LOGINFate. What is fate? According to my research, it is to be destined to happen, turn out, or act in a particular way. Iyon na ang dapat na mangyari e—nangyari na e. May magagawa pa ba? It is what it is kaya tatanggapin na lang? Para bang kahit anong mangyari sa buhay mo, wala ka nang magagawa. Iyon ang nakatadhana, iyon ang dapat na mangyari, iyon ang nakasulat sa libro ng buhay mo kaya wala na. Tanggapin mo na lang. I was born rich. Nakukuha ko ang lahat ng gusto ko—kailangan ko man o hindi. My attitude and personality was already rotten that nobody can tame me except for the man who introduced himself as my fiancee. If my parents were both heartless for me, he isn't. Ako lagi. Ako muna bago ang iba—bago siya. But, the story of my life isn't favor of me. From being proud and arrogant to pathetic life. Good thing that I have him. He is always the shoulder that I always have to lean on. He is like my guardian angel for taking care of me. Siya lang talaga ang may kayang umunawa sa akin. Siya lang talaga ang nag-iisang umiintindi sa akin. That's why I kept on asking him, why — why does he love me so much?
View More“Tolong, Mas. Aku mohon sekali ini saja, bantu Ayah,” lirih seorang wanita sambil mengatupkan kedua tangan dan bersujud di depan pria bertubuh kurus.
Sudah setengah jam perempuan cantik bermata sipit itu mengemis di hadapan sang suami. Namun, pria bertubuh tinggi di hadapannya tidak luluh walau secuil kapas. “Heh, Dewi, aku bukan lembaga sosial yang memberi uang Cuma-Cuma? Bodoh amat ayahmu itu mati dan kesakitan, aku tidak peduli!” sentak pria itu sambil mengempas kaki sehingga tubuh mungil di bawahnya tersungkur ke atas lantai. Netra hitam pekat Dewi bergetar dan kedua tangan terkepal kuat di samping tubuh, setelah mendengar kalimat kejam dari bibir suami. Perlahan dia mendongak, menatap dalam wajah pria itu. “Mas Bima … dokter bilang ayahku harus dioperasi segera, kalau tidak …,” kata Dewi dengan suara nyaris tenggelam. Dua jam lalu Dewi menerima kabar dari tetangga di kampung, bahwa ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena mendadak sesak napas. Saat itu, dia masih bisa berpikir tenang dan merencanakan menjenguk Danang—ayahnya. Hanya saja, sejam berlalu dia mendapat informasi dari pihak rumah sakit, ayahnya mengalami komplikasi akibat penyakit diabetes yang telah lama diderita. Sehingga jantung serta ginjal bermasalah. Meskipun bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta kota besar, dia tidak bisa meminjam uang ke koperasi pegawai lantaran statusnya pegawai baru kurang dari enam bulan, gajinya pun tidak memadai. Dewi yang kebingungan, pada akhirnya mengemis pertolongan pada sang suami yang dia tahu memiliki cukup uang. Setidaknya, nanti dia akan mencicil dari gajinya. Ya, meskipun menjadi istri seorang manajer, tetapi sudah tiga bulan ini Dewi kesulitan ekonomi untuk memenuhi kehidupan keluarganya di kampung. Dahulu, sebelum ayah mertua meninggal selalu menyokong kebutuhan finansial keluarga Dewi. Hal itu karena mendiang ayah mertua memiliki balas budi pada Danang yang telah menyelamatkan Bima dari derasnya arus sungai. Maka dari itu, Dewi dan Bima dijodohkan dengan harapan dapat membina rumah tangga bahagia, tetapi … tak segampang itu. Sebagai pria terhormat dan terpelajar, tentu saja Bima malu memperistri anak seorang tukang kebun. Dewi baru mengetahui sifat asli Bima setelah ayah mertua meninggal dunia. Tingkah sang suami sangat kasar, ringan tangan dan hobi mabuk-mabukan. Bahkan kekerasan verbal telah menjadi makanan gadis itu sehari-hari. “Kamu ‘kan bekerja sebagai perawat, sembuhkan saja sendiri ayahmu yang matre itu,” ejek Bima diikuti ledakan tawa menggema dalam ruangan tamu. “Cukup, Mas! Kamu boleh menghina aku, tapi tolong jangan ucapkan kata-kata kotor untuk ayahku!” sahut Dewi sambil menatap pedih kepada suaminya. Bima merunduk, lantas menjepit rahang mungil Dewi. Pria itu menatap bengis sepasang mata sipit yang membengkak dan kemerahan. Makin lama Dewi merasakan ujung kuku jari tangan Bima menusuk kulit pipinya. Rintih kesakitan yang keluar dari sela bibir tipis tidak digubris sedikit pun oleh pria itu. Dia berusaha melepaskan cengkeraman, tetapi sulit karena tenaganya kalah jauh dari sang suami. “Kenapa? Sakit, ya?” desis Bima yang diangguki Dewi. Kemudian pria itu mengempas kasar rahang mungil. Bima mengelap telapak tangan, menghilangkan kotoran karena keringat Dewi menempel pada kulitnya. Setelah itu, dia merapikan dasi dan kemeja putih sembari membalik badan, lalu berjalan menuju pintu utama. Dari tempatnya terduduk, netra sipit memperhatikan langkah sepasang kaki tertutup pantofel hitam. Dewi masih berharap Bima memberi pertolongan untuk sekali ini saja. Jujur, dia tidak sanggup jika kehilangan ayahnya, karena pria paruh baya itu adalah tumpuan hidupnya. Namun, kenyataan berbanding terbalik, sang suami justru berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Lima menit berlalu, Dewi tidak mendengar deru mesin mobil. Hanya saja, dia tidak mau berandai-andai lagi dan memilih menyeret kaki ke kamarnya yang berada di belakang rumah besar ini. Tiba-tiba saja, hentakkan sepatu memenuhi indera pendengaran Dewi, makin lama tambah dekat. Namun, dia urung menoleh, lalu mempercepat laju kakinya melewati lorong sempit di belakang dapur. “Berhenti, Dewi!” titah Bima, “berputarlah!” Perlahan Dewi memutar tubuhnya dan menatap wajah sangar pria itu. Dia memperhatikan dengan heran pada Bima karena memindai lekuk tubuhnya, mulai dari buah dada, pinggul sampai sepasang kaki terbungkus kaos kaki. “Lumayan,” kata pria itu manggut-manggut, lantas mengitari badan Dewi. Tanpa banyak kata, Bima melenggang meninggalkan Dewi bersama keputusasaan yang membelenggu gadis itu. Selepas suaminya pergi, Dewi menelepon beberapa teman untuk mencari pinjaman. Sayang, tak satu pun dari mereka bersedia memberikan pinjaman walau sedikit. Semua langsung menutup sambungan telepon. Sekarang Dewi dirundung pilu, dia hanya bisa melambungkan doa setinggi langit agar sebuah keajaiban datang untuk menyelamatkan nyawa Ayah tercinta. Pukul tiga siang Dewi masuk kerja shift dua. Selama menangani pasien di bangsal IGD, dia kurang fokus karena rumah sakit tempat ayahnya dirawat menanyakan kesanggupan keluarga pasien membayar biaya operasi. Alhasil Dewi meminta batas waktu entah sampai kapan, karena dirinya hanya berjanji saja. Waktu berjalan cepat, pukul sepuluh malam Dewi mendapat telepon dari Bima bahwa pria itu menunggu di koridor dekat toilet perawat. Seketika iris hitam berbinar dan relung hatinya menghangat, dia pikir panggilan suara ini adalah jawaban atas doanya, Bima bersedia memberikan pinjaman. “Mas?” panggil Dewi melihat Bima sedang berbicara bersama seorang pria berbadan tambun dengan kepala botak. Kompak dua pasang mata itu menoleh dan memperhatikan setiap lekuk tubuh Dewi, membuat gadis berperawakan mungil itu merinding dan dihinggapi sinyal waspada. Bima langsung menarik paksa lengan Dewi dan membawanya pada sudut lain. Pria itu berbisik, “Kamu butuh uang cepat, bukan? Aku punya solusinya.” Alih-alih mengiakan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya, justru Dewi diam saja. Relung hati gadis itu merasakan hal ganjil di sini. Dia takut dijual ke rumah hiburan. “Tugasmu gampang, cukup hamil dan melahirkan anak untuk pria itu,” sambung Bima sembari menunjuk pada pria tambun di dekat mereka. “Apa?! Aku tidak mau, Mas. Kamu gila!” pekik Dewi tertahan. “Itu cara termudah, lagi pula aku sudah menandatangani kontrak, dalam jangka waktu setahun kamu harus melahirkan bayi. Kalau mundur, kamu wajib mengganti tiga kali lipat, paham!” sentak Bima. Dewi menggeleng tegas, sungguh dia tidak mau mengikuti saran Bima. Lebih baik dirinya bekerja tanpa henti daripada menjual diri seperti ini. “Kamu takut tidur dengannya?” tanya Bima diangguki Dewi. Pria itu menyeringai lalu berkata dengan tegas, “Kamu hanya perlu melakukan proses bayi tabung, mudah ‘kan? Pria itu menjanjikan satu miliar untukmu. Ya, itu pun kalau mau menyelamatkan ayahmu yang penyakitan.” Seketika kelopak mata Dewi melebar dan menatap Bima tidak percaya. Untuk sejenak dia merenung sedangkan Bima terus membisikkan kalimat hasutan agar Dewi menerima perjanjian gila ini. Sebagai tenaga medis, setidaknya dia tahu mengenai program bayi tabung, bahkan rumah sakit tempatnya bekerja pun memiliki fasilitas itu. “Terima saja Dewi, di mana lagi cari uang satu miliar dalam waktu singkat?” kata Bima, “sekarang juga kamu periksa kesehatan di rumah sakit ini. Kebetulan pria itu sudah bikin janji dengan dokter kandungan.” Dewi dipaksa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Setelah berpikir cukup masak, dia merasa tidak masalah tubuhnya menjadi tempat penitipan bayi pasangan lain selama sembilan bulan. “Baiklah,” lirih Dewi dengan berat hati. “Bagus, jangan membantah!” Bima menepuk-nepuk kasar pipi lembab perempuan itu. Kemudian Bima menyerahkan Dewi kepada pria tambun itu. Mereka berjalan menuju ruang spesialis kandungan di rumah sakit ini. “Uangnya kapan dikirim, Pak?” tanya Bima kepada pria plontos di depannya. “Karena dia masih perawan, saya minta tambahan jadi lima miliar," pintanya lagi tanpa tahu malu. “Jangankan lima miliar, sepuluh miliar aku bayar setelah memastikan perempuan ini beneran perawan dan subur, tidak memiliki gangguan apa pun di rahimnya,” kata pria itu tanpa menoleh ke belakang. Sesungguhnya Dewi ingin menjerit mendengar percakapan ini. Keperawanan yang dia jaga diperjualbelikan, bahkan setelah menikah saja Bima tidak menyentuhnya karena merasa jijik. Sebelum masuk ke poli obgyn, tubuh Dewi gemetaran karena dia takut keputusannya memengaruhi status sebagai pegawai di sini. Pria tambun di depan Dewi mengetuk pintu, hingga sahutan suara maskulin terdengar dari dalam sana. Gadis itu menunduk dalam di balik punggung lebar dan besar. Sedangkan Bima menunggu di luar ruangan. “Saya sudah mendapat perempuan yang sesuai dengan kriteria, silakan Dokter periksa,” ucap pria tambun itu membuat Dewi menghentikan napasnya seketika.Trigger Warning: Mention of Rape, Self-harm, Suicide, and Trauma.Wakas."I said, he's not yours! I was raped."Para akong nabingi nang marinig iyon sa kaniya. Hindi maproseso ng utak ko, hindi ko matanggap. Hindi ko kayang tanggapin ang sinabi niya.Umiiyak siya habang nakatingin sa aking mga mata. Kilala ko siya, kabisado ko siya kaya kitang-kita ko sa mga mata niya ang sakit at hirap na sabihin sa akin ang nangyari sa kaniya. Nanghihina ako. Putangina! Gusto kong isisi sa lahat ang nangyari sa kaniya. How could they do this to her?Kaya ba takot na takot siya noong hinawakan ko siya noon? Kaya ba tumitili at mabilis siyang magulat sa tuwing may lalapit sa kaniya? Kaya ba siya umalis? Kaya niya ba ako iniwan? Ano? Tangina! Ito ba ang sagot na hinihintay ko? Ang tagal kong gustong marinig sa kaniya ang paliwanag niya kung bakit takot na takot siya sa akin noon pero ang marinig ito sa kaniya... Hindi ko yata kaya. I witnessed her being brave, being strong. She'll do whatever she wan
Finally.After almost 2 weeks of staying in Pontevedra, bumalik kami sa Manila. Nauna na nga roon sina Gabriella at Cartier dahil sila raw muna ang mag-aasikaso sa kompanya habang inaayos namin ang kaso rito.Nasasaktan ako para kay Charlynn. I know that she loves him a lot and sending him to jail will hurt her even more. I don't want to sound selfish but I really think that he deserves it. Hindi ko alam kung paano ang relasyon nila pero alam kong grabe rin ang sugat na iniwan sa kaniya ni Louis.Tuloy-tuloy ang pag-iimprove ng mental health ko, salamat sa psychiatrist na tumulong sa akin doon. Carlo and Rouge were always outside whenever I'm in my therapy. They helped me a lot, too. But, I should thank myself more raw dahil tinulungan ko ang sarili ko para mapabilis ang pag-improve ng mental health ko."Where do you want to eat?" Tanong ni Carlo nang makalabas kami ng clinic.I rolled my eyes. "Nakakalimutan mo na ba?" Sagot ko."Hindi, Rei. Next week pa naman iyon. Let's eat for now
De Dios.We stayed in Pontevedra after Gabriella and Cartier's wedding. Binisita ko ang rin ang bahay ko. Yes, I really claimed that this is my house kahit na pera ni Carlo ang pinanggastos niya para bilhin iyon. Inayos ko lang ang ilang gamit ko roon at kumuha ng iilang damit na hindi ko man lang nagamit."Reisha."Palabas na ako nang marinig ko ang pamilyar na boses na iyon. Abot-abot ang tahip ng dibdib ko nang harapin ko siya. Seryoso siyang nakatingin sa akin."I'm so sorry," bulong niya."Please, don't appear in front me again," matapang kong sagot kahit na kabadong-kabado ako."Y-Your son..." Nanlaki ang mga mata ko sa sinabi niya. "Sa akin ba siya?""Ang kapal ng mukha mo," mariin kong sabi. "Ang kapal-kapal ng mukha mo matapos mong sirain ang buhay ko!""I'm sorry, Rei. I really do. H-hindi ko sinasadya. I was blinde—""There is no fucking excuse to do that! You treat me like your toy! You're in a relationship with my friend and yet you fucking violated me!" Malakas na sigaw
Wedding.Hindi naman marami ang nainom ko pero siguro dahil matagal na akong hindi nakakainom kaya mababa na ang alcohol tolerance ko. Ilang shots lang 'yon ng Hennessy X.O pero halos umikot na ang paningin ko."You know that we have party to attend tomorrow and yet you're partying," sermon niya sa akin."Saka mo na ako pagalitan. Masakit ulo ko," I answered while smiling."You're having fun just a minute ago tapos no'ng nakita mo ako, masakit na ulo mo?" Marahas niyang tanong.Inayos niya ang seatbelt ko bago ko naramdaman ang pag-andar ng sasakyan. Nakatulog ako sa byahe. Nagising lang ako nang maramdaman ang pag-angat ko mula sa inuupuan ko. "I can manage," sabi ko."Huwag kang malikot," madiin niyang saway sa akin.Wala na akong nagawa kundi hayaan siya. Nakatingin lang ako sa seryoso niyang mukha. Halata pang pikon na pikon sa akin dahil umiigting ang panga."Trina, ayos na. Paki-iwan na lang si Rouge," ani Carlo."May kailangan po ba si Ma'am, Sir?" Tanong niya."Paki-handaan n














![ACADEMIC AFFAIRS [SPG]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.