FAZER LOGINArlo berputar. Saat melihat dirinya bisa menghindar, sementara Paula malah akan terkena panah, dia terpaksa menarik wanita itu dengan satu tangan.Tubuh Paula menegang dan dalam sekejap, dia jatuh ke dalam pelukan Arlo.'Sialan!' umpat Paula. Dirinya bahkan belum sempat menyerang, malah sudah dipeluk paksa sama pria berengsek ini? Ini tidak bisa ditoleransi!Paula langsung bersiap membalas, sebagai putri Raja Sihir, mana mungkin dia tidak punya serangga guna-guna pelindung? Namun sebelum dia sempat bergerak, tubuhnya sudah terangkat ke udara, dilempar oleh Arlo ke arah Nirkasa.Pada saat itu, sebuah anak panah melesat melewati posisi Paula tadi, lalu menghantam semak beberapa meter di depan. Energi dahsyatnya langsung meledakkan lubang besar di tanah.Paula dan Nirkasa baru menyadari ada penyerang, wajah mereka langsung berubah drastis.Sementara itu, Arlo sudah menyesuaikan arah. Dengan entakan kaki, dia melesat seperti peluru menuju posisi penyerang. Penyerang di balik pohon itu jela
Maksud Raja Sihir sudah sangat jelas, mengusir tamu!Arlo merenung sejenak. Dia pun tidak memaksa dan memutuskan untuk menunggu sampai bertemu Isyana lalu melihat situasinya terlebih dahulu."Urusanku sudah selesai, kita kembali!" Arlo melihat matahari yang sudah terbenam, lalu melambaikan tangan. Sambil berkata demikian, dia langsung melangkah cepat turun gunung. Heidi melirik Paula dan Nirkasa yang masih tertegun, lalu buru-buru menyusul Arlo.Sebelum datang, Heidi sempat membaca di forum internet tentang ilmu sihir wilayah Maia. Dia kemudian bertanya pada Paula apakah semua itu benar.Paula hanya menjawab dengan samar. Hubungan Heidi dan Paula cukup baik, jadi dia mengajak Heidi untuk datang berkunjung. Siapa sangka, baru hari pertama sudah melihat pemandangan seperti ini, sampai hampir membuat jiwanya melayang.Selain itu, Paula jelas mengatakan dia tumbuh di Desa Guting. Namun sejak masuk desa sampai sekarang, sepertinya hanya Nirkasa yang mengenalnya.Keanehan demi keanehan membu
Di dalam Kuil Dewa Sihir, hanya berdiri sebuah patung dewa.Patung itu tampak aneh, seperti sosok manusia yang mengenakan jubah hitam menutupi wajahnya, tidak bisa dibedakan apakah itu pria atau wanita. Singgasananya dipenuhi ukiran serangga, cacing, dan berbagai makhluk seperti yang ada di pilar luar, memancarkan aura gelap dan menyeramkan.Di bawah singgasana, duduk bersimpuh seorang wanita tua kurus berkulit gelap dengan pakaian khas suku Maia. Wajahnya penuh keriput, tampak seperti dukun tua yang sangat saleh.Arlo memandang sekeliling, tampak sedikit terkejut, "Kupikir di dalam Kuil Dewa Sihir akan ada banyak persembahan dan orang yang beribadah. Apa hari ini khusus?"Wanita tua itu tersenyum. "Anak muda, sebagai orang luar, kamu tentu tidak tahu. Penyembahan Dewa Sihir dilakukan di rumah, bukan di kuil. Kuil hanya ramai saat ada kegiatan.""Kalau kamu tertarik, lebih baik keluar dulu untuk menetralisir racun baru kembali lagi. Kamu orang luar, Dewa Sihir tidak akan memberimu obat
Para tetua menunjukkan raut gembira. Lebih dari satu menit kemudian, gadis itu keluar dengan wajah kembali bersih.Para tetua mulai kembali melakukan pemujaan!Kemudian, mereka melihat gadis-gadis kecil itu satu per satu menjalani proses yang sama. Dari enam orang, hanya gadis kedua yang berhasil keluar dari Kuil Dewa Sihir.Sisanya semua gagal!Heidi melihat gadis-gadis kecil yang gagal, tangan mereka yang berlumuran darah dan luka akibat racun, hatinya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak tahan dan mulai mual.Paula mengatupkan bibir. Dari sudut pandang orang modern, ini memang sangat kejam. Namun, ini adalah salah satu ujian untuk mendapatkan pengakuan Dewa Sihir dan masuk ke Lembah Sepuluh Ribu Naga!Sebenarnya ini tidak sepenuhnya takhayul atau sekadar ritual.Kalau dijelaskan secara modern, hanya mereka yang memiliki kondisi fisik lebih baik dan tubuh yang lebih sensitif dalam menetralisir racun yang bisa mengendalikan serangga guna-guna dan mempelajari tekniknya.N
"Kenapa kamu ada di sini?" Heidi menatap Arlo dengan wajah penuh kejutan.Arlo mengangguk memberi salam, "Aku datang sama teman untuk melihat-lihat Kuil Dewa Sihir!""Melihat Kuil Dewa Sihir? Sepertinya kamu bahkan nggak tahu apa itu Kuil Dewa Sihir, ya?" Paula memutar matanya.Begitu melihat Paula, ekspresi Nirkasa sedikit berubah. Dia tampak ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya memilih diam. Paula seolah teringat sesuatu, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum mengejek, "Jangan-jangan kamu mau masuk ke Kuil Dewa Sihir?""Kalau iya, kenapa?" Arlo menatap Paula dengan senyum tipis.Heidi bertanya dengan penasaran, "Paula, Kuil Dewa Sihir itu apa?"Paula mengangkat kepala dan berkata kepada Nirkasa, "Aku juga mau ajak temanku untuk lihat-lihat!" Jelas sekali dia kenal dengan Nirkasa.Nirkasa ragu sejenak, lalu seperti agak terpaksa mengangguk, "Kamu dan temanmu hanya boleh melihat dari jauh, nggak boleh mendekat!""Aku tahu!" Paula menjulurkan lidah, lalu menarik Heidi berjalan le
Arlo mengangguk. "Aku juga nggak berniat menipu kakakmu!"Dalam hati dia menambahkan, 'Aku nggak tertarik sama wanita yang lebih tua!'"Heh, sebagai sesama pria, jangan kira aku nggak bisa melihat trikmu! Pura-pura tarik ulur seperti itu, kakakku mungkin nggak sadar, tapi kamu nggak bisa menipuku!"Nirkasa sekarang sangat curiga bahwa Arlo datang sebagai pria yang ingin menumpang hidup demi tanaman spiritual! Beberapa tanaman spiritual yang dibutuhkan dalam dunia bela diri memang hanya tumbuh di wilayah Maia.Dulu pernah ada pria dari luar yang berniat mendekati wanita Suku Sihir demi mencuri tanaman spiritual. Sekarang kakaknya menyuruhnya membawa Arlo ke sekitar Lembah Sepuluh Ribu Naga, pasti juga karena dia mengincar tanaman spiritual.Melihat wajah Nirkasa yang penuh keyakinan, Arlo tahu percuma menjelaskan. Dia pun langsung mengganti topik, "Di suku kalian, ada berapa grandmaster tingkat tenaga transformasi?"Mendengar itu, Nirkasa langsung tampak bangga, "Ibuku, kakak senior uta
Atas perintah Dandy, Keluarga Kardinegara segera menyiapkan jamuan syukuran dan menahan Arlo serta Reno untuk makan bersama.Saat makan berlangsung, Reno duduk persis di samping Arlo sambil menanyakan berbagai persoalan medis yang rumit tanpa henti. Arlo hanya menjawab seadanya, tetapi setiap penjel
Chairil tak bisa menahan diri untuk berkata, "Kalian ini belum paham, tapi sudah membuat kesimpulan.""Oh? Kamu punya pendapat lain?" Sandy tersenyum menatap Chairil."Beberapa hari lalu aku jatuh dan patah kaki. Arlo yang menyembuhkanku. Cuma diberi obat beberapa hari, patah tulangku langsung sembu
Kepala departemen IGD, Wafda, mengerutkan kening. Dia baru dipindahkan ke rumah sakit ini sebagai kepala dokter dan tidak mengenal Arlo.Setelah menatap Arlo dari atas ke bawah, dia tersenyum mengejek. "Anak Muda, kamu tahu apa yang sedang kau katakan?""Pasien sudah nggak punya detak jantung, keemp
Dokter pribadi Keluarga Kardinegara dan Reno bersama-sama menghubungkan berbagai kabel alat medis ke tubuh Dandy.Arlo lalu mulai melakukan akupunktur pada Dandy. Setengah jam berlalu, rona wajah Dandy tampak membaik. Yang lainnya berjaga di sisi ranjang, menatap dengan tegang.Dandy tersenyum dan b







