Share

chapter 33

Author: Senjaku
last update publish date: 2026-05-30 11:52:33

"Kok kayaknya ini Yo, alamatnya. Ini persis seperti gambar rumah, yang mbak Zahra kirim" gumam Wisnu. Beberapa kali, mencocokkan foto rumah di dalam layar pintar miliknya.

"Nyari siapa mas?" Tanya Mbah putri, sedikit berteriak dari teras rumahnya.

Sadar dari lamunannya, Wisnu mendekati Mbah putri, menimang arsya yang tampak rewel.

"Nuwun Sewu Mbah! mau tanya, Mbah putri ini mbahnya Mbah Zahra ya?" Tanya Wisnu sat set.

"Iya, benar. lha kok tau? Sampean ini siapanya Zahra?" Mbah putri balik berta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 51

    "maaf pah, Adit telat!" Ucap Aditya, saat berhasil memasuki ruang persidangan. Aditya memilih duduk di samping ayah, dan juga Zahra istrinya. Ya, Zahra pun ikut datang memberikan dukungan untuk Hermawan dan juga Aditya suaminya. Ine tampak lemas, di kursi pesakitan. Keterangan pembantu tadi, membuatnya tidak bisa berkutik. Sekarang giliran bukti dan saksi dari pihak Ine dikeluarkan. Seorang pembantu lainnya, dari rumah Hermawan didatangkan untuk memberikan keterangan bahwa "Bu Ine, selama ini perempuan baik. Saya tidak percaya, kalau beliau sampai hati membunuh ibu mertuanya sendiri. Itu pasti akan - akalan bapak. Soalnya, yang saya tau bapak memang sejak dulu ingin menyingkirkan istrinya, supaya bisa menikah lagi" ucap pembantu itu, memancing banyak pertanyaan dari jaksa pembela. Keadaan ruang pengadilan pun semakin memanas.hingga terpaksa jaksa penuntut umum, memohon izin kepada pak hakim untuk diperbolehkan memutar video cctv dimana Ine memaksa pembantunya untuk memberikan obat

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 50

    "Bu ayu sehat, tapi .." Aryo, menggantung suaranya. "Tapi, apa?" Tanya Aditya, pada Aryo. "Saya, share lokasi aja. Silahkan datang ke sini, langsung. Mungkin kehadiran anda, bisa membuat Bu ayu mengingat sesuatu" jawab Aryo, lalu mematikan sambungan teleponnya. Aditya pun gegas membuka, beberapa Poto Bu ayu Sarah yang dikirimkan oleh Aryo secara seksama. Ada rasa nyeri, menelusup di dalam dada. "Duh, gimana? Padahal hari ini, kasus mama digelar. Nyampai gak ya waktunya?" Gumam Aditya. menenggak segelas air putih, menyelesaikan sarapannya. "Loh, mas! Mau kemana?" Tanya, Zahra. Melihat suaminya sudah bersiap untuk pergi. "Oh iya, sampai lupa mau pamitan. Mas ada urusan bentar ya, sayang. Kata Aryo, Bu Ayu Sarah sudah ketemu!" Ujar Aditya. Menyodorkan tangannya pada Zahra, lalu istri cantiknya itu mencium takdzim. "Alhamdulillah, ya sudah sana. Semoga semua urusan mas, hari ini berjalan lancar ya" Ucap Zahra, lalu melambaikan tangannya. Setelah mengantar kepergian suaminya di depan

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 49

    "karena, kasus pembunuhan terhadap Oma saya!!" jawab Aditya, Membuat semua orang diruangan itu hampir tak percaya. Si Dokter tampan, datang tepat waktu setelah menyelesaikan pekerjaannya di meja operasi. Ketampanan dan kharisma Aditya, membuat semua kamera tak berhenti menyorotnya. Anak dan ayah itu, kini duduk bersanding, di depan para pemburu berita. "Hah? apa iya?" Suara sumbang dan pertanyaan - pertanyaan, memenuhi ruangan itu seketika. "Apa anda yakin, ini bukan akal - akalan ayah anda untuk menyingkirkan Bu ine? Yaitu ibu anda sendiri. seperti yang tertulis di laman - laman gosip beberapa waktu ini?" Tanya seorang pencari berita lainnya, kepada Aditya. "Selama saya hidup, belum pernah saya melihat ayah saya berbuat seculas itu kepada orang lain. Apalagi, kepada istrinya sendiri. Jadi saya pastikan, semua gosip di luaran itu tidaklah benar." jawab Aditya, membuat hati sang ayah tersentuh. Walaupun dia cukup bejat menjadi manusia, ternyata dia tidak gagal menjadi seorang ayah

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 48

    "Lo dukun ya, sok tau banget!" Gurau Aditya, menutupi kegalauan hatinya. "Ya gak gitu juga. Gue kan Connan! Lo tau kemampuan penyelidikan gue kan?" Timpal aryo. "Eh tapi serius ini. Ada apa sih? Siap gue kalau ada tugas lagi!" Imbuhnya lagi. "Iya ni, yok! Gue mau, lo cari tau orang yang ada di Kk itu. Ayu Sarah!" Pinta, aditya. "Dia anak dari kyai terkenal, di Sumedang sih ceritanya. Tapi di usir keluarganya, gara - gara di ceraiin sama bokap gue. Bukan gara - gara di ceraiin ya sih, tapi lebih ke alasan diceraikannya itu. Katanya sudah bikin malu keluarganya begitu. Gue mau lu cari alamat orang tua atau keluarganya di Sumedang. Cari tau juga, dimana perempuan itu tinggal. Karena kemungkinan besar, dia nyokap gue yok. Minta tolong banget ya yok?!" Ujar Aditya, kepada Aryo. "Iya, gue ngerti. Lo tenang aja, detik ini juga gue gas. Biar rasa penasaran Lo, segera terobati. Oke?!" Hibur Aryo, yang sebenarnya ikut prihatin dengan cerita hidup Aditya yang tidak semua orang tahu. "Oke, gu

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 47

    "kalau dia bukan ibuku, lalu siapa?" Tanya Aditya memandangi kedua ayah dan ibunya bergantian. "Dimana pa, ibu kandungku?" Imbuhnya. Kini menatap tajam, kearah ayahnya. "Pa!" Teriak Ine, kala sang suami hendak berucap. Namun bagi hermawan, sudah cukup menutupi rahasia ini sejak lama dari putranya. "Entahlah dit, papa juga tidak tau. Sebenarnya, ibumu anak seorang kyai dikampungnya, di subang. Tapi karena satu alasan, maka ibumu di usir dari kediaman orang tuanya. Setelah itu, papa tidak tau lagi kabarnya gimana" ujar Hermawan. Aditya memijit pelipisnya yang mulai menegang. Lalu ia berkata "ya Allah, pa! Ada ya, manusia kaya papa. Papa ini laki - laki apa banci sih?!" "Emang kesalahan ibu sefatal apa? Sampai dia pantas menerima perlakuan itu dari papa?" Tanya Aditya kemudian. Menghela nafas panjang, Hermawan bercerita "ibumu.. ada main dengan orang lain!" Aditya terdiam, sejenak. Bertanya - tanya, apakah benar dia terlahir dari seorang wanita seperti yang di maksud oleh sang ayah

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 46

    "itu hanya Paracetamol, aku memberikannya supaya demam ibu turun, pa! percaya sama aku deh! Pasti ada yang tidak suka sama aku atau sama keluarga kita mungkin. Mereka ingin, kita terpecah belah pa" cicit Ine, meraih tangan suaminya namun sekali lagi di hempas. "Adit..! Sayang..! Percaya ya nak sama mama. Gak mungkin mama ngelakuin itu, sama Oma kamu. Apalagi sama Arsya. Mama sayang sama kalian" ucap Ine, pada Aditya. "Atau, ini semua pasti karena istrimu, iya kan? Kemarin dia memang ke rumah, dan mama marahin karena dia nuduh mama yang sudah bikin Oma kamu sakit" tanya Ine kepada Aditya, "betul kan, kamu yang sudah menghasut anak dan suami saya?" Nyalang one menatap Zahra. "Kamu tega sama ibumu sendiri?" Ucap ine lagi. "Dia bukan anakmu! Kita jujur saja, mulai sekarang! Jangan kau jadikan anakku sebagai alat tamengmu. Agar kau selalu selamat dari semua kesalahan, hanya karena kau membesarkannya" selah Hermawan, sebelum Aditya menjawab cicitan Ine padanya. Terdiam, Ine kini duduk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status