Share

Bab 766

Penulis: Jayden Carter
"Pak Bimala benar-benar mengerti aku! Sekte Dokter Hantu, Sekte Vitalitas, Sekte Boddhi, semuanya adalah pihak yang pernah kalah dari konglomerat medis barat. Kalau aku menambahkan sedikit api, aku ingin lihat bagaimana Arlo bisa lolos dari dibakar hidup-hidup oleh mereka!"

Reza menyeringai, memperlihatkan deretan gigi putih yang terasa dingin dan menyeramkan. Bimala tahu Reza berani bertindak seperti ini karena memiliki pendukung dari ibu kota.

Namun, Bimala sendiri tak kuasa merasa sedikit tak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Pebi septiani
skrg ini kenapa ya sering kali muncul iklan disaat membaca ,sngt mengganggu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1038

    "Kak Cortis!" Winola buru-buru mengejar sambil memanggilnya. Namun, Cortis sama sekali tidak menoleh dan langsung pergi dengan langkah cepat."Arlo, ini ... aku mewakili Kak Cortis minta maaf! Dia ... dia mungkin ...."Winola mendapati dirinya sama sekali tidak mampu menjelaskan situasinya.Di satu sisi ada penyelamat nyawa ayahnya. Di sisi lain ada kakak seperguruannya. Dia benar-benar berada dalam posisi yang sulit.Arlo menggeleng dan berkata dengan tenang, "Kamu adalah kamu, dia adalah dia. Selama kamu membayar biaya pengobatanku sesuai kesepakatan, aku nggak akan menyeretmu ke dalam urusan lain."Winola menggigit bibirnya. "Aku tetap berharap kamu dan kakak seperguruanku nggak benar-benar sampai bermusuhan. Selama beberapa tahun terakhir, dia sudah mengenal banyak tokoh besar. Belum tentu kamu bisa unggul kalau berhadapan dengannya.""Lagian, dia benar-benar bukan orang jahat."Hati Winola memang tidak buruk.Arlo menatapnya sambil berkata penuh makna, "Yakin dia bukan orang jahat

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1037

    Sudut bibir Arlo melengkung membentuk senyum tipis saat dia berjalan menuju pintu masuk. Di sana, lima atau enam orang sedang tertahan di depan pintu. Masing-masing membawa kotak obat di tangan mereka.Yang membuat Arlo sedikit terkejut adalah, dari semua orang itu, hanya satu yang dia kenal. Yaitu pria yang dulu memperkenalkan dirinya sebagai Bravy.Saat Konferensi Pengobatan Tradisional berlangsung, ketika dia bertarung melawan Bados, ada seorang praktisi independen yang berdiri membelanya karena merasa tidak adil. Pria kekar itu adalah orang yang sama.Bravy melangkah maju lalu langsung menyodorkan kotak obat di tangannya kepada Arlo."Barang ini didapat temanku secara kebetulan. Waktu dengar bahwa kamu membutuhkannya, aku langsung mengantarkannya ke sini.""Untung lokasinya masih di kota tetangga. Aku bahkan dapat bantuan helikopter dari kepala Keluarga Raharjo untuk mengantarkannya. Kalau nggak, aku pasti nggak sempat tiba."Arlo menangkupkan kedua tangannya sebagai penghormatan.

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1036

    Cortis berbicara dengan nada santai.Mendengar perkataannya, beberapa orang yang mengetahui bahwa Arlo pernah menekan Keluarga Kushanto mulai menceritakan kejadian itu dengan suara pelan. Suasana di lokasi seketika menjadi hening. Orang-orang yang tadi begitu bersemangat bahkan tanpa sadar mulai menjaga jarak.Keluarga Prijaya dan Keluarga Kushanto adalah keluarga besar yang sangat berpengaruh. Bahkan para praktisi independen yang biasanya hidup bebas juga tidak banyak yang bersedia berhadapan dengan mereka.Cortis tersenyum tipis lalu memandang Arlo. "Sepertinya barang itu memang ditakdirkan menjadi milikku."Arlo hanya tersenyum samar. "Belum tentu.""Oh?" Cortis mencibir."Waktu yang tersisa bahkan belum sampai 50 menit. Aku benar-benar nggak melihat bagaimana caramu mendapatkan Rumput Surai."Setelah berkata demikian, dia menoleh ke arah pemuda penjual patung dewa batu. "Kamu bisa langsung jual ke aku saja. Nggak mungkin dia bisa memenuhi syarat yang kamu minta dalam waktu satu jam

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1035

    Arlo mengeluarkan ponselnya dan hendak menelepon seseorang. Cortis mencibir lalu berkata, "Jangan lupa, yang kamu minta adalah satu jam. Kalaupun anak buahmu berhasil menemukan bahan obat itu, waktunya tetap nggak cukup untuk mengantarkannya ke sini."Kemudian dia menoleh ke pemuda penjual di sudut ruangan. "Tadi kamu sendiri yang bilang, kalau dalam satu jam dia nggak bisa membayar, barang itu akan dijual kepadaku."Pemuda itu ragu sejenak sebelum mengangguk. "Tentu saja aku akan menepati janji."Arlo melangkah maju ke tengah kerumunan. Lalu, dia langsung melepas topengnya dan berkata dengan tenang, "Namaku Arlo. Aku ingin membeli sebatang Rumput Surai. Syaratnya, barang itu harus bisa dikirim ke tempat ini dalam waktu satu jam.""Sebagai imbalannya, aku bisa membayar dengan uang, pil, atau kemampuan medisku. Aku bersedia mengobati satu penyakit untuk pemiliknya, penyakit apa pun, dengan standar sembuh total."Suara Arlo dipenuhi energi murni. Bergema seperti guntur di telinga semua o

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1034

    Semua orang serempak menoleh ke arah patung dewa batu itu. Sebagian besar tidak melihat sesuatu yang istimewa. Beberapa orang mulai berdiskusi pelan."Benda ini kelihatannya nggak ada kegunaan apa pun.""Aku merasa ada sedikit energi negatif di dalamnya. Agak aneh.""Jangan-jangan dipakai biksu sesat untuk menyembah dewa jahat?""Hei, Nak! Apa kegunaan benda itu? Atau apa keistimewaannya? Nggak mau peragakan sedikit untuk kami?"Pemuda kurus itu menundukkan kepala dan berkata dengan suara pelan, "Barang ini akan menemukan pemilik yang berjodoh dengannya. Aku nggak akan menjelaskan lebih banyak.""Cih ... jangan-jangan kamu sendiri juga nggak tahu?"Begitu ada seseorang yang tertawa keras, yang lainnya juga ikut tertawa.Namun, tidak ada niat jahat di dalam tawa itu. Hanya saja sebagian besar langsung kehilangan minat terhadap patung dewa batu tersebut. Bagaimanapun, transaksi di tempat seperti ini sepenuhnya bergantung pada kemampuan menilai barang. Kalau rugi, tidak ada yang akan memb

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 1033

    Winola menatap Arlo dengan ekspresi aneh."Mana mungkin semua orang seperti kamu, bahas soal membunuh dan merampas melulu.""Kakak seperguruanku orang yang sangat jujur. Delapan tahun lalu, dia terjebak lama nggak bisa mencapai tingkat kesempurnaan tenaga transformasi. Saat itu ada keluarga bangsawan di ibu kota yang menawarkan bantuan agar dia bisa menembus tingkat grandmaster, asalkan dia mau berpindah kubu dan bergabung dengan mereka.""Tapi dia menolak tanpa ragu.""Dia bertahan selama tiga tahun penuh hanya mengandalkan ketekunan dan akumulasi kekuatan untuk menerobos batas itu. Bisa dibilang setelah bertahun-tahun menumpuk fondasi, akhirnya dia meledak sekaligus. Setelah berhasil menerobos tingkatan, kemajuannya sangat pesat. Sekarang kekuatannya sudah mencapai grandmaster tenaga transformasi tingkat lima."Mendengar ucapannya, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benak Arlo. Dia langsung bertanya, "Ayahmu mulai sakit sekitar lima tahun lalu, 'kan?""Kenapa kamu tahu?" Winola ter

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 299

    Arlo tersenyum kecut dan berkata, "Bukan masalah besar, aku bisa mengatasinya."Mutia menggeleng dengan keras kepala. "Nggak, Kak Arlo. Masalah ini terjadi karena aku. Kalau bukan karena aku, semua ini nggak akan terjadi."Setelah berkata begitu, dia menoleh dan bersikap manja sambil berpura-pura me

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 302

    Mahira meluapkan semua amarahnya pada sang kakak. "Lapor polisi? Lihat saja sikap mereka yang begitu pongah. Memangnya mereka takut polisi? Semua ini gara-gara ulahmu yang ceroboh, sampai menyeret keponakanku juga!"Mahira mendorong kakaknya keras-keras, lalu berteriak, "Sudah! Jangan pukul lagi! Ja

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 280

    Mutia menyalahkan diri sendiri. "Seharusnya tadi aku dengar katamu. Kalau aku langsung pergi, semua ini nggak akan terjadi. Aku malah mengabaikanmu dan meninggalkanmu. Ini semua salahku."Setelah keluar, dia mencari ke sana sini, tetapi tidak ada satu pun yang berani menyinggung Daiyan. Dia sudah me

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 276

    "Kamu kira siapa kamu? Berani sekali menyinggung Tuan Daiyan!""Benar! Kalau mau cari mati, jangan seret kami!"Mutia tertegun. Dia sama sekali tak menyangka, di saat paling genting, Chandra justru meninggalkan para gadis, sementara Arlo malah membela. Hal itu membuat pandangannya terhadap Arlo beru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status