah sampai di daerah terpencil seperti ini, masih harus berurusan dengan pejabat segala. Dia hanya mengangguk sekilas sebagai salam.Jarot menilai Arlo beberapa kali, lalu mendengus, jelas tidak menganggapnya penting. Dia hanya mengira Arlo adalah anak muda dari kalangan akademisi yang kebetulan disukai Jemma."Yang i
Hal itu membuat sedikit kesan baik yang baru saja terbentuk di hati Paula terhadap Arlo langsung lenyap tak bersisa!Jangan sampai dirinya mendapat kesempatan. Kalau tidak, dia pasti akan membuat Arlo dipermalukan dan menyesal!....Ketika rombongan sampai di lokasi api unggun, api sudah menyala. Banyak pria dan wanita suku Maia yang tampan dan cantik bernyanyi dan menari mengelilingi api, suasananya sangat meriah.Dari kejauhan, Arlo langsung melihat Isyana.Entah siapa yang mendandaninya dengan pakaian khas suku Maia, rok putih dan baju warna-warni dengan perhiasan perak di seluruh tubuh. Cahaya api membuat pipinya tampak kemerahan. Dia bernyanyi bersama para gadis Maia dengan lagu yang tidak dikenal dan di matanya terpancar senyum yang santai.Arlo menatap dari jauh, tanpa sadar matanya terdiam. Dia belum pernah melihat Isyana seperti ini sebelumnya. Di Naldern, Isyana selalu dalam keadaan tegang, jarang sekali menunjukkan sisi yang begitu santai dan alami seperti sekarang."Dasar m
Arlo berputar. Saat melihat dirinya bisa menghindar, sementara Paula malah akan terkena panah, dia terpaksa menarik wanita itu dengan satu tangan.Tubuh Paula menegang dan dalam sekejap, dia jatuh ke dalam pelukan Arlo.'Sialan!' umpat Paula. Dirinya bahkan belum sempat menyerang, malah sudah dipeluk paksa sama pria berengsek ini? Ini tidak bisa ditoleransi!Paula langsung bersiap membalas, sebagai putri Raja Sihir, mana mungkin dia tidak punya serangga guna-guna pelindung? Namun sebelum dia sempat bergerak, tubuhnya sudah terangkat ke udara, dilempar oleh Arlo ke arah Nirkasa.Pada saat itu, sebuah anak panah melesat melewati posisi Paula tadi, lalu menghantam semak beberapa meter di depan. Energi dahsyatnya langsung meledakkan lubang besar di tanah.Paula dan Nirkasa baru menyadari ada penyerang, wajah mereka langsung berubah drastis.Sementara itu, Arlo sudah menyesuaikan arah. Dengan entakan kaki, dia melesat seperti peluru menuju posisi penyerang. Penyerang di balik pohon itu jela
Maksud Raja Sihir sudah sangat jelas, mengusir tamu!Arlo merenung sejenak. Dia pun tidak memaksa dan memutuskan untuk menunggu sampai bertemu Isyana lalu melihat situasinya terlebih dahulu."Urusanku sudah selesai, kita kembali!" Arlo melihat matahari yang sudah terbenam, lalu melambaikan tangan. Sambil berkata demikian, dia langsung melangkah cepat turun gunung. Heidi melirik Paula dan Nirkasa yang masih tertegun, lalu buru-buru menyusul Arlo.Sebelum datang, Heidi sempat membaca di forum internet tentang ilmu sihir wilayah Maia. Dia kemudian bertanya pada Paula apakah semua itu benar.Paula hanya menjawab dengan samar. Hubungan Heidi dan Paula cukup baik, jadi dia mengajak Heidi untuk datang berkunjung. Siapa sangka, baru hari pertama sudah melihat pemandangan seperti ini, sampai hampir membuat jiwanya melayang.Selain itu, Paula jelas mengatakan dia tumbuh di Desa Guting. Namun sejak masuk desa sampai sekarang, sepertinya hanya Nirkasa yang mengenalnya.Keanehan demi keanehan membu
Daniel sangat percaya diri dengan kemampuan bicaranya. Dia merasa selama tokoh besar itu mau memberinya kesempatan, dia pasti bisa meyakinkan pihak tersebut.Fellis mendorong pintu dengan lembut.Daniel refleks merapikan pakaiannya, berusaha membuat dirinya terlihat percaya diri dan berwibawa. Namun
Clarissa langsung berubah seperti kucing yang ekornya terinjak dan bulunya berdiri. "Kamu jangan mimpi bisa menjelek-jelekkan Galeri Pusaka Agung!"Namun, Arlo justru menyeringai lebar. "Ini fitnah atau bukan, sebentar lagi akan terbukti dengan sendirinya."Sambil berkata begitu, dia menunjuk ke sal
"Pak Arlo, mulai sekarang Anda sudah menjadi pemilik klub malam kami! Kalau perlu, saya panggil semua karyawan sekarang juga supaya mendengarkan arahan Anda?"Manajer itu benar-benar takut ikut terseret masalah Keluarga Pangalila. Namun, mana ada gunanya penyesalan?Arlo bahkan tidak meliriknya, dia
Daniel sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari ruang privat itu. Saat tiba kembali di aula jamuan dan disambut Renata serta yang lainnya, pikirannya masih kacau dan kosong."Daniel, gimana? Kerja samanya sudah beres, 'kan?""Kamu sudah menyebut soal Keluarga Hanafi jadi pemasok ke pihak Ke







