Masuk"Mbak bisa ikut kami dulu ke kantor, dan membuktikan kalau disini mbak Zahra memang tidak bersalah" bujuk polisi yang satunya.
Ku pikir ada benarnya. Kenapa aku harus takut, kalau aku memang tidak bersalah. Takut terjadi keributan, aku pun akhirnya dengan berat hati ikut mereka. "Gimana dengan ayah mbak? Lagi pula ini sudah malam. Kenapa tidak besok pagi saja mbak ke kantor polisinya" Tanya Raka, saat aku hendak melangkahkan kakiku. Raka benar, ini kan sudah malam. Mana ada polisi meminta keterangan seseorang dimalam hari seperti ini. Tapi masa sih ini bukan polisi asli. Aneh banget. Ku urungkan niatku untuk pergi mengikuti mereka. "Emm..Begini pak, apakah bapak punya kartu tanda anggota kepolisian?" Tanyaku, berdiri sejajar dengan mereka. "Apa? Apa - apaan ini? Mbak kira kita polisi gadungan atau gimana?" Tanya kedua polisi itu dengan mata membulat sempurna. Mereka seperti hendak menelanku. "Baiklah, kalau tidak mau ikut dengan cara baik - baik kami terpaksa membawa mbak Zahra secara paksa" Tanganku diapit keduanya dengan paksa. Sudahlah, sepertinya aku memang harus mengikuti mereka. Dengan wajah berpura - pura tenang dihadapan Raka, aku menuruti kemauan mereka. Tidak ingin adik semata wayang ku itu panik. Sampai suara bariton seseorang, muncul mengagetkan kami semua dari belakang. "Tunggu!! Kenapa kalian membawa perempuan ini?" Dokter Aditya muncul tiba - tiba. "Anda siapa?" Tanya salah satu polisi. "Saya Aditya, salah satu dokter spesialis jantung terbaik dirumah sakit ini" Jawabnya. Jiwa sombongnya ternyata sudah mendarah daging. "Begini pak dokter, mbak ini dilaporkan mencuri sejumlah perhiasan dirumah saudaranya. Kami hanya ditugaskan membawanya untuk dimintai keterangan" polisi itu menjelaskan. "Begini, saya tunangannya. Dan saya tidak mengizinkan kalian membawa calon istri saya saat ini. Karena calon mertua saya sedang kritis" ucap dokter Aditya membuatku tak berhenti menatapnya. Kenapa dokter ini, apakah dia tadi salah makan. Ucapannya sungguh ngelantur. Calon istri? Kita aja baru kenal. Itupun selalu ribut setiap ketemu. "Tapi dokter" "Tidak ada tapi tapian. Besok saya akan suruh pengacara untuk menangani masalah ini. Silahkan anda tinggalkan tempat ini. Karena masih ada hal yang harus kami urus" dokter Aditya mengusir halus mereka. Untungnya dua polisi itu menurut dan akhirnya pergi. *** "Terimakasih untuk bantuannya dok" ucapku pada dokter Aditya dengan tulus. "Apa benar yang mereka katakan?soal.." ia menggantung ucapannya. "Tidak dokter, demi Allah saya difitnah" ucapku gemetar. Aku takut dokter Aditya menganggap fitnah itu benar dan dia akan merubah kesepakatan kerja kami. Padahal gajinya sudah ku gunakan untuk biaya rumah sakit bpk. "Iya dokter, kakak saya tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Walaupun kami hidup sederhana, tapi ayah selalu mengajari kami untuk tidak pernah mengambil milik orang lain" Raka membelaku. Pipiku pun basah mendengarnya. Teringat saat ayah masih sehat. Memang benar apa yang Raka katakan. Aku teringat saat kami masih kecil. Sari temanku kehilangan mainan boneka Teddy bear hadiah ulang tahun dari mamanya. Sialnya, sari menuduh aku yang mengambil bonekanya. Dia mengadu pada ayah dan ibuku. Seharian ayah mengurungku, dari matahari belum terbit sampai matahari terbenam. Hingga malamnya, ibunya dari datang kerumah. Menjelaskan kalau ternyata bonekanya sari dilaundry sama ibunya, gak bilang sama dari. Sungguh kejadian yang tidak mungkin ku lupakan. "Oke, kita lupakan dulu hal ini. Ada yang lebih penting yang harus saya sampaikan. Ayah kalian dalam keadaan kritis. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi sepertinya hanya doa kalian yang bisa menolongnya saat ini" BRUAAAKKKK!! Semuanya kini menjadi gelap. *** "Auhh.." kepalaku terasa sangat berat. Aku sudah berada diruangan pasien. Dengan jarum infuse menancap dipergelangan tanganku. Tampak dari balik tirai jendela, sepertinya ini sudah siang. Apa mungkin aku sudah dirawat semalaman. Tidak ada orang sama sekali diruangan ini. Aku penasaran bagaimana nasib ayahku. Tadi karena terlalu sedih dan mungkin aku lelah menghadapi kejadian demi kejadian , tubuhku tidak kuat menahannya. Krieeettt Pintu terbuka. Seorang perawat masuk, mengantarkan obat dan juga makan siang untuk ku. "Permisi suster, apa yang terjadi sama saya?" Tanyaku. Suster berwajah manis berumur kisaran 25 tahun itu menjawab dengan lembut. "Mbak Zahra semalaman pingsan. Syukurlah kalau sudah bangun. Saya akan segera menghubungi dokter Adity" "Eh anu sus, adik saya dimana ya? Kenapa dia tidak menemani saya disini. Terus gimana keadaan ayah saya?" Tanyaku nyerocos. Karena memang mereka lah prioritasku saat ini. "Emmm begini mbak Zahra. Dokter Aditya cuma berpesan kalau mbak Zahra sebaiknya istirahat aja dulu disini. Dokter Adit dan adiknya mbak Zahra sedang mengurus pemakamannya pak Sobirin" jawab perawat itu dengan suara pelan bagaikan angin. Namun sanggup membuat seluruh tubuhku kelu. Mataku mendadak panas, embun menebal disana. Bibirku bergetar pilu. Rasanya bagai disambar petir. Benarkah yang ku dengar ini. "Apa? Ayah saya.." "Iya, ayahnya mbak Zahra meninggal tadi jam 5 pagi. Mbak yang sabar ya" tangan suster itu mengelus pundakku, prihatin. "Tidak, ayah tidak mungkin ninggalin aku sama Raka.. suster. Ayah gak mungkin Setega itu. Ayaaaaah, jangan tinggalin Zahra ayah. Zahra mau ikut ayah.." ku tarik jarum infuse dari pergelangan tanganku. Darah segar mengucur, namun tak ku pedulikan. Aku harus pergi dari tempat ini. Mungkin masih bisa melihat wajah ayah untuk terakhir kalinya. "Mbak Zahra..mbak.." Suara perawat itu memanggilku, namun tak ku hiraukan. Aku berlarian bak orang gila. "Taxi mbak??" Seorang sopir Taxi menghantikan laju mobilnya. Tanpa berpikir panjang, aku melesak masuk ke dalam. "Tujuan mana neng?" "Ke jalan Cempaka putih pak.." ucapku. Tanpa kata - kata lagi, sopir itu melaju membelah jalanan yang penuh hiruk pikuk. Ada bendera kuning didepan rumahku. Rasanya nyeri sekali. Mungkin benar yang dikatakan oleh perawat dirumah sakit tadi. Bahwa ayahku sudah meninggal. "Pak, tunggu bentar disini ya? Aku harus mengambil uang dulu" "Baik neng" sopir Taxi itupun mengangguk. Kakiku gemetar memasuki halaman rumah. Masih ramai orang didalam dan diluar rumah. Mereka menatapku dengan iba. "Mbak.." ucap Raka, suaranya parau. Bahkan untuk berdiri saja Raka dipegangi oleh dokter Aditya. Iya dokter itu, kenapa dia ada disini. Sebaik itukah dia? Atau sengaja mencari tempat tinggalku supaya aku tidak bisa lari dari janji kerja diantara kami. Pekerjaan yang aneh itu. "Raka.." aku berlari memeluknya. Bagaimana bisa didunia seluas ini aku hanya mempunyai Raka. Disaat kami butuh dukungan dan peran orang tua lebih dari biasanya. Kenapa malah jadi yatim piatu. Tuhan, sakit sekali rasanya ujianmu kali ini. "Ayahmu sebentar lagi akan dikebumikan. Tengoklah sebentar. Aku akan membayar taximu didepan" ucap dokter Aditya yang melihat ada sopir Taxi menungguku diluar. "Tidak ayah..tidaaaak..kenapa ayah tinggalin Zahra? Raka masih butuh banyak biaya buat kuliah. Ayah bilang Raka harus jadi orang yang hebat. Zahra juga masih sangat butuh ayah untuk jadi tempat cerita Zahra. Kenapa ayah malah pergi ninggalin kita yah.." Tangis yang sejak tadi ku tahan, tumpah tak beraturan. Sakitnya menusuk kedalam ulu hati melihat cinta pertamaku terbujur kaku. Ternyata benar, perpisahan yang paling sakit adalah perpisahan beda alam. Karena kita tak akan pernah lagi bisa memeluknya. Seandainya aku tahu, kemarin adalah saat - saat terakhirnya. Mungkin aku tidak akan meninggalkannya keluar, hanya dengan Raka dirumah. "Sudah nak Zahra. Instighfar..Ikhlasin ayahnya ya, kasihan kalau ditangisin terus. Nanti semakin berat langkahnya menuju dunianya yang baru. Kita bantu doa saja" istri pak ustadz Arifin membantu menenangkan aku yang terus meraung. Suara lemah lembutnya membacakan aku alfatihah dan beberapa surat pendek lalu menghembuskannya ditelapak tangan dan mengusap - usapkannya ditubuhku. Ia membimbingku terus beristighfar, sehingga aku bisa lebih tenang menemani ayah pergi untuk yang terakhir kali. *** "Laailla haillallah, laailla haillallah, laailla haillallah.." lantunan kalimat tahlil mengiringi kepergian ayah sampai ke tempat tinggalnya yang baru. Raka ikut memikul keranda bersama tiga pria lainnya. Sementara aku memeluk foto terbaik ayah semasa hidupnya selama perjalanan. Setelah satu jam, semua prosesi penguburan ayahku akhirnya selesai juga. Ayah dimakamkan tepat disamping ibu. Semasa hidupnya, ayah memang sering berpesan kalau nanti meninggal ingin dikubur disebelah ibu. Dan kami pun mengabulkan keinginan terakhir ayah. bersambung.."papa boleh ketemu ibumu gak, dit?" tanya hermawan, merasa bersalah. Teringat masa lalu, kala itu pertengkaran antara dirinya dan ayu sarah terjadi. "pergi dari sini kau ayu, aku tidak sudi melihat mukamu lagi" teriak hermawan. dengan mata sembab, bahkan suaranya yang serak ayu sarah berucap "aku sudah berusaha jujur padamu mas, tapi kamu lebih memilih percaya pada orang lain. suatu saat, allah akan menunjukkan siapa yang berbuat jahat sebenarnya. dan ketika itu terjadi, kamu mungkin sudah tidak punya kesempatan untuk menyesal atau bahkan hanya untuk 2mendapat maaf dariku pun tidak!" "Boleh aja, tapi Adit harus tanya ibu dulu.lagian, katanya tadi papa mau kel Louar negeri. Gimana sih?'" jawab Aditya, membangunkan Hermawan dari lamunan. "Masih tengah malam perginya. Kalau ayu Sarah mau ketemu, masih ada waktu beberapa jam lagi. Papa tunggu kabarnya ya" ujar Hermawan, sebelum mereka menyudahi sambungan telponnya. Ceklekkk!! Seorang perempuan muda, membuka pintu kamar VVIP yang dite
Kriiing..kriiing.. Ponsel Aditya terus - terusan menjerit, saat dirinya sedang di parkiran bersama ibunya. "Ibu masuk dulu ya! Adit mau angkat telpon sebentar" pinta Aditya pada ibunya. Ayu Sarah pun mengiyakan. "Ya, halo! Gimana sil?" Sapa Aditya , saat melihat nama Silvia yang muncul dilayar pintar miliknya. "Dit, gimana kabar papa kamu? Apa sudah baikan?" Suara Silvia serak, seperti orang sakit. "Sorry banget sil, hari ini gue juga belum ke rumah sakit. Jadi belum lihat perkembangan papa sama. Nanti ya, selesai praktek, gue jenguk papa. Gue update ke Lo ,oke?" Aditya mengerti, hubungan papanya dan Silvia pasti sedang mengalami masa sulit. Terbukti suara Silvia sampai serak, bisa jadi karena habis nangis. "Oke, dit! Makasih banyak ya" ucap gadis itu, lalu mematikan sambungan telponnya. "Siapa nak?" Tanya ayu Sarah, setelah Aditya masuk ke dalam mobil. "Oh, teman Adit Bu. Nanyain kabar papa, karena kebetulan papa lagi dirawat di rumah sakit" Aditya menjelaskan. Menatap lekat sa
"kenapa kesini lagi? Mau marah - marah lagi?" Ketus Ine, saat mendapat kunjungan dari sang kakak. "Tentu saja tidak. Aku kesini, cuma mau minta maaf. Mungkin kemarin, aku terlalu emosi. Sudahlah kita lupakan saja masa lalu. Aku akan mencoba berubah. Akan ku awali dengan mencari pekerjaan. Dari dulu, aku selalu mengandalkan uang darimu. Maafin kakak ya.." Ine tersentuh mendengar ucapan Ndaru. Tapi, dia pun sangat tau karakter kakaknya. Kalau Ndaru memasang muka orang baik - baik, itu artinya dia sedang menginginkan sesuatu darinya. "Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Ine, coba mencari kebenaran dari yang ia pikirkan. "Emmm, aku mau minta biaya hidup selama mencari pekerjaan ne. Sekalian ini, perusahaan ini kamu tau kan? Aku bisa kan diterima, pakai jalur dalam?" Ndaru menyodorkan amplop coklat ala pelamar kerja, pada Ine. "Kak, bukannya gak mau kasih. Aku mana ada uang. Semua ATM dan kredit card aku, dibekuin sama Hermawan. Aku sekarang ini sudah jadi gembel kak. Apalagi bantuin kakak ca
"Adit, apa ibu boleh bertemu Ine?" Pertanyaan ayu Sarah, mengagetkan Aditya yang sedang manikmati pisang goreng keju buatan istrinya. "Uhukk uhukkk" Aditya menepuk - nepuk dadanya yang sakit, karena tersedak. "Ya Allah nak, hati - hati kalau makan. Nih minum dulu!" Ayu Sarah menyodorkan segelas air putih untuk anaknya. "Ibu ngapain mau ketemu dia? Adit gak mau ibu kenapa - kenapa. Lagi pula, dia sudah menerima hukuman yang setimpal" Aditya membuang nafas kasar. "Insyaallah ibu gak kenapa - kenapa. Ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan padanya. Anterin ibu ketemu Ine ya, besok" desak ayu Sarah. Aditya pun, tak bisa lagi menolak keinginan ibunya. "Kenapa mas? Kok mukanya gitu" Zahra yang sedang menggendong Arsya, menelisik wajah masam suaminya. "Kenapa, Bu?" Imbuhnya, meberganti menatap mertuanya. "Enggak kok sayang. Ini ibu, minta di antar ketemu mama ine. Aku kurang setuju sebenarnya. Tapi karena sepertinya ibu ada urusan penting dengannya, ya sudah besok mas anter aja. Kebetulan
"Aditya!" Ayu Sarah, dengan mata berkaca - kaca memanggil putra yang begitu dirindukan. "Bu!" Aditya mencium takdzim punggung tangan, ibunya. Wanita berjilbab krem susu itu, nampak lebih sehat pagi ini. Aditya begitu bersyukur, bisa menemuinya pagi ini. Jari jemari Aditya menyeka, embun yang menetes di pipi ayu Sarah. "Ibu sudah dilarang menangis, sekarang. Bolehnya hanya bahagia. Ya, Bu?" Ucap Aditya, membuat air mata ayu Sarah semakin deras mengalir. Aditya meraih tubuh ringkih ibunya, kedalam dekapan. "Maafin Aditya Bu. Karena baru tau, keberadaan ibu. Pasti sangat sesak berada disini, selama ini" sesalnya. "Sudahlah, ibu tidak apa - apa. Jangan pernah menyalahkan dirimu, atas apa yang terjadi. Ini semua terjadi, karena Allah mengizinkan semuanya terjadi" "Yang penting, sekarang kita bisa sama - sama lagi. Ibu gak pernah membayangkan, kalau akhirnya bisa melihatmu lagi. Dulu keadaannya sangat rumit" ayu Sarah, meraih wajah Aditya dengan kedua tangannya yang gemetar hingga Adity
Kriiing..kriiing Silvia memicingkan mata, melihat nama siapa yang keluar di layar pintarnya. Sang mantan kekasih, yang mungkin saja akan menjadi anak tirinya suatu saat. Kriing..kriiing.. Suara bunyi ponsel, sekali lagi membuatnya tersadar dari lamunan. "Halo, dit!" Menahan rasa malunya karena sudah memacari ayah dari mantannya sendiri, Silvia tetap menyapa Aditya. "Halo! Lo lagi dimana?" Tanya Aditya, setelah mendengar suara seorang wanita di ujung telpon. "Lagi di kantor. Kenapa ya?" Ujar silvia, penasaran. "Papa kecelakaan, dari tadi manggil nama Lo. Ini kita lagi di rumah sakit intani. Kira - kira, Lo bisa kesini gak?" Tanya Aditya, berharap Silvia bisa datang karena ayahnya yang terus - terusan memanggil namanya. "Astaga, serius dit? Tolong share lokasi ya. Gue kesana sekarang" ucap Silvia, lalu menutup sambungan telponnya. Aditya segera mengirim lokasi dimana mereka berada sekarang. "Gimana mas? Silvia mau datang?" Tanya Zahra yang sedang bersiap untuk pulang. Tadinya m
"Bu ayu sehat, tapi .." Aryo, menggantung suaranya. "Tapi, apa?" Tanya Aditya, pada Aryo. "Saya, share lokasi aja. Silahkan datang ke sini, langsung. Mungkin kehadiran anda, bisa membuat Bu ayu mengingat sesuatu" jawab Aryo, lalu mematikan sambungan teleponnya. Aditya pun gegas membuka, beberapa
"karena, kasus pembunuhan terhadap Oma saya!!" jawab Aditya, Membuat semua orang diruangan itu hampir tak percaya. Si Dokter tampan, datang tepat waktu setelah menyelesaikan pekerjaannya di meja operasi. Ketampanan dan kharisma Aditya, membuat semua kamera tak berhenti menyorotnya. Anak dan ayah
"Lo dukun ya, sok tau banget!" Gurau Aditya, menutupi kegalauan hatinya. "Ya gak gitu juga. Gue kan Connan! Lo tau kemampuan penyelidikan gue kan?" Timpal aryo. "Eh tapi serius ini. Ada apa sih? Siap gue kalau ada tugas lagi!" Imbuhnya lagi. "Iya ni, yok! Gue mau, lo cari tau orang yang ada di Kk
"kalau dia bukan ibuku, lalu siapa?" Tanya Aditya memandangi kedua ayah dan ibunya bergantian. "Dimana pa, ibu kandungku?" Imbuhnya. Kini menatap tajam, kearah ayahnya. "Pa!" Teriak Ine, kala sang suami hendak berucap. Namun bagi hermawan, sudah cukup menutupi rahasia ini sejak lama dari putranya.







