LOGINTakeshi mengangkat katananya dalam posisi chudan, ujung bilahnya mengarah tepat ke dada Wiro. Postur yang sempurna. Kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang, berat badan terdistribusi merata. Seorang praktisi yang sudah menghabiskan puluhan tahun menyempurnakan seninya.Wiro memandang katana itu, lalu memandang sekeliling ruangan. Di sudut dekat jendela, sarung katana yang tadi dilepas Takeshi tergeletak di lantai. Kayu hitam yang dipernis, dengan lilitan tali sutra di bagian pegangannya.Wiro berjalan ke sudut itu dan mengambil sarung katana itu.Takeshi mengamati setiap gerakannya tanpa berkedip.Wiro membalikkan sarung katana itu di tangannya, merasakan bobotnya, keseimbangannya, lalu menggenggamnya dengan satu tangan di bagian ujung yang dililit tali. Dia mengangkatnya ke depan tubuhnya, meniru posisi Takeshi tapi dengan senjata yang bukan senjata.Sarung katana melawan katana.Kayu melawan baja.Mata Takeshi menyipit. Bukan karena marah. Bukan karena merasa dihina. Tapi karena
Dua orang pria yang sedang merokok di balik sebuah kontainer melihat bayangan yang tidak seharusnya ada di sana. Mereka membuka mulut untuk berteriak, tapi suara mereka tidak pernah keluar.Seorang operator radio yang sedang melaporkan situasi ke pusat komando tiba-tiba berhenti berbicara di tengah kalimat. Radio itu jatuh ke lantai, masih menyala, tapi pemiliknya sudah tidak bisa menjawab pertanyaan dari seberang.Satu per satu, penjaga-penjaga di area luar kompleks menghilang dari pos mereka. Rapi. Sunyi. Seperti hantu yang memetik bunga di taman malam.Begitu area luar bersih, Wiro menuju bangunan utama.Pintu belakang bangunan utama dijaga oleh empat orang bersenjata. Wiro tidak repot-repot mengendap kali ini. Dia berjalan langsung ke arah mereka.Penjaga pertama melihatnya dan mengangkat senapannya. "Siapa..."Wiro sudah ada di hadapannya sebelum kata kedua keluar dari mulutnya. Pisau menembus dadanya. Tubuhnya digunakan sebagai perisai saat penjaga kedua menembak, peluru-peluru
"Siapa yang memerintahkan penyerangan ini?""Ke-Ketua kami... Haryono... dia bilang sudah waktunya menunjukkan kalau Naga Hitam sudah lemah tanpa Mamat Sanjaya..."Wiro melepaskan cengkeramannya. Si pria mohawk jatuh terduduk di lantai, kakinya tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.Wiro berbalik dan berjalan menuju pintu masuk. Beberapa anggota Pasukan Hitam yang tadi dia perintahkan untuk mengepung dari luar kini berdiri di ambang pintu, wajah-wajah mereka membeku dalam ekspresi yang sulit didefinisikan.Mereka sudah mendengar suara tembakan. Mereka sudah bersiap untuk masuk dan membantu pemimpin baru mereka. Tapi ketika mereka membuka pintu, yang mereka temukan adalah lima belas orang pria terlatih yang sudah terkapar di lantai dan pemimpin mereka berjalan keluar tanpa satu goresan pun di tubuhnya.Seluruh pertarungan itu berlangsung kurang dari satu menit.Darmawan, koordinator keamanan yang tadi menelepon Wiro, berdiri di balik counter bar yang retak dengan mulut terbuka. Botol w
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik ketika ponsel Wiro bergetar di meja nakas kamar barunya di markas Naga Hitam. Sebuah kamar sederhana di lantai empat yang diberikan kepadanya sebagai pemimpin Pasukan Hitam yang baru dilantik.Wiro mengangkat telepon itu."Pemimpin Wiro!" Suara di seberang terdengar panik dan terengah-engah. "Ini Darmawan, koordinator keamanan di Black Dragon Lounge!"Black Dragon Lounge. Salah satu klub malam paling menguntungkan milik organisasi Naga Hitam, terletak di kawasan hiburan pusat kota Delta. Tempat itu menghasilkan pendapatan besar setiap malamnya dan menjadi salah satu simbol kekuasaan Naga Hitam di dunia malam kota ini."Ada apa?""Ada sekelompok orang yang mengacau di sini, Pemimpin! Mereka datang sebagai tamu biasa, minum-minum, lalu tiba-tiba mulai membuat keributan! Mereka sudah memukuli tiga orang keamanan kami dan sekarang menghancurkan isi klub! Kami sudah coba menghubungi pasukan lain tapi belum ada yang merespons!""Berapa jumlah mereka?
Setelah eksplorasi doggy-style yang begitu liar dan memuaskan, baik di memek maupun anus, Sonya dan Wiro terengah-engah di dalam kolam renang pribadi Sonya yang hangat. Kontol Wiro yang besar dan panjang, masih lemas di dalam anus Sonya yang berdenyut, perlahan ditarik keluar. Tubuh mereka basah kuyup, penuh keringat, sperma, dan lendir. Sonya merasa puas, namun ia juga tahu, untuk kenikmatan selanjutnya, kebersihan adalah hal utama. Sonya perlahan bangkit dari posisi doggy-style di kolam, menggandeng tangan Wiro. Mata sipitnya yang kini sayu menatap Wiro dengan senyum nakal. "Wiro... kita harus membersihkan diri dulu," bisiknya, suaranya serak namun penuh rencana. "Kontolmu barusan masuk di anuskuku, kan? Aku mau membersihkannya sebersih-bersihnya... biar bisa masuk lagi ke memekku." Wiro tersenyum. Ia menyukai sisi praktis Sonya yang tak kalah agresif. Mereka berdua keluar dari kolam renang, meninggalkan jejak air di lantai marmer yang mengilap. Suara tetesan air dari tubuh mereka
Sonya dan Wiro bergerak pelan di kolam renang hangat, air uap peluk tubuh telanjang mereka, kontol Wiro masih setengah tegang dalam memek Sonya yang basah licin. Sonya geliat, tatap Wiro dengan mata sipit berkilat nafsu baru, "Wiro... aku pengen lagi, yang ganas. Doggy di kolam ini... sodok memekku dulu, terus anus." Wiro tersenyum liar, kontolnya langsung keras penuh. Sonya bangkit pelan, berlutut di kolam air setinggi lutut, tangan bertumpu pinggir kolam marmer, punggung melengkung, pantat bulat kenyal terangkat tinggi, belahan pantat terbuka lebar perlihatkan memek basah mengkilap dan lubang anus pink ketat. Air percik pelan, uap naik tambah sensual. "Dateng sini... pegang pinggulku kuat, sodok doggy ganas!" perintahnya serak. Wiro naik belakang, lutut tempel paha Sonya, tangan kuat cengkeram pinggul rampingnya, remas bokong keras ninggalin bekas merah. Kontol panjang tebalnya gosok celah pantat basah air, kepala penis tekan klitoris pelan. "Siap kena hantam, Sonya?" goda Wiro, t
Salah satu pelayan yang tadi menelepon kini menghampiri dengan wajah lega. "Nona Clarissa, Dokter Surya sedang dalam perjalanan ke sini."Clarissa melepaskan pelukannya dari ayahnya, lalu menoleh ke arah Wiro. Matanya yang indah—cokelat madu dengan bulu mata lentik—menatap Wiro dengan pandangan yan
Setelah gelombang orgasme kedua mereda, Wiro dan Clarissa masih meringkuk dalam posisi spooning yang hangat, kontol Wiro perlahan menyusut di dalam memek Clarissa yang basah dan penuh sperma. Cairan campuran menetes pelan ke paha mereka, tapi tak ada yang peduli. Napas mereka mulai tenang, tapi ha
Setelah gelombang kenikmatan kedua mereda, Wiro dan Wilona tetap berbaring di kasur yang basah oleh keringat dan cairan mereka. Tubuh Wilona yang telanjang menempel erat pada dada Wiro, napasnya masih tersengal-sengal, tapi kini disertai senyum lemah yang penuh kepuasan. Hujan di luar jendela ter
Clarissa merasakan gelombang kenikmatan yang membuncah lagi di perutnya, memeknya berdenyut kuat di lidah Wiro yang tak kenal lelah. Cairannya hampir menyembur, tapi tiba-tiba dia dorong kepala Wiro pelan, napasnya tersengal. “Wiro... ahh... cukup... gue... gue pengen mandi bareng kamu,” bisiknya







