Share

Bab 10

Penulis: Fairy Nirmala
last update Tanggal publikasi: 2026-09-08 01:18:29

Bab 10

Nania dan Adam turun bersamaan ke lantai satu.

Begitu sampai di ruang tengah, langkah Nania sempat terhenti. Vila yang beberapa menit lalu terasa begitu tenang kini dipenuhi suara dari arah kamar-kamar. Tawa pendek, suara pintu dibuka dan ditutup, juga bunyi barang-barang yang diletakkan di lantai terdengar bersahutan.

Teman-teman Ray yang tadi tidak ikut ke kota rupanya sudah kembali.

Jamal, pekerja shift malam, terlihat sedang membantu salah seorang dari mereka membawa tas. Ia menyapa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Wave of Love   Bab 21

    “Pagi, Si Cantik.”Ada yang menyusul Nania ke dalam kamar mandi.Aroma sabun cuci muka yang baru saja dibilas masih belum hilang. Tiba-tiba Ray merapat dari belakang.Nania sedang menyeka wajahnya dengan handuk kecil ketika dua lengan kekar Ray mengunci pinggangnya erat-erat. Tubuh Nania terdesak keras ke tepi keramik wastafel.​Mata Nania membelalak, melihat melalui pantulan cermin di hadapannya. Ray berdiri sepenuhnya polos, menampilkan lekuk tubuh atletis tanpa sehelai benang pun.Sementara itu, Nania terbungkus selembar handuk mandi putih yang melilit dada hingga paha atasnya. Area wastafel benar-benar kering, namun hawa di sekitar mereka mendadak berubah menjadi begitu panas dan rapat.​"Aku masih pengen, Sayang. Aku nggak bisa tidur nyenyak karena belum puas," bisik Ray serak, menempelkan bibirnya yang panas ke garis rahang Nania.​Ray sama sekali tidak butuh persetujuan, apalagi alasan. Tanpa membuang waktu untuk berpindah ke kamar tidur, jemari Ray bergerak cepat meraih ujung

  • Wave of Love   Bab 20

    “Ah, Nania. Cintaku.”Betapa lihai bibir dan lidah Ray membuai kulit Nania. Di telinga dan leher, bergantian. Ia melakukan itu sambil mengucapkan pujian semanis madu. Umpatan penuh kenikmatan pun terlontar dari mulutnya selagi miliknya menggesek tubuh Nania di bawah sana.“Dari luar aja sudah enak gini, Sayang.”Hati Nania menolak untuk menerima sentuhan dan bualan Ray. Sialnya, reaksi raganya bertolak belakang.Tidak dapat dicegah, tubuh Nania melengkung menyambut kenyamanan yang ditawarkan. Bukannya menjauh, ia malah hanyut bersama luapan gairah suaminya. Air matanya pun berhenti. Kedua tangannya menggapai pinggul Ray yang masih terus bergerak di atasnya.Bra Nania dilepaskan, dan Ray terkesiap melihat payudara istrinya sudah mengencang.Ray menenggelamkan wajahnya di dada Nania. Tepat di antara celahnya.Lalu, tangan Ray mulai meremas dengan gemas. “Ahhh.” Nania mengerang keras. Keindahan milik Nania yang bulat sempurna tidak disia-siakan. Ray melumatnya, rakus, seperti kelapar

  • Wave of Love   Bab 19

    “Sayang, kamu cantik banget.” Ray tidak peduli terhadap gestur kaku Nania yang tetap berdiri di tempatnya. Itu adalah penolakan secara halus, tapi Ray seakan buta. Pria itu turun dari tempat tidur, mendekati istrinya. Nania dapat melihat hasrat menyala-nyala dalam tatapan mata Ray. Ia buru-buru memakai atasan piyama yang sudah diremasnya dari tadi sampai kusut. Alis Ray mengerut, rahangnya pun mengeras. “Kamu kenapa, sih?” “A-aku ….” “Sudah aku bilang, nggak usah dipakai bajunya. Kenapa masih pakai?” Ray sedang berusaha menahan amarahnya. Cara bicaranya menekan, tapi nadanya tidak meninggi. Lengan kekar pria itu menarik pinggang Nania. Sedetik kemudian, Nania sudah berada dalam pelukannya. Tangan Ray terasa begitu hangat di pinggang Nania, tapi anehnya, tidak lagi terasa nyaman seperti dulu. Memori buruk mendadak berputar ulang di kepalanya seperti rekaman horor yang menolak berhenti. ​Bayangan Ray di samping Dewi yang perutnya membulat. Janin di dalam kandung

  • Wave of Love   Bab 18

    “Kak, menurut aku, sebaiknya Kakak pulang ke vila.” Pukul 10 malam, Rinna mendekati Nania yang duduk di dalam tenda di Sky Beach. Mereka menikmati suasana pantai bersama setelah selesai dari restoran. Nania memang merasa ingin pulang. Tubuh dan pikirannya seperti terpisah. Saat Rinna mengajaknya bicara, ia malah gagal fokus karena memikirkan Ray. Rinna yang membungkuk di luar tenda menggerakkan dagu ke arah sekelompok anak muda di dekat air laut. “Aku di sini, sama mereka. Kebetulan banget ketemu teman-teman zaman kita kecil dulu.” “Mereka mau tidur di tenda juga?” tanya Nania. “Iya. Ada banyak orang. Kakak nggak usah khawatir. Aman kok.” Nania cemas apabila meninggalkan adiknya di Sky Beach. Akan tetapi, Rinna sudah dewasa dan harusnya bisa menjaga diri. “Aku mungkin perlu bicara lagi dengan Ray,” ucap Nania jujur. “Jadi, kamu kutinggal dulu, ya.” “Aku tahu. Pergilah. Saling kabari kalau ada apa-apa. Oke?” Kadang Rinna bisa bersikap sangat dewasa. Nania akui itu. Mesk

  • Wave of Love   Bab 17

    Jika tidak ada Rinna, tidak akan terpikir oleh Nania untuk mendatangi Diamond Restaurant.Nania bersyukur atas keberadaan adiknya. Saat ini, ia betul-betul membutuhkan penyertaan dan dukungan dari seseorang yang ia percaya. Seseorang yang bisa berada di sisinya ketika ia gelisah.Suasana Diamond Restaurant dari luar tampak ramai. Jumlah kendaraan yang terparkir di depan restoran membuat Nania bisa memperkirakan bahwa hampir semua meja pasti terisi.Ia turun dari mobil, lalu Rinna menyusul dari sisi lainnya.Tanpa banyak bicara, Rinna meraih tangan Nania dan menautkan jemari mereka.Nania mengembuskan napas panjang. Napas yang sejak tadi seperti tertahan di dada akhirnya keluar juga."Kamu cantik, Kak."Nania menoleh dan tersenyum mendengar bisikan itu."Makasih.""Tenang. Aku yakin Kakak bisa mengendalikan diri waktu ngomong sama Kak Ray."Dalam hati, Nania mengaminkan perkataan adiknya.Ia memang datang bukan untuk membuat keributan. Bukan pula untuk langsung menuduh Ray. Ia hanya in

  • Wave of Love   Bab 16

    "Percuma kalau tanya langsung ke Ray, soal Dewi.""Karena Kakak merasa dia nggak mungkin mengaku?" tebak Rinna."Ya. Tepat, begitu maksudku," jawab Nania. "Jadi, aku akan menunggu."Rinna mengembuskan napas pendek, seperti ikut lelah dengan urusan rumah tangga kakaknya. "Tunggu apa?""Sampai punya bukti."Nania menunduk, memainkan ujung kain bajunya. Ada begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya sejak kejadian di klinik. Kalau Ray memang tidak melakukan apa-apa, tentu dia bisa menjelaskan.Tetapi kalau ada sesuatu yang disembunyikannya, Nania ingin melihat sendiri bagaimana suaminya akan menyusun cerita."Kakak perlu bertanya apakah dia ada ke klinik sore itu," kata Rinna kemudian.Nania mengangkat wajah."Hanya untuk mendengar apa jawabannya. Nggak usah dilawan. Nggak usah langsung bilang Kakak melihat dia di sana.""Tapi, kalau aku nggak tahu dia sudah pulang atau belum, kita kembali ke vila buat apa?"Rinna terdiam sebentar.Memang benar. Sejak Ray ke kota, mereka tidak b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status