MasukHer dad's business needed saving and Gabriella had to do everything to save her family from bankruptcy. Being sent to Seth's company to negotiate with him not knowing that it was a blind date for her and their family's business saviour. Gabriella has to accept going out with Seth Williams. But he gives her an option, he will only help them if she goes out with him but after the date if she doesn't like it, they would end it there but he would still help their company. Will Gabriella not like her date with Seth or Will Seth let her go even if she doesn't like it? Let's find out together as they embark on this journey.
Lihat lebih banyakPagi buta di kediaman Suroso, jeritan keras mengejutkan seluruh penghuni rumah. Jeritan panjang, histeris menggema tanpa putus dari balik pintu kamar utama di rumah berlantai dua itu. Asalnya dari Dahlia, perempuan yang baru saja menjadi istri muda Suroso.
Bik Yanti, pembantu rumah, tergopoh-gopoh keluar dari dapur menuju sumber suara. Karno, sopir pribadi Suroso, mengikutinya dari belakang sambil berlari kecil. Dari lantai dua, Hendi, putra semata wayang Suroso, menuruni tangga dengan langkah cepat.
“Bu? Pak? Ada apa?” Bik Yanti menggedor-gedor pintu dengan panik.
“Ada apa, Bik?” tanya Karno.
“Mbuh, No, aku, ya, ora paham, enggak tahu. Lah, ini pintunya dikunci dari dalam, aku enggak bisa buka. Piye, yo, No?”
Sekali lagi mereka menggedor-gedor pintu sambil memanggil-manggil Dahlia dan Suroso. Namun, yang dipanggil seakan-akan tidak mendengar dan terus menjerit histeris.
“Karno, ayo, kita dobrak saja pintu kamar Papah. Cepat!” Hendi berseru cemas. Hatinya gelisah, entah apa yang sedang terjadi di dalam kamar bapaknya itu. Suara jeritan Dahlia terdengar menakutkan sekaligus menyayat batinnya.
“Apa-apaan ini, heh? Subuh-subuh, kok, sudah jerit-jerit bikin ribut?” Nurlaila, istri pertama Suroso datang menghampiri. Dengan isyarat tangan, dia memerintahkan agar mereka semua mundur sehingga dia sendiri yang melangkah mendekati pintu dan menggedornya sambil berteriak marah, “Dahlia, apa sudah gila kamu? Berhenti teriak-teriak, buka pintunya! Heh, perempuan sundal! Cepat buka pintunya! Pah? Papah, sampeyan juga di dalam, kan? Ayo, buka pintunya!”
Jeritan Dahlia seketika berhenti. Orang-orang bergeming di depan pintu, menanti. Namun, hening, tidak ada tanda-tanda pergerakan apa pun. Sampai beberapa menit kemudian, Nurlaila dengan tak sabaran meraih gagang pintu, berusaha membukanya, tetapi tidak bisa. Pintunya masih terkunci, menyembunyikan segala apa yang sedang terjadi di dalamnya.
“Cukup!” Nyonya Nurlaila mendengkus kesal. “Karno, Hendi, jebol pintunya, pecahkan kaca jendelanya! Ini mesti ada apa-apa di dalam. Sudah kuduga, sundal itu pasti akan bawa masalah.”
Kesabarannya habis sudah. Sejak awal suaminya memperkenalkan Dahlia sebagai bakal madunya, Nurlaila punya firasat tidak enak; bukan sekadar firasat biasa layaknya seorang istri yang dikhianati oleh orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Bukan itu! Sudah bukah hal yang baru jika suaminya, Suroso, tuan tanah paling kaya di kampung mereka, punya perempuan simpanan yang jumlahnya satu, atau dua, atau bahkan lebih. Nurlaila tahu semua kebejadan suaminya, tetapi tidak terlalu peduli.
Bagi Nurlaila, perempuan-perempuan itu hanyalah gundik bayaran sang suami, pemuas nafsu, penghangat ranjang belaka. Dia justru bersyukur karena tidak lagi harus repot-repot meladeni suaminya di atas ranjang dan bisa tidur nyenyak sepanjang malam di kamarnya sendiri.
Sudah belasan tahun ini mereka pisah ranjang. Nurlaila memindahkan semua barang-barang pribadinya ke kamar tamu, dan mengubahnya menjadi kamarnya sendiri. Kamar itu memang tidak sebesar kamar utama yang pernah dia tempati bersama suaminya, tetapi udaranya lebih segar, jendelanya bisa dia biarkan terbuka kapan saja. Kamar utama di rumah itu boleh saja menjadi ruangan paling besar dan mewah, dipenuhi koleksi-koleksi barang antik mahal milik suaminya, tetapi dia tidak pernah tahan dengan aromanya. Hidungnya senantiasa menangkap bau busuk yang menguar dari setiap pori dinding-dindingnya, menempel lengket di kulit suaminya. Dia tidak sanggup lagi kalaulah harus memeluk apalagi bergumul menuruti syahwat suaminya yang besar itu. Nurlaila bisa-bisa pingsan demi mencium kebusukan suaminya sendiri.
Dahlia, dan gundik-gundik yang lain, tidak mencium bau busuk apa pun dari Suroso selain aroma parfum bermerk yang dijual terbatas, dan dipromosikan mampu memikat lawan jenis. Namun, berbeda dengan perempuan lain yang rela dan sudah merasa cukup hanya dengan menjadi simpanan, Dahlia menuntut untuk dinikahi Suroso.
“Pah, aku enggak terima kalau perempuan gatel itu kamu nikahi lalu masuk ke rumah kita. Sampeyan silakan main dengan perempuan lain di luar sana, tapi tulung jangan dibawa pulang, apalagi sampai dinikahi. Eling, Pah, inget! Perempuan itu lebih pantas jadi menantumu ketimbang istrimu! Mau ditaruh di mana mukaku nanti di hadapan keluarga besar kita? Aku malu, Pah, maluuu!” seru Nurlaila, air mata turun membasahi wajahnya.
“Halah, diam kamu!” Suroso membentak istrinya itu. “Kamu itu sudah tua, sudah mandul, cuma bisa kasih aku satu anak saja, kok, ya, cerewetnya bukan main? Aku kepingin punya anak lagi dan Dahlia telah mewujudkan keinginanku.”
“Apa? Apa itu berarti Dahlia sudah kamu hamili? Ya, Gusti!” Tangisan Nurlaila semakin kencang. Tubuhnya luruh, dia menjatuhkan diri ke lantai, memukuli dadanya sendiri berkali-kali. “Ampuni aku, Gusti! Kenapa sial sekali nasibku memiliki suami seperti ini?”
Suroso yang sudah gelap mata hatinya tidak ambil pusing dengan penderitaan istrinya itu. Angan-angannya sudah disesaki oleh bayangan kecantikan Dahlia beserta tubuh moleknya yang membangkitkan gairah. Sekali, dia sudah pernah mencicipi tubuh Dahlia, mereguk wangi dari setiap lekuk dan lipatan tubuhnya, menikmati lenguhan manis yang keluar dari bibir mungilnya setiap kali tangannya menyentuh kulit mulusnya. Sekali tidak pernah cukup, meski dari yang hanya sekali itu telah berhasil membuat Dahlia berbadan dua.
Kurang dari satu bulan setelahnya, pernikahan kedua Suroso dengan Dahlia, gadis kembang desa yang usianya separuh dari usia Suroso, digelar besar-besaran. Warga satu kampung diundang ke acara resepsi yang dilangsungkan selama tiga hari tiga malam.
Dan, pagi itu ketika pintu kamar Suroso akhirnya berhasil dibuka paksa, sebuah pemandangan mengerikan terhampar. Pemandangan yang membuat Nurlaila menjerit ketakutan sebelum akhirnya roboh tak sadarkan diri. Hendi membeku, wajahnya sepucat kertas. Karno tidak henti-hentinya mengucap istighfar. Bik Yanti lari ke depan rumah sambil berteriak minta tolong.
Di kamar itu. Dahlia berdiri di sisi ranjang. Dia diam, tidak lagi menjerit-jerit. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Rambut panjangnya tergerai acak-acakan. Sosoknya seperti hantu dalam gaun tidur tipis berwarna putih. Dari tangannya yang terkulai lemas, menetes darah segar.
Darah itu bukanlah darahnya, melainkan darah dari Suroso yang jasadnya terbaring di atas ranjang dengan perut terkoyak, menganga terbuka, mempertontonkan ususnya yang terburai keluar.
“Bukan aku, bukan aku yang melakukannya.” Dengan pandangan kosong, Dahlia terus mengulang-ulang perkataannya.
She almost slapped herself for forgetting such a serious issue. That grace period of one week from Seth Williams had given her so much freedom that she even forgot about it. When she checked the date, she was glad she wasn't out of time because that was the last day that Seth Williams wax expecting a response from her and also when their company's destiny would be decided."Miss Jones, you are a tricky one," that was the first word that came from Seth Williams' mouth when Gabriella Jones finally called him on the last day he had given her to think about her decision regarding her father's company. "Mr Williams, I'm in time just like you had indicated during our meeting," Gabriella was not going to go along with Seth's direction. Like her brother Sam said, she was not an easy target."I see," Seth Williams chuckled hearing Gabriella's reply. His voice was so deep on the phone that it made Gabriella's stomach full of tingly sensations. She tried as much as possible not to speak so that
Now, his children wanted to protect him even at the cost of their own happiness. He wondered what he had done in his past life to deserve such children. The reaction he had expected from them had been the total opposite and felt relieved somehow. They had grown so much even without the presence of their mother in their life and had become independent.When his children left to go back to their places, Mr Jones felt like a huge load had been lifted off his shoulders, but at least his children didn't hate him for what he did, rather they were understanding and willing to help in his company situation. Their effort as a family was going to save them. He really was thankful to his kids for being so understanding even though he didn't say it, they knew their dad was really appreciative.Inside the car, Sam Jones decided to talk to his sister again just to make sure that she was doing the right thing and not just being pressured into doing it. The moment his sister wanted to ride in his car
Gabriella on the other hand now understood why Seth Williams had given her so much attention. Even without her saying anything, it seemed like he had known her for a very long time and understood her well, he knew her likes and the things that made her comfortable. He had really done his homework well."It's okay anyway." Gabriella's sentence made her father and brother turn to her. That was the most unexpected response Mr Jones was expecting from his daughter. Since she had been pampered by him and her brother, nobody ever tells her to do anything she doesn't want."What did you say?" Both father and son asked synchronically."I know, but if this is what it will take to get dad back on his feet, then I'll do it. Seth Williams is such a huge thigh that we should definitely cling on in order to deal with whoever is causing the company's troubles," she was not that much against going out with Seth Williams, he was a handsome young man who every lady in the city wished they could have, y
Even when their company was on the verge of bankruptcy, he never called them even once to ask them for help. Sam had helped out of his own volition because he knew how bad the company's state was. This matter must have been very pressing for him to call them."Let's talk together when she's here," Mr Jones had resigned himself to his fate."No need dad, I'm already here," at that moment Gabriella's voice was heard as she strode towards the sitting room and placed the document on the table not so gently making the both of them surprised because they had never seen Gabriella so mad."You mind explaining what is happening dad? You made me look like a fool, going to that meeting without all the details. And why is your company's decision left on my shoulders? You know I want nothing to do with the company, but why am I being put in between and from the looks of it, if everything doesn't come back to normal, I'll be the one to be blamed?""Gaby, I hope you won't blame your father for the s






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.