Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 130: Tidak Menguntungkan

Share

Bab 130: Tidak Menguntungkan

last update publish date: 2026-06-28 23:49:25

Matahari pagi menembus tirai kaca kamar rawat VIP, memantulkan pendar terang yang menyinari lantai ubin yang bersih. Suasana sunyi sisa malam tadi langsung menguap begitu derap langkah sepatu dokter senior klan Rossi menggema masuk ke dalam ruangan.

Di besok paginya, dokter memeriksa kondisi Marco dengan saksama, menempelkan stetoskop dan memeriksa perkembangan perban di perut kirinya.

Marco yang sudah duduk tegak di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menatap dokter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 131: Tentang Kita

    Matahari sore membiaskan cahaya keemasan yang tenang, menembus celah-celah daun pohon palem yang berbaris rapi di area luar rumah sakit privat klan Rossi.Setelah perdebatan taktis mengenai kepulangan Marco yang keras kepala itu diredam oleh ketegasan Gia, wanita Valerius itu akhirnya mengajak Marco untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit yang kebetulan di sana cukup sepi untuk Marco yang benci kerumunan banyak orang itu.Suasana taman yang asri dan sunyi menjadi benteng perlindungan sementara dari pengawasan dewan tetua.Gia duduk di bangku taman yang terbuat dari besi tempa hitam, sementara Marco berada di kursi roda taktis, menyandarkan tubuh tegapnya dengan tangan kiri yang masih memegang selang infus portable.Sepasang mata abu-abunya menatap air terjun buatan di sana, menikmati gemercik air yang perlahan menyapu ketegangan pasca-operasi.Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya menyentuh Gia. Wanita itu duduk dengan punggung tegak, namun tatapannya kosong, melayang jauh menembus

  • Yes! Please, Daddy   Bab 130: Tidak Menguntungkan

    Matahari pagi menembus tirai kaca kamar rawat VIP, memantulkan pendar terang yang menyinari lantai ubin yang bersih. Suasana sunyi sisa malam tadi langsung menguap begitu derap langkah sepatu dokter senior klan Rossi menggema masuk ke dalam ruangan.Di besok paginya, dokter memeriksa kondisi Marco dengan saksama, menempelkan stetoskop dan memeriksa perkembangan perban di perut kirinya.Marco yang sudah duduk tegak di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menatap dokter itu dengan pandangan dingin yang tidak sabaran. Aura diktatornya telah kembali sepenuhnya seolah rasa sakit semalam hanyalah angin lalu.Belum sempat dokter itu mencatat grafik pemulihan di papan klipnya, Marco meminta agar hari ini dia bisa pulang, dia sudah bosan berada di rumah yang sangat tidak pantas untuknya itu."Siapkan dokumen kepulanganku sekarang, Dokter. Aku sudah bosan berada di rumah yang sangat tidak pantas untukku ini. Baunya memuakkan dan tempat tidur ini membuat ototku kaku," p

  • Yes! Please, Daddy   Bab 129: Pertanyaan di Dalam Benak Gia

    “Ya. Aku baik-baik saja.”Marco menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil mencoba menghalau rasa pening sekaligus rasa nyeri yang mendadak menyerang perut kirinya.Seringai miring sempat mencoba kembali ke sudut bibirnya, seolah ingin meyakinkan wanita di hadapannya bahwa luka ini bukan masalah besar bagi seorang Rossi.Namun, Gia tidak memberikan pria itu kesempatan untuk bersandiwara. Gia langsung memarahinya karena tidak nurut padanya sejak awal.Dengan gerakan taktis yang cepat, Gia bangkit sedikit dan menekan bahu kokoh Marco agar kembali bersandar sepenuhnya pada tumpukan bantal hospital."Sudah kubilang diam, Marco! Kau benar-benar keras kepala!" amuk Gia dengan suara tertahan, sepasang matanya menyala penuh amarah domestik yang bercampur aduk dengan kepanikan.Dia kemudian memeriksa tepian perban kasa di perut suaminya, memastikan tidak ada rembesan darah baru yang lebih parah akibat aksi nekat mereka tadi."Sekarang, aku meminta agar kau tidur! Jangan lagi meracau apalagi s

  • Yes! Please, Daddy   Bab 128: Aku Tulus Mencintaimu

    Gia langsung menatap Marco dengan tatapan kesalnya, membalikkan tubuhnya dengan sentakan taktis hingga mereka kini berhadapan langsung di bawah kungkungan selimut yang sama.Jarak di antara wajah mereka begitu kikis, menyisakan ruang tipis yang dipenuhi oleh deru napas yang memburu. Gia mengangkat satu tangannya, menahan dada bidang Marco agar pria itu tidak merangsek lebih dekat."Berhentilah mengoceh, Rossi. Aku meminta agar kau diam dan sebaiknya tidur saja! Luka perutmu itu bukan dekorasi, itu bisa merembes lagi jika kau terus menguras energimu untuk bicara omong kosong!" sergah Gia dengan nada rendah yang ketus, mencoba menegakkan kembali benteng pertahanannya yang mulai goyah akibat dekapan posesif dari suaminya.Marco menggeleng perlahan di atas bantalnya. Manik mata abu-abunya mengunci wajah Gia dengan tatapan yang begitu pekat dan intim, memancarkan aura dominasi yang melunak namun tetap tak terbantahkan. "Aku tidak bisa tidur, Gia. Dan aku bilang kalau aku belum menciummu ma

  • Yes! Please, Daddy   Bab 127: Aku Bisa Menciummu sampai Bosan

    Malam hari tiba, suasana kamar rawat menjadi sangat sunyi. Kegelapan pekat di luar jendela berpadu dengan remang lampu nakas yang temaram, menciptakan atmosfer yang mampat dan sarat akan ketegangan domestik yang tertahan.Setelah seharian penuh dengan drama yang dibuat oleh Marco, energi Gia telah terkuras habis. Tubuhnya yang lelah mendambakan istirahat, namun matanya tetap waspada menjaga perimeter sekeliling mereka.Gia bersiap tidur di sofa kecil yang terletak di sudut ruangan, menggelar selimut tipis dengan gerakan taktis yang efisien. Namun, pergerakannya terhenti seketika oleh suara bariton yang berat dari arah ranjang."Ke mana kau akan pergi, Gia?" tanya Marco dengan sepasang mata abu-abunya berkilat tajam di balik keremangan, memperhatikan setiap jengkal pergerakan istrinya. "Kemari. Tidur di sini."Gia lantas menoleh dan menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Sofa ini cukup nyaman untukku, Marco. Lagipula, kau butuh ruang untuk memulihkan tubuhmu."Namun Marco menolak dan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 126: Cemburunya sang Penguasa

    Matahari pagi kembali merayap naik, membasahi kaca jendela kamar rawat VIP setelah badai semalam mereda. Di pagi harinya setelah bangun tidur, Gia yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri dokter yang kebetulan baru saja membuka pintu kayu kamar untuk memeriksa kondisi Marco.Namun, kali ini bukan dokter bedah senior yang masuk, melainkan seorang dokter muda pengganti bernama Dr. Adrian. Dengan jubah putih bersih dan stetoskop yang mengalung rapi, dokter itu melangkah masuk membawa map laporan medis."Selamat pagi, Tuan Rossi, Nyonya Rossi," sapa dokter muda itu, dengan nada suara yang terdengar lembut, mengabaikan atmosfer mampat yang selalu membungkus sepasang penguasa dunia bawah tersebut.Dr. Adrian melangkah mendekati ranjang untuk memeriksa kondisi penglihatan dan refleks Marco. Dia mengeluarkan sebuah penlight kecil, mengarahkannya ke manik mata abu-abu Marco, lalu mengetuk lutut pria itu dengan palu refleks medis.Sepanjang proses pemeriksaan, Marco hanya diam membeku.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 104: Menembus Garis Batas Rumah Masa Lalu

    Bunyi gesekan semak belukar akhirnya mereda saat vegetasi liar di ujung jalur setapak membuka, menampilkan siluet kelam dari sebuah struktur yang sangat familier di ingatan Gia.Tim kecil Rossi akhirnya tiba di depan gerbang besi besar kediaman lama Gia yang sudah berkarat dan miring. Pagar pembata

  • Yes! Please, Daddy   Bab 102: Dominasi dan Peringatan Terakhir

    “Diam?” Gia tersenyum miring sambil melipat tangan di dadanya. “Tidak akan! Kau pikir aku akan diam dan menuruti perintahmu? Jangan bermimpi!”Marco mendengus pelan. “Dasar, wanita!”Mendengar protes Gia yang tiada henti, Marco tidak lagi menggunakan kata-kata untuk membalas. Rahang tegas sang peng

  • Yes! Please, Daddy   Bab 100: Justru Kau akan Menyesal

    Suara bising dari putaran baling-baling helikopter Eurocopter AS365 yang membelah awan menguasai kabin kedap suara tersebut.Marco menatap Gia dengan tatapan lekatnya begitu mereka berada di dalam helikopter, duduk berhadapan dengan jarak yang teramat dekat hingga lutut mereka sesekali ber

  • Yes! Please, Daddy   Bab 99: Penjelasan dari Anak Buah Mendiang Sang Ayah

    Tiga jam berlalu dengan cepat, dan persiapan untuk meninggalkan mansion kuno di Eropa luar negeri itu sudah rampung sepenuhnya.Seluruh barang taktis dimasukkan ke dalam koper kedap air oleh para pelindung klan, sementara barisan pengawal bersenjata otomatis telah membuat perimeter aman di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status