Share

Bab 2

Penulis: Nando
“Hm… jangan… jangan….”

Dalam hati aku memaki diriku sendiri begitu genit. Aku merapatkan paha, lalu dengan sekuat tenaga menggunakan pantatku untuk mendorong pria di belakangku itu menjauh.

Namun, seluruh tubuhku mendadak lemas, tak lagi punya kekuatan untuk menahan beban. Aku tersungkur di atas matras yoga sambil terengah-engah.

“Kak, kamu kenapa?”

Kevin berjongkok, kedua tangannya langsung terulur ke pantatku, meremas dan memainkan daging empuk itu layaknya sedang menguleni adonan.

Aku segera menahan tangannya dan bertanya dengan suara gemetar, “Kevin, apain… apain kamu meremas pantatku….”

“Kak, aku lihat kamu kecapekan, jadi mau bantu memijatmu.”

Sejujurnya, pantat adalah bagian tubuh yang paling kubanggakan. Bagian itu putih, montok, lembut dan kenyal. Apalagi posisi dari belakang, bentuk bokongnya yang montok dan berisi adalah posisi yang paling disukai suamiku.

Dulu, setiap kali kami berhubungan, dia pasti akan meremas dan menepuknya dengan sangat bergairah.

Namun kali ini, pemilik tangan besar itu bukan suamiku, melainkan adik suamiku.

Dibandingkan suamiku, fisik Kevin lebih kekar, tenaganya lebih besar, gerakannya lebih kasar dan terasa jauh lebih agresif. Perasaan ditaklukan oleh pria seperti ini terasa jauh lebih kuat.

Di saat itu juga, gairahku hampir terpancing dan nyaris mendesah keras.

Kevin menjadi semakin bersemangat. Dia tiba-tiba mengangkat tubuhku dari belakang, mengunciku dalam pelukannya dan memaksa pantatku duduk tepat di atas asetnya. Tangan besarnya terus menjelajahi tubuhku seolah tak pernah puas.

“Ah… aku ini kakak iparmu, tolong jangan sentuh lagi….”

Aku tak menyangka Kevin akan seberani ini. Aku mencoba meronta dengan kuat, tapi tentu saja tidak berhasil. Sebaliknya, semakin aku bergerak, benda di belakang itu justru semakin terjepit di antara belahan pantatku, semakin dalam dan semakin terasa.

Merasakan benda miliknya yang setidaknya satu kali lipat lebih besar dari milik suamiku, seluruh tubuhku langsung lemas, seolah menjadi tumpukan lumpur yang pasrah di pelukan Kevin.

“Hmm….”

Kata-kata amarahku malah berubah menjadi desahan panjang saat keluar dari mulut. Pantatku pun perlahan mulai bergerak menyambutnya.

Melihatku yang sudah tak berdaya untuk melawan, tangan Kevin dengan santainya menyelinap masuk ke dalam celana yogaku, masuk ke sela-sela paha dan terus memainkan titik rangsangku. Napasnya pun mulai terdengar berat.

Hanya dalam beberapa sentuhan, aku sudah tidak tahan lagi. Aku mengeluarkan desahan yang berat dan secara tak sadar menekuk kedua kakiku, lalu membukanya lebar-lebar.

“Bukannya kamu mau mengajariku yoga? Kok malah jadi begini… ah… jangan….”

“Kak, aku sedang mengajarimu. Tahan posisi ini sebentar lagi, ini sangat bagus untuk otot pinggang dan perut.”

Kevin sudah tak peduli lagi dengan batasan. Dia menarik daguku, memutar wajahku dan langsung menciumku.

“Jangan… jangan dikorek lagi….”

Aku hanya bisa pasrah membiarkannya menghisap mulutku, hanya suara dengkingan pelan yang keluar dari hidungku. Hal ini malah memicu gairah Kevin, dia seolah ingin menyedot seluruh lidahku.

“Kak, aku mencium seluruh tubuhmu!”

Kevin melepaskan ciumannya sambil terengah-engah. Sambil terus menghisap dan menjilat area leherku, dia memasukkan dua jarinya ke dalam mulutku dan memainkannya di sana.

“Hmm….”

Sungguh tak bisa dipercaya, diperlakukan sekasar itu pada mulutku, aku bukannya merasa risih, malah mendongakkan leherku, menjulurkan lidah untuk menghisap jarinya.

Lalu membiarkan air liur mengalir dari sudut bibir ke dagu hingga menetes ke dada.

Sudah setengah bulan sejak terakhir kali aku berhubungan intim. Aku hampir lupa rasanya, tapi kali ini semua perasaan itu kembali lagi. Aku bahkan merasa seolah ada titik sensitif di dalam kerongkonganku.

Kemudian, Kevin menyingkap tanktopku ke atas hingga menutupi wajahku. Dia menindih tubuh bagian atasku, agar aku kembali dalam posisi merangkak di atas matras dengan pantat terangkat tinggi.

Kedua tangannya mencengkeram pinggang celana yogaku dan menariknya turun sampai ke lutut. Ujung lidahnya yang panas dan basah mulai menjilat perlahan dari leher menyusuri tulang belakang, hingga menuju belahan pantat.

Jilatan panas itu sanggup membuat wanita kesepian mana pun menyerah.

“Kamu… kamu mau menjilatku sampai mati… aah….”

Kedua kakiku gemetar hebat, seketika otot pantatku pun mengencang seiring dengan desahan panjang yang kulepaskan.

Karena wajahku tertutup, aku tak bisa melihat gerakan Kevin. Sensasi seperti sedang diperkosa dalam kondisi tertutup ini bukannya membuatku takut, malah membuatku merasa sangat bergairah!

Napas Kevin semakin memburu di belakangku. Dia mendaratkan tamparan keras di pantat kananku.

“Kak, kamu salah… aku bukan ingin menjilatmu sampai mati!”

Kemudian, dia menyentakkan pinggangnya dengan kuat dan dalam satu dorongan, dia langsung menembusku….
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 7

    Suaranya terdengar tenang, tapi tegas. Setiap katanya bagaikan pisau yang menusuk keras ke hatiku.“Dengarkan baik-baik.”“Saat kuliah dulu, aku yang lebih dulu menyukai Bobi, tapi kamu malah lebih dulu mendahuluiku dan merebutnya. Kamu pikir selama bertahun-tahun ini aku begitu baik padamu karena tulus bersahabat? Konyol! Aku hanya sedang menunggu kesempatan untuk membuatmu merasakan bagaimana rasanya dikhianati.”Sudut bibirnya menajam, memperlihatkan senyuman mengejek, “Kamu pikir kamu itu sangat polos? Kamu merebut cintaku, lalu dengan sok tahu menikmati persahabatan denganku. Sekarang, ini semua hanyalah balasan untukmu. Kamu mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan!”Seketika, hatiku dipenuhi amarah dan keterkejutan. Semua hal ini benar-benar tak pernah kuketahui sebelumnya.Seandainya aku tahu dia menyukai Bobi sejak dulu, aku tidak akan pernah menerima pernyataan cintanya.Namun, yang lebih membuatku kecewa adalah kenyataan bahwa kebaikan yang dia tunjukkan selama bertahun-tah

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 6

    Jangan-jangan dia tak ada di rumah? Saat sedang bimbang harus langsung naik ke atas atau tidak, mataku tak sengaja menangkap pemandangan di area parkir yang tak jauh dari sana.Sebuah mobil sedan silver yang sangat kukenal terparkir di sana, bodinya memantulkan cahaya matahari terbenam yang berkilauan. Itu mobil sahabatku! Seketika, secercah harapan muncul di hatiku, sepertinya dia ada di rumah. Namun, baru saja hendak melangkah masuk, aku menoleh kembali ke arah mobi itu dan merasa ada yang aneh.Kok… mobilku bergoyang-goyang?Aku menyipitkan mata, menatap ke arah kaca jendela mobil dan pemandangan di dalam membuatku tercengang.Di dalam mobil, Erika sedang duduk di kursi belakang membelakangiku. Kepalanya tertunduk, seluruh tubuhnya bergerak naik turun. Di depannya duduk seorang pria dengan senyuman penuh kenikmatan di wajahnya.Saat memperhatikan wajah pria itu lebih saksama, itu wajah yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup! Ternyata itu suamiku sendiri, Bobi.Aku berdiri mem

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 5

    Bobi melangkah mendekat, mencoba memelukku, tapi aku langsung mendorongnya dengan kasar. Air mata mengaburkan pandanganku, “Kamu pikir aku bakal percaya omonganmu? Sudah nggak ada lagi kepercayaan di antara kita.”“Keluar kamu!” teriakku yang akhirnya tak mampu lagi membendung emosi.“Aku nggak mau melihat kamu lagi!”Dia hanya mendengus sinis, menatapku dengan tatapan dingin seolah berkata emangnya kamu sebaik apa, sih?Pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi.Pintu tertutup dengan keras. Aku terjatuh ke lantai, membiarkan air mata mengalir deras.Aku membuka ponsel dan melihat foto-foto kami. Di sana kami tampak bahagia. Kebahagiaan masa lalu itu, kini terasa seperti pisau yang mengiris hati.Saat aku masih tenggelam dalam kesedihan, tiba-tiba pintu rumah terbuka dari luar. Aku tersentak dan menahan napas. Bobi kembali lagi?Namun, saat orang itu menoleh, aku terkejut mendapati bahwa yang datang adalah Kevin.Dia berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Meliha

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 4

    Aku berdiri mematung di samping mesin cuci, tanganku mencengkeram erat kemeja itu. Ujung jariku bisa merasakan tekstur kainnya, tapi seluruh perhatianku tersedot sepenuhnya pada bekas lipstik di kerah baju itu.Hanya noda tipis, tapi sangat menusuk mata. Bagaikan sebilah pisau yang menusuk tepat ke jantungku. Aku berusaha keras menenangkan pikiran, lalu duduk di sofa sambil tetap memegang kemeja itu erat-erat dengan ribuan pikiran yang berkecamuk.Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Tak lama kemudian, suamiku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut pendeknya yang basah, “Olivia, kamu masak apa? Wangi sekali.”Aku tidak menjawabnya. Sebaliknya, aku mengangkat kemeja itu tinggi-tinggi dan menunjukkan noda merah di depan matanya.“Ini apa?” Suaraku agak bergetar.Melihat ekspresiku yang tidak bersahabat, senyumannya pun pudar. Dia mengambil kemeja itu dan memperhatikannya baik-baik. Aku menangkap kilatan kepanikan di matanya, tapi dia segera berusaha bersikap tenang kembali.“

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 3

    “Kring….”Tepat saat itu, tiba-tiba ponsel di kamar tidur berdering. Aku tersentak kaget sampai hampir melompat. Itu adalah dering khusus yang kupasang untuk suamiku.Dengan panik, aku melepaskan diri dari pelukan Kevin, berlari terhuyung-huyung ke kamar dan menjawab telepon itu.Namun, aku tak menyangka Kevin begitu nekat. Dia malah mengikutiku masuk ke kamar dan menunduk untuk menciumku.“Aaa….” teriakku pelan. Seketika, tubuhku membeku. Sambil berusaha mati-matian menjaga nada suaraku agar tetap stabil, kaki belakangku menendang ke arahnya dengan terburu-buru.Sepertinya aku mengenai bagian sensitifnya, karena terdengar erangan tertahan dari Kevin di belakang.“Olivia, suara apa itu?” Suamiku mendengarnya.Bulu kudukku terasa merinding. Aku mengalihkan pandangan dengan panik, otakku berputar cepat mencari alasan, “Kakiku… kakiku agak keram.”Kevin menyadari situasinya mulai tak beres. Dia pun membungkuk dan menyelinap pergi dari sudut kamar. “Sekarang sudah lebih mendingan?” tanya

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 2

    “Hm… jangan… jangan….”Dalam hati aku memaki diriku sendiri begitu genit. Aku merapatkan paha, lalu dengan sekuat tenaga menggunakan pantatku untuk mendorong pria di belakangku itu menjauh.Namun, seluruh tubuhku mendadak lemas, tak lagi punya kekuatan untuk menahan beban. Aku tersungkur di atas matras yoga sambil terengah-engah.“Kak, kamu kenapa?”Kevin berjongkok, kedua tangannya langsung terulur ke pantatku, meremas dan memainkan daging empuk itu layaknya sedang menguleni adonan.Aku segera menahan tangannya dan bertanya dengan suara gemetar, “Kevin, apain… apain kamu meremas pantatku….”“Kak, aku lihat kamu kecapekan, jadi mau bantu memijatmu.”Sejujurnya, pantat adalah bagian tubuh yang paling kubanggakan. Bagian itu putih, montok, lembut dan kenyal. Apalagi posisi dari belakang, bentuk bokongnya yang montok dan berisi adalah posisi yang paling disukai suamiku.Dulu, setiap kali kami berhubungan, dia pasti akan meremas dan menepuknya dengan sangat bergairah.Namun kali ini, pemil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status