LOGINdemon girl looks for who she is then is challenged by multiple hunters, how will she discover herself while she discovers new love
View More“Buka pakaianmu!”
Perintah tegas dari seorang pria di hadapannya sontak membuat Ariana mengadahkan kepalanya.
“Ta-tapi, Tuan—”
“Jangan pura-pura lupa dengan apa yang sudah kuberikan padamu, Ariana.” Jason memotong ucapan gugup Ariana dan mengingatkan apa yang sudah dia berikan saat memohon agar membantunya membayar utang ke rentenir.
"Buka bajumu, semuanya. Tanpa ada yang tersisa satu pun!” perintahnya lagi dengan suara yang lebih tegas.
Dengan tangan gemetar, Ariana akhirnya melucuti pakaian pembantu yang dia kenakan, rok panjang hitam dan kaus sedikit longgar dengan hati-hati.
**
Pintu utama dibukakan oleh seorang pelayan senior, wanita paruh baya bernama Berta. “Ariana?”
Ariana menoleh dengan cepat ke arah wanita paruh baya yang memanggilnya.
"Masuklah. Tuan Jason ada di dalam. Kau akan memulai dengan membantu di ruang makan, lalu nanti aku jelaskan pekerjaanmu apa saja di sini," katanya dengan singkat.
Ariana mengangguk dengan patuh. Aroma kayu mengisi ruangan bercampur dengan wangi samar parfum maskulin yang seolah menandai setiap sudut rumah itu saat dia masuk ke dalam.
Belum sempat Ariana melangkah lebih jauh, suara pecahan kaca memecah keheningan.
Prangg!
Tubuh Ariana refleks menegang. Suara itu datang dari arah dapur. Dia melirik Berta yang langsung bergegas dan Ariana pun mengikutinya.
Sesampainya di dapur, pemandangan yang dia lihat membuatnya terpaku.
Seorang pelayan pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang sisa piring yang tinggal setengah utuh.
Di hadapannya berdiri Jason, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Tatapannya menusuk, dingin seperti bilah pisau yang baru diasah.
“Aku sudah bilang padamu, hati-hati! Berapa kali aku harus mengulanginya?” suaranya rendah, tapi sarat amarah yang terkontrol.
"T-tuan, saya mohon maaf. Saya tidak sengaja. Tolong jangan pecat saya. Sa-saya … saya sebatang kara di kota ini. Tidak punya siapa-siapa. Pekerjaan ini satu-satunya yang saya punya," pelayan itu memohon dengan suara bergetar.
Ariana berdiri di ambang pintu menahan napasnya. Matanya berpindah dari wajah panik si pelayan ke tatapan dingin Jason yang tak sedikit pun menunjukkan belas kasihan.
“Kecelakaan bisa dimaklumi sekali. Dua kali masih bisa kutoleransi. Tapi tiga kali? Itu bukan kecelakaan. Itu kelalaian,” kata Jason dengan tegas bahkan matanya tidak berkedip sekali pun.
Pelayan itu menunduk menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Jason. “Saya … saya akan ganti rugi, Tuan. Tolong maafkan saya.”
Jason menatapnya lama kemudian menghela napas. “Bersihkan ini. Kita akan bicarakan nanti di ruang kerja.”
Suaranya memang tidak tinggi, tapi cukup membuat bulu kuduk Ariana meremang. Ada kekuasaan yang begitu kental dalam nada itu, seperti tidak ada ruang untuk perlawanan.
Jason berbalik dan sejenak pandangannya bertemu mata Ariana. Tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat tubuhnya kaku.
Wanita berusia 24 tahun itu hanya bisa menunduk dengan cepat, berharap tatapan itu tidak mengandung penilaian buruk terhadap dirinya.
**
Sisa pagi itu Ariana habiskan untuk membiasakan diri dengan ruang makan yang luas.
Di meja makan panjang yang mengilap, Ethan—anak Jason yang baru berusia tiga tahun—sudah duduk di kursi khususnya. Bocah itu berwajah manis dengan mata besar yang memandang penuh rasa ingin tahu.
Ariana tersenyum tipis dan duduk di kursi kecil di sampingnya. "Tuan Ethan, mau makan apa dulu?" tanyanya lembut.
“Sup,” jawab Ethan dengan suara pelan.
Ariana meraih sendok kecil dan mulai menyuapkan sup hangat itu ke mulut mungilnya. Ethan tampak lahap, meski sesekali menoleh ke arah mainan di ujung meja.
Sesekali Ariana mencuri pandang ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda Jason di ruangan itu, tapi bayangan tatapannya di dapur tadi terus menghantui pikirannya.
Begitu tegas, begitu dingin. Bagaimana bisa orang hidup di bawah tatapan seperti itu? batinnya.
Namun ia mencoba untuk tetap fokus. Tangannya terampil memotong roti menjadi potongan kecil, lalu menyuapkan ke Ethan.
Bocah itu mengunyah sambil tersenyum tipis, dan entah kenapa senyum itu sedikit menghangatkan hati Ariana di tengah ketegangan pagi ini.
**
Siang menjelang, dan Ariana mendapat giliran membantu menyiapkan makan siang di dapur. Ia membawa nampan berisi buah potong untuk dibawa ke ruang makan.
Namun saat melangkah keluar dari pintu dapur, tanpa sengaja dia menabrak sesuatu—atau seseorang.
“Aahh!”
Tubuhnya terhuyung ke depan dan sebelum sempat jatuh, sebuah tangan kuat menahan lengannya.
Ariana mendongak dan jantungnya serasa berhenti. Jason berdiri di hadapannya, tubuh tinggi tegapnya begitu dekat hingga Ariana bisa merasakan aroma parfumnya yang hangat namun tajam.
Tubuhnya masih setengah bersandar di dada Jason, merasakan detak jantung pria itu yang stabil, kontras dengan detaknya sendiri yang tak beraturan.
“Mau ke mana?” tanya Jason dengan nada rendahnya.
“S-saya … saya hendak membawakan buah potong, Tuan,” jawab Ariana terbata dan buru-buru dia menegakkan tubuh dan mundur selangkah menjauh dari sang tuan.
Jason menatapnya lama dengan tatapan datarnya dia berkata, “Berhati-hatilah saat berjalan. Di rumah ini, aku tidak suka orang ceroboh.”
I stand by the door. “What?” Race doesn’t look at me at first. His gaze is fixed past my shoulder, toward the bathroom. “Your shower,” he says. “You used half my body wash.” I release a slow breath. Fuck. For a second, I thought— “Oh.” I force a shrug. “Had to wash the dirt and blood off from the fight.” I walk over to the door. “Thanks for helping me,” I say, already stepping away. “I’ll be leaving now.” The air changes and he’s in front of me before I can blink. “You aren’t leaving.” The finality in his tone snaps something ugly in my chest. A statement carved in stone. My spine stiffens. “Move.” He doesn’t. He doesn’t say anything. I snap, temper flaring. “You think you own me now?” I reach for the handle. Pain flashes—sharp and sudden—as he grips my wrist and twists just enough to remind me how easily he could break it. I suck in a breath but I don’t cry out. “Don’t,” I say voice low and shaking with fury. “Fucking. Touch. Me.” His grip tighte
I wake to the smell of citrus and smoke. For a moment, I think I’m still dreaming. My body is warm. Too warm. The air feels heavy, charged, like something has already happened and I missed it. When I finally open my eyes, I know instantly. This isn’t my bed. I push myself up slowly, my pulse kicking harder with each second as my gaze drags across the room. Dark walls. Minimal light. Shadows clinging to the corners. Books littering the floor. Race’s room. The realization settles in my chest like a held breath. I run my hands through his sheets, grounding myself in the sensation. Silk-smooth. Cool. Clean. Everything here is black and gray, sharp and intentional. Masculine. Him. I check myself quickly and release a quiet sigh when I see I’m still dressed in the same clothes as last night. At least he didn’t cross that line. The hair on my arms lifts anyway. I feel him before I hear him. “Didn’t know what you’d do to me if I changed you out of those clothes.” My head snaps le
*Flash back to when they were entering the portal to the underworld.* — Chyne watches Race as she enters the portal. And I watch her. Her head disappears and I face him. “How did u find me?” “Let’s skip the pleasantries.” Calm and collected. The mask he always wore. This should be interesting. I eye him expectingly. “While you were playing .. house,” He pauses and gives me a look. The hairs on my arms stand under my clothes and I fight the urge to shove him. Has he been watching Chyne as well? Or just me? And for how long. “Ive been busy.. the king seems to have made himself disappear.” He eyes me. As if he might catch something on my face. This is news to me but I won’t show my surprise. “Didn’t know you were into watching.” I say with indifference, placing my hands in my pocket. “Nothing worth staying up for.” He smirks when my skins starts to smoke of its own. Asshole. “Made himself disappear?” I repeat changing the subject looking down the portal. What is
Damien’s POV The heat hits first. Not the comforting kind—the kind that crawls under my skin, restless, wrong. I look up from the book in front of me and shot to my feet. She’s hurt. The thought slams into me with enough force to crack stone. I sprint out the room. The corridors at Races place blur as I cut through them, steam bleeding off my skin in sharp bursts. Soldiers scatter. Someone tries to speak to me. I don’t slow. By the time I reach Race from teleporting the first thing I pick up is the smell of burned magic, it’s thick in the air. Holy fire. My chest tightens. Race stands near the boulders, calm as ever, like the ground didn’t just witness a slaughter. He’s cradling her against him—too close, too familiar. Her body is limp, head tipped back, dried blood at her jaw. Something in me snaps. “What did you do?” My voice isn’t loud, but the ground beneath my feet hisses. Race looks up slowly. Annoyed. “Saved her.” I’m in front of him before I realize I’ve moved. H
We all stand in the room in tense silence. “So are we just going to stand here, or am I going to be brought to my cell?” I look between the males, but they’re locked in their own staring contest. Damien’s fuming; the other is completely at ease. What’s with these two? “Hello?” I try again, and
“..where are you going?” I keep on walking out the door ignoring his question. I’ll need to teach him a lesson on minding his business. Taking a deep breath I make my way to Kenny’s house. When in need call a friend. Right? It’s pretty late, hadn’t realized the day had passed until I walked ou
Chyne’s POV This dumbfuck of a hunter is starting to get on my last nerve.” Stop avoiding my question.” I tell him through gritted teeth but if I’m being honest I’m starting to lose interest really quick in this guy. Such a loser killed my friend and there’s not much I can do about it besides
Damien’s POV I wake up to the sun in my eyes. Fuck my head is pounding. When I try to get up I can’t. My eyes fly open as I feel my hands and feet have been tied to.. the bed frame ? I lay my head back and sigh. Fuck. I try to swallow but my throat still feels raw. She snapped my neck. When w






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.