Chapter: Bab 51‘Aku akan pulang nanti malam. Kepala desa meninggal kemarin. Orang-orang mencariku. Mereka memintaku untuk jadi kepala desa yang baru. Nania, aku mohon pengertianmu. Sebaiknya jangan ada orang luar yang tahu masalah kita. Reputasi vila dan dirimu sendiri juga harus dijaga.'Pesan dari Ray itu bagaikan duri tajam yang menusuk ke dalam kulit. Merusak suasana hati yang susah payah dibangun Nania selama berhari-hari.Layar ponselnya masih menyala, menampilkan kalimat-kalimat manipulatif yang seolah menempatkan Ray di posisi paling bijaksana. Padahal, di balik kata-kata "reputasi vila dan dirimu sendiri," terselip ancaman terselubung. 'Jangan berani macam-macam.' Begitu kan maksudnya? Nania melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di luar, angin sore berhembus pelan menyapu halaman vila yang luas, membawa aroma pinus yang biasanya menenangkan. Namun hari ini, udara terasa pengap bagi Nania.Bagaimana mungkin pria itu begitu mudah m
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: Bab 50“Adam, ini ….” Nania betul-betul kehilangan kata-kata. Dan kegembiraan mengusai dirinya. Ia mengeluarkan satu per satu benda di dalam kotak dengan ekspresi semringah. Pertama-tama, ia mengamati tiga lembar foto lukisan Adam. Nania di tengah bingkai alami ranting cemara laut, memakai kalung dengan rantai panjang. Nania memeluk Laila si kuda poni, memakai cincin di jari manis. Dan figur wajah Nania dari samping, lengkap dengan anting berbentuk oval. Hasil cetakan fotonya berkualitas tinggi dan tajam, sehingga tampak jelas betapa detilnya lukisan Adam. Entah bagaimana, Nania di dalam lukisan terlihat lebih sensual dan misterius, tapi tetap elegan. “Hasil pekerjaan tanganmu, seperti keajaiban, Adam.” Nania memuji dengan suara lembut penuh kebahagiaan. Ia tersenyum, larut dalam perasaan kagum, memandangi lembaran berharga yang dipegangnya. Sementara itu, Adam tidak berkata apa-apa, hingga membuat Nania bingung. “Hei, kamu masih di sana?” tanya Nania. “Iya,” jawab Adam cepat.
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 49Nania benci kenyataan bahwa ia masih terus memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Ray. Pria bangsat itu.Beberapa orang menanyakan hal yang sama. Sekar, Rinna, dan Bu Intan. Ia tidak bisa memberikan jawaban tegas. Karena dirinya betul-betul masih bingung.Ia tidak bisa meramalkan apa yang terjadi nanti. Ia juga tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan untuk kelangsungan pernikahannya.Berpisah atau melanjutkan, dua-duanya membuat ia takut.Ketakutan untuk melanjutkan pernikahan begitu mencengkeram batinnya. Karena ia tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian bersama seseorang yang egois. Ia pasti harus terus-menerus makan hati, menghadapi kebohongan yang berulang. Ia tidak mau membiarkan jiwanya terkikis perlahan di dalam rumah tangga yang hampa tanpa rasa hormat dan cinta yang tulus. Menjalani hari-hari sebagai seorang istri di samping pria yang telah merusak kepercayaan adalah sebuah bentuk penyiksaan psikologis yang akan membunuhnya dari dalam.Namun, di sis
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bab 48"Lihat apa, sih?" Nania memicingkan mata, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.Di layar ponsel Sekar yang disodorkan begitu dekat, terpampang sebuah foto potret Adam. Kualitas gambarnya tampak natural, diambil tanpa persiapan."Aku foto diam-diam waktu dia lagi sibuk melukis di halaman belakang," Sekar memberitahu sambil terkikik geli, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.Di dalam foto itu, Adam tampak begitu fokus. Ia duduk di kursi taman vila dengan kanvas di hadapannya. Objek yang ia lukis adalah ... wajah Nania.Ada desir aneh yang mendadak mengalir di dada Nania melihat betapa unik dan indahnya karya seni itu. Latar belakang pemandangan pantai tertangkap dengan sempurna, sementara setiap goresan kuas tampak menakjubkan. Kelembutan sinar matahari pagi menyapu helaian rambut Nania, menciptakan pendar keemasan yang begitu hidup.Sosok Nania berdiri di antara ranting-ranting cemara laut. Di lehernya ada kalung batu permata yang berkilau. Koleksi perhiasan Bu Intan. Tern
Last Updated: 2026-11-03
Chapter: Bab 47Empat belas jam telah berlalu begitu saja. Kini, waktu memaksa perpisahan itu datang. Dari teras Vila Nirmala, Nania berdiri mematung. Deru mesin mobil Adam perlahan bergerak menjauh, meninggalkan pekarangan dan akhirnya hilang di balik pagar. Tangan Nania meremas kuat-kuat kain denim jaket milik Adam. Jaket yang belum sempat dikembalikan sejak hari pertama takdir mempertemukan mereka. Hari ini pun, Adam juga enggan menerimanya. "Anggap saja itu sudah jadi milikmu," bisik pria itu tadi sebelum masuk ke dalam mobil, diiringi senyum manis yang khas. Entah sihir apa yang dibawa pria itu. Hanya dengan keberadaannya, Adam mampu membuat Nania merasa jauh lebih sehat dan kuat. Sepanjang malam kemarin, mereka melewatinya dengan saling bertukar cerita. Adam lebih banyak mengambil peran untuk berbicara. Melontarkan kisah-kisah ringan dan menyenangkan. Percakapan yang sengaja dirajut demi menghibur hati Nania yang sedang rapuh. Kini Adam benar-benar telah pulang. Bayang-bayang kesepian
Last Updated: 2026-11-02
Chapter: Bab 46Nania terbangun dengan napas memburu. Lagi-lagi ia bermimpi jatuh ke dalam lubang. Seperti mimpinya yang kemarin. Kepalanya pening setelah tersentak hebat. Ia benci perasaan disergap rasa takut yang tidak berdasar seperti ini.Nania memandang sekeliling. Ia masih berada di kamarnya. Sendirian. Pintu kamar sudah tertutup rapat. Langit di luar jendela sudah gelap, menyatukan warna malam dengan gulita di hatinya.Tidak ada Adam.Di nakas, tersedia buah-buahan dan makan malam yang terlihat lezat. Lengkap dengan air putih, dan ... satu strip paracetamol. Siapa pun yang menyiapkan semua itu, betul-betul tahu apa yang Nania butuhkan."Adam?” Bibir Nania secara refleks menggumamkan satu nama. Entahlah. Mungkin saja Sekar. Atau mungkin mereka berdua yang bekerja sama merawatnya.Nania turun dari ranjang dengan gerakan hati-hati. Tubuhnya masih sedikit lemah, namun ia menghargai apa yang telah disiapkan untuknya. Ia makan dengan perlahan-lahan. Menelan setiap suapan tanpa benar-benar menik
Last Updated: 2026-11-01