MasukArlo sama sekali tidak menanggapi mereka. Situasi di dalam Lembah Sepuluh Ribu Naga masih belum diketahui. Dia juga tidak punya mood untuk adu mulut dengan gadis kecil seperti Paula.Setelah melewati hutan lebat, Madan menghentikan langkah semua orang.Arlo mengangkat pandangan dan melihat jalan di depan tertutup kabut merah muda yang pekat, membuat semuanya tampak samar.Di telinga, samar-samar terdengar suara gesekan makhluk seperti ular dan serangga yang merayap, disertai jeritan nyaring burung-burung tak dikenal, membuat suasana semakin mencekam."Aku di depan, Nirkasa dan Paula di tengah, Candana dan Jauhari di belakang. Kalian semua tahu cara melewati kabut racun ini, 'kan?"Setelah berkata begitu, Madan langsung melangkah maju. Dia sengaja tidak menyebut Arlo, juga tidak menjelaskan cara melewati kabut racun itu, jelas sedang menunggu Arlo membuka mulut dan bertanya.Arlo malah tertawa kecil. Kenapa kakak seperguruan ini tingkahnya mirip Paula? Sama-sama suka bersaing? Atau mung
Didukung oleh Madan, Candana sama sekali tidak takut pada Arlo di wilayah mereka sendiri.Arlo menyipitkan mata. "Rekanku? Menurutku otak kalian memang agak bermasalah!"Madan berjalan mendekat, lalu menatap Arlo dengan dingin. "Mulutmu masih saja bicara kasar. Tunggu sampai aku tangkap orangnya. Setelah itu, aku mau lihat, apa kamu masih bisa sesumbar nggak!"Setelah berkata begitu, dia mengentakkan kaki. Tubuhnya langsung melompat ke udara, beberapa kali berpindah dengan cepat sebelum menerjang ke arah sebuah pohon besar beberapa meter jauhnya.Tak lama kemudian, terdengar suaranya yang penuh keterkejutan. "Kenapa kamu ikut ke sini?"Semua orang langsung menoleh dengan penasaran ke arah Madan.Tak lama kemudian, mereka melihat Madan kembali dengan wajah muram, sementara di belakangnya ada seorang wanita yang menunduk dengan lesu."Paula?" Nirkasa berseru kaget setelah melihat siapa orang itu.Paula menatap semua orang dengan wajah malu. "Kak ....""Jangan macam-macam! Cepat kembali s
Pagi-pagi sekali keesokan harinya, Arlo sudah dibawa ke luar Lembah Sepuluh Ribu Naga."Selain kakak seperguruanku, aku juga mengatur Nirkasa, Candana, dan Jauhari untuk ikut bersamamu. Mereka bertiga semuanya memiliki kekuatan semi-grandmaster!"Nirmala tampak sangat murung. Gunung Suci tidak boleh sampai bermasalah, sementara keadaan di desa juga sedang kacau. Sebagai pemimpin yang berdiri di garis depan, tekanan yang dipikulnya sangat besar."Untuk situasi di dalam Lembah Sepuluh Ribu Naga, Nirkasa akan menjelaskannya secara rinci di perjalanan nanti. Menurut penilaianku, orang-orang dari Organisasi Sembilan Ular sudah masuk ke lembah. Mereka mungkin sudah memasang penyergapan sebelum kalian tiba, jadi kalian harus ekstra hati-hati!"Arlo melirik Candana dan Jauhari. Kedua orang itu selalu mengikuti Madan, jelas terlihat mereka menjadikan sang kakak seperguruan sebagai pemimpin utama.Wajah Madan sendiri penuh kekesalan. Pertama, dia memang tidak ingin urusan Gunung Suci melibatkan
Arlo tidak terlalu terkejut. Dengan tenang, dia bertanya, "Jadi sekarang gimana rencanamu?"Nirmala menyahut, "Untuk masalah Pak Jarot, aku harus kasih penjelasan kepada pihak pemerintah dan bekerja sama dalam penyelidikan. Jadi aku jelas nggak bisa masuk ke Lembah Naga Sepuluh Ribu.""Di dalam Lembah Naga Sepuluh Ribu ada tiga lokasi tumbuhnya obat spiritual. Kurasa itu juga tujuan Organisasi Sembilan Ular. Karena kamu mencari obat spiritual, kalian pasti akan bertemu.""Selain obat spiritual, kemungkinan besar Air Mata Suci juga target mereka!" Usai mengatakan ini, Nirmala berhenti sejenak, lalu menatap Arlo dengan serius."Lembah Naga Sepuluh Ribu adalah tanah suci Suku Sihir kami. Jangankan obat dan pepohonan di dalamnya, bahkan setetes air pun nggak boleh dibawa pergi oleh mereka!"Di hati Nirmala ada terlalu banyak kekhawatiran. Kematian Jarot adalah masalah besar. Dalam situasi seperti ini, dia harus tetap tinggal dan bekerja sama dengan pihak resmi, sementara di desa juga harus
Isyana menghela napas dalam hati. Pria ini benar-benar dominan.Seperti ciuman ini, begitu kuat, seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat, seolah-olah seluruh ketidakpuasan di masa lalu ingin dia luapkan dalam satu ciuman ini.Perasaan yang sudah lama ditekan kini akhirnya tak lagi dibendung.Saat ini, pikiran Arlo terasa begitu lepas. Dia sudah memikirkannya dengan jelas. Semua kesalahpahaman di masa lalu itu memang bukan apa-apa.Saat melihat Isyana di Suku Maia, dia benar-benar merasa senang. Rasa senang di detik itulah isi hatinya yang sebenarnya. Orang bisa membohongi orang lain, tetapi tidak perlu membohongi diri sendiri.Isyana memeluk pinggang Arlo, merasakan dominasi dan hasrat pria itu. Di bawah langit malam, suara napas berat keduanya membuat orang mudah membayangkan macam-macam.Sayangnya, tak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa memutus keintiman mereka."Mas ... Master Arlo ...." Nirkasa yang datang dan melihat pemandangan itu langsung merasa sesak.Bidadarinya
Arlo langsung menjepit kepala Paula di bawah ketiaknya, lalu menampar pantat montok gadis itu.Plak! Plak! Plak! Beberapa tamparan mendarat di pantat Paula. Arlo sampai mengibaskan tangannya. Harus diakui, sensasi pantat gadis ini ternyata lumayan juga.Hmm, menampar pantat gadis lain tepat di depan istri sendiri ... ternyata cukup memicu adrenalin juga.Namun, Arlo memang sudah bertekad memberi Paula sedikit pelajaran. Setelah beberapa tamparan, Paula yang awalnya meronta dan menjerit, perlahan berubah menjadi isak tangis kecil."Hiks, hiks .... Jahat! Aku bakal suruh ibuku hajar kamu sampai mati!""Hiks .... Mesum!"Paula menangis dengan sangat sedih. Seumur hidup, baru kali ini pantatnya dipukul pria!Awalnya dia hanya ingin bersaing dan menang dari Arlo, tetapi ternyata selalu ditekan di setiap sisi.Dia pikir dengan serangga seribu wajah, dia bisa mengerjai Arlo sekali, lalu memegang kelemahannya dan mengejeknya beberapa kalimat. Kenapa memangnya kalau dia seorang grandmaster? Tet
Wajah Rolan langsung berubah drastis. Dia mempertanyakan dengan nada tajam, "Omran, bocah ini mewakilimu?"Omran mengangkat alis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh arti. "Orang yang kubawa, tentu mewakili keluargaku."Wajah Rolan tampak tegang. "Bagus! Sangat bagus!""Semoga kamu nggak
Arlo sedikit mengernyit. Awalnya dia mengira Hafir datang untuk menyaksikan keajaiban. Tak disangka, orang ini malah datang untuk menonton lelucon."Kamu nggak percaya?" tanya Arlo.Sudut mulut Hafir berkedut. "Aku percaya .... Percaya apaan? Percaya setan kali!""Kalau Zaem memang bisa semudah itu
Tidak bernilai sepeser pun, bagaimana mungkin?Rolan mencibir tidak peduli. "Cari sensasi! Kalah lalu pakai cara murahan, ya?"Orang-orang akhirnya tersadar kembali. Mengingat fenomena aneh yang barusan mereka lihat dengan mata kepala sendiri, serta energi tidak biasa yang mereka rasakan, tentu saja
Ujung bibir Rudy berkedut. Senyumannya perlahan menghilang."Jadi kamu ini ... dikasih hati minta jantung ya?" Rudy menatap Arlo. Sorot matanya kian tajam. "Kamu tahu posisi Keluarga Sarkuta di ibu kota provinsi?""Tuan Muda Keluarga Sukendro di ibu kota provinsi, Ian, punya hubungan yang sangat dek






