FAZER LOGIN“Mmm ... selagi Kakak nggak ada, aku yang main dengan Kak Evelin ... kalian benar-benar, ah!” Setelah urusan Kakak selesai dan dia pergi, yang tersisa hanya Kakak iparku yang terkapar tidur di ranjang tanpa pertahanan sedikit pun. Aku tak kuasa menahan diri dan menyentuhnya. Tak kusangka, Kak Evelin terbangun karena belaianku. Alih-alih marah, dia justru mendekapku dalam pelukannya, membiarkanku meninggalkan jejak-jejak merah di sekujur tubuhnya. Namun, di tengah gelora gairah yang memuncak, aku mendongak dan melihat bayangan Kakak berdiri di sana.
Ver maisMendengar keributan di dalam, Kakak berlari masuk. Dia langsung pasang badan di depanku, menghentikan amukan Ayah."Ayah, jangan pukul Andrew! Ini bukan idenya, aku yang menyuruhnya melakukan ini!"Belum pernah aku melihat Ayah semarah ini. Matanya berkilat penuh murka, seolah bisa membakar udara di sekitar. Napasnya memburu tidak teratur."Kalau begitu, kupukul kalian berdua sekalian!"Ibu merangkul Kak Evelin dalam pelukannya. Air mata mereka berdua bercampur jadi satu. Suara Ibu bergetar saat mencoba menenangkan, "Nak, Ibu sudah dengar semuanya. Kamu sudah sangat menderita. Tapi hal seperti ini ... sama sekali nggak boleh kita lakukan. Ini melanggar norma dan garis keturunan, ini adalah prinsip dasar manusia!"Wajah Ayah masih pucat pasi karena marah. Beliau mengatur napasnya yang menderu, berdeham pelan, lalu berkata dengan suara menggelegar, "Kenapa nggak bilang saja pada kami dari awal? Kenapa harus melakukan hal yang menyalahi kodrat dan etika begini?"Aku dan Kakak hanya bisa m
"Kalau kamu mau, itu yang terbaik. Tapi kalau memang nggak mau, nggak apa-apa. Nanti kalau kamu menikah, seluruh harta milikku akan kuwariskan untuk anak-anakmu."Aku menatap Kakak. Pria yang sejak kecil selalu melindungi dan menjagaku itu, kini menunjukkan kerapuhan dan ketidakberdayaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata di matanya.Aku mengerti perasaannya. Sebagai seorang pria, fakta bahwa dia tidak bisa membuat istrinya hamil adalah pukulan yang sangat berat dan menghancurkan harga dirinya.Aku bisa merasakan keputusasaan dan kepasrahan Kakak. Melihat sorot matanya yang penuh harap dan permohonan, aku sama sekali tidak bisa mengucapkan kata "tidak".Aku pun menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Kak, aku akan mencobanya."Secercah senyum lega akhirnya muncul di wajah Kakak, meski di balik senyum itu terselip kepedihan yang tak kasat mata.Dia tampak sangat senang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. "Hari ini adalah masa subur Evelin. Pergilah ke sana."Su
Gerakan Kak Evelin mendadak terhenti. Wajahnya makin pucat, bahunya mulai gemetar. Jelas sekali dia sedang berusaha sekuat tenaga menahan emosinya. Dia membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.Aku ketakutan sampai otakku mendadak kosong. Tidak tahu harus bicara apa, aku hanya bisa ikut berjongkok dengan kikuk di depannya. " Kak Evelin, maafkan aku ...."Tiba-tiba dia mendongak. Matanya merah dan sembab, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Bukan ... bukan karena pekerjaan ...."Dia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian.Melihat wajahnya yang begitu merana, aku yang tidak pandai merangkai kata-kata penghibur, hanya bisa mengikuti alur pembicaraannya."Lalu kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama ...."Dia mengedipkan matanya yang indah dan berair, menatapku dengan tatapan memelas. Air matanya akhirnya jatuh tak terbendung, suaranya rendah dan gemetar. "Sebenarnya ... kami sudah tahu sejak lama kalau kami nggak akan pernah bi
"Ayah, urusan kami biar kami selesaikan sendiri. Ayah nggak perlu ikut campur."Suasana seketika menjadi tegang. Tidak ada yang mau mengalah. Aku dan Kak Evelin bahkan tidak berani bernapas keras-keras, takut menjadi sasaran amarah mereka.Tapi kalau dipikir-pikir memang aneh. Biasanya Kakak emosinya stabil, kenapa hari ini dia tiba-tiba begitu gampang marah?Ibu mencoba meredakan suasana, dia berkata dengan penuh perhatian, "Nak, kami ‘kan cuma khawatir dengan kesehatan kalian. Lebih cepat diperiksa, lebih cepat tenang."Kakak mengerutkan kening, menatap Ayah dengan tatapan menantang. "Bu, sudah kubilang, kami baik-baik saja. Kami punya rencana sendiri, nggak perlu bantuan Ayah dan Ibu."Wajah Ayah mulai memerah menahan amarah yang meledak. Dia menggebrak gelas ke atas meja dengan keras sambil bertanya penuh tuntutan, "Punya rencana sendiri? Kalau begitu, beri tahu kami! Kalau begini terus, bagaimana kami bisa tenang?"Emosi Kakak mulai lepas kendali. Dia berdiri, suaranya terdengar s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.