Share

Yoga Privat Bersama Adik Ipar
Yoga Privat Bersama Adik Ipar
Author: Nando

Bab 1

Author: Nando
“Jangan… jangan… Kevin, ini terlalu dalam….”

Tengah malam, aku yang tanpa busana ditindih paksa ke atas ranjang oleh seorang pria. Wajahku terbenam di bantal, sementara pantatku terangkat tinggi, menerima hentakan darinya yang menimbulkan suara yang nyaring.

Tangan besarnya mencengkeram pinggang rampingku, seluruh tenaganya seolah dicurahkan padaku, seakan-akan ingin menghabisiku, “Enak nggak?!”

“Hmm… enak… enak sekali….”

Otakku sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Sudah tak bisa memikirkan rasa malu, aku malah sengaja memundurkan pantatku demi mengejar kepuasan yang luar biasa….

Namaku Olivia, seorang wanita berusia 28 tahun.

Sama seperti kebanyakan wanita lain, di awal pernikahan, suamiku sangat tergila-gila dengan tubuhku. Hampir setiap malam dia menindihku di ranjang sampai tiga empat kali, hingga benar-benar kewalahan.

Namun, seiring dengan bangkitnya hasratku, suamiku mulai tidak mampu memuaskanku lagi. Setiap kali aku baru mulai merasakan nikmat, dia sudah menyerah duluan.

Sekali seorang wanita sudah merasakan gairah yang sebenarnya, nafsunya tidak kalah besar dari pria. Itulah yang terjadi pada tubuhku.

Selama malam-malam panjang yang tak tenang, aku terpaksa mengandalkan mainan kecil untuk memuaskan keinginanku yang meluap.

Namun, tentu saja itu bukan solusi jangka panjang.

Kebetulan suamiku sedang pergi dinas, jadi aku mengundang adiknya, Kevin yang bekerja sebagai pelatih yoga untuk datang ke rumah dan mengajariku.

Aku berharap latihan fisik ini bisa menguras tenagaku, sehingga tidak terus-menerus menginginkan pria.

Namun siapa sangka, setelah mengajarkan gerakan pertama, Kevin sengaja berputar ke belakangku dan menatap tajam ke arah pantatku.

Meski aku sudah sering mendapat tatapan seperti itu, ditatap adik ipar sendiri tetap saja membuatku merasa malu. Aku pun berkata, “Kevin, aku agak capek, bisa ganti posisi lain?”

Celana yoga yang kupakai memang tipis, apalagi aku mengikuti saran Kevin untuk tidak memakai celana dalam. Sekarang celana itu menempel ketat di area pribadiku.

Ditatap dari belakang seperti itu, membuat area di antara kedua kakiku terasa geli dan panas, seolah ada ribuan semut yang merayap. Tanpa sadar, aku mulai merasa agak basah.

“Kak, kamu sering latihan yoga sendiri?”

“Hanya tahu sedikit, tapi nggak banyak. Sebenarnya dasarku balet….”

“Kalau begitu, aku akan ajarkan posisi baru.”

Usai bicara, Kevin memapahku berdiri dari belakang. Kaki kanannya menyelinap dan menekan di antara kedua kakiku, membuat kakiku yang jenjang agak terbuka. Sementara tangan kirinya menekan punggungku agar membungkuk ke depan.

Saat tubuh bagian atasku baru turun setengah, aku kehilangan keseimbangan. Aku bergegas berteriak, “Kevin, bantu aku….”

“Kak, tubuhmu lembut sekali….”

Kevin bergumam, kedua tangannya menempel di pinggang rampingku.

Seiring dengan gerakannya, secara reflek pantatku yang montok dan kencang langsung menempel pada area selangkangannya.

“Uh….”

Sentuhan mendadak itu membuatku mengerang pelan dan tubuhku langsung bereaksi saat itu juga.

Dasar, punya dia besar sekali!

Sebagai wanita berpengalaman, tentu aku tahu benda apa yang sedang menekan belahan pantatku. Bahkan meski terhalang celana tipis, aku bisa merasakan suhu panas yang membara!

Jika ditindih oleh pria gagah seperti ini, sambil dipukul bokongnya dan digempur, pasti rasanya akan luar biasa nikmat, ‘kan?

Melihat dari cermin, Kevin mulai menggunakan kekuatan pinggangnya untuk coba-coba memberikan tekanan pada pantatku, ekspresi wajahnya terlihat menikmati.

Aku menundukkan kepala, mengencangkan setiap otot di tubuhku untuk menahan rasa panas dan geli yang merasuk hingga ke tulang.

Aku takut sekali jika sampai mengeluarkan suara erangan yang memalukan.

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menghentikannya? Tidakkah ini sangat canggung?

Saat aku sedang bimbang, ternyata Kevin tidak puas hanya menekan dari luar celana yoga. Tangan kirinya langsung masuk ke dalam tanktopku, membelai payudaraku dengan lembut. Sementara tangan kanannya semakin turun, menyelinap ke sela-sela paha.

Aku tak menyangka Kevin akan seberani ini. Bagian sensitif itu jarang sekali disentuh orang lain dan sekarang dimainkan oleh adik ipar sendiri, rasanya sangat memalukan, sekaligus merangsang.

Apalagi aku sudah lama tidak mendapatkan kepuasan. Sekarang, hanya dengan remasan tangan besar itu saja, aku sudah merasakan gairah yang hebat hingga kedua kakiku gemetar hebat.

Aku bisa merasakan seiring dengan gesekan tubuh yang berulang, tangan Kevin yang meremas payudara kananku mulai menggunakan tenaga, menekannya hingga terasa sakit.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 7

    Suaranya terdengar tenang, tapi tegas. Setiap katanya bagaikan pisau yang menusuk keras ke hatiku.“Dengarkan baik-baik.”“Saat kuliah dulu, aku yang lebih dulu menyukai Bobi, tapi kamu malah lebih dulu mendahuluiku dan merebutnya. Kamu pikir selama bertahun-tahun ini aku begitu baik padamu karena tulus bersahabat? Konyol! Aku hanya sedang menunggu kesempatan untuk membuatmu merasakan bagaimana rasanya dikhianati.”Sudut bibirnya menajam, memperlihatkan senyuman mengejek, “Kamu pikir kamu itu sangat polos? Kamu merebut cintaku, lalu dengan sok tahu menikmati persahabatan denganku. Sekarang, ini semua hanyalah balasan untukmu. Kamu mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan!”Seketika, hatiku dipenuhi amarah dan keterkejutan. Semua hal ini benar-benar tak pernah kuketahui sebelumnya.Seandainya aku tahu dia menyukai Bobi sejak dulu, aku tidak akan pernah menerima pernyataan cintanya.Namun, yang lebih membuatku kecewa adalah kenyataan bahwa kebaikan yang dia tunjukkan selama bertahun-tah

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 6

    Jangan-jangan dia tak ada di rumah? Saat sedang bimbang harus langsung naik ke atas atau tidak, mataku tak sengaja menangkap pemandangan di area parkir yang tak jauh dari sana.Sebuah mobil sedan silver yang sangat kukenal terparkir di sana, bodinya memantulkan cahaya matahari terbenam yang berkilauan. Itu mobil sahabatku! Seketika, secercah harapan muncul di hatiku, sepertinya dia ada di rumah. Namun, baru saja hendak melangkah masuk, aku menoleh kembali ke arah mobi itu dan merasa ada yang aneh.Kok… mobilku bergoyang-goyang?Aku menyipitkan mata, menatap ke arah kaca jendela mobil dan pemandangan di dalam membuatku tercengang.Di dalam mobil, Erika sedang duduk di kursi belakang membelakangiku. Kepalanya tertunduk, seluruh tubuhnya bergerak naik turun. Di depannya duduk seorang pria dengan senyuman penuh kenikmatan di wajahnya.Saat memperhatikan wajah pria itu lebih saksama, itu wajah yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup! Ternyata itu suamiku sendiri, Bobi.Aku berdiri mem

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 5

    Bobi melangkah mendekat, mencoba memelukku, tapi aku langsung mendorongnya dengan kasar. Air mata mengaburkan pandanganku, “Kamu pikir aku bakal percaya omonganmu? Sudah nggak ada lagi kepercayaan di antara kita.”“Keluar kamu!” teriakku yang akhirnya tak mampu lagi membendung emosi.“Aku nggak mau melihat kamu lagi!”Dia hanya mendengus sinis, menatapku dengan tatapan dingin seolah berkata emangnya kamu sebaik apa, sih?Pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi.Pintu tertutup dengan keras. Aku terjatuh ke lantai, membiarkan air mata mengalir deras.Aku membuka ponsel dan melihat foto-foto kami. Di sana kami tampak bahagia. Kebahagiaan masa lalu itu, kini terasa seperti pisau yang mengiris hati.Saat aku masih tenggelam dalam kesedihan, tiba-tiba pintu rumah terbuka dari luar. Aku tersentak dan menahan napas. Bobi kembali lagi?Namun, saat orang itu menoleh, aku terkejut mendapati bahwa yang datang adalah Kevin.Dia berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Meliha

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 4

    Aku berdiri mematung di samping mesin cuci, tanganku mencengkeram erat kemeja itu. Ujung jariku bisa merasakan tekstur kainnya, tapi seluruh perhatianku tersedot sepenuhnya pada bekas lipstik di kerah baju itu.Hanya noda tipis, tapi sangat menusuk mata. Bagaikan sebilah pisau yang menusuk tepat ke jantungku. Aku berusaha keras menenangkan pikiran, lalu duduk di sofa sambil tetap memegang kemeja itu erat-erat dengan ribuan pikiran yang berkecamuk.Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Tak lama kemudian, suamiku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut pendeknya yang basah, “Olivia, kamu masak apa? Wangi sekali.”Aku tidak menjawabnya. Sebaliknya, aku mengangkat kemeja itu tinggi-tinggi dan menunjukkan noda merah di depan matanya.“Ini apa?” Suaraku agak bergetar.Melihat ekspresiku yang tidak bersahabat, senyumannya pun pudar. Dia mengambil kemeja itu dan memperhatikannya baik-baik. Aku menangkap kilatan kepanikan di matanya, tapi dia segera berusaha bersikap tenang kembali.“

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 3

    “Kring….”Tepat saat itu, tiba-tiba ponsel di kamar tidur berdering. Aku tersentak kaget sampai hampir melompat. Itu adalah dering khusus yang kupasang untuk suamiku.Dengan panik, aku melepaskan diri dari pelukan Kevin, berlari terhuyung-huyung ke kamar dan menjawab telepon itu.Namun, aku tak menyangka Kevin begitu nekat. Dia malah mengikutiku masuk ke kamar dan menunduk untuk menciumku.“Aaa….” teriakku pelan. Seketika, tubuhku membeku. Sambil berusaha mati-matian menjaga nada suaraku agar tetap stabil, kaki belakangku menendang ke arahnya dengan terburu-buru.Sepertinya aku mengenai bagian sensitifnya, karena terdengar erangan tertahan dari Kevin di belakang.“Olivia, suara apa itu?” Suamiku mendengarnya.Bulu kudukku terasa merinding. Aku mengalihkan pandangan dengan panik, otakku berputar cepat mencari alasan, “Kakiku… kakiku agak keram.”Kevin menyadari situasinya mulai tak beres. Dia pun membungkuk dan menyelinap pergi dari sudut kamar. “Sekarang sudah lebih mendingan?” tanya

  • Yoga Privat Bersama Adik Ipar   Bab 2

    “Hm… jangan… jangan….”Dalam hati aku memaki diriku sendiri begitu genit. Aku merapatkan paha, lalu dengan sekuat tenaga menggunakan pantatku untuk mendorong pria di belakangku itu menjauh.Namun, seluruh tubuhku mendadak lemas, tak lagi punya kekuatan untuk menahan beban. Aku tersungkur di atas matras yoga sambil terengah-engah.“Kak, kamu kenapa?”Kevin berjongkok, kedua tangannya langsung terulur ke pantatku, meremas dan memainkan daging empuk itu layaknya sedang menguleni adonan.Aku segera menahan tangannya dan bertanya dengan suara gemetar, “Kevin, apain… apain kamu meremas pantatku….”“Kak, aku lihat kamu kecapekan, jadi mau bantu memijatmu.”Sejujurnya, pantat adalah bagian tubuh yang paling kubanggakan. Bagian itu putih, montok, lembut dan kenyal. Apalagi posisi dari belakang, bentuk bokongnya yang montok dan berisi adalah posisi yang paling disukai suamiku.Dulu, setiap kali kami berhubungan, dia pasti akan meremas dan menepuknya dengan sangat bergairah.Namun kali ini, pemil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status