Home / Rumah Tangga / William,Aku Ingin Bercerai / Bab.10 Pernikahan dan kematian sang ibu

Share

Bab.10 Pernikahan dan kematian sang ibu

last update Last Updated: 2026-02-21 12:03:59

Satu minggu berlalu.

Wiliam dan Emely bertemu pertama kali di kantor catatan sipil. Emely menunduk tersenyum di hadapan Wiliam. Laki-laki yang akan segera menjadi suaminya beberapa jam ke depan.

Wanita itu terpesona dengan ketampanan Wiliam. Sesekali Emely melirik wajah pria yang sebentar lagi menjadi suaminya.

"Tampan."Batinnya.

Emely mulai merasakan benih-benih cinta tumbuh di dalam hatinya. Bahkan tanpa sadar dia tersenyum kecil.

"Ada apa?"

Wiliam menoleh dan membuka suara terleb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.18 Hadiah tidak sampai

    Tiga puluh menit berlalu. Wiliam sudah tiba di perusahaan. Pria itu terlihat begitu kesal. Raut wajahnya terlihat begitu dingin. Para karyawan tidak ada yang berani menyapa. Wiliam melangkah masuk ke dalam. Wajahnya tampak begitu tenang tapi hatinya terlihat gelisah. Kini dia tiba di depan ruangannya. Dia menoleh ke arah meja Emely. "Kemana dia?" Batin Wiliam yang melihat meja Emely kosong. Entah kemana Emely pergi. Hal itu semakin membuat Wiliam gelisah. Dia berjalan mendekati meja kerja Emely. Tatapan Wiliam tampak begitu sendu. Dia berjalan mengitari meja. Tangannya mengepal begitu mengingat tuan James. Ada perasaan cemburu yang di rasakan oleh Wiliam tapi dia sama sekali tidak menyadari hal itu. Dia hanya merasakan amarah ketika melihat tuan James begitu perhatian kepada Emely. Wanita yang dulunya ia sia-siakan tapi kini dia tidak ingin melakukan hal itu. "Tuan." Wiliam menoleh. "Di mana Emely?" "Sepertinya tuan James tidak menyerah tuan." Jon tampak r

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.17 Sebuah Detakan Jantung

    "Ada apa ini?" Lirih Wiliam kembali. Dia memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.. Wiliam menatap ke arah Emely kembali. Detakan itu semakin terasa. "Apa aku merasakan hal ini karena mu? Selama lima tahun pernikahan kita. Aku tidak pernah merasakan ini. Apa mungkin sekarang aku merasakannya." Batin Wiliam menatap ke arah Emely. Tatapannya kali ini sedikit berbeda. Wiliam terlihat sendu. Rasa bersalah semakin terasa. Dia melihat bagimana istrinya selama ini. "Maafkan aku. Selama ini aku begitu egois kepada mu. Aku tidak tahu penderitaan mu. Tapi sekarang aku tidak ingin membuat mu merasakan hal itu lagi."Gumam Wiliam dengan tatapan yang tidak pernah beralih dari Emely. Wiliam beranjak dari kursinya. Dia berjalan keluar dari ruangannya. "Tuan." Wiliam menoleh. "Ada apa?" Wiliam menatap ke arah Jon yang sedang berdiri tidak jauh darinya. "Ada pertemuan dengan tuan James. Entah sejak kapan tuan James ada di sini. Tapi

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.16 Sebuah Hadiah

    Malam hari. Pukul 7 malam. Emely duduk di sebuah cafe. Dia menatap langit yang sudah gelap. Dia sudah mendarat beberapa jam yang lalu tapi dia memilih untuk tidak kembali segera. Wanita itu duduk dengan pandangan lurus ke depan. Dia merindukan orang tuanya saat ini. Rasa rindu itu cukup menyiksa dirinya. Tidak berselang lama kemudian. Dia meninggalkan cafe. Dia kembali ke mansion yang baru menghitung hari dia tinggal. Sepanjang perjalanan, dia hanya menutup matanya. hingga ia berhenti di depan mansion. Emely turun dari mobil. Dia berdiri di sana selama beberapa menit lamanya. Netranya melihat sekeliling. Rasa rindu kini ia rasakan kembali. Selama ini dia selalu kembali di sambut hangat oleh ibunya tapi sekarang dia tidak melihat ibunya lagi. Kini dia kembali di tempat yang begitu asing. "Kenapa baru tiba? Aku dengar jika kamu mendarat beberapa jam sebelumnya." Emely menoleh. Dia menatap ke arah suaminya yang sedang berdiri di hadapannya. Pria itu menatap dirinya d

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.15 Kerja sama berhasil di dapatkan

    Ke esokan paginya. Emely membuka matanya. Dia menatap langit-langit kamarnya. Tatapannya kemudian beralih kepada cahaya yang menyusup masuk melalui celah tirai yang terbuka. Drt.... Bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya. "Apa kamu sudah bangun?"Tanya seseorang di sebrang telepon. Emely terdiam sejenak. "Sudah." "Baguslah. Jam 9 nanti tuan James sudah menunggu di restoran. Alamatnya akan ku kirim sebentar lagi. Kamu harus berhasil." "Aku mengerti." Emely meletakkan ponselnya. Wanita itu tersenyum tipis. "Apa dia sedang perhatian kepadaku?" Lirihnya menatap cincin pernikahannya. "Meskipun pernikahan ini di rahasiakan. Tapi aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta mu. Aku mencintai mu Wiliam. Dari pertama kita bertemu aku sudah tertarik."Batin Emely beranjak dari tempat duduknya. Emely tampak begitu bersemangat. Dia berjalan ke arah kamar mandi. Di sisi lain, Wiliam sedang berada di mansion miliknya. Pria itu sedang duduk di ruang tamu menikmati kopi mil

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.14 Perjalanan bisnis Emely

    Lima belas menit berlalu. Emely kini berada di meja kerjanya. Dia menatap ke arah Wiliam yang sedang fokus pada pekerjaannya. " Apa kamu percaya aku bisa?" Lirihnya menatap wajah suaminya. Emely meraih ponselnya. Dia menghubungi pelayan di mansion untuk menyiapkan barang-barang miliknya. Tepat jam 12 siang. Emely kini sudah berada di bandara. Bertepatan dengan hal itu. Pakaiannya yang sudah di siapkan pelayan juga sudah tiba. "Pakaian anda nyonya." "Terimah kasih." Emely meraih koper miliknya. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam pesawat. Jujur saja dia merasa gugup. Tangannya menggenggam erat koper miliknya. Dia melangkah masuk ke dalam pesawat dengan perasaan khawatir. Dia sedikit khawatir jika dia tidak mampu melakukannya. Emely masuk dan mencari kursinya. Begitu ia menemukannya. Dia meletakkan kopernya dan duduk. "Kamu harus bisa Emely. Wiliam sudah memberikan kesempatan kepada mu. Gunakan kesempatan ini dengan baik." Batinnya memegangi dadanya yang b

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.13 Tidak menemukan apa pun

    Satu jam berlalu Isabella beranjak dari taman. Dia berjalan kembali ke mansion. Suasana hatinya masih belum baik. Isabella terus melangkahkan kakinya hingga ia tiba di depan mansion. Langkshnya terhenti. Dia menoleh kepada pelayan yang berdiri di belakangnya. "Bagaimana?" "Kami tidak menemukan informasi apa pun nyonya." Tatapan Isabella seketika berubah menjadi tajam. "Itu tidak mungkin. Dia pasti memiliki informasi." Ujar Isabella dengan perasaan kesal. Dia tidak percaya jika dia tidak bisa menemukan kelemahan menantunya. Isabella melangkah masuk ke dalam mansion miliknya dengan perasaan kesal. Dia sibuk memikirkan bagaimana dia menyingkirkan menantunya. Isabella melangkahkan kakinya menuju ke kamar putranya. Kamar itu telah kosong. Netranya melihat sekeliling. Tiba-tiba Isabella merasakan rindu dengan sang putra. "Wiliam. Mamah ingin melihat mu bersanding dengan wanita yang kamu cintai. Bukan wanita itu."Ujarnya begitu ia mendudukkan bokongnya pada sofa. He

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status