Beranda / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 133: Hasrat yang Menggebu

Share

Bab 133: Hasrat yang Menggebu

Penulis: Salwa Maulidya
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 21:36:00

“Ta-tapi, Marco, bagaimana jika ada dokter dan perawat yang bisa datang kapan saja," bisiknya terengah, suaranya gemetar antara ketakutan dan hasrat yang membara.

"Tidak akan," jawab Marco dengan suara rendah dan tegas, seperti perintah yang tidak boleh dibantah. Matanya yang gelap membara.

"Hanya setengah jam. Itu sudah cukup. Aku sudah tidak tahan lagi melihatmu di sini, lemah tapi tetap milikku."

Tangan Marco yang besar meraih kaus tipis yang dikenakan oleh Gia, lalu merobeknya dengan satu t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Yes! Please, Daddy   Bab 140: Ancaman Mutlak Sang Alfa

    Dengan mata memerah tajam dan suara bariton yang merendah, Marco mendesis bahwa mereka semua adalah pengecut yang hanya bisa mengejek dan mencemooh seorang wanita hanya karena Dimitri telah tewas di tangan musuh.Laras revolver taktisnya kini membidik tepat ke arah dahi Silvio yang mendadak pucat pasi."Dimitri Valerius bukan pria bodoh apalagi payah karena harus dibantai oleh musuh-musuh yang sampai saat ini masih bersembunyi seperti tikus!" geram Marco, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak.Dia sengaja menjeda kalimatnya, menatap tajam satu per satu kepala klan, menyindir para anggota aliansi sendiri yang bahkan belum tahu siapa dalang sebenarnya di balik pembunuhan Dimitri lima tahun lalu."Kalian semua menikmati jalur sutra yang dia buka, tapi saat dia tiada, kalian bertingkah seperti pemakan bangkai yang tidak tahu diuntung!"Marco mengambil alih kendali ruangan secara total. Dia menurunkan senjatanya perlahan, namun tatapannya tetap mengunci seluruh dewan.Dia menyataka

  • Yes! Please, Daddy   Bab 139: Otoritas Sang Putri Valerius

    Marco menjabarkan klaim hukum dunia bawahnya atas wilayah Valerius melalui ikatan pernikahannya dengan Gia. Suara baritonnya yang berat memotong sisa-sisa bisikan di dalam aula, mengukuhkan dominasinya yang dingin."Secara hukum aliansi lama, hak atas jalur barat jatuh ke tangan Rossi begitu altar suci ditandatangani," tegas Marco, matanya menyapu seisi ruangan dengan tatapan predator."Dengan tegas aku mengatakan bahwa Albert tidak akan pernah bisa mengambil wilayah itu secara sah karena aku telah memegang kontrol mutlak atas garis darah yang tersisa.“Siapa pun yang mencoba bernegosiasi dengan Albert di belakangku, akan kuanggap sebagai deklarasi perang terhadap klan Rossi."Mendengar klaim sepihak itu, suasana aula langsung memanas ekstrem. Terjadi debat sengit dan adu argumen yang kasar antar-kepala klan hingga membuat suasana aula menjadi chaos dan hampir memicu aksi angkat senjata."Kau tidak bisa memutuskan ini sendiri, Rossi! Aliansi kita butuh jaminan, bukan sekadar sertifika

  • Yes! Please, Daddy   Bab 138: Langkah Pertama di Aliansi Barat

    Konvoi SUV hitam antipeluru klan Rossi tiba di markas utama aliansi setelah berhasil melewati perimeter luar. Atmosfer markas terasa mampat dan dingin.Gia turun berdampingan dengan Marco, mengancingkan sarung tangan kulitnya dengan sentakan taktis yang tegas.Detap langkah boots taktis mereka memecah keheningan koridor menuju aula pertemuan utama, menguarkan aura dominasi yang pekat.Rio membuka pintu ganda aula dengan satu entakan kuat. Pintu aula terbuka.Beberapa kepala klan aliansi langsung terkejut dan menegang melihat kehadiran Gia di samping Marco. Ruangan luas yang dipenuhi para pria berjas formal itu mendadak sunyi, sebelum bisik-bisik taktis mulai memecah ketegangan.Suasana langsung memanas. Salah satu kepala klan yang vokal, Enzo, langsung berdiri dari kursinya dan memarahi Marco karena masih saja mempertahankan Gia di garis depan."Apa maksud semua ini, Rossi?!" seru Enzo, suaranya menggelegar menantang."Kau membawa wanita ini ke ruang dewan tertinggi kita? Kau tertemba

  • Yes! Please, Daddy   Bab 137: Taktik Pemberontakan yang Seksi

    Di pagi harinya, setelah sarapan, suasana di ruang makan menara Rossi terasa begitu mampat oleh persiapan taktis. Marco sudah berdiri tegap di dekat pintu utama, mengenakan kemeja taktis hitam dengan rompi antipeluru tersembunyi di balik jas formalnya.Dia tengah bersiap hendak pergi ke markas utama karena para kepala klan aliansi sudah menunggunya di sana untuk menuntut kejelasan wilayah Valerius.Gia melangkah cepat menghampiri suaminya, sembari mengancingkan sarung tangan kulit hitamnya dengan satu sentakan aksi yang tangkas. "Aku ikut denganmu ke markas, Marco,” ucapnya dengan santai namun tegas.Mendengarnya, Marco lantas menghentikan gerakannya yang sedang memeriksa magasin pistol di pinggang. Dia pun menoleh, lalu terkekeh pelan menatap istrinya."Itu tidak perlu, Gia. Aku masih bisa melakukannya sendiri di depan para tetua itu. Jangan khawatir.""Aku tidak sedang meminta izin, Rossi," sahut Gia tajam, tatapan matanya menyipit lurus menatap manik abu-abu suaminya. "Aku tetap ik

  • Yes! Please, Daddy   Bab 136: Langsung Klarifikasi

    Pukul sebelas malam. Lorong menara Rossi sudah sunyi, tetapi lampu di dalam kamar utama masih berpendar temaram. Marco melangkah masuk dengan hati-hati, mengira Gia sudah tertidur pulas.Namun, begitu pintu kayu ek itu tertutup, matanya langsung menangkap siluet Gia yang duduk tegak di tepi ranjang besar mereka, melipat tangan di dada dengan tatapan tajam yang menghujam langsung ke arahnya.Marco menghentikan langkahnya, dengan satu tangannya masih memegangi perut kirinya yang dibalut perban. "Kenapa kau belum tidur, Gia?""Tentu saja aku menunggumu, Rossi," sahut Gia dingin, matanya tidak lepas dari sosok suaminya. "Karena jika sampai pukul satu pagi kau tidak kembali ke kamar ini, aku yang akan datang menemuimu ke ruang kerja itu dan menyeretmu paksa untuk tidur."Marco lantas terkekeh mendengarnya. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Suara tawa rendahnya bergema parau di dalam kamar yang sunyi.Pria itu melangkah mendekat, lalu menarik kursi kayu di dekat nakas untuk duduk tep

  • Yes! Please, Daddy   Bab 135: Mansion yang Hancur

    "Anda yakin akan mengatur strategi ulang, Tuan?" tanya Rio pada Marco yang sedang duduk di kursi kebesaran miliknya seraya menatap peta rancangan yang sudah dia atur sebelum masuk rumah sakit.Rio melangkah mendekat dengan entakan boots militer yang presisi, meletakkan sepasang sarung tangan kulitnya di atas meja mahagoni. Di hadapan mereka, layar holografik taktis memancarkan rute distribusi senjata dan titik koordinat pertahanan klan Rossi yang tersebar di sepanjang pelabuhan timur.Marco menyandarkan punggung tegapnya, sepasang mata abu-abunya berkilat setajam silet di bawah pendar lampu ruang kerja yang temaram. Jari-jarinya yang kokoh mengetuk permukaan meja dengan ritme yang konstan, mengabaikan denyut nyeri yang sesekali masih mengoyak perban di perut kirinya."Seharusnya ini sudah selesai jika aku tidak masuk rumah sakit karena tertembak, Rio," jawab Marco dengan nada suaranya yang berat dan serak menggelegar rendah, memenuhi ruangan dengan otoritas mutlak yang tak terbantahka

  • Yes! Please, Daddy   Bab 24: Intruksi sang Penguasa

    “Kau sedang bersenang-senang dengan kartuku, Gia?” ucap Marco di seberang sana terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang hingga menciptakan getaran mengerikan di gendang telinga Gia. Tidak ada nada kemarahan, hanya otoritas mutlak yang terasa dingin.Gia mencengkeram ponsel itu lebih erat, ber

  • Yes! Please, Daddy   Bab 23: Terapi Belanja yang Membabi Buta

    Gia meletakkan cangkir teh yang sudah mendingin itu dengan gerakan kasar ke atas meja. Dia tidak butuh simpati dari Martha, apalagi teori-teori tentang betapa setianya Marco pada kehampaan hidupnya sendiri.Jika Marco ingin menjadikannya satu-satunya pengecualian, maka dia akan memastikan pengecual

  • Yes! Please, Daddy   Bab 21: Dari Sudut Pandang Pelayan Senior

    Gia kini sedang meringkuk di sofa beludru ruang tengah yang luas, menatap kosong ke arah perapian yang padam. Langit-langit mansion yang tinggi seolah-olah siap meruntuhinya kapan saja.Di rumah semegah ini, dia merasa tidak lebih dari sekadar bayangan yang tersesat di lorong-lorong gelap. Tanpa Ma

  • Yes! Please, Daddy   Bab 20: Siasat Sang Predator

    Gia menyeret langkahnya menuju gerbang utama dengan amarah yang mendidih di bawah permukaan kulit. Persetan dengan perintah untuk tetap di kamar.Dia tidak bisa lagi berdiam diri sementara nyawa orang-orang yang tersisa dipertaruhkan dalam permainan gelap suaminya.Di depan pintu besi yang dijaga k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status