登入"karena, kasus pembunuhan terhadap Oma saya!!" jawab Aditya, Membuat semua orang diruangan itu hampir tak percaya. Si Dokter tampan, datang tepat waktu setelah menyelesaikan pekerjaannya di meja operasi. Ketampanan dan kharisma Aditya, membuat semua kamera tak berhenti menyorotnya. Anak dan ayah itu, kini duduk bersanding, di depan para pemburu berita. "Hah? apa iya?" Suara sumbang dan pertanyaan - pertanyaan, memenuhi ruangan itu seketika. "Apa anda yakin, ini bukan akal - akalan ayah anda untuk menyingkirkan Bu ine? Yaitu ibu anda sendiri. seperti yang tertulis di laman - laman gosip beberapa waktu ini?" Tanya seorang pencari berita lainnya, kepada Aditya. "Selama saya hidup, belum pernah saya melihat ayah saya berbuat seculas itu kepada orang lain. Apalagi, kepada istrinya sendiri. Jadi saya pastikan, semua gosip di luaran itu tidaklah benar." jawab Aditya, membuat hati sang ayah tersentuh. Walaupun dia cukup bejat menjadi manusia, ternyata dia tidak gagal menjadi seorang ayah
"Lo dukun ya, sok tau banget!" Gurau Aditya, menutupi kegalauan hatinya. "Ya gak gitu juga. Gue kan Connan! Lo tau kemampuan penyelidikan gue kan?" Timpal aryo. "Eh tapi serius ini. Ada apa sih? Siap gue kalau ada tugas lagi!" Imbuhnya lagi. "Iya ni, yok! Gue mau, lo cari tau orang yang ada di Kk itu. Ayu Sarah!" Pinta, aditya. "Dia anak dari kyai terkenal, di Sumedang sih ceritanya. Tapi di usir keluarganya, gara - gara di ceraiin sama bokap gue. Bukan gara - gara di ceraiin ya sih, tapi lebih ke alasan diceraikannya itu. Katanya sudah bikin malu keluarganya begitu. Gue mau lu cari alamat orang tua atau keluarganya di Sumedang. Cari tau juga, dimana perempuan itu tinggal. Karena kemungkinan besar, dia nyokap gue yok. Minta tolong banget ya yok?!" Ujar Aditya, kepada Aryo. "Iya, gue ngerti. Lo tenang aja, detik ini juga gue gas. Biar rasa penasaran Lo, segera terobati. Oke?!" Hibur Aryo, yang sebenarnya ikut prihatin dengan cerita hidup Aditya yang tidak semua orang tahu. "Oke, gu
"kalau dia bukan ibuku, lalu siapa?" Tanya Aditya memandangi kedua ayah dan ibunya bergantian. "Dimana pa, ibu kandungku?" Imbuhnya. Kini menatap tajam, kearah ayahnya. "Pa!" Teriak Ine, kala sang suami hendak berucap. Namun bagi hermawan, sudah cukup menutupi rahasia ini sejak lama dari putranya. "Entahlah dit, papa juga tidak tau. Sebenarnya, ibumu anak seorang kyai dikampungnya, di subang. Tapi karena satu alasan, maka ibumu di usir dari kediaman orang tuanya. Setelah itu, papa tidak tau lagi kabarnya gimana" ujar Hermawan. Aditya memijit pelipisnya yang mulai menegang. Lalu ia berkata "ya Allah, pa! Ada ya, manusia kaya papa. Papa ini laki - laki apa banci sih?!" "Emang kesalahan ibu sefatal apa? Sampai dia pantas menerima perlakuan itu dari papa?" Tanya Aditya kemudian. Menghela nafas panjang, Hermawan bercerita "ibumu.. ada main dengan orang lain!" Aditya terdiam, sejenak. Bertanya - tanya, apakah benar dia terlahir dari seorang wanita seperti yang di maksud oleh sang ayah
"itu hanya Paracetamol, aku memberikannya supaya demam ibu turun, pa! percaya sama aku deh! Pasti ada yang tidak suka sama aku atau sama keluarga kita mungkin. Mereka ingin, kita terpecah belah pa" cicit Ine, meraih tangan suaminya namun sekali lagi di hempas. "Adit..! Sayang..! Percaya ya nak sama mama. Gak mungkin mama ngelakuin itu, sama Oma kamu. Apalagi sama Arsya. Mama sayang sama kalian" ucap Ine, pada Aditya. "Atau, ini semua pasti karena istrimu, iya kan? Kemarin dia memang ke rumah, dan mama marahin karena dia nuduh mama yang sudah bikin Oma kamu sakit" tanya Ine kepada Aditya, "betul kan, kamu yang sudah menghasut anak dan suami saya?" Nyalang one menatap Zahra. "Kamu tega sama ibumu sendiri?" Ucap ine lagi. "Dia bukan anakmu! Kita jujur saja, mulai sekarang! Jangan kau jadikan anakku sebagai alat tamengmu. Agar kau selalu selamat dari semua kesalahan, hanya karena kau membesarkannya" selah Hermawan, sebelum Aditya menjawab cicitan Ine padanya. Terdiam, Ine kini duduk
Braakkk braakkk Braakkk braakkk Ine meradang, memaksa para petugas kepolisian untuk mengeluarkan dirinya dari sel yang membelenggu."pak polisi! saya mau telpon anak dan suami saya. Tolong bantu saya pak polisi!!" Teriaknya. "Sabar Bu, ini sudah malam. Besok kita bantu, untuk menghubungi keluarganya. Sekarang tidur saja dulu!" Jawab seorang petugas. "Ini hanya salah paham. Mereka pasti, masih mau memaafkan aku" gumamnya, meringkuk di sudut ruangan. "Aku, sudah menghabiskan masa mudaku untuk mereka. Mana boleh berakhir seperti ini" racaunya. Sementara, diluar ruangan ada seorang pria bertubuh besar berumur 5 tahun lebih tua dari pada Hermawan. Mencari adiknya yang bernama Ine manganti sukoco. "Sudah malam pak, besok pagi saja kesini lagi" ucap petugas lapas. Ia pun memakai kaca mata hitamnya kembali, lalu pulang. *** "Sorry bro, tadi gue gak datang ke pemakaman Oma. Ada jadwal operasi, gue" ucap zio pada sambungan video call bersama Aditya dan kawan - kawannya. "Iye, gak apa - ap
"pantas saja, dia tidak pernah mencari aku..." Gumam Silvia. Menatap dari kejauhan, pria yang selama ini terus saja memaksa untuk mencintainya namun sekarang Silvia lah yang justru merasa kehilangan tanpa kehadirannya. "Pa, Adit pulang duluan ya. Kasihan Zahra, kecapekan." Pamit Aditya, setelah semua orang pulang dari pemakaman. "Iya, nanti malam ke rumah ya. Ikut ngaji, sekalian kita obrolin urusan mama kamu" jawab Hermawan, masih enggan pergi meninggalkan ibunya yang tertimbun Tanah merah bertabur bunga melati dan mawar merah kesukaan. "Hai, Om" suara wanita yang sangat di kenalnya, membuat Hermawan mengangkat kepalanya. Mendongak, ke arah sumber suara. Silvia tersenyum pada pria paruh baya yang menjadi tambatan hatinya sekarang. "Silvia, turut berduka cita. Semoga Oma, mendapat tempat terbaik disisi Tuhan ya" ucap Silvia, membuat Hermawan berkaca - kaca. Tak bisa di pungkiri, kedatangan Silvia bagaikan air hujan yang datang di musim kemarau. Hatinya yang terombang - ambing mera







