Share

4. Racun

Penulis: Donat Mblondo
last update Tanggal publikasi: 2026-02-09 06:19:56

Keheningan kembali menguasai ruangan setelah pelayan itu pergi.

​Beberapa detik kemudian, Zhiyao membuka matanya. Ia tetap berbaring tanpa bergerak. Napasnya terukur, pendek, dan lemah, persis seperti yang diharapkan dari tubuh rapuh ini. Rasa nyeri dingin di dadanya belum sepenuhnya mereda, tetapi pikirannya kini setenang dan setajam bilah pedang yang baru diasah.

​Langit-langit kamar terlihat asing. Megah dan tanpa cela, tempat yang sempurna untuk membuat seseorang menghilang tanpa jejak. Tatapan Zhiyao bergeser ke mangkuk obat yang ditinggalkan di atas nakas. Uapnya sudah menipis, menyisakan aroma pahit yang tajam hingga menusuk hidung.

​Ia tidak menyentuhnya.

​Menolak mentah-mentah terlalu mencolok, dan meminumnya seluruhnya… terlalu bodoh, pikirnya analitis.

​Jarinya bergerak perlahan, menarik mangkuk itu lebih dekat. Zhiyao mencelupkan ujung jarinya sedikit saja, lalu mengoleskan cairan keruh itu pada bagian dalam pergelangan tangannya yang berkulit tipis.

​Sensasi dingin dan sedikit mati rasa perlahan menyebar, seperti bayangan yang merayap di bawah pembuluh darahnya. Kulit di tempat cairan itu menyentuh seketika terlihat semakin pucat pasi. Tidak terasa sakit, namun tidak juga langsung bereaksi merusak. Zhiyao mengamati perubahan itu dengan sabar. Beberapa detik. Satu menit. Dua menit. Detak jantungnya sedikit melambat.

​Bahkan penyerapan luar melalui kulit dalam dosis sekecil ini saja sudah menimbulkan reaksi pada nadiku, simpulnya.

​Ia menyeka tangannya dengan ujung selimut, lalu kembali memejamkan mata, berpura-pura jatuh tertidur.

​Tak lama, suara langkah kaki pelan terdengar mendekat. Pelayan yang sama masuk kembali dengan mengendap-endap untuk memeriksa mangkuk ramuan.

​"Kapan terakhir kali aku meminum ini?" tanya Zhiyao tiba-tiba, suaranya rapuh dan tipis, sengaja mengejutkan pelayan itu.

​Sang pelayan tersentak pelan, bahunya menegang. "Ta—tadi malam, Yang Mulia."

​"Jam berapa?"

​Pelayan itu ragu sekejap, matanya melirik ke arah mangkuk. "Menjelang tengah malam, Yang Mulia."

​Zhiyao mengangguk lemah, memasang wajah lugu. "Baiklah. Biarkan ramuan itu di meja, aku akan meminumnya nanti jika mualku mereda."

​Pelayan itu menurut, meski kali ini terlihat sedikit bimbang. Saat pintu tertutup, Zhiyao tersenyum sinis. Perintah untuk memberiku ramuan ini di jam-jam tertentu... pasti datang dari seseorang yang memiliki otoritas jauh di atasku.

​Mulai keesokan harinya, Zhiyao memulai eksperimennya. Ia dengan sengaja hanya meminum setengah dari dosis biasa, membuang sisanya ke dalam pot tanaman hias saat tidak ada yang melihat. Hari setelahnya, ia hanya meminum seperempatnya.

​Zhiyao mencatat semua reaksi di tubuhnya dengan ketelitian seorang ilmuwan modern. Kapan tubuhnya menggigil lebih hebat. Kapan napasnya terasa lebih berat. Kapan pikirannya mulai terasa lamban. Dan yang paling penting: kapan ia tidak merasakan sakit apa pun.

​Pada hari ketiga, ia sengaja menjatuhkan mangkuk itu ke lantai.

​Prang!

​Cairan cokelat itu tumpah menggenangi lantai batu pualam, meninggalkan bau pahit yang jauh lebih tajam dari biasanya. Pelayan itu langsung berlari mendekat dengan wajah seputih kertas.

​"M-maafkan hamba! Hamba akan segera—"

​"Tidak apa-apa," potong Zhiyao lembut, menyandarkan kepalanya seolah sangat kelelahan. "Aku memang sedang tidak enak badan hari ini. Bersihkan saja."

​Dari celah kelopak matanya, Zhiyao mengamati pelayan itu. Napasnya terengah-engah. Gerakan tangannya saat memunguti pecahan porselen sangat tergesa-gesa. Itu jelas reaksi panik karena gagal menunaikan tugas, bukan sekadar ketakutan pada majikan, simpul Zhiyao.

​Malam itu, dengan dosis racun yang jauh berkurang di aliran darahnya, tubuh Zhiyao benar-benar terasa sedikit lebih baik. Hanya sedikit, tapi cukup untuk memastikan satu hipotesisnya. Racun itu mengatur ritme hidupnya. Racun itu menentukan kapan ia akan tumbang, dan kapan ia dibiarkan hidup secukupnya untuk dipertontonkan pada publik.

​Ia tersenyum tipis dalam kegelapan. Baiklah. Kalau begitu… sekarang giliranku yang mengambil alih ritmenya.

​Tentu saja, perubahan kecil di Paviliun Lanyin tidak luput dari mata sang penguasa sesungguhnya.

​Bukan melalui pelayan ataupun utusan Lanyue, melainkan melalui laporan singkat dari Pasukan Bayangan yang langsung diserahkan ke tangan Pangeran Xiaochen di ruang kerjanya.

​"Melapor, Yang Mulia," Han Mu berdiri tegak di depan meja kayu cendana tuannya. "Mata-mata kita di paviliun melaporkan bahwa Putri Ruoyao diam-diam menolak meminum habis obat malamnya selama tiga hari berturut-turut. Hari ini, ia bahkan sengaja menjatuhkan mangkuknya."

​Xiaochen yang sedang membaca gulungan militer menghentikan gerakan kuasnya.

​"Dan kondisinya?" tanya sang pangeran datar.

​"Anehnya... kondisinya tidak memburuk seperti prediksi awal Tabib Lanyue. Napasnya justru sedikit lebih stabil," lapor Han Mu.

​Xiaochen terdiam. Tidak memburuk saat berhenti minum obat? Laporan medis itu kini terdengar seperti sebuah konspirasi busuk. Kalimatnya sederhana, namun cukup untuk membuat alis Xiaochen berkerut tajam.

​Ia kembali teringat pada sepasang mata di balik selendang malam itu. Mata yang cukup berani untuk menusuk langsung ke isi kepalanya. Ketegasan wanita itu benar-benar mengganggu logikanya.

​Xiaochen meletakkan kuasnya.

​"Panggil Tabib Shan," titah sang Pangeran mutlak.

​Tabib Shan adalah ahli medis terbaik di seluruh Kekaisaran Cangwu. Seorang pria tua yang sangat loyal, tidak memiliki koneksi apa pun dengan Kekaisaran Lanyue, dan yang terpenting: seseorang yang tidak punya alasan untuk berbohong pada Xiaochen.

​Ketika kabar tentang kedatangan Tabib Shan akhirnya sampai kepada Zhiyao sore harinya, ia sedang duduk bersandar di ranjang, membiarkan cahaya matahari senja menghangatkan wajah pucatnya.

​"Tabib Utama Cangwu sudah berada di depan, Yang Mulia," lapor pelayannya dengan suara yang kentara sekali bergetar menahan gugup.

​Zhiyao mengangguk perlahan, ekspresinya tenang. "Bagus. Persilakan masuk."

​Di dalam hatinya, Zhiyao tersenyum puas. Taktiknya berhasil. Sekarang… mari kita lihat faksi mana yang akan panik lebih dulu. Tatapannya jatuh pada mangkuk ramuan baru yang mengepul di atas meja. Permainan telah resmi berpindah tangan.

​Setengah jam kemudian, pintu kamar Putri Ruoyao tertutup rapat. Tabib Shan melangkah keluar dengan raut wajah muram dan langkah kaki pelan yang terukur.

​Aroma obat herbal dan ketegangan masih melekat pekat di udara koridor batu tersebut. Xiaochen berdiri beberapa langkah jauhnya dari pintu, kedua tangannya terlipat kokoh di belakang punggung. Posturnya tegap, ekspresinya sedingin es, namun mata elangnya menguliti setiap perubahan di wajah sang tabib tua.

​"Bagaimana?" tanya Xiaochen memecah kesunyian.

​Tabib Shan berhenti melangkah dan membungkuk dalam-dalam. "Menjawab Yang Mulia... Tubuh Putri Ruoyao benar-benar tidak wajar."

​Xiaochen tidak menyela, membiarkan tabib itu menyelesaikan laporannya.

​"Itu bukan penyakit, bukan pula kelemahan bawaan akibat iklim," lanjut sang tabib dengan hati-hati, menurunkan suaranya. "Ada zat asing perusak organ yang secara teratur dimasukkan ke dalam aliran darahnya."

​Han Mu di belakang Xiaochen menahan napas tajam.

​"Racun?" desis Xiaochen akhirnya.

​Tabib Shan mengangguk pelan. "Benar, Yang Mulia. Dan racun ini diracik dengan sangat brilian. Nyaris tidak meninggalkan jejak di denyut nadi biasa."

​Tabib Shan menelan ludah, ragu sejenak sebelum menambahkan bagian yang paling mengejutkan.

​"Namun ada satu hal yang membuat hamba takjub, Yang Mulia. Tubuh Putri Ruoyao... tampaknya sedang beradaptasi dengan racun itu."

​Xiaochen menyipitkan mata, aura dominasinya menguar berbahaya. "Apa maksudmu?"

​Tabib Shan menundukkan kepalanya lebih dalam. "Dosis racun di tubuhnya tiba-tiba berkurang drastis dalam tiga hari terakhir. Seolah-olah... Putri dengan sengaja memotong asupan racunnya sendiri untuk memperpanjang nyawanya."

​Keheningan yang teramat berat menyelimuti koridor itu.

​Mendengar konfirmasi tersebut, tatapan Xiaochen berubah. Sang Pangeran Perang kini menyadari, wanita yang dikirim Lanyue untuknya bukanlah seekor domba penyakitan yang menunggu disembelih, melainkan seekor serigala yang sedang merencanakan pemberontakan dari atas ranjang pesakitannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   217. Dunia Nyata – Kamar Tidur Utama Istana Bai Ling

    GELUDUK!Suara guntur yang membelah langit siang berawan di atas Istana Bai Ling membuat dua sosok di atas ranjang sutra itu tersentak bangun secara bersamaan.Napas Zhiyao terengah-engah. Matanya melebar, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal mewah. Tidak ada lagi bau anyir darah. Tidak ada lagi lantai marmer dingin Paviliun Langit. Yang ada hanyalah kehangatan sisa perapian dan suara rintik hujan sisa semalam yang membasahi kaca jendela raksasa.Di sebelahnya, Ling Chenxiao langsung terduduk dengan napas memburu. Hal pertama yang dilakukan oleh Jenderal itu bukanlah mengecek senjata, melainkan meraba perutnya sendiri dengan kecepatan kilat.Saat jemari kasarnya menyentuh otot six-pack yang sekeras papan cuci dan dada bidangnya yang penuh bekas luka kebanggaan, Chenxiao mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang hingga ia nyaris menjatuhkan diri kembali ke kasur."Aku... aku bukan babi buncit lagi," gumam Chenxiao dengan suara bariton aslinya yang berat dan berwi

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   216. Penobatan Berdarah di Bawah Sinar Fajar

    KRAAAK!​Suara retakan tulang yang luar biasa keras bergema di sekujur Paviliun Langit Utama, menenggelamkan isak tangis tertahan dari Selir Agung Wan yang bersembunyi di balik pilar.​Kaisar Ling Ye, sang penguasa mutlak yang selama dua dekade menebar teror di Kekaisaran Cangyue, kini menjerit melengking dengan suara yang pecah dan menyayat. Sepatu bot Ling Chenxiao yang berlapis besi baru saja meremukkan tempurung lutut kirinya tanpa ampun.​Tidak ada belas kasihan. Tidak ada jeda. Sang Jenderal Naga melangkah dengan tenang, memindahkan tumpuan kakinya ke atas pergelangan tangan kanan Ling Ye yang masih memegang erat ujung jubah naganya.​"Ini untuk setiap napas ibuku yang kau curi," bisik Chenxiao sebagai Ling Yi dengan suara bariton yang begitu dingin, lebih beku dari es di puncak Pegunungan Utara.​KRAK!​Tulang pergelangan tangan sang kaisar remuk menjadi serpihan kecil di bawah tekanan fisik murni Chenxiao. Ling Ye menggelepar hebat layaknya cacing yang disiram air garam. Mata k

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   215. Naga Hitam Mengoyak Langit Pucat

    ​BOOOOOOOOOOMMMM!!!​Suara ledakan yang luar biasa memekakkan telinga merobek keheningan Paviliun Langit Utama.​Pintu mahoni raksasa berlapis baja setebal tiga inci yang diklaim mampu menahan hantaman kereta pelantak, hancur berkeping-keping seolah baru saja ditabrak oleh meteor yang jatuh dari langit!​Tiga balok kayu ulin penguncinya patah menjadi serpihan debu. Pecahan pelat baja tajam dan bongkahan kayu seukuran batang pohon terlempar ke dalam paviliun dengan kecepatan peluru, menghantam telak formasi barisan depan Pasukan Bayangan Bulan.​CRASSSHH! KRAAAK!​Belasan master elit di garis depan tewas seketika dengan tubuh tertembus serpihan pintu sebelum mereka sempat melepaskan tali busur panah. Formasi Pertahanan Kura-kura Besi hancur berantakan dalam satu kedipan mata.​Debu tebal dan asap mengepul menutupi pintu masuk. Dari balik kabut reruntuhan itu, sesosok raksasa melangkah masuk dengan ritme yang lambat dan mematikan.​Ling Chenxiao berdiri tegak di ambang pintu. Api hitam

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   214. Langkah Menuju Puncak Langit

    ​Jeritan melengking dari dalam Kuil Leluhur perlahan-lahan mereda, berubah menjadi rintihan serak, lalu akhirnya ditelan sepenuhnya oleh derak kayu yang terbakar.​Api neraka berkobar liar, merayap naik menjilati pilar-pilar ulin hitam dan membakar habis ratusan papan nama leluhur bersepuh emas. Di tengah lautan api tersebut, tubuh Janda Permaisuri Agung He telah berubah menjadi gumpalan arang hitam yang tak lagi berbentuk. Bau daging yang hangus bercampur dengan lelehan sutra mahal menciptakan aroma kematian yang sangat memuakkan.​Mantan Kaisar Ling Tian berdiri bergeming di ambang pintu kuil. Hawa panas dari kobaran api menerpa wajahnya, namun sepasang mata elang pria paruh baya itu terasa sangat dingin.​Tangannya yang kasar naik, menyentuh pelan rahang dan pipinya yang kini telah mulus tanpa bekas luka bakar. Ingatan tentang malam kudeta belasan tahun lalu di mana ia merangkak keluar dari tumpukan mayat prajurit setianya dengan kulit yang meleleh, kini tumpang tindih dengan peman

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   213. Karma Sang Janda Permaisuri di Kuil Leluhur

    Aroma dupa cendana yang dibakar di dalam Kuil Leluhur malam ini terasa sangat pekat, namun wewangian suci itu sama sekali tidak mampu menutupi hawa kematian yang merayap di udara.Kuil yang terbuat dari kayu ulin hitam itu merupakan tempat peristirahatan bagi arwah para kaisar terdahulu. Di tengah ruangan, menghadap altar raksasa yang dipenuhi ratusan papan nama bersepuh emas, Janda Permaisuri Agung He duduk bersimpuh di atas bantal sutra.Di luar kuil, suara jeritan dan dentingan pedang sayup-sayup terdengar, menandakan bahwa Istana Utama sedang dibantai. Namun, wanita tua itu tetap memejamkan mata, memutar sisa untaian tasbih giok cadangannya dengan kecepatan yang menunjukkan kepanikan ekstrem di dalam hatinya. Sepuluh pembunuh bayaran tingkat master, pengawal pribadi rahasianya telah bersiaga di setiap sudut bayangan kuil.Kriet...Suara derit pintu kayu raksasa kuil yang didorong terbuka memecah keheningan. Angin malam yang dingin berhembus masuk, seketika memadamkan separuh dari

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   212. Hujan Darah di Gerbang Emas

    Putri Mahkota Shen Yuning berjalan memimpin di garis depan, membelah koridor-koridor panjang Istana Utama dengan langkah yang anggun namun kaku.Di belakangnya, Zhiyao melangkah santai seolah sedang berjalan-jalan di taman bunganya sendiri, diikuti oleh Ling Chenxiao yang memancarkan hawa kematian pekat. Sepanjang perjalanan, Yuning tak henti-hentinya melirik ke arah bayangan gelap di sudut-sudut pilar, dari mana sesosok pria berjubah abu-abu (Kakek Ling Tian) muncul dan bergabung dengan rombongan kecil mereka dalam diam.Saat Yuning melihat sekilas wajah dari balik tudung abu-abu itu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Kaisar Terdahulu... dia benar-benar hidup! batin Yuning menjerit ngeri. Wanita cerdas itu semakin yakin bahwa keputusannya berlutut pada Zhiyao tadi adalah satu-satunya jalan agar klan Shen tidak musnah dari sejarah.Mereka tiba di ujung pelataran luas yang berbatasan langsung dengan area terdalam istana. Di hadapan mereka, menjulang megah Gerbang Emas setinggi sepul

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   8. Kaisar datang

    Tubuh pelayan itu membentur lantai batu dengan suara tumpul yang menghentak kesadaran semua orang.​Dalam hitungan detik, jamuan yang elegan itu berubah menjadi arena kepanikan. Beberapa bangsawan secara refleks melangkah mundur hingga kursi mereka terguling. Jeritan tertahan terdengar dari deretan

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   7. Teh kurma dan goji

    Keheningan yang mengikuti perintah itu jauh lebih memekakkan telinga daripada dentang lonceng istana mana pun.​Aula yang tadinya dipenuhi tawa tertahan dan denting gelas kini membeku sepenuhnya. Di meja utama, pelayan yang membawa nampan perak itu mulai gemetar hebat. Nampannya berderik pelan, meng

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   6. Riak di bawah jamuan

    Suasana di sekitar meja utama terasa semakin berat, meskipun senyum palsu masih menghiasi wajah para bangsawan.​Xiaochen menatap lurus ke depan, namun seluruh instingnya terfokus pada perempuan di sebelahnya. Sejak awal jamuan, Ruoyao hampir tidak bersuara. Namun, satu kalimat balasan pasif-agresif

  • Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal   5. Jamuan penyambutan

    ​“Beradaptasi?” ulang Xiaochen pelan. Alisnya berkerut tajam. “Tubuh manusia bukan binatang percobaan.”​Tabib Shan menghela napas pendek sebelum menjelaskan dengan sangat hati-hati.​“Racun di dalam tubuh Putri Shen tidak bekerja seperti racun mematikan pada umumnya, Yang Mulia.” Tabib tua itu berh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status