Share

chapter 18

Auteur: Senjaku
last update Date de publication: 2026-05-17 19:18:08

"Ra.."

Racaunya begitu indah terdengar. Sesekali ku gigit kecil bibir bawahnya yang tebal, hingga pria-ku mengaduh.

Puas meremas dadaku, mas Aditya menjatuhkan tubuhku ke sofa. Melahap dua gundukan didadaku, memintir bagian ujungnya. Meninggalkan banyak jejak merah di sana. Menyxsu seperti si kecil Arsya, adalah hobinya akhir -akhir ini. Rasanya begitu nikmat, tak bisa tergambarkan. sudah sangat basah dibawah sana. Aku ingin kenikmatan yang lebih dari ini. Tapi tidak, mas Aditya berjanji penyat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 19

    "saya terima nikah dan kawinnya Zahra Adelia binti bapak sobirin dengan mas kawin seperangkat perhiasan 24karat seberat 100gram. Dibayar tunai!"Dengan suara lantang, satu tarikan nafas Aditya hermawan mengucapkan ijab qobul."Bagaimana saksi? Sah..??" Tanya penghulu kepada para saksi nikah yang sudah hadir."SAAAAHHHH..!!" Jawab semuanya, serentak.Pak penghulu meminta zahra dan suami menandatangani surat nikah masing - masing. Setelahnya, Aditya memasangkan cincin kawin dijari manis istrinya. Bergantian, Zahra pun menyematkan cincin dijari manis Aditya. Lalu, sesuai arahan pemandu acara Aditya mencium kening istrinya penuh haru.Bulir bening menetes diujung mata. Akhirnya setelah melewati masa yang menyakitkan, kini kebahagiaan menyapa jua.Dengan menunjukkan cincin dijari manis dan buku nikah, semua kamera siap mengambil gambar terbaik sepasang pengantin cantik dan tampan. Ratusan pasang mata menuju pada mantan janda dan juga duda yang kini sudah sah menjadi suami istri.Mata Za

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 18

    "Ra.."Racaunya begitu indah terdengar. Sesekali ku gigit kecil bibir bawahnya yang tebal, hingga pria-ku mengaduh.Puas meremas dadaku, mas Aditya menjatuhkan tubuhku ke sofa. Melahap dua gundukan didadaku, memintir bagian ujungnya. Meninggalkan banyak jejak merah di sana. Menyxsu seperti si kecil Arsya, adalah hobinya akhir -akhir ini. Rasanya begitu nikmat, tak bisa tergambarkan. sudah sangat basah dibawah sana. Aku ingin kenikmatan yang lebih dari ini. Tapi tidak, mas Aditya berjanji penyatuan itu akan kami lakukan lagi nanti di malam pertama.Ku ubah posisiku. Mas Aditya ku minta rileks disofa, aku yang jongkok dibawah. Ku buka handuk putih yang menutupi sesuatu miliknya yang sudah menegang sempurna dipenuhi urat - urat terpampang nyats. Tanpa diminta, ku selesaikan tugasku memuaskannya."Aahhh..enak baby, ehmm"Mulutku terasa begitu penuh karena miliknya yang super jumbo. Aku terus memaju mundurkan nya menambah ritmeku hingga tubuhnya mengejang suaranya mengerang, bagian intinya

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 17

    "Mau cari siapa?" Tanya mas Aditya pada seseorang yang sedari tadi menekan bel di depan rumah."Emmm mana Zahra?" Alih - alih menjawab, pria itu justru balik bertanya.Mas Aditya mengerutkan dahinya, sementara aku berdiri tidak jauh dari mereka berada. Ku peluk erat tubuh Arsya yang meringkuk digendongan.Sepertinya aku kenal suara itu. Tapi untuk apa laki - laki itu mencariku? Dari mana dia tahu alamat kami disini."Siapa anda? Ada urusan apa mencari Zahra?" Mas Aditya mulai meninggikan suaranya. Tatapannya sinis tak bersahabat."Sampaikan saja ada yang menunggunya di sini" jawabnya, semakin membuat panas hati si pemilik rumah."Aku tidak akan menyuruhnya menemui sembarang orang. Silahkan saja anda pergi dari sini. Kami masih banyak urusan" jawab mas Aditya lalu menutup pintu rumahnya.BRRAAAKKKKK!!!Tangan kekar pria itu mendorong daun pintu yang baru saja akan ditutup. Membuat pintu terbanting keras ke tembok. Begitupun yang punya rumah, hampir saja terjatuh kalau tidak bisa menyei

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 16

    "kenapa mama dit?" Tanya pak Hermawan, datang ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari sang anak."Tensi mama naik pa. Biasanya cuma 140/90. Tadi dicek 230/100. Untung masih ketolong. Sepertinya mama sedang ada masalah yang dipikirkan. tapi Aditya gak tahu apa. Tadi sudah coba ditanya, gak mau ngaku"Adit duduk bersama sang ayah didepan kamar rawat ibunya. Sengaja berbicara di luar ruangan, supaya Bu Ine tidak tau perbincangan mereka. Pak Hermawan manggut - manggut mendengar penjelasan anaknya."Apa mama kepikiran masalah pernikahan Aditya ya pa? Sepertinya mama kurang suka dengan zahra""Mama itu ikut apa kata papamu ini dit. Santai saja. Yang penting, kamu harus siap kalau sewaktu - waktu papa memanggilmu untuk bekerja di kantor. Oke?""Siap pa"Hermawan memang tidak punya anak lain, hanya Aditya seorang. Karena itu dirinya ingin Aditya meneruskan perusahaan property miliknya. Padahal dokter adalah profesi impian Aditya sejak masih kecil. Baginya, bertemu dan menolong pasien seti

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 15

    "oeeekk..oeekkk..oeekkk.." terdengar suara tangisan Arsya dari kamar. Membuyarkan lamunanku dan juga mas Adit."Bentar mas, aku susuin Arsya dulu"Biasanya bangun tidur siang, Arsya memang haus dan menagih jatah nenennya. Ku tinggalkan mas Adit sendirian di ruang tv.Kami pun larut dalam pikiran masing - masing. Sebenarnya tidak masalah bagiku, ingin disebut dari kalangan mewah pun pada kenyataannya aku memang dari keluarga biasa saja.Tapi yang ku pikirkan, ada tujuan apa dibalik heboh berita dan konferensi pers pernikahan kami. Apakah pak Hermawan memang benar - benar menerimaku sebagai menantunya. Atau hanya menjadikanku alat untuk menaikkan elektabilitasnya di mata masyarakat."CK.." berdecak aku, karena perang dipikiranku. Ada perasaan yang mengganjal, tak dapat ku ungkapkan.Beres memandikan dan mendandani Arsya, aku pun bersiap menyambut para wartawan dan awak media dengan persiapan serba kilat."Nanti jawabannya yang bagus ya mas.." ucap seorang awak media. Mas Aditya pun meng

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 14

    "Tapi om sudah berjanji untuk memberikan Aditya pada saya. Sekarang apa semua ini? Pernikahan dengan gadis rendahan, sama sekali tidak selevel sama saya" Silvia tersenyum penuh hinaan. Tangannya mencengkeram tumbukan kertas di depan Hermawan."Tenang cantik, kalau pun tidak mendapatkan Aditya bukan kah kamu bisa bersenang - senang sama ayahnya yang tidak kalah tampan ini haa haa.." tangan Hermawan menarik silvia, hingga kini duduk diatas pangkuannya. Mata mereka beradu, Silvia menatap nyalang masih menahan arahnya yang membara. Sementara tangan Hermawan, mulai nakal menggerayai bagian atas Silvia."Mengadukan kelakuan kita pada Tante Ine, hanya akan membuatmu semakin hilang kepercayaan darinya. Dan kesempatanmu untuk meraih Aditya akan semakin sulit. Nikmati saja saat - saat bersamaku. Siapa tahu, suatu saat kamu bisa menjadi istriku kalau kamu berani menyingkirkan ine" Hermawan mengedipkan sebelah matanya.Sementara Silvia, perempuan cerdik yang tidak ingin kalah dalam hidupnya. Mul

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status