Beranda / Pendekar / Warisan Kultivasi: Pengendali Awan / BAB 12 JALAN MENUJU NUSANTARA

Share

BAB 12 JALAN MENUJU NUSANTARA

Penulis: Onibi Flame
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 01:50:01

Mereka berangkat saat fajar. Rafael memimpin melalui jalur tersembunyi yang hanya diketahui sedikit orang. Perjalanan ke Nusantara, menurut perkataan Rafael, akan memakan waktu setidaknya sepuluh hari jika mereka berjalan. Tapi ada cara untuk sampai lebih cepat.

"Kita akan menggunakan Jalur Spiritual," ucap Rafael saat mereka berhenti di sebuah reruntuhan kuil yang lebih tua dari yang sebelumnya.

Di tengah halaman kuil, ada lingkaran batu kuno dengan rune-rune yang masih berpendar samar.

"Jalur Spiritual?" tanya Cakra.

"Portal kuno yang menghubungkan tempat-tempat dengan energi spiritual tinggi," kata Rafael menjelaskan sambil berjalan mengelilingi lingkaran, memeriksanya.

"Dulunya digunakan oleh kultivator untuk bepergian cepat. Tapi sebagian besar sudah hancur atau hilang."

Ia meletakkan tangannya di atas salah satu batu. Energi spiritual mengalir dari telapak tangannya, mengaktifkan rune-rune yang tertidur. Satu per satu, rune itu menyala. Warnanya hijau zamrud, kemudian berubah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 16 KONSPIRASI

    Malam setelah kemenangan Cakra, suasana di penginapan Bayu penuh perayaan.Para kultivator lain yang tinggal di sana mengangkat gelas, memberikan selamat, bahkan yang tadinya meragukan sekarang mengakui kekuatan Cakra. Bayu menyiapkan pesta kecil dengan makanan spiritual yang bisa memulihkan energi.Tapi Cakra tidak ikut merayakan. Ia duduk di kamarnya, merenungkan pertarungan tadi."Aku hampir kalah," pikirnya jujur. "Jika Surya sedikit lebih cepat, jika aku sedikit lebih lambat...""Berhenti memikirkan 'bagaimana jika'," suara Amara terdengar dari pintu. Ia masuk dengan nampan berisi makanan. "Kau menang. Itu yang penting."Cakra tersenyum lelah. "Aku hanya menang karena beruntung.""Bukan keberuntungan," Amara duduk di sampingnya, meletakkan nampan di atas meja. "Kau menang karena kau tidak panik. Karena kau ingat latihanmu. Karena kau tetap tenang meski hampir mati."Ia menyuapkan sepotong roti ke mulut Cakra yang menerimanya dengan sedikit protes. "Dan karena kau tahu aku men

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 15 FIRST DUEL!

    Setelah wasit berteriak, Surya pun tidak membuang waktu. Ia menghilang, teknik kecepatan yang sama seperti di desa Cakra waktu itu, dan muncul di belakang Cakra dengan pedang terayun ke arah tengkuk.Tapi Cakra sudah siap. Jurus Langkah Mendung, tubuhnya menguap menjadi kabut, pedang Surya melewati udara kosong, lalu ia muncul lima meter jauhnya dari Surya.Penonton bersorak, gerakan Cakra itu cepat dan elegan.Surya menyeringai. "Jadi kau sudah belajar beberapa trik baru. Bagus! Duel ini tidak akan membosankan!"Surya menyerang lagi, puluhan tusukan dalam sekejap, membentuk jala mematikan. Cakra bertahan dengan Cambuk Awan, menangkis setiap serangan, tapi kecepatan Surya luar biasa, ia hampir tidak bisa mengikuti.SRING!Salah satu tusukan lolos dan memotong lengan kiri Cakra. Darah pun menyembur. Penonton bersorak lebih keras."Darah pertama untuk Surya Kelana!" teriak pembawa acara.Cakra melompat mundur, menekan luka dengan tangan kanannya. Luka itu tidak dalam, tapi menyakitkan.

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 14 MALAM SEBELUM TURNAMEN

    Malam itu, Cakra tidak bisa tidur.Ia duduk di atap penginapan, menatap langit penuh bintang. Bulan purnama bersinar terang, bahkan terlalu terang baginya, hingga bayangannya tampak sangat gelap di atap."Tidak bisa tidur juga?"Cakra menoleh. Amara muncul dari tangga atap, membawa dua cangkir cokelat hangat."Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Cakra."Aku selalu tahu di mana kau berada," jawab Amara dengan senyuman lalu duduk di sampingnya. "Seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkan kita."Cakra menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang menyebar ke telapak tangannya. "Apa kau takut tentang hari esok?""Tentu saja," Amara mengangguk jujur. "Kau akan bertarung melawan kultivator-kultivator yang telah berlatih selama puluhan tahun. Beberapa dari mereka mungkin lebih kuat dari pemimpin Kultus Dewa Hujan yang kau kalahkan.""Tapi?" Cakra merasakan ada kelanjutan dari kalimat Amara."Tapi aku percaya padamu," Amara menatapnya, mata coklatnya bersinar diterpa cahaya bu

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 13 PENDAFTARAN TURNAMEN

    Pagi pertama di Nusantara dimulai dengan suara gong raksasa yang bergema ke seluruh kota.Cakra terbangun dengan cepat, tangan refleks mencari Cambuk Awan sebelum menyadari tidak ada bahaya. Hanya panggilan untuk sarapan pagi di penginapan Bayu.Kamar yang mereka tempati sederhana tapi nyaman, berisi dua tempat tidur terpisah (Rafael bersikeras, meskipun Cakra dan Amara sudah saling mencintai), jendela besar yang menghadap ke alun-alun kota, dan yang paling penting, formasi pelindung spiritual yang membuat mereka aman dari serangan tiba-tiba.Amara masih tidur di tempat tidur seberang, sayapnya muncul sebagian dalam tidur, kebiasaan baru sejak latihannya dengan Rafael. Wajahnya damai, rambut hitamnya tergerai di bantal seperti air terjun.Cakra tersenyum tipis, lalu bangkit tanpa membangunkannya. Ia berjalan ke arah jendela, menatap kota yang mulai bangun. Para pedagang membuka toko mereka, kultivator pagi berlatih di taman-taman kecil, anak-anak spiritual berlarian bermain."Kau tida

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 12 JALAN MENUJU NUSANTARA

    Mereka berangkat saat fajar. Rafael memimpin melalui jalur tersembunyi yang hanya diketahui sedikit orang. Perjalanan ke Nusantara, menurut perkataan Rafael, akan memakan waktu setidaknya sepuluh hari jika mereka berjalan. Tapi ada cara untuk sampai lebih cepat."Kita akan menggunakan Jalur Spiritual," ucap Rafael saat mereka berhenti di sebuah reruntuhan kuil yang lebih tua dari yang sebelumnya. Di tengah halaman kuil, ada lingkaran batu kuno dengan rune-rune yang masih berpendar samar."Jalur Spiritual?" tanya Cakra."Portal kuno yang menghubungkan tempat-tempat dengan energi spiritual tinggi," kata Rafael menjelaskan sambil berjalan mengelilingi lingkaran, memeriksanya. "Dulunya digunakan oleh kultivator untuk bepergian cepat. Tapi sebagian besar sudah hancur atau hilang."Ia meletakkan tangannya di atas salah satu batu. Energi spiritual mengalir dari telapak tangannya, mengaktifkan rune-rune yang tertidur. Satu per satu, rune itu menyala. Warnanya hijau zamrud, kemudian berubah

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 11 PEMBURU DARI ISTANA LANGIT

    Hari kelima sejak Cakra memasuki gunung.Amara berdiri di halaman kuil, Pedang Lotus Emas di tangannya. Senjata spiritual yang Rafael ajari untuk membentuk dari energinya sendiri. Pedang itu transparan, terbuat dari cahaya padat, dengan bunga lotus yang mekar di gagangnya.Ia mengayunkan pedang itu dalam pola yang Rafael ajarkan. Tarian Bunga Lima Kelopak, gerakan mengalir yang menggabungkan serangan, pertahanan, dan penyembuhan dalam satu alur."Lebih cepat!" teriak Rafael, menyerang dengan tongkatnya. "Musuhmu tidak akan menunggu kau siap!"Amara bereaksi, pedangnya memblokir tongkat Rafael dengan bunyi dentingan kristal. Ia berputar, mengayun horizontal, tapi Rafael menghindar dengan mudah."Prediksi gerakanku!" perintah Rafael, menyerang lagi dari sudut berbeda.Kali ini Amara tidak melihat dengan mata, ia merasakan aliran energi spiritual Rafael, merasakan niatnya sebelum tongkat itu bergerak. Ia mengangkat pedangnya tepat pada waktunya, menangkis serangan, lalu balas menyerang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status