LOGIN
Hujan belum turun selama tiga bulan…
Cakra Samudra berdiri di antara kerumunan warga desa yang kelaparan, menatap altar batu di puncak bukit dengan mata yang menyala marah. Langit di atas mereka berwarna kelabu, awan-awan tebal bergumul seperti menahan beratnya uap air. Angin kering menyapu ladang-ladang yang gersang, membawa bau kematian dari ternak yang mati kehausan. "Dewa Hujan menuntut pengorbanan!" Suara Kepala Desa Wiranto memecah keheningan. Pria tua itu berdiri di atas altar, jubah merahnya berkibar tertiup angin. "Hanya darah perawan suci yang dapat membawa berkah hujan kembali!" Cakra mengepalkan tinjunya. Darah mengalir dari telapak tangannya yang ditekan kuku, tapi Cakra bahkan tidak merasa sakit. Matanya terpaku pada sosok gadis yang dibawa naik menuju altar. Amara Kusuma... Rambutnya yang panjang tergerai kontras dengan gaun putih yang membalut tubuhnya. Wajahnya pucat, tapi ia berjalan dengan kepala tegak. Tidak ada air mata di pipinya. Dia sudah lelah menangisi nasibnya. "Amara..." Bisik Cakra, suaranya hilang ditelan gemuruh angin. Mereka teman masa kecil yang tumbuh bersama. Cakra mengenal setiap lekuk senyumnya, setiap nada tawanya yang renyah bin jahil. Cakra tahu Amara takut kilatan petir, dan gadis itu selalu memberi makan burung-burung setiap pagi, dan tentang mimpinya kelak ingin melihat laut yang biru dan ombak menerpa kakinya. Dan sekarang, kepala desa mereka akan membunuhnya demi setetes hujan. "Ini SALAH!" Cakra berteriak dan melangkah maju. "Kalian tidak bisa melakukan ini!" Dua penjaga langsung menghadang dan menangkapnya. Teman satu desa, namanya Jaka dan Bimo. Pria-pria yang pernah Cakra anggap sebagai saudara. Tangan mereka yang kekar mencengkeram lengan Cakra dengan kuat. "Diam, Cakra!" Desis Jaka. "Ini untuk kebaikan kita semua." "Kebaikan?" Cakra menoleh lalu mendorong mereka, tapi kemudian makin banyak tangan menahannya. "Membunuh gadis tak bersalah dibilang kebaikan? Kalian sinting?!" "Dewa Hujan menginginkannya sebagai tumbal!" Suara Wiranto menggelegar. "Atau kau ingin kita semua mati kehausan?" Cakra menatap ke atas altar. Amara sekarang berlutut di tengah lingkaran batu kuno, tangan dan kakinya diikat dengan tali penuh duri. Darah mulai menetes dari luka-luka kecil di pergelangan tangannya, meresap ke dalam pahatan di batu yang merupakan simbol-simbol aneh yang berpendar redup. Dan… Saat mata mereka bertemu… Seluruh isi desa seolah-olah menghilang. Hanya ada mereka berdua. Cakra dan Amara. Yang sama-sama ingat saat mereka masih anak-anak bermain di sungai yang sekarang telah kering. Bibir Amara bergerak tanpa suara, membentuk sebaris kalimat yang hanya ditujukan untuk Cakra. "Jangan lakukan apa-apa. Selamatkan dirimu." Degup jantung di dada Cakra membuncah! "TIDAK!" Teriakan keluar dari dalam jiwanya. Kekuatan yang tak disadari meledak membuat getaran di sekelilingnya. Para penjaga yang menahannya terpental seperti daun yang tertiup angin. Cakra lalu berlari, langkah kakinya menerjang tanah kering menuju bukit. "Hentikan dia!" Perintah Wiranto panik. Tapi Cakra terlalu cepat dan terlalu marah. Ia melompat melewati tiga anak tangga batu sekaligus, nafasnya memburu, jantungnya berdetak seperti genderang perang. Hampir sampai… Sedikit lagi… CTAAAAAR!!! Tiba-tiba petir menyambar. Cahaya putih menyilaukan membelah langit. Halilintar menghantam tepat di depan Cakra, membuat tubuhnya terlempar ke belakang. Cakra jatuh dengan keras menghantam tanah, tulang rusuknya berderak, rasa sakit merajam seluruh tubuhnya. "Dewa Hujan murka!" Wiranto mengangkat tangannya tinggi-tinggi menunjuk ke langit. "Pengorbanan harus dilakukan sekarang!" Melalui penglihatannya yang kabur, Cakra melihat sang Kepala Desa mengangkat pisau ritual. Bagian tajamnya berkilau dengan cahaya kemerahan yang tidak wajar. Amara menutup matanya, bibirnya bergerak merapalkan doa dengan ketakutan. "Amara... Tidak..." Cakra mencoba bangkit, tapi tubuhnya tak bisa bergerak. Darah mengalir dari kepala Cakra membasahi tanah di bawahnya. Langit bergemuruh, petir menyambar berulang kali di sekeliling altar, menciptakan sangkar cahaya yang tak dapat ditembus. "Aku tidak bisa... Menyelamatkannya..." Rasa tak berdaya itu lebih menyakitkan daripada semua luka di tubuhnya. Wiranto mengangkat pisaunya tinggi-tinggi bersiap menusuk tepat di jantung. Amara membuka matanya dan menatap Cakra untuk terakhir kalinya. Ada senyuman kecil di bibirnya. Senyuman perpisahan... "TIDAAAAAK!" KRAAAAAAK!! Sesuatu di dalam diri Cakra patah... Bukan tulang. Bukan otot. Tapi sesuatu yang lebih mirip rantai tak terlihat yang selama ini membelenggu jiwanya. Suara rantai itu terdengar hancur berkeping-keping. Energi yang liar meledak dari tubuhnya dan serbuan gelombang kekuatan membuat tanah bergetar. Langit merespon... Awan-awan yang tadinya diam tiba-tiba berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas altar. Petir menyambar berulang kali tapi kali ini petir mengelilingi Cakra, bukan menyerangnya. Sangkar petir itu terlihat... Melindunginya? Angin bertiup kencang, mengangkat tubuhnya yang lumpuh dari tanah. "Apa... yang terjadi?" Tanya Wiranto takut dan melangkah mundur tanpa sadar. Pisau ritual hampir terlepas dari tangannya. Cakra melayang di udara dengan tubuh diselimuti cahaya kebiruan yang berdenyut seperti jantung. Matanya yang tadinya coklat sekarang berpendar dengan warna langit saat fajar. Ada campuran biru, ungu, dan perak. Di sekelilingnya, uap air mulai berkumpul, membentuk lingkaran-lingkaran awan kecil yang berputar. Cakra meringis menahan sensasi yang mencabik kulitnya. Kekuatan itu terlalu besar. Terlalu liar untuk dia taklukkan. "Ap... Apaaa... Yang terjadi denganku?" Gumam Cakra lirih. Tubuh Cakra mulai hancur dari dalam. Kulitnya retak seperti keramik pecah dan cahaya yang menyilaukan memancar dari setiap retakan. Rasa sakit yang tak terbayangkan merobek kulitnya. Sepertinya setiap sel di tubuh Cakra terbakar lalu terkoyak secara bersamaan. "Cakra!" Suara Amara memanggil menembus rasa sakitnya. Cakra memaksa membuka matanya. Amara berlari ke arahnya. Entah bagaimana caranya tali-tali yang mengikatnya lepas. Sayap transparan mulai muncul di punggungnya. Sayap itu bukan sayap burung, tapi sayap kupu-kupu raksasa yang terbuat dari cahaya murni. Dan setiap helai sayap itu berupa kelopak-kelopak bunga lotus yang berpendar lembut. "Dia... Kenapa? Kok.... punya sayap?" Heran Cakra. Amara berlari melintasi altar, melewati Wiranto yang terpaku dan terkejut, lalu HAP...! Amara melompat dengan sayapnya membawa dia terbang menuju Cakra yang melayang. "Bertahanlah!" Teriak Amara dengan tangan-tangannya meraih Cakra. Saat jemari mereka bersentuhan, cahaya di tubuh Cakra pun meledak. PYAAAAAAR!! Energi Amara yang hangat, murni, serta menyembuhkan bertemu dengan kekuatan Cakra yang liar dan bersifat menghancurkan. Dua kekuatan yang bertentangan itu bertabrakan, bercampur, lalu menciptakan pusaran energi spiritual yang dapat dilihat hingga ke desa-desa terjauh. Sesuatu yang asing terasa masuk ke dalam tubuh Cakra. Bukan hanya energi dari Amara, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dahsyat dan lebih kuno. Ada kesadaran kuno yang terlelap selama ribuan tahun terbangun di dalam dirinya. "Pengendali Awan... akhirnya... kembali..." Suara itu bergema di dalam pikiran Cakra, langsung masuk ke jiwanya. Dan kemudian Cakra melihat sesuatu yang melintas seperti kilat. Dalam kilatan memori itu Cakra melihatnya... Seorang pria berdiri di puncak awan, mengendalikan langit dengan hanya satu tangan. Di sekelilingnya, para dewa berlutut. Tapi kemudian sebuah tombak milik seorang pengkhianat menembus punggung pria itu. Bisikan, "Kematian... Sang Pengendali..." Terdengar samar. Dan setelahnya, sebuah batu bercahaya (Inti Awan Abadi) jatuh ke bumi, menunggu penerus yang layak. Dan Cakra terhenyak lalu tersadar. Dia mendengar bisikan, "Inti itu sekarang ada di dalam dirimu, anakku..." Tubuh Cakra yang hancur mulai terbentuk kembali. Tulang-tulangnya menyatu kembali. Kulit yang retak mulai menutup. Tapi Cakra bukanlah dirinya lagi. Dia tidak lagi si Cakra yang lemah. Darah yang mengalir di nadinya kini membawa esensi langit itu sendiri. Setiap hembusan nafasnya menciptakan kabut tipis. Setiap detak jantungnya membuat awan ikut bergetar. Cakra Samudra telah mati... Dan kini, ada Cakra Samudra sang Pengendali Awan yang terlahir kembali... Mereka (Cakra dan Amara) turun perlahan menginjak tanah masih saling berpelukan satu sama lain. Amara hampir pingsan dan sayapnya meredup lalu menghilang. Cakra menopangnya dengan lembut, kekuatan barunya membuat dia masih bisa berdiri meski pun seharusnya dia sudah mati. Penduduk desa menatap mereka dengan pandangan antara takjub dan takut. "Ini... ini tidak mungkin..." Wiranto mundur. "Kau seharusnya mati! Dewa Hujan seharusnya membunuhmu!" Cakra menatap Wiranto. Matanya yang kini dapat melihat aliran energi spiritual dan dapat merasakan setiap tetesan air dalam radius bermil-mil, menatap tajam sang Kepala Desa. "Dewa Hujan?" Suara Cakra bergema diantara keriuhan. "Tidak ada dewa yang menuntut tumbal. Hanya keserakahan manusia yang bersembunyi di balik nama para dewa." Cakra mengangkat tangan kanannya. Awan-awan di atas kepalanya memberi respon. Awan-awan itu berputar lebih cepat lalu turun lebih rendah. Dengan gerakan jari yang sederhana, Cakra menarik uap air dari udara. Hal yang seharusnya mustahil terjadi di tengah kekeringan yang melanda. Air berkumpul di telapak tangannya dan membentuk bola sempurna yang berputar perlahan. Kemudian ia melemparkannya ke udara. Bola air itu meledak menjadi kabut, menyebar, dan tiba-tiba… SRAAAAAAAS… GLUDUK! GLUDUK! Hujan mulai turun! Tetesannya membawa aroma khas yang telah lama hilang. Para penduduk desa berdiri terpaku membiarkan air hujan membasahi wajah mereka. Beberapa diantaranya bahkan menangis, dan beberapa tampak tertawa tak percaya. Cakra tidak peduli dengan mereka. Ia menatap Amara yang terbaring lemah di pelukannya. Gadis itu membuka matanys perlahan, menatapnya bingung sekaligus kagum. "Cakra, kau..." "Aku akan melindungimu," Cakra berbisik, suaranya terdengar hanya untuk Amara. "Tidak peduli siapa yang mencoba menyakitimu. Tidak peduli apa yang harus kulakukan. Aku bersumpah akan melindungimu." Amara tersenyum bahagia. "Aku tahu," bisiknya. "Aku selalu tahu." Di atas mereka, langit bergemuruh seperti memberi peringatan. Sesuatu yang lebih besar telah terusik oleh kelahiran Sang Pengendali Awan yang baru. Di alam dan dimensi yang berbeda, beberapa pasang mata yang telah tertutup selama berabad-abad pun mulai terbuka. "Boooo haaaaaah... Dia... Bangkit... Fufufufu... Hahahaha!" Cakra pasti akan diburu oleh puluhan mahkluk yang menginginkan kekuatannya.Malam setelah kemenangan Cakra, suasana di penginapan Bayu penuh perayaan.Para kultivator lain yang tinggal di sana mengangkat gelas, memberikan selamat, bahkan yang tadinya meragukan sekarang mengakui kekuatan Cakra. Bayu menyiapkan pesta kecil dengan makanan spiritual yang bisa memulihkan energi.Tapi Cakra tidak ikut merayakan. Ia duduk di kamarnya, merenungkan pertarungan tadi."Aku hampir kalah," pikirnya jujur. "Jika Surya sedikit lebih cepat, jika aku sedikit lebih lambat...""Berhenti memikirkan 'bagaimana jika'," suara Amara terdengar dari pintu. Ia masuk dengan nampan berisi makanan. "Kau menang. Itu yang penting."Cakra tersenyum lelah. "Aku hanya menang karena beruntung.""Bukan keberuntungan," Amara duduk di sampingnya, meletakkan nampan di atas meja. "Kau menang karena kau tidak panik. Karena kau ingat latihanmu. Karena kau tetap tenang meski hampir mati."Ia menyuapkan sepotong roti ke mulut Cakra yang menerimanya dengan sedikit protes. "Dan karena kau tahu aku men
Setelah wasit berteriak, Surya pun tidak membuang waktu. Ia menghilang, teknik kecepatan yang sama seperti di desa Cakra waktu itu, dan muncul di belakang Cakra dengan pedang terayun ke arah tengkuk.Tapi Cakra sudah siap. Jurus Langkah Mendung, tubuhnya menguap menjadi kabut, pedang Surya melewati udara kosong, lalu ia muncul lima meter jauhnya dari Surya.Penonton bersorak, gerakan Cakra itu cepat dan elegan.Surya menyeringai. "Jadi kau sudah belajar beberapa trik baru. Bagus! Duel ini tidak akan membosankan!"Surya menyerang lagi, puluhan tusukan dalam sekejap, membentuk jala mematikan. Cakra bertahan dengan Cambuk Awan, menangkis setiap serangan, tapi kecepatan Surya luar biasa, ia hampir tidak bisa mengikuti.SRING!Salah satu tusukan lolos dan memotong lengan kiri Cakra. Darah pun menyembur. Penonton bersorak lebih keras."Darah pertama untuk Surya Kelana!" teriak pembawa acara.Cakra melompat mundur, menekan luka dengan tangan kanannya. Luka itu tidak dalam, tapi menyakitkan.
Malam itu, Cakra tidak bisa tidur.Ia duduk di atap penginapan, menatap langit penuh bintang. Bulan purnama bersinar terang, bahkan terlalu terang baginya, hingga bayangannya tampak sangat gelap di atap."Tidak bisa tidur juga?"Cakra menoleh. Amara muncul dari tangga atap, membawa dua cangkir cokelat hangat."Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Cakra."Aku selalu tahu di mana kau berada," jawab Amara dengan senyuman lalu duduk di sampingnya. "Seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkan kita."Cakra menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang menyebar ke telapak tangannya. "Apa kau takut tentang hari esok?""Tentu saja," Amara mengangguk jujur. "Kau akan bertarung melawan kultivator-kultivator yang telah berlatih selama puluhan tahun. Beberapa dari mereka mungkin lebih kuat dari pemimpin Kultus Dewa Hujan yang kau kalahkan.""Tapi?" Cakra merasakan ada kelanjutan dari kalimat Amara."Tapi aku percaya padamu," Amara menatapnya, mata coklatnya bersinar diterpa cahaya bu
Pagi pertama di Nusantara dimulai dengan suara gong raksasa yang bergema ke seluruh kota.Cakra terbangun dengan cepat, tangan refleks mencari Cambuk Awan sebelum menyadari tidak ada bahaya. Hanya panggilan untuk sarapan pagi di penginapan Bayu.Kamar yang mereka tempati sederhana tapi nyaman, berisi dua tempat tidur terpisah (Rafael bersikeras, meskipun Cakra dan Amara sudah saling mencintai), jendela besar yang menghadap ke alun-alun kota, dan yang paling penting, formasi pelindung spiritual yang membuat mereka aman dari serangan tiba-tiba.Amara masih tidur di tempat tidur seberang, sayapnya muncul sebagian dalam tidur, kebiasaan baru sejak latihannya dengan Rafael. Wajahnya damai, rambut hitamnya tergerai di bantal seperti air terjun.Cakra tersenyum tipis, lalu bangkit tanpa membangunkannya. Ia berjalan ke arah jendela, menatap kota yang mulai bangun. Para pedagang membuka toko mereka, kultivator pagi berlatih di taman-taman kecil, anak-anak spiritual berlarian bermain."Kau tida
Mereka berangkat saat fajar. Rafael memimpin melalui jalur tersembunyi yang hanya diketahui sedikit orang. Perjalanan ke Nusantara, menurut perkataan Rafael, akan memakan waktu setidaknya sepuluh hari jika mereka berjalan. Tapi ada cara untuk sampai lebih cepat."Kita akan menggunakan Jalur Spiritual," ucap Rafael saat mereka berhenti di sebuah reruntuhan kuil yang lebih tua dari yang sebelumnya. Di tengah halaman kuil, ada lingkaran batu kuno dengan rune-rune yang masih berpendar samar."Jalur Spiritual?" tanya Cakra."Portal kuno yang menghubungkan tempat-tempat dengan energi spiritual tinggi," kata Rafael menjelaskan sambil berjalan mengelilingi lingkaran, memeriksanya. "Dulunya digunakan oleh kultivator untuk bepergian cepat. Tapi sebagian besar sudah hancur atau hilang."Ia meletakkan tangannya di atas salah satu batu. Energi spiritual mengalir dari telapak tangannya, mengaktifkan rune-rune yang tertidur. Satu per satu, rune itu menyala. Warnanya hijau zamrud, kemudian berubah
Hari kelima sejak Cakra memasuki gunung.Amara berdiri di halaman kuil, Pedang Lotus Emas di tangannya. Senjata spiritual yang Rafael ajari untuk membentuk dari energinya sendiri. Pedang itu transparan, terbuat dari cahaya padat, dengan bunga lotus yang mekar di gagangnya.Ia mengayunkan pedang itu dalam pola yang Rafael ajarkan. Tarian Bunga Lima Kelopak, gerakan mengalir yang menggabungkan serangan, pertahanan, dan penyembuhan dalam satu alur."Lebih cepat!" teriak Rafael, menyerang dengan tongkatnya. "Musuhmu tidak akan menunggu kau siap!"Amara bereaksi, pedangnya memblokir tongkat Rafael dengan bunyi dentingan kristal. Ia berputar, mengayun horizontal, tapi Rafael menghindar dengan mudah."Prediksi gerakanku!" perintah Rafael, menyerang lagi dari sudut berbeda.Kali ini Amara tidak melihat dengan mata, ia merasakan aliran energi spiritual Rafael, merasakan niatnya sebelum tongkat itu bergerak. Ia mengangkat pedangnya tepat pada waktunya, menangkis serangan, lalu balas menyerang







