Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 77: Mengingatkan Gia

Share

Bab 77: Mengingatkan Gia

last update publish date: 2026-06-01 02:58:00

Setengah jam setelah pergulatan panas yang menguras tenaga di sudut kamar, mereka akhirnya keluar dari mansion kuno tersebut.

Selesai bercinta dengan intensitas tinggi, mereka kini sudah masuk ke dalam mobil sedan hitam antipeluru yang berjalan membelah kegelapan hutan kota dengan kecepatan tinggi, dengan napas mereka yang sesekali masih terdengar agak terengah-engah di dalam kabin yang sunyi.

Gia duduk bersandar di kursi belakang yang empuk, mencoba merapikan kembali tatanan rambutnya yang sed
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 100: Justru Kau akan Menyesal

    Suara bising dari putaran baling-baling helikopter Eurocopter AS365 yang membelah awan menguasai kabin kedap suara tersebut.Marco menatap Gia dengan tatapan lekatnya begitu mereka berada di dalam helikopter, duduk berhadapan dengan jarak yang teramat dekat hingga lutut mereka sesekali bersentuhan akibat guncangan turbulensi udara.Pria Rossi itu tampak sangat santai dengan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka dua kancing atasnya, kontras dengan Gia yang duduk kaku sambil terus memandangi laras senapan serbu di lantai kabin.Marco melipat kedua tangannya di atas lutut, menyipitkan sepasang mata abu-abunya yang tajam di balik kacamata hitam aviator.Dia bertanya dengan suara baritonnya yang berat, mengabaikan deru mesin yang bergetar konstan di bawah kaki mereka, "Apa yang kau tanyakan pada Rio di selasar tadi, Gia? Kenapa tampak sangat kesal sekali setelah berbincang dengannya?"Gia mendengus keras, menyentakkan kepalanya ke arah jendela kecil helik

  • Yes! Please, Daddy   Bab 99: Penjelasan dari Anak Buah Mendiang Sang Ayah

    Tiga jam berlalu dengan cepat, dan persiapan untuk meninggalkan mansion kuno di Eropa luar negeri itu sudah rampung sepenuhnya.Seluruh barang taktis dimasukkan ke dalam koper kedap air oleh para pelindung klan, sementara barisan pengawal bersenjata otomatis telah membuat perimeter aman di sekitar area luar.Sebelum helikopter penjemput mendarat di helipad belakang, Gia menemui Rio secara sembunyi-sembunyi di selasar berlantai batu yang dingin, jauh dari jangkauan telinga tajam Marco.Sinar matahari siang yang terik membakar pilar-pilar gotik di sekitar mereka, menciptakan bayangan panjang yang muram. Gia melangkah cepat, mencegat langkah pria tua itu dengan tatapan mata yang menuntut jawaban mutlak."Berhenti di sana, Rio," perintah Gia, kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada gaun hitam taktis yang kini dikenakannya. "Ada hal yang harus kau jawab dengan jujur sekarang juga."Rio menghentikan langkahnya, membetulkan posisi senjata yang te

  • Yes! Please, Daddy   Bab 98: Rahasia Perjodohan yang Baru Dijelaskan

    Rasa penasaran yang besar akhirnya mendorong Gia untuk menanyakan hal yang mengusik pikirannya sejak pembicaraan dengan Elena beberapa waktu lalu.Ketegangan taktis yang semula menguasai meja makan kini bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih intim dan membingungkan bagi dirinya.Gia menolehkan kepalanya sedikit, menatap langsung pada rahang tegas Marco yang berada sangat dekat dengan posisinya.Dia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian sebelum melontarkan pertanyaan yang selama ini tersimpan rapat di balik dinding ketidakpercayaannya."Jika kau begitu yakin tentang kebiasaan Ayah, ada satu hal yang harus kau jelaskan padaku," ucap Gia dengan nada suaranya yang terdengar datar namun ada getaran ketidakpastian di sana.Dia kemudian meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Lalu dia bertanya, “Sejak kapan sebenarnya kau dan ayahku berteman dekat di masa lalu? Mengingat bahkan aku sendiri tidak pernah mengenal sosok kau dan selama in

  • Yes! Please, Daddy   Bab 97: Rencana Ritual Konyol

    "Kau pikir Albert itu amatir?" desis Marco, melipat kedua tangannya di atas meja makan."Dia menguasai jalur selatan bukan karena beruntung. Setiap jengkal perbatasannya dipasangi ranjau dan penembak jitu. Aku tidak akan mengorbankan pasukanku hanya untuk memuaskan nafsu balas dendammu yang tidak sabaran itu. Aku justru ingin mencari tahu motif Albert dari sisi peninggalan Dimitri sendiri."Gia yang merasa tidak sabar langsung mendengus sebal, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar hingga menimbulkan derit nyaring.Dia kemudian melipat tangan di dada, dan memalingkan wajahnya sekilas sebelum kembali menatap Marco dengan binar mata penuh cemoohan. Dia merasa suaminya ini terlalu banyak kalkulasi hingga terkesan pengecut."Mencari tahu dari sisi peninggalan Ayah?" Gia bilang bahwa tindakan Marco itu sangat konyol dan membuang-buang waktu yang berharga. Dia tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan frustrasi."Semua dokumen resmi Valerius su

  • Yes! Please, Daddy   Bab 96: Metode Sang Pembunuh Bayaran

    Marco menjelaskan secara rinci tentang bagaimana klan The Sword bergerak di bawah bayang-bayang selama bertahun-tahun, memetakan jaringan hitam mereka dengan gerakan tangan yang tegas di atas meja.Sepasang mata abu-abunya menatap Gia tanpa berkedip, menekankan bahwa Albert adalah tipe pria yang sering menggunakan jasa pembunuh bayaran profesional untuk melenyapkan musuh-musuhnya tanpa harus mengotori tangannya sendiri."Dia tidak seperti kita yang akan mendobrak pintu depan dan melepaskan tembakan ke kepala target," ucap Marco, suaranya baritonnya terdengar rendah dan bergetar penuh perhitungan taktis."Albert adalah pengecut yang cerdas. Dia membeli loyalitas para eksekutor tak berwajah, memberi mereka koordinasi logistik, lalu duduk manis di ruang kerjanya sambil menunggu laporan kematian Dimitri selesai."Marco kemudian mengingatkan Gia tentang insiden berdarah beberapa waktu lalu, mengenai mata-mata terlatih yang secara mengejutkan berhasil

  • Yes! Please, Daddy   Bab 95: Musuh Baru Bernama Albert

    Satu jam kemudian, Gia dan Marco sudah duduk berhadapan di meja makan aula kecil mansion untuk sarapan bersama, dengan suasana yang diselimuti kecanggungan yang kentara dari pihak Gia.Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di antara keheningan ruangan yang tinggi.Gia berkali-kali memotong dadu sosis di piringnya tanpa benar-benar menyuapkannya ke dalam mulut. Wajahnya terasa sedikit hangat setiap kali bayangan rintihan memalukannya semalam melintas di pelipis.Gia tampak salah tingkah mengingat racauannya semalam, meremas serbet kain di pangkuannya dengan jemari yang kaku. Dia berdeham pelan, mencoba mengusir kecanggungan yang mencekik tenggorokannya sebelum mendongak menatap suaminya."Soal kejadian semalam di aula pesta ...." Gia membuka suara, lalu menghentikan gerakan memotongnya.Dia memberanikan diri untuk meminta maaf, meski dengan suara datarnya yang khas untuk menutupi rasa malu yang mendalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status