เข้าสู่ระบบ"om darma.." panggilku pelan saat pria itu berdiri di depanku. Dia tersenyum mengulurkan tangannya padaku. Ku sambut uluran tangannya, lalu ku cium takdzim punggung tangannya yang kekar dan wangi.
Entah kenapa aku merasa, tatapan mata om darma tidak lepas dari bagian dadaku sejak tadi. Naik turun pria yang seumuran ayah ini mengamati aku. "Zahra, ada apa kesini? Tumben.." tanyanya kemudian. Membuyarkan pikiran burukku pada om ku sendiri. "Oh ini om, Zahra kesini sebenarnya mau pinjam uang untuk operasi ayah. Zahra janji akan menggantinya om" "Mas Sobirin sakit apa? Kenapa sampai operasi?" Tanya-nya sambil meraih kedua tanganku dielus- elusnya. Awalnya aku merasa aneh, tapi mungkin om darman ikut prihatin atas apa yang menimpa keluargaku. "Ayah kena serangan jantung om. Apa om bisa meminjami uang? Zahra mohon om. Kali ini tolongin Zahra" mohonku padanya. "Bisa, kamu bahkan tidak harus mengembalikannya. Om akan bantu kamu secara cuma - cuma. Asalkan.." om darman menggantung ucapannya. Sementara aku seperti dikejar waktu. Aku harus segera mendapatkan uang itu, supaya ayahku bisa secepatnya dioperasi. "Asalkan apa om..?" Tanyaku penasaran. "Asalkan kamu mau menyenangkan om.." ucapnya dengan wajah bajingan yang kehausan hasrat nafsunya. Tangannya dengan sigap meraih tengkuk leherku, bibirnya melesat hendak melumatku. Namun aku mendorong dadanya agar menjauhiku. Menjijikkan sekali kelakuan om darma. Dia bahkan tega berfikir nyalang pada keponakannya sendiri yang harusnya dia anggap seperti anak sendiri. "Ayolah Zahra, bukannya kamu juga sudah janda. Om ingin sekali menikmati rasanya janda kecil yang cantik sepertimu. Tante Ela sudah tidak mampu lagi membahagiakan om diranjang" ucapnya terengah-engah menahan birahinya yang tak juga ku berikan. Tante Ela adalah istri om darman. Dia juga seorang wanita karir yang sibuk bekerja sama seperti suaminya. Mungkin karena kesibukan masing - masing, om darman tak lagi dapat kepuasan dari istrinya. "ISTIGHFAR OM!!" Teriakku, namun tangan kekarnya membekap mulutku. Om darma mengunci tubuhku, hingga aku terjatuh ke sofa. Pria beringas itu mulai menggagahi tubuh mungilku. Air mataku berbaris keluar membanjiri pipi. Bagaimana aku harus membebaskan diri dari manusia berhati binatang ini. Dengan kasar om darma membuka kancing bajuku satu demi satu. BRUUUAAAAK!!!!BRUUUAAAK!!! "MAAASSS, BAJINGAN KAMU MAS!!" Tante Ela berkali - kali memukulkan tas jinjingnya pada tubuh om darman hingga ia menghentikan kelakuan bejatnya padaku. Terimakasih tuhan, sudah mengirim Tante Ela untuk menyelamatkan aku dari kebejatan suaminya. Ku hempas tubuh om darman kasa, lalu berdiri dibelakang Tante Ela. Ku kancingkan beberapa kancing bajuku yang tadi dilepas paksa olehnya. Nafasku naik turun tersengal karena tadi ditindih tubuh sebesar itu. "Apa - apaan ini mas? Jadi gini kelakuanmu dibelakang aku?! Sama keponakan kamu sendiri loh mas kamu begitu. Hah!!" Tante Ela berteriak frustasi. "Sa sayang, maafkan aku sayang. Mas khilaf.." "Tadi Zahra yang memaksa aku melakukan itu sayang" Si pria bejat itu berbalik menuduhku. Tega sekali dia melakukan ini padaku. "Tidak Tante, mana mungkin Zahra berbuat seperti itu" sanggahku. "Jangan percaya sama dia sayang. Dia butuh uang untuk biaya operasi ayahnya. Makanya dia kesini untuk meminta uang padaku. Aku sudah tolak kemauannya. Tapi dia memaksa aku melakukan itu, yang penting dia dapat uang sayang. Maafkan mas ya..ampun sayang, mas khilaf karena rayuan dia" ucap om darman, berlutut memohon ampun. Sialnya, Tante Ela percaya pada rayuan om darman. Dia membalik badannya, sorot matanya bak elang yang hendak memangsa ku. "Ti Ti tidak Tante, om darman bohong. Tante harus percaya sama aku" "Lalu, untuk apa kamu kesini? Kenapa tiba - tiba kamu berada dirumah saya dan melakukan hal menjijikan itu dengan suami saya? Katakan!" Gigi Tante Ela gemerutuk, aku sungguh takut dibuatnya. Tangannya bersedekah didepan dada, matanya merah nyalang menatapku. "Zahra butuh uang untuk operasi ayah Tante.." mukaku menunduk, takut ucapanku justru menjadi bumerang untukku. "Tuh kan, apa yang mas bilang. Bocah licik ini hanya menjebak aku untuk mendapatkan uang sayang. Percaya kan sama aku? Aku gak mungkin bohong.." om darman meyakinkan istrinya. PLAAAAKKKKK!! PLAAAAAKKKK!! Tamparan demi tamparan tente Ela meninggalkan bekas merah diwajahku. "Bohong Tante. Zahra tidak mungkin melakukan hal serendah itu meskipun Zahra sangat butuh uang. Zahra memang butuh uang, tapi Zahra mau pinjam, bukan meminta apalagi menjual diri tan. nanti kalau sudah ada uangnya akan Zahra kembalikan. Tolong Zahra Tante. Om darman sudah fitnah Zahra" mohonku pada Tante Ela. Tante Ela tersenyum sinis menatapku. Tangan kanannya menarik rambut panjangku dengan kuat. "Ahssss..sakit Tante" rintihku, coba melepas tangan Tante Ela. "Sakit ya? Dasar janda gatal! Kamu pikir gimana dengan hatiku melihat kejadian tadi didepan mata kepalaku sendiri. Ini belum seberapa dengan luka yang kau gores dihatiku asal kau tahu" Tante Ela memperkuat tarikannya padaku lalu menghempaskannya, hingga aku tersungkur dilantai. Sementara om darman tersenyum menang menatap kesakitan ku. "Maafin Zahra Tante.." rintihku memohon pada Tante Ela. "Sekarang juga, cepat keluar dari rumah saya!! Sebelum saya panggil polisi dan membuatmu membusuk dipenjara. Dan satu lagi, jangan harap saya dan mas darman akan memberikanmu uang meski seperak. Biarkan saja ayahmu yang penyakitan itu menyusul ibumu ke neraka. Daripada dia harus mengetahui kenyataan, kalau anaknya yang janda ini ternya penggoda laki orang" teriaknya, tampak muak melihatku. "Permisi Bu bos" security yang tadi mengantarku masuk ke ruangan ini, tiba - tiba datang. "Cepat bawa dia keluar. Saya jijik melihatnya ada dirumah saya!!" Perintah Tante ela pada security itu. "Siap Bu bos" "Maaf neng, mari ikut saya" kata security, tangannya menarik lenganku untuk segera keluar dari rumah itu. Sekuat tenaga ku kibas tangan security itu. Rasanya merinding dan jijik dipegang laki - laki asing setelah kejadian oleh om darma tadi. "Jangan pegang saya! Saya bisa keluar sendiri!" Ketusku pada security yang sebenarnya hanya menjalankan pekerjaannya. "Ingat ya Tante, saya bersumpah kalau saya bukan penggoda laki orang. Dan hati - hati saja dengan kelakuan suami Tante. Semoga suatu saat Allah kasih Tante tahu, sebejat apa suami Tante ini. Saya permisi!" Aku melangkahkan kaki dengan rambut acak - acakan dan pakaianku yang tampak koyak. Mataku perih menahan tetesan yang terus memaksa keluar. Harus kemana lagi aku meminta bantuan. Satu - satunya yang terpikir olehku adalah surat rumah milik ayah. Haruskah aku menggadaikannya. Rumah ayah sangat kecil dan reot, pasti digadai juga tidak cukup untuk membayar biaya operasi ayah. Atau aku harus menjual rumah itu, tapi nanti kami mau tinggal dimana. Ya tuhan, tolonglah hambamu ini. Ciiiiiiitttt..!!! Suara rem mobil mendadak mengagetkan aku dari semrawutnya pikiranku . Seseorang sepertinya sangat marah, karena aku menyeberang jalan sambil melamun. "Heh!!! Pakai mata kalau mau nyebrang. Cari mati Lo?!!" Teriak seseorang yang sepertinya ku kenal. Dia dokter jutek yang menangani ayahku di rumah sakit. Tidak salah lagi. Nada bicaranya begitu kaku, kasar, dan arogan. "Maaf.." ucapku lirih, lalu segera berlari melanjutkan langkahku ke samping jalan. Mencari tempat duduk, karena aku sungguh kelelahan. Berjalan kaki lumayan jauh dari rumah om darman, demi mencari angkota umum untuk pulang ke rumah. Mau naik grab sayang uangnya. Aku harus lebih berhemat kali ini. "Heh kamu, sini" teriak seseorang dari mobil yang hendak menabrak aku tadi. "Ada apa dia memanggilku? Dasar dokter jutek tukang marah. Dia pasti belum puas memaki aku. Karena kesalahan kecilku tadi. Hufttt!!" Gerutu ku dalam hati. Dengan malas, aku melangkah ke arahnya. "Masuk! Cepat!" Teriaknya. Namun rasanya aku ragu berdekatan dengan laki- laki setelah kejadian yang menimpaku hari ini. Ku gelengkan kepalaku padanya. "Masuk!!" Teriaknya lagi. Kali ini lebih keras, dan terdengar memaksa. "Maaf dok, saya harus pulang. Ada sesuatu yang harus saya urus" kilahku padanya. "Cepat masuk. Saya mau bicara tentang kesehatan ayah kamu" ucapnya dengan suara lebih rendah dari sebelumnya. Mendengar tentang kesehatan ayah, aku segera menuruti perintahnya. Brummm!!! Pria ini ternyata bukan hanya wajahnya yang jutek. Perlakuannya pun terasa kasar dan menyeramkan. Ditancapnya gas begitu aku masuk mobil. Ingin rasanya ku keluarkan segala bahasa kasar yang sering kudengar saat ayah dan adikku bercanda dirumah. "Aaah ayah, apa yang aku lakukan. Kenapa aku justru berada dimobil dokter gila ini. Bukannya aku harus mencari uang untuk ayah. Apa sebaiknya aku ke rumah mas Surya mencari pinjaman uang" gerutuku dalam hati. "Jadi, ayah saya kenapa lagi dok? Kenapa tadi dokter bilang harus membicarakan tentang kesehatan ayah" tanyaku namun dokter Aditya masih membisu. "Dokter!!" Panggilku. Ku amati dari dekat wajah tampannya yang terkena pantulan sinar matahari dari kaca mobil. Tampan sih, sayangnya jutek. "Iyaaa, saya tidak budek. Saya hanya bingung harus dari mana memulai pembicaraan kita" jawabnya, lalu melipir kesisi kiri jalan dan berhenti didepan sebuah taman kota yang nampak sepi. Hufft..(dokter Aditya dengan gusar membuang nafasnya) "Begini Zahra, kita langsung saja. Saya tahu kamu kesulitan mencari uang untuk biaya operasi ayah kamu. Apa boleh saya tanya sesuatu?" Ucapnya ragu- ragu. Masih dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. "Boleh saja. mau tanya apa?" "Apakah benar kamu seorang janda?" Tanyanya, yang seketika membuatku menatap tajam ke arahnya. Dari mana dia tahu kenyataan ini. Apakah wajahku sungguh terlihat seperti janda. Kalaupun iya, pasti aku lebih terlihat janda miskin dan menyedihkan alih - alih janda terhormat. "Dari mana dokter tahu kalau saya janda?" "Dari Raka. Aku tidak sengaja ngobrol dengan Raka adikmu tadi didepan ruang UGD" "Ya terus kalau saya janda emangnya kenapa? Apa urusan sama dokter? hubungannya dengan biaya operasi ayah saya apa? Saya sudah pusing hari ini, jangan buat saya tambah pusing" teriakku padanya. "Asi kamu masih kkkeluar kan?" Tanya nya ragu, telunjuknya mengarah ke bagian dadaku. PLAAAKKKKK!! Tamparan yang sejak tadi ku tahan, akhirnya bisa mendarat bebas dipipi dokter mesum dan kurang ajar ini. Seketika kedua tanganku ku silangkan didepan dada. Jangan sampai kejadian seperti dengan om darman tadi menimpaku untuk kesekian kalinya. "DASAR DOKTER MESUM!!" Teriakku histeris didalam mobilnya. Sigap tangan sang dokter membungkam mulutku agar aku diam. Namun nahas aku menggigitnya hingga ia lepaskan bekapan tangannya. "Aduuuhhh, sakit gila!" Gerutunya. "Salah siapa?! Jadi dokter kok mesum banget" "Siapa juga yang nafsu sama kamu dasar janda otak mesum" balasnya pada ucapanku. Tangannya menyentil dahiku, hingga aku mengaduh. "Memangnya, kalau masih keluar kenapa? Kalau sudah gak keluar kenapa? Gak tau malu banget jadi laki nanyain begituan!" Sungutku mulai keluar. Malu dan marah mendapat pertanyaan seperti itu. "Aku mau nolongin kamu, supaya bisa membayar biaya rumah sakit ayahmu. Tapi ada syaratnya.." "Apa? Apapun syaratnya akan aku lakukan demi ayah" aku menatapnya serius. Tak sabar mendengar jawaban si dokter galak. Penasaran sekali apa hubungannya Asiku dan pengobatan ayah. "Aku ingin kamu menjadi ibu susu dari anak ku Zahra. Apa kamu mau?" "Hah? T tapi Asiku sudah tidak keluar. Aku hanya hamil sampai usia 6 bulan dokter. Itupun sudah satu tahun yang lalu. Sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Walaupun aku sangat mau, asalkan bisa membayar biaya operasi ayahku" jawabku. "Tidak apa-apa, nanti kita coba dulu. Aku punya obat yang mungkin bisa membantu merangsang asimu keluar lagi. Aku butuh orang baik- baik yang menjadi ibu susu bagi anak aku. Kasihan sudah ditinggal ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya" "Gimana, apa kamu mau? Kalau mau kita akan tanda tangan kontrak perjanjian. Dan sekarang juga aku akan membayar biaya rumah sakit ayah kamu" ucapnya meyakinkan aku. Rasanya sangat dilema. Kalau ku iyakan, berati aku harus bekerja dan mengikuti semua aturan dan perintah dokter sejutek itu. Kalau tidak ku ambil, nyawa ayah dipertaruhkan. "Gimana?" Suara dokter Aditya mengagetkan. "Baiklah, kalau begitu saya mau. Tapi kalau sudah minum obat dari dokter dan masih tidak keluar asi saya, apa yang harus saya lakukan?" "Ya, tenang saja. kamu tinggal susuin dia pakai susu formula. Kamu kan ibu susunya. Gimana sih" jawabnya dengan santai. Aku pun akhirnya menandatangani surat perjanjian kerja dengannya. Walaupun rasanya masih banyak yang mengganjal dihatiku. Namun nyawa ayahku harus segera diselamatkan. "Oke deal ya?" "Deal!" Jawabku. Kami pun bersalaman tanda sepakat. Lalu melaju menuju rumah sakit. Menurut dokter Adit, aku boleh kerja setelah ayahku pulih dan sudah diperbolehkan pulang kembali. Setidaknya walaupun jutek, masih ada sisi manusiawinya si dokter killer ini. ____ "Biarkan dia menandatangani surat izin mengoperasi ayahnya. Semua biaya administrasinya saya yang bayar" ucap dokter Aditya. Menyerahkan sebuah karu atm warna hitam ke bagian administrasi rumah sakit. "Baik dok" jawab pegawai itu, dengan tatapan penuh selidik padaku. Aku hanya bisa pura - pura tidak memperhatikannya. Wajar kalau dia heran dengan yang dilihatnya saat ini. Aku saja yang menjalaninya sungguh terheran. Kenapa dia memilihku untuk menjadi ibu susu bagi anaknya. Dan ternyata dokter seganteng dia mempunyai nasib se-Malang ini. Apakah semua orang dirumah sakit ini tidak tahu? Karena kalau sampai mereka tahu, dokter setampan dia adalah seorang duda. Aku yakin, akan banyak wanita yang mengantri untuk mendapat perhatiannya. Walaupun bagiku dia dokter yang sangat jutek, dingin dan menyebalkan. "Kemana aja sih ? Lama bener.." Raka memonyongkan bibirnya lima centi. Dia pasti lapar dan bosan menunggu sendirian. Hari juga sudah mulai gelap. "Maaf, mbak cari tambahan uang dek. Ternyata biaya operasi ayah sangat mahal. Uang mbak tidak cukup untuk membayarnya" kesahku pada Raka. "Pantas saja, dari tadi ayah tidak dioperasi. Aku sudah curiga, pasti ada apa-apa. Terus gimana? Mbak Zahra dapat uangnya dari mana? Rumah kita dijual?" Cecarnya to the point. Karena yang dia tahu, rumah adalah satu - satunya barang berharga yang kami punya. Walau itupun sudah reot dan hampir tak layak huni. "Mbak sudah dapat kerjaan, Raka. Uang gajinya mbak minta dibayar didepan. Karena itu sekarang ayah bisa dioperasi. Bos mbak sangat baik, mengizinkan mbak kerja kalau ayah sudah sembuh. Ini pasti terjadi karena doa ibu dari atas sana. Kita harus bersyukur" ucapku padanya. "Kerjaannya bener itu mbak? Bukan kerja yang aneh - aneh kan? Kok enak banget ya bisa dibayar dimuka" penasaran, Raka masih menghujaniku banyak pertanyaan. Duukk..!!! Buku hasil Rontgen ditanganku melayang dikepalanya. Salah siapa, dalam keadaan genting begini mulutnya nyerocos Mulu tidak berhenti. Dia tidak tahu saja, kepalaku rasanya mau pecah memikirkan semua ini. "Aduh sakit mbak..!!" Teriaknya sambil menggaruk kepalanya. "Lagian, masih kecil banyak nanya. Sekolah noh dipikirin. Besok mulai masuk, biar gak di DO sama kepala sekolah. Sekolah yang benar, tinggal sebulan lagi juga lulus kok males - malesan" ocehku. "Ishh mbak mah sok tahu banget. Aku gak pernah bolos mbak. Hari ini Raka izin karena nungguin ayah sakit" jawabnya entah benar atau tidak. Tapi semoga saja benar. Aku berharap Raka bisa mengenyam pendidikan setinggi - tingginya. Gak kaya aku yang hanya lulusan SMA. Gledek..gledek.. Suara brankar rumah sakit yang didorong oleh beberapa perawat. Ku lihat wajah ayahku yang ada disana. Tampak lemas terkulai, bibirnya pucat pati. "Tolong lakukan yang terbaik untuk ayah saya dokter.." mohonku pada team dokter, sebelum masuk ke ruang operasi. Mereka semua menjawab ramah. Meyakinkan aku untuk tidak usah khawatir. Hanya ada satu dokter yang wajahnya datar tanpa ekspresi. Tak menjawab sepatah katapun. Dasar manusia es. Aku bahkan tak percaya, kalau dia yang sudah membayar biaya rumah sakit ayah. Sungguh seperti dua kepribadian yang berbeda. "Raka, operasinya mungkin akan lama. Kamu pergilah cari makan. Mbak akan menunggu ayah disini. Kita harus menyambut ayah keluar dari ruang operasi dengan perut kenyang dan hati gembira" ucapku menghibur Raka. Walaupun dalam hatiku sendiri masih was - was. Hanya ayah yang kami punya. Semoga Allah selamatkan ayah kami. "Iya ya sudah, Raka sekalian mau sholat ke mushola mbak" pamitnya, aku pun mengiyakan. ____ Sudah dua jam berlalu, ayah belum juga keluar. Belum ada pertanda operasinya selesai. Entah masih berapa jam lagi. Aku sampai tak sadar tertidur. "Bangun woy!!woy bangun!!" Seseorang terdengar berteriak membangunkan ku. Jari telunjuk dan jempolnya ditautkan untuk menarik - narik lengan bajuku. Seperti seseorang yang hendak membuang kucing kampung yang kotor ke jalanan. "Eh dokter, kenapa dengan ayah saya dok?" Tanyaku, segera ku seka bibirku. Takut ada iler yang menetes saat ku tertidur tadi. "Perempuan kok gini banget ya ampun..joroknya" Komennya yang sudah berkali ku dengar sama. Menyebalkan! "Operasi ayahmu sudah selesai. Tinggal menunggu efek biusnya hilang. Kamu tunggu sebentar lagi" ucapnya, lalu pergi begitu saja sebelum aku sempat sampaikan terima kasih. "Maaf mbak, tadi Raka pulang sebentar ambil seragam sekolah. Gimana keadaan ayah?" Raka mengagetkan sekali. Tiba - tiba muncul debelakang kursi tempatku duduk. Apa jangan - jangan ini bukan adikku Raka. Tapi kalau dari aromanya sih benar. Bajunya aroma pewangi cucian yang biasa ku pakai dirumah untuk mencuci pakaian kami bertiga. "Ayah sudah selesai operasi tapi belum keluar karena masih belum hilang efek biusnya dek. Kamu sudah makan?" "Sudah, ini aku bawain mbak nasi goreng. Mbak pasti juga belum makan seharian" Raka menyodorkan sebungkus nasi goreng beserta teh anget. Sungguh pengertian adikku ini. Aku memang sudah sejak tadi kelaparan namun ku tahan karena belum ada kabar dari ayah. "Alhamdulillah, makasih ya" segera ku santap hingga ludes makanan yang dibawa oleh Raka. Namun bagaikan disambar petir, lampu diruang operasi tempat ayahku berada tiba - tiba menyala dan bunyi berkali - kali. Sepertinya ada gawat darurat yang terjadi. Beberapa dokter dan suster berlarian masuk ke ruang operasi. Entah kenapa, hatiku rasanya nyeri. Semoga ayah baik - baik saja. Aku sudah kenyang, sudah siap menyambut ayah bangun dan kembali sehat. ___ "Ada apa kak? Kenapa banyak dokter berlari ke ruangan yang ada ayah?" Tanya Raka. Kami masih berharap ada orang lain diruangan itu yang memang sedang gawat, tapi bukan ayah. Aku tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala dan mengangkat kedua bahuku. Sembari menyeruput teh anget, yang dibawakan Raka tadi. "Permisi, dengan saudara Zahra Adelia?" Dua orang bapak - bapak memakai seragam polisi menghampiri kami. Ada apa lagi ini, siapa yang mencariku. Aku sepertinya tidak ada urusan dengan hukum. Mengerikan sekali, melihat polisi saja aku sudah gemetar apalagi melakukan tindak kriminal. "Betul pak, saya Zahra Adelia. Ada apa ya, bapak mencari saya?" Tanyaku, masih penasaran. "Kami dari polres Jakarta Timur, mendapat perintah untuk membawa mbak Zahra ke kantor. Guna dimintai keterangan. Atas laporan bapak darman, yang merasa kehilangan sejumlah perhiasan istrinya setelah mbak Zahra ini dari rumah beliau. Begitu mbak. Jadi mohon kerja samanya" mereka menyerahkan surat pemanggilan diriku kekantor polisi. Aku membacanya dari awal hingga tuntas. Semua yang mereka tuduhkan adalah fitnah. Mana mungkin aku mengambil perhiasan mereka. Bisa keluar dari rumah itu dengan utuh saja aku sudah bersyukur. "Ta tapi pak, ini semua bohong pak. Saya sama sekali tidak tahu seperti apa perhiasan mereka. Apalagi sampai mengambilnya""kita nikah aja Ra..ehmmm" racaunya, melumat bibirku.Secepat kilat tangannya melucuti pakaianku membuangnya sembarangan dilantai. Dikungkungnya aku dibawah dada bidangnya. Kali ini tak seperti semalam, mas Adit sangat tampan dibawah cahaya lampu yang terang. Keringatnya membasahi wajah, membuatnya semakin mempesona. Ya tuhan, aku pasti sudah gila. Bagaimana mengakhiri permainan ini, hawa nafsu merasuki pikiran kami.Setelah puas mencari kenikmatannya, mas Adit mempercepat permainan. Lenguhan demi lenguhan terdengar bagai nyanyian merdu dimalam penuh kesunyian. Bersamaan kami mendaki puncaknya, menyemburkan benih tepat dilubang rahimku.Aku terkulai lemas, sementara mas Adit masih menciumiku. Memainkan dua gundukan dibagian dadaku."Sudah mas, nanti Arsya bangun" ku tepis tangan nakalnya."Oeekk..oeekk..oeekk" benar saja, terdengar tangisan Arsya dari kamar sebelah. Mas Adit segera memakai pakaiannya, berlari ke kamar Arsya. Sementara aku masuk ke kamar mandi milik mas Adit.Rasa baha
"Tante mau kan membujuk Aditya supaya segera menikahi aku. Kan kasihan Tan, dia kesepian dan terus meratapi istrinya yang sudah meninggal itu. Tante sih, dari dulu sudah ku bilang, jangan biarkan Aditya nikah sama cewek penyakitan itu. Sekarang kaya gini deh jadinya" Silvia mendesis bak ular hendak mengeluarkan bisanya."Jadi, kamu nyalahin Tante?" Ine nyalang menatap Silvia. Walaupun tampak kalem dan anggun, tapi Ine type perempuan yang open minded. Sikapnya lebih terbuka, tanpa basa - basi."Eh anu bukan Tante, bukan begitu maksud Silvia. Maaf Silvia salah bicara. Jadi gimana, Tante mau kan bujuk Adit kali ini" masih berusaha, mencari simpati ine. tak mau menyerah sudah kepalang tanggung baginya untuk mundur.Tampak berpikir, Ine menyedekap tangannya didepan dada. Ingin mengungkap kalau Aditya sudah punya Arsya, tapi sudah terlanjur berjanji pada sang anak untuk merahasiakan ini dari siapapun. Kalau Silvia tahu Aditya sudah punya anak, kira - kira bagaimana reaksinya.Hanya orang tu
Tokk..tokk.."Zahra, apa boleh aku berpamitan dengan Arsya sebentar?" Dokter Adit berdiri didepan pintu kamar.Aku bingung harus bersikap. Harusnya kejadian semalam bisa ku hindari. Dokter Adit bahkan sudah berteriak untuk aku jangan masuk ke kamar mandi. Dia pasti sedang terkena obat atau sejenisnya.Sepulang dari acara temannya, ku lihat ia membuka pintu apartemen dengan kasar. Saat itu aku sedang minum di dekat dapur. Ia bahkan berlari melewati ku, tanpa memakai baju. Hanya celana kain yang membalut bagian bawah.Hampir satu jam, ku dengar suara gemericik air. Tapi dokter aditya tak juga keluar. Takut terjadi sesuatu padanya, ku paksa masuk ke kamar mandi untuk menolongnya. Namun nahas, yang terjadi justru aku menjadi mangsanya. Harusnya aku bisa melawan, namun entah kenapa aku begitu lemah dihadapannya. Perasaanku ingin sekali menyelamatkannya dari rasa yang menyiksa.Kalaupun ini sebuah dosa, biarlah aku mati didalamnya. Rasa hangat itu tak pernah ku temui sebelumnya. Pernikahank
Setelah mereka dewasa, Wina tetap merasa kedua orang tuanya lebih mencintai Arya. Saat wisuda, kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena alasan kerja. Ia bahkan harus minta tolong sopirnya untuk berpura - pura menjadi orang tuanya, dan membawakannya bucket bunga. Wina hidup berkecukupan namun hatinya masih saja merasa sendirian.AAAAAAAAA!!PRAAANKKK..PRAAANKKK ...Berteriak histeris Wina membuang semua barang nya ke lantai. Pecahan kaca berserakan dimana - mana. Padahal dia selalu berusaha keras untuk bisa dicintai dan dibanggakan. Bahkan diuniversitas, dia lulus dengan nilai terbaik. Namun kenapa dirinya selalu merasa sendirian.Tokk..tokkk..tokk"Wina.."Tokk..tokk..tokkk"Wina, ini ibu. Kamu baik - baik saja win? Tolong buka pintunya" panggil ibunya yang baru saja datang dari luar. Ada pertemuan ibu - ibu istri pengusaha yang harus ia hadiri.Ceklekkk!!"Ya allah..ada apa wina? Kenapa semuanya berantakan seperti ini. Apa ada masalah dengan wisudanya? Bukannya kamu sudah minta tol
Rasa panas menjalar dibagikan dadaku. Apakah ini efek Obat yang ku minum tadi. Sudah dua kali aku meminumnya, kurang satu kali. Rasanya dua gundukan didadsku mulai mengencang, seperti ada rasa lain. Coba ku periksa dan ku pijit pelan, ada setetes yang keluar dari sana."Oeeek..oeeekk.." Arsya menangis kecil setelah ku mandikan. Apakah dia lapar, ingin makan atau susu ya. Ku coba membuatkannya bubur bayi yang ada. Padahal anak seumuran ini bukannya harus makan yang alami - alami ya setahuku. Dokter Adit kan seorang cowok jadi wajar kalau tidak begitu tahu. Setelah ku suapi, Arsya tampak lebih tenang. Matanya pun lambat Laun memejam."Anak yang pintar" bisikku. Masih ku gendong dan enggan untuk ku kembalikan kedalam box. Semua sudah ku bersihkan. Makanan juga sudah siap jaga - jaga kalau dokter Aditya datang.Ceklek!!Benar saja seperti dugaanku, papanya Arsya datang. Ya tuhan ku bayangkan, andai ini keluarga kecilku. Merawat bayi dan menunggu suamiku pulang kerja. Geli rasanya hatiku.
Hari berganti hari semenjak kepergian ayah. Rasanya begitu sepi. Nanti malam adalah tahlil untuk tujuh harian ayah, kami mengundang santri binaan ustadz Arifin untuk datang kerumah. Makanya hari ini aku sedikit sibuk mempersiapkan hidangan untuk mereka.Aku jadi teringat telpon dari dokter Adit kemarin. Ia mengabarkan kalau ternyata panggilan polisi terhadapku waktu malam itu. Yang katanya kasus pencurian dirumah Tante Ela. Ternyata saat pengacara dokter Aditya hendak mengurusnya ke kantor polisi, tidak ada laporan semacam itu disana. Sungguh aneh. Apakah polisi malam itu adalah polisi gadungan? Kalau iya, kenapa mereka bersikeras untuk membawaku malam itu. Merinding sekali kalau diingat. Tunggu, apakah ini ulah om darman? Kemarin waktu ayah meninggal, om darman sekeluarga juga tak nampak sama sekali. Padahal dikota ini, dialah satu - satunya keluarga ayah."Mbak, ini ada kiriman roti" Raka membawa satu dus roti dari merk ternama."Dari siapa Raka?" Tanyaku."Dari dokter Adit mbak. Ta







