Se connecter"I've always knew you'd be the man to fuck me to heavens." The door opened on that comment and the man she least expected waltzed in. A smirk on his lips. "Tell me, how many times have I fucked you to heavens in your wild little imaginations, Gina?" ............... He’s my father's best friend, a father figure to me. But he's also the hottest man I've ever seen alive. With his fit, toned, and athletic build. He has plagued my dreams more time than I can count. Fucking me to heavens and back, and when the chance comes to experience him. It doesn't matter what it costs, even if it might be the end of me. I’m willing to let him ruin me.
Voir plus"Terima kasih telah menerimaku menjadi pendampingmu, ketika aku dalam keadaan terpuruk."
Perkataan itu kubalas dengan senyuman kepada pria yang sedang duduk di pelaminan di sampingku. Ia meletakkan tapak tangan kirinya ke atas punggung tangan kananku sembari sedikit mengusap lembut.
"Aku juga berterima kasih kepada kamu, Mas. Karena sudah menerimaku dengan berbagai kekurangan yang kumiliki."
Jawabanku itu mungkin terdengar klise. Tapi tidak aku pungkiri. Pernikahan kami tidak tulus seratus persen berdasarkan cinta.
Aku tahu, Mas Priyo meminangku karena alasan duit. Apalah aku ini tanpa harta. Cuma seorang janda mandul yang sudah memasuki usia kepala empat dan memiliki paras tak terlalu menarik. Tapi cukup punya percaya diri. Aneh sekali ada laki-laki yang lebih muda, duda beranak dua, yang mau menerimaku dalam kondisi begini sementara dia bisa mencari wanita yang jauh lebih baik.
Aku sendiri tahu persis kondisi Mas Priyo. Seorang pengusaha yang usahanya sedang kolaps. Terjerat utang yang tak sedikit. Kepercayaan dirinya sedang runtuh untuk berwirausaha. Sementara ingin kerja kantoran pun sudah canggung, tak bisa mengikuti ritmenya.
Sebelumnya aku memanggil dia "Adik", dan dia memanggilku "Mbak". Karena usia kami terpaut 5 tahun di mana ia lebih muda. Kami dekat karena urusan bisnis. Setelah lamaran, kami berjanji bahwa aku akan memanggilnya "Mas" dan dia memanggilku "Adik".
Kalau sudah tahu ia mengicar hartaku, kenapa aku mau menerimanya? Mungkin ada pertanyaan begitu.
Alasannya, karena aku mengincar harta orang tuanya. Jangan salah, gitu-gitu juga Mas Priyo ini berasal dari keluarga terpandang. Empat bersaudara, dua laki-laki dan dua perempuan, semuanya pengusaha sukses kecuali anak kedua. Ya siapa lagi kalo bukan Mas Priyo. Jadi, sudahlah orang tuanya kaya raya, saudara-saudaranya pun milyuner.
Kedua orang tuanya masih hidup. Tapi sudah cukup renta. Dan berisiko dengan adanya wabah Covid yang mengerikan sekarang. Tugasku adalah bersabar untuk menunggu kematian mereka. Bila itu yang terjadi, cukup besar porsi warisan yang akan Mas Priyo dapat (dan tentu aku akan kebagian).
Bukankah hukum Islam mengatur bahwa lelaki mendapat dua pertiga bagian? Ya lumayanlah meski harus dibagi dua dengan saudara lelakinya anak pertama.
Aku baru tahu sedikit soal harta orang tuanya Mas Priyo. Setidaknya, dia punya dua buah villa di Puncak, satu rumah di Pondok Indah yang mereka tinggali dan ada rumah di Menteng dan lokasi lain yang belum aku tahu. Di antara mobil-mobilnya ada dua yang harganya di atas satu milyar. Ada tanah berhektar-hektar di beberapa daerah strategis yang siap berkembang beberapa tahun lagi. Jonggol, Cigombong, Gunung Sindur, Cikarang Timur, dan beberapa di luar Pulau Jawa.
Depositonya? Aku belum tahu. Tapi aku sudah siap terkejut bila akhirnya tahu suatu saat. Juga berapa harta perhiasannya, sahamnya, dll.
Ada sepuluh perusahaan yang dijalankan oleh papanya Mas Priyo. Uniknya, tidak ada satu pun yang dilanjutkan oleh anak-anaknya. Termasuk Mas Priyo yang sedang terancam bangkrut. Ini menjadi keherananku. Bisa jadi karakter Papanya keras kepada anak-anak. Tapi sekeras-keras orang tua, tentu punya rasa kasih sayang juga. Bila ada anaknya yang terancam jadi gembel, bukan tidak mungkin satu bisnis akan diserahkan.
Itulah "investasiku" yang akan panen suatu saat nanti. Ketika malaikat maut menghampiri dua orang renta itu. Cukup sedikit bulir air mata keluar, setelah itu masa-masa bahagia akan tiba. Dua pertiga dibagi dua dari harta-harta itu. Indahnya.
Ya, untuk sementara memang Mas Priyo yang akan menikmati warisan itu. Sementara. Karena bila aku sudah menghampiri KUA, aku kenal pengacara cerdik yang bisa menyulap harta-harta itu sebagai kepemilikan gono-gini yang harus dibagi dua.
Tapi menjalakan investasi ini harus satu yang aku miliki: kesabaran. Jangan sampai terjadi perceraian sebelum kedua orang tua Mas Priyo meninggal. Juga ada modal yang mungkin tak akan sedikit. Aku harus mengeluarkan biaya untuk membantu bisnisnya, serta menopang nafkahnya dan ke dua anak yang kini diasuh oleh mantan istrinya.
Semoga bisa sabar dan tak ada hal-hal di luar dugaan yang bisa merusak pernikahan kami. Sampai saat panen itu tiba.
*
Pesta usai, kami kembali ke rumah. Saatnya berdua tanpa diganggu.
Di mobil pada perjalanan pulang dari gedung, Mas Priyo tak berhenti tersenyum. Ada cahaya yang memancar dari kulit wajahnya. Kami duduk berdampingan dengan bahu saling bersandar.
Mas Priyo tak memikirkan soal uang 150 juta rupiah yang habis untuk pesta sederhana dengan protokol kesehatan yang ketat barusan. Tujuh puluh lima persen uangku terpakai. Mas Priyo hanya menyumbang dua puluh lima persen, itu pun berasal dari bantuan papanya. Setelah ia mengemis dan membawa-bawa gengsi. Sebagian biaya menikah aku dapat dari utang karena tak mau menarik modal yang sedang aku putar.
Sembari membaca pesan-pesan w******p yang berisi ucapan selamat, kami berbincang ringan. Tentang masa depan, dan juga soal rencana-rencana bisnis. Lelaki itu memang kuat daya khayalnya. Banyak mau. Terdengar hebat bila bicara konsep. Tapi lemah dalam eksekusi.
Sampai sebuah kalimat yang sangat mengganggu terlontar dari lisannya.
"Dek, amplop dari tamu undangan buat Mas ya semuanya."
"Hah? Gimana, Mas?"
"Iya. Uang pemberian tamu undangan, Mas perlu buat tambahan modal." Suamiku nyengir sembari menggerak-gerakkan kedua alisnya.
Tatapanku kosong. Secepat kilat mencoba membentuk ekspresi yang tepat menyikapi permintaan itu. Mimik yang riang, yang tulus, ikhlas, ridho kepada suami. Bagaimana ya?
"Oh. Ya udah kalo Mas perlu, pake aja." Aku menarik paksa dua sisi bibir ke samping lebar-lebar.
"Kado-kado selain amplop, bolehlah buat, Adek."
Aku membatin, "Helloooo.... kan uang pesta juga banyakan dari gua, centong nasi." Namun tetap kata-kata yang baik keluar dari mulut. "Boleeeh. Deal deh kalo gitu. Siapa tau ada yang ngasih kado mobil fortuner."
"Hahaha bisa aja kamu, Dek."
"Hehehe..." Suamiku lucu ya. Kalau dia kutu, sudah kupites sampai penyek.
Tuuut....
Gawaiku berbunyi. Sebuah pesan dari seorang sahabat. Aku membacanya seksama.
"Hahaha... Gila. Mas, aku diajak Dwi ketemuan malam ini juga. Cuma kami berdua. Kalau aku gak mau, dia bakal batalin pesanan ratusan jilbab eksklusif yang rencananya aku launching pekan depan. Gila memang nih Dwi. Boleh, Mas?" tanyaku.
"Yah, Dek. Aku pengen kita nikmatin waktu-waktu berdua tanpa diganggu orang selagi baru nikah." Wajah Mas Priyo berubah cemberut.
"Jadi gak boleh?"
"Ya terpaksa Mas bolehin. Daripada kamu kehilangan prospek bisnis."
"Baguuuus..." Aku membatin. Matrenya makin keliatan. Sudah berani mengorbankan waktu berkualitas bersama istrinya demi uang.
"Alhamdulillah. Makasih, Mas. Gak lama kok. Dia setuju waktunya dimajukan sore ini. Paling lama jam 7 aku sudah di rumah."
"Ya, jaga diri ya. Gimana nih, kamu mau dianterin ke rumah dulu apa langsung dianter ke tempat ketemuan?"
"Langsung ke tempat pertemuan aja. Sabar ya, Mas. Maaf."
"Gak apa-apa."
Mobil yang kami tumpangi pun berputar arah.
*
Tapi malam itu aku mengingkari janji. Jam setengah sepuluh baru sampai rumah. Sejak sore sampai malam Mas Priyo berkali-kali menghubungi aku. Hingga panggilannya aku acuhkan.
Sampai di dalam rumah, aku mendapatinya bermuka masam. Sedari tadi hanya seorang diri di bangunan dua lantai seluas 150 x 100 itu.
Rencananya selama tiga hari tidak boleh ada orang lain di rumah kami. Beres-beres biar kami yang mengerjakan. Bulan madu hemat di masa pandemi.
Untungnya dia sudah makan dengan memesan lewat daring. Setelah membukakan pintu, ia hanya memunggungiku lalu berjalan ke arah kamar. Berbaring di atas kasur dengan badan membelakangi. Setiap pertanyaan hanya dijawab, "hmmm...". Tak mau mengarahkan wajahnya kepadaku.
Ya sudah, aku pun berinisiatif memeluk badannya yang hanya mengenakan singlet dan celana pendek dari belakang. Namun tangannya menepis.
"Udah ah, sana."
"Maaf ya, Mas. Jangan ngambek doong..." Aku mencoba mengelitiki badannya.
"Awaaas...."
Plaak... Ayunan tangannya mengenai wajahku. Sakit. Dan aku terperangah.
Baru menikah saja sudah berani main tangan. Bagaimana kalau sudah satu bulan, satu tahun? Dan sampai kapan aku harus menunggu orang tuanya meninggal untuk menyelesaikan missiku? Bisakah aku bertahan?
"Mas... Kok aku ditampar?" Tanyaku.
*
CHAPTER 41>>“Fuck! Fuck!! Fuck!!!”Each calls kept going straight into voicemails. “Shit! What have I done?!” I spiralled further into panic.Perhaps I should call Leon instead. Chances are my father is already going off on him somehow- ‘cause what would explain the sudden cut off from reaching him.The call to Leon went through and I waited for him to answer in a dreadful silence. He didn’t, which is really weird for he never snubs or ignore my call. I dialled him back the second time.He picked, and I nearly exploded from my sigh of relief.“I’m currently in a meeting, little bird. Mind if I call you back in a short while?” he demanded calmly.Sadly, this can’t wait. “I mistakenly told dad about us,” I informed in a shaky voice.He went silent for a while, then came in a curt response. “Give me few minutes to wrap this up,” he said and hung up.Could he fix this somehow? If only dad had just calm down and hear me out. I knew he’d never approve of whatever I wanted with his bes
Chapter 40 >>It’s been hours now since I got fucked hard in front of a corpse and was sent home afterwards. He stayed behind on the excuse that he needed to clean up the mess. I had the time to think and reflect once more about it all. He really did just murder a man because I intended to let the man touch me. Leon. Calm and the deadliest shade of silence. He gave no reaction back when I declared my intention, and decided the best way to respond was to traumatize me instead. I’ve never seen a murder; never watched someone kill another live in front of me before. I saw that, and I don’t think I’m forgetting soon. Not after he made me watch the corpse as he fucked me out of my senses. I think I need help. Because I shouldn’t be in this house. I should be gone- running far away from him; not looking forward to his arrival. Or patiently seated in bed with my back against the board. My phone rang beside me on the bed, I glanced down at the screen to check out who the caller
Chapter 39Gina’s point of view I hated myself. Hated the way I limped feral to the feelings attained when he came close with his hands on me. Wasn’t I the one who wanted to get away from him? The one who called him a monster and begged him to let me go. I promised that I wasn’t going to justify his actions. Yet here I am, blaming myself for poking the beast as he guided me on my knees. My hands were still roped to the string attached to my neck. What could actually be his plan for me this midnight? “Do you still wanna fuck him?” His voice whispered directly into my left ear, low and guttural before he snacked on my earlobe cautiously. I opened my eyes to stare at the corpse glaring out in my front. Unable to let the horror sink in when a finger rubbed against my soaked pussy. Heat throbbed within my system and I ached badly for him all over. He pushed the finger in, a nudge at the sharpest sensation that tipped off my network. “Do you still craved a taste of his dick?” His
Chapter 38 >> Light gained on my consciousness, my sights felt sore and vision slowly seeped through my lashes. A strange peace lingered, and the sensation was equally throbbing. I examined my position, observing the rope that tied around my neck down to my both hands. And that wasn’t all. I’ve been stripped off my clothing, and was laid stark naked on the bed with no covering in sight. “What’s going on?” I whispered out to myself, or to anyone around that could help me with an answer. A sound creaked out below me, and when I forced my head forward to take a peak. Leon stood with his back against me and his attention focused on the body seated on a chair in front of him. His back view stared at me, tempting. Like I wouldn’t mind running my tongue all over that broad, well shaped shoulders of his, tapering smoothly down to his muscular torso.Gosh! How could a spine be this straight, and skin this smooth. Or those defined shoulder blades, and the V-shape that ran along his p
Chapter 16 >>>Locating Leon was a bit complex since I forgot exactly where I left him standing and talking to one of his colleagues or whoever that man was to him. Lourd and I parted ways once he was done briefing me on his plans and expected me to go spy on Leon like his little bitch. I c
Chapter 15 >>>> “Excuse me.” He attempted to walk off when I purposely shifted to block his path. “What just happened?” I squinted at him, feigning my very best act of ignorance. He halted, avoiding eye contact with me still. “Is it my date? Because I don’t want to believe that you’ve sud
Chapter 13 >>>>I was an aching wreck by the time we arrived at the boutique. He had me in shambles. Moaning, biting hard on my lips, pushing my head hard on the seat’s headboard. It felt like heaven, but swift and improperly managed. And all I had were his fingers deep inside of me. What
Chapter 14 >>>Night fell through the sky and it was time for the party. I was also done dressing. I had on one of the dresses bought today at the store. The gown was off-shoulder, silver colored and concealed in a sparkling sequins all over. Stunning beads were also added for additional daz






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
commentaires