LOGINHari berganti hari semenjak kepergian ayah. Rasanya begitu sepi. Nanti malam adalah tahlil untuk tujuh harian ayah, kami mengundang santri binaan ustadz Arifin untuk datang kerumah. Makanya hari ini aku sedikit sibuk mempersiapkan hidangan untuk mereka.
Aku jadi teringat telpon dari dokter Adit kemarin. Ia mengabarkan kalau ternyata panggilan polisi terhadapku waktu malam itu. Yang katanya kasus pencurian dirumah Tante Ela. Ternyata saat pengacara dokter Aditya hendak mengurusnya ke kantor polisi, tidak ada laporan semacam itu disana. Sungguh aneh. Apakah polisi malam itu adalah polisi gadungan? Kalau iya, kenapa mereka bersikeras untuk membawaku malam itu. Merinding sekali kalau diingat. Tunggu, apakah ini ulah om darman? Kemarin waktu ayah meninggal, om darman sekeluarga juga tak nampak sama sekali. Padahal dikota ini, dialah satu - satunya keluarga ayah. "Mbak, ini ada kiriman roti" Raka membawa satu dus roti dari merk ternama. "Dari siapa Raka?" Tanyaku. "Dari dokter Adit mbak. Tadi ada ojek online yang anterin" Raka meletakkannya dimeja. Dokter Adit memang banyak membantuku akhir - akhir ini. Aku yakin, dia mungkin membantuku dan Raka karena kasihan kami anak yatim piatu. Tapi aku sudah dewasa. Aku bisa membantu diriku sendiri dan juga Raka. Lagian tidak enak merepotkannya terus menerus. Besok aku berencana untuk membicarakan tentang pekerjaan yang harus ku jalani dirumah dokter Adit. Lagian aku juga butuh membiayai hidupku dan Raka. Aku harus bangkit lagi. Kepergian ayah tidak boleh meruntuhkan semangatku. Ada Raka yang masih harus ku perjuangkan pendidikannya. Uang hasil penjualan cincin waktu itu, sudah ku gunakan untuk biaya selama ayah meninggal kemarin. Mengurus ini dan itu. Hanya sisa lima juta, ku masukkan rekening, untuk berjaga - jaga kalau Raka butuh sesuatu. *** Keesokan harinya.. Ting tung..Ting tung.. Aku menekan bel pintu apartemen milik dokter Aditya berkali - kali namun tak juga dibukakan pintu. Ting tung.. Ceklekk.. Betapa terkejutnya aku. Dokter Aditya memakai celemek seperti ibu - ibu yang sedang memasak. Sungguh sangat berbeda dengan image nya yang selama ini ia bentuk sebagai dokter jutek. Dan apa ini. Dokter Adit menggendong seorang bayi yang sangat tampan. Bisa disebut ini adalah dokter Aditya hermawan versi sachet. Sungguh sangat menggemaskan. Ingin sekali ku gigit pipinya namun takut ditampol sama Bapaknya yang adalah bosku. Bayi mungil itu tersenyum padaku. Dan aku terpana melihat ketampanannya. Teringat janinku yang pergi, sebelum sempat ku lahirkan. Andai dia masih ada, pasti menggemaskan juga seperti bayi ini. "Heh! Disini buat kerja ya, bukan buat ngelamun!" Dokter Aditya sedikit kasar memberikan bayinya padaku. "Oh, iya. Maaf dok" aku terperanjat dari lamunanku. "Ta tapi dok, sudah ku periksa dirumah. Dan Asiku sudah tidak keluar sama sekali" aku benci percakapan aneh ini. Tapi memang benar. Saat mandi ku periksa Asiku memang sudah tidak keluar. Hanya sesaat setelah keguguran Asiku keluar. Itupun tidak seperti ibu - ibu lainnya yang setelah melahirkan, air ASI-nya sampai membasahi baju mereka. Asiku hanya setetes dua tetes mungkin karena aku stress saat itu. "Coba minum obat ini. Sementara kalau belum keluar, beri dia susu formula. Sudah lengkap semua diatas meja dapur susu beserta peralatannya. Kalau bikin susu, pakai air panas sedikit digoyang - goyang lalu tambahin air biasa. Kalau gak ngerti tanya. Satu lagi, Jangan pernah membawanya keluar dari tempat ini. Kecuali atas seizin saya. Mengerti?" "Mengerti dok. Kalau boleh tau siapa nama bayi ini?" Tanyaku penasaran. "Arsya. Hati - hati, jangan sampai dia terluka sedikitpun. Kamu harus benar - benar mengawasinya. Saya mau kerja dulu. Kalau mau makan, masaklah semaumu. Jangan menungguku. Kalau aku tidak pulang, itu artinya aku pulang ke rumah orang tuaku. Dan kamu harus menginap disini. Mengerti?" "Mengerti dokter" untunglah, aku sudah menyuruh mang suep menemani Raka dirumah. Sekalian membantu merawat ayam - ayam ayah. Aku juga pamit sama Raka, kalau aku kerja. Dan bisa jadi akan pulang seminggu sekali. Tidak menunggu perintah lagi, ku minum dua tablet obat yang diberikan oleh dokter Aditya. Mengitarkan pandanganku pada setiap sudut apartemennya. Hanya ada tiga kamar. Satu kamar utama sepertinya milik dokter aditya. Ku lihat tadi dia masuk ke kamar itu untuk bersiap - siap berangkat kerja. Yang ke dua kamar bayi, karena banyak perlengkapan Arsya, kasur yang tidak terlalu besar juga box bayi. Dan satunya aku belum tahu. Apa mungkin itu kamar pembantu, atau bahkan gudang entahlah. Semua barang tertata rapi, tidak terlalu banyak perabot tapi nampak aestetic setiap penempatannya. "Uh, uh.." suara bayi Arsya digendonganku. Mungkinkan dia haus, atau lapar. Ku ayun - ayunkan tubuh mungilnya dan ku tepuk - tepuk pelan punggungnya. Aku pernah melihat beberapa tetanggaku melakukan ini saat hendak menidurkan anaknya. Dan benar saja, dia langsung tertidur pulas. "Arsya tidur?" Suara berat dokter Adit mengagetkanku. "Uuussst.." ku acungkan telunjuk didepan mulut monyongku. Supaya dia tidak berisik. Karena itu akan membangunkan Arsya lagi. "Oke oke, aku pergi dulu. Bubur bayi ada dimeja dapur, kalau dia laper" ucapnya berbisik lalu pergi meninggalkan kami. *** POV. DOKTER ADITYA Namaku Aditya hermawan. Putra tunggal dari keluarga Hermawan. Umurku 27 tahun. Mempunyai istri yang sangat cantik, aku begitu mencintainya. Erlita Putri dirgantara anak tunggal dari keluarga dirgantara. Seorang yatim piatu sejak ia duduk dibangku sekolah menengah pertama. Selama kami berkenalan dan menjalin hubungan, aku begitu mengagumi sifatnya. Wanita cantik yang begitu anggun, penyabar dan penyayang. Namun kasihan, hidupnya selalu dibayangi oleh Tante Wina si penyihir jahat. Dia adalah adik tiri dari papa mertuaku, Arya dirgantara. Dalam surat wasiat, papa Arya menuliskan kalau semua harta kekayaannya akan dialihkan kepada Erlita saat berusia 21 tahun atau sudah menikah. Sebelum itu, Tante Wina yang akan menjadi walinya untuk mengelola semua peninggalan papa Arya. Dengan berjalannya waktu, istriku tidak menaruh curiga sedikitpun kalau Tante Wina sanggup melakukan apapun demi menguasai harta peninggalan papanya. Sampai saat istriku berusia 20 tahun, kami memutuskan untuk menikah. Tante Wina mati - Matian menentangnya. Ya, aku dan istriku terpaut usia 5 tahun. Pada saat itu, aku masih berumur 25 tahun sudah berani melamarnya. Dengan perjuangan yang tidak mudah, aku dan Erlita akhirnya menikah. "Walaupun kamu sudah menikahi Lita, jangan harap Tante akan membiarkan perusahaan jatuh ke tanganmu ya Adit. Tante pastikan kamu tidak akan mendapat sepeser pun dari harta peninggalan kakakku arya" ancam Tante Wina, masih terngiang ditelingaku. Aku menarik nafas berat, ku hembuskan perlahan. Bisa - bisanya Tante Wina berpikir kalau aku menikahi Lita karena menginginkan hartanya. Harta yang dimiliki keluargaku saja rasanya sudah cukup bagiku. Kami tidak pernah kekurangan suatu apapun sampai detik ini. Bahkan aku bisa sekolah kedokteran juga dibiayai oleh papaku. Serendah itukah aku Dimata Tante Lita. Tepat satu tahun pernikahan kami, Lita melahirkan seorang bayi mungil. Namun sayang sekali, setelah melahirkan Arsya istriku mengalami pendarahan hebat. Nyawanya tak tertolong lagi. "Tolong jaga anak kita ya sayang. Sayangi dia seperti kamu menyayangi aku. Bantu dia mengambil semua haknya dari Tante Wina. Perusahaan papa sudah dibalik nama atas namaku semua. Hanya surat - suratnya masih disimpan oleh Tante Wina. Berjuanglah untuk anak kita" ucap istriku sebelum akhirnya meninggalkan kami untuk selamanya. Aku tergugu, rasanya hari itu adalah hari paling sedih dalam hidupku. Papa dan mamaku hanya bisa memelukku yang terus menangis. Sejak saat itu, aku jadi lebih pendiam. Tidak ada yang menarik perhatianku selain Arsya. Seluruh perhatianku hanya untuk Arsya. Kasihan sekali anakku itu. Dia menjadi piatu sejak pertama kali dia mulai hadir ke dunia ini. Sudah beberapa baby sister ku bayar untuk membantuku mengasuh Arsya namun tidak ada yang cocok. Aku memang mencari baby sister sekaligus yang bisa menjadi ibu susu bagi Arsya. Namun beberapa orang yang datang, tidak sanggup menerima persyaratan pekerjaan ini. Mereka hanya bisa membantu mengasuh Arsya dan memberikannya susu formula. Ada yang mengaku risih kalau harus menyusui yang bukan anaknya. Atau ada uang mau namun asinya sudah tidak bisa keluar meskipun sudah ku bantu dengan obat - obatan mahal dari luar negeri. Sampai suatu hari, aku bertemu dengan Zahra dirumah sakit. Sejak awal melihatnya, sebenarnya hatiku iba. Gadis seumuran istriku itu sudah menjadi janda. Bahkan wajahnya sepintas mirip dengan istriku. Namun Zahra ini tampak tidak terawat. Gadis itu menangis diruang administrasi karena tidak bisa membayar biaya operasi jantung ayahnya. Segera ku cari informasi tentang Zahra. Tidak terlalu sulit bagiku untuk hal itu. Beberapa informanku ada dimana - mana. Untuk memantau pergerakan Tante Wina, dan menjaga keselamatan Arsya. Dari situlah aku tahu, kalau seseorang yang bernama Zahra ini pernah menikah dan keguguran diusia kandungannya yang hendak memasuki usia bulan ke tujuh. Bisa jadi, Zahra masih bisa memberikan asi untuk anakku arsya Pikirku. Dari situlah, aku mempunyai ide untuk menawarkan pekerjaan padanya. Walaupun takut Zahra akan menolak, aku tetap bersikap dingin padanya. Dengan begitu dia akan merasa bukan aku yang membutuhkan bantuannya namun dialah yang sedang butuh bantuanku. "Apa asimu masih keluar?" Tanyaku pada Zahra. Gadis itu nampak risih dengan pertanyaanku. Aku beralasan bahwa Raka adiknya lah yang memberitahuku tentang masa lalu Zahra. Setelah perdebatan yang lumayan menguras emosi, Zahra akhirnya setuju bekerja padaku. Aku sungguh sangat bersyukur. Semoga kali ini Arsya memiliki ibu susu yang cocok untuknya. Walaupun aku harus deg - degan setiap kali melihat Zahra yang perawakannya hampir mirip dengan istriku."saya terima nikah dan kawinnya Zahra Adelia binti bapak sobirin dengan mas kawin seperangkat perhiasan 24karat seberat 100gram. Dibayar tunai!"Dengan suara lantang, satu tarikan nafas Aditya hermawan mengucapkan ijab qobul."Bagaimana saksi? Sah..??" Tanya penghulu kepada para saksi nikah yang sudah hadir."SAAAAHHHH..!!" Jawab semuanya, serentak.Pak penghulu meminta zahra dan suami menandatangani surat nikah masing - masing. Setelahnya, Aditya memasangkan cincin kawin dijari manis istrinya. Bergantian, Zahra pun menyematkan cincin dijari manis Aditya. Lalu, sesuai arahan pemandu acara Aditya mencium kening istrinya penuh haru.Bulir bening menetes diujung mata. Akhirnya setelah melewati masa yang menyakitkan, kini kebahagiaan menyapa jua.Dengan menunjukkan cincin dijari manis dan buku nikah, semua kamera siap mengambil gambar terbaik sepasang pengantin cantik dan tampan. Ratusan pasang mata menuju pada mantan janda dan juga duda yang kini sudah sah menjadi suami istri.Mata Za
"Ra.."Racaunya begitu indah terdengar. Sesekali ku gigit kecil bibir bawahnya yang tebal, hingga pria-ku mengaduh.Puas meremas dadaku, mas Aditya menjatuhkan tubuhku ke sofa. Melahap dua gundukan didadaku, memintir bagian ujungnya. Meninggalkan banyak jejak merah di sana. Menyxsu seperti si kecil Arsya, adalah hobinya akhir -akhir ini. Rasanya begitu nikmat, tak bisa tergambarkan. sudah sangat basah dibawah sana. Aku ingin kenikmatan yang lebih dari ini. Tapi tidak, mas Aditya berjanji penyatuan itu akan kami lakukan lagi nanti di malam pertama.Ku ubah posisiku. Mas Aditya ku minta rileks disofa, aku yang jongkok dibawah. Ku buka handuk putih yang menutupi sesuatu miliknya yang sudah menegang sempurna dipenuhi urat - urat terpampang nyats. Tanpa diminta, ku selesaikan tugasku memuaskannya."Aahhh..enak baby, ehmm"Mulutku terasa begitu penuh karena miliknya yang super jumbo. Aku terus memaju mundurkan nya menambah ritmeku hingga tubuhnya mengejang suaranya mengerang, bagian intinya
"Mau cari siapa?" Tanya mas Aditya pada seseorang yang sedari tadi menekan bel di depan rumah."Emmm mana Zahra?" Alih - alih menjawab, pria itu justru balik bertanya.Mas Aditya mengerutkan dahinya, sementara aku berdiri tidak jauh dari mereka berada. Ku peluk erat tubuh Arsya yang meringkuk digendongan.Sepertinya aku kenal suara itu. Tapi untuk apa laki - laki itu mencariku? Dari mana dia tahu alamat kami disini."Siapa anda? Ada urusan apa mencari Zahra?" Mas Aditya mulai meninggikan suaranya. Tatapannya sinis tak bersahabat."Sampaikan saja ada yang menunggunya di sini" jawabnya, semakin membuat panas hati si pemilik rumah."Aku tidak akan menyuruhnya menemui sembarang orang. Silahkan saja anda pergi dari sini. Kami masih banyak urusan" jawab mas Aditya lalu menutup pintu rumahnya.BRRAAAKKKKK!!!Tangan kekar pria itu mendorong daun pintu yang baru saja akan ditutup. Membuat pintu terbanting keras ke tembok. Begitupun yang punya rumah, hampir saja terjatuh kalau tidak bisa menyei
"kenapa mama dit?" Tanya pak Hermawan, datang ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari sang anak."Tensi mama naik pa. Biasanya cuma 140/90. Tadi dicek 230/100. Untung masih ketolong. Sepertinya mama sedang ada masalah yang dipikirkan. tapi Aditya gak tahu apa. Tadi sudah coba ditanya, gak mau ngaku"Adit duduk bersama sang ayah didepan kamar rawat ibunya. Sengaja berbicara di luar ruangan, supaya Bu Ine tidak tau perbincangan mereka. Pak Hermawan manggut - manggut mendengar penjelasan anaknya."Apa mama kepikiran masalah pernikahan Aditya ya pa? Sepertinya mama kurang suka dengan zahra""Mama itu ikut apa kata papamu ini dit. Santai saja. Yang penting, kamu harus siap kalau sewaktu - waktu papa memanggilmu untuk bekerja di kantor. Oke?""Siap pa"Hermawan memang tidak punya anak lain, hanya Aditya seorang. Karena itu dirinya ingin Aditya meneruskan perusahaan property miliknya. Padahal dokter adalah profesi impian Aditya sejak masih kecil. Baginya, bertemu dan menolong pasien seti
"oeeekk..oeekkk..oeekkk.." terdengar suara tangisan Arsya dari kamar. Membuyarkan lamunanku dan juga mas Adit."Bentar mas, aku susuin Arsya dulu"Biasanya bangun tidur siang, Arsya memang haus dan menagih jatah nenennya. Ku tinggalkan mas Adit sendirian di ruang tv.Kami pun larut dalam pikiran masing - masing. Sebenarnya tidak masalah bagiku, ingin disebut dari kalangan mewah pun pada kenyataannya aku memang dari keluarga biasa saja.Tapi yang ku pikirkan, ada tujuan apa dibalik heboh berita dan konferensi pers pernikahan kami. Apakah pak Hermawan memang benar - benar menerimaku sebagai menantunya. Atau hanya menjadikanku alat untuk menaikkan elektabilitasnya di mata masyarakat."CK.." berdecak aku, karena perang dipikiranku. Ada perasaan yang mengganjal, tak dapat ku ungkapkan.Beres memandikan dan mendandani Arsya, aku pun bersiap menyambut para wartawan dan awak media dengan persiapan serba kilat."Nanti jawabannya yang bagus ya mas.." ucap seorang awak media. Mas Aditya pun meng
"Tapi om sudah berjanji untuk memberikan Aditya pada saya. Sekarang apa semua ini? Pernikahan dengan gadis rendahan, sama sekali tidak selevel sama saya" Silvia tersenyum penuh hinaan. Tangannya mencengkeram tumbukan kertas di depan Hermawan."Tenang cantik, kalau pun tidak mendapatkan Aditya bukan kah kamu bisa bersenang - senang sama ayahnya yang tidak kalah tampan ini haa haa.." tangan Hermawan menarik silvia, hingga kini duduk diatas pangkuannya. Mata mereka beradu, Silvia menatap nyalang masih menahan arahnya yang membara. Sementara tangan Hermawan, mulai nakal menggerayai bagian atas Silvia."Mengadukan kelakuan kita pada Tante Ine, hanya akan membuatmu semakin hilang kepercayaan darinya. Dan kesempatanmu untuk meraih Aditya akan semakin sulit. Nikmati saja saat - saat bersamaku. Siapa tahu, suatu saat kamu bisa menjadi istriku kalau kamu berani menyingkirkan ine" Hermawan mengedipkan sebelah matanya.Sementara Silvia, perempuan cerdik yang tidak ingin kalah dalam hidupnya. Mul







