แชร์

menyusui sang pewaris tahta
menyusui sang pewaris tahta
ผู้แต่ง: Senjaku

chapter 1

ผู้เขียน: Senjaku
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-23 22:06:27

"Dasar wanita gak tau diuntung! Beraninya kamu, mencoba pergi. Ingat baik - baik Zahra, bayi dalam kandunganmu itu anak aku!"

Buughhh..buughh..!!

Tendangan kakinya terus mengenai paha dan punggungku. Sementara tangannya menarik rambutku kebelakang rasanya perih ngilu. Sepertinya sudah banyak rambut yang tercabut dari akarnya.

Menangis? Suaraku bahkan sudah tak berani keluar, hingga perutku yang mulai sedikit membuncit terasa kram. Hanya air mata yang terus lolos dari mataku yang terpejam meringis, menahan sakitku.

"Itu bayi saya, hak milik saya. Jangan coba - coba membawanya pergi kalau masih mau hidup! Jangan lupa Zahra, aku dulu menikahi mu karena kamu ingin melunasi hutang - hutang ayahmu. Jadi kamu sudah tidak bisa pergi dari sini. Bahkan mati pun kamu tak akan bisa tanpa seizin saya! haahaa.."

Suara tawa pria jahat itu masih selalu terngiang dikepalaku bahkan sampai saat ini. Aku masih ingat betul saat itu, perutku merasakan sakit yang begitu hebat. Darah keluar deras dari bagian intiku, mengalir sampai ke kaki. Aku bahkan, pingsan karena tak mampu menahan rasa sakitnya.

"Aaarrrghhhh.." jeritku sebelum semua terasa gelap.

Entah bagaimana ceritanya, tiba - tiba saat terbangun aku sudah di rumah sakit. Ku raba perutku, tidak lagi sebesar  sebelumnya. Dokter memberitahu,  bahwa anak yang ku kandung telah meninggal sebelum sempat ku lahirkan. Dan team dokter, terpaksa mengeluarkannya dengan tindakan kuretase.

Ya, aku keguguran diusia enam bulan kehamilanku. Bayiku meninggal saat kami perjalanan ke rumah sakit. Netraku menggelap, bak mendung  yang terus menebal. Menjadi ibu saja aku tidak becus, pikirku. Bahkan mempertahankannya untuk tetap diperutku, sampai nanti lahir saja aku tak mampu.

"Maaf Bu, kami harus segera mengeluarkannya tanpa menunggu persetujuan ibu. Tapi ada suami ibu yang menanda tangani surat perwalian kok Bu." ucap dokter cantik itu, tampak memahami isi hatiku.

Syukurlah, setidaknya mas Surya tahu, apa akibat dari perlakuannya padaku. Anak yang sangat dia harapkan, tidak mampu bertahan.

"Tidak apa dok, saya justru berterimakasih.." ku gantung kalimatku.

Jangan ditanya bagaimana hancurnya hatiku. Walaupun jauh dilubuk hati, aku tidak ingin punya anak dengan bajxngan bernama Surya, namun bayi ini tetaplah darah dagingku. Setelah sekitar enam bulan dia ada didalam tubuhku, berbagi nafas berbagi nutrisi, kini tak ada lagi detak jantungnya. Rasanya kosong dan hampa. Air mataku tak berhenti jatuh, kala mengingatnya.

Mas Surya yang biasa marah - marah, memukul dan menendangku, Tiba - tiba menjadi pendiam, tidak lagi ada umpatan keluar dari mulutnya.

Pemakaman anakku sepertinya ditangani oleh mas Surya dan keluarganya sendiri. Ayahku sudah pasti tidak ada yang mengabari, buktinya ayah tidak menjengukku sama sekali.

Ingin menghubungi ayah, tapi ponsel saja aku bahkan tidak punya. Mas Surya tidak suka aku berteman dengan siapapun, karena-nya ia melarang ku mempunyai benda pintar itu.

***

Sejak peristiwa keguguran itu, sampai aku keluar dari rumah sakit, mas Surya tidak pernah menampakkan wajahnya padaku.

Sesampainya aku di rumah, ia selalu pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Lebih sering tak pulang, bahkan  sampai berhari - hari. Puncak keanehannya, dia bahkan mengabulkan begitu saja saat aku bilang, akan mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama.

"Mas, tolong jangan pergi dulu. Aku mau ngomong sesuatu" ucapku takut.

"Hemm.." hanya di jawab dengan satu deheman.

"A aku mau kita pisah saja mas. Percuma serumah, tapi seperti orang asing. Bersuami tapi seperti janda" tanganku gemetar mengatakan ini.

"Terserah, tapi jangan berharap harta Gono gini dariku. Mempertahankan anakku, saja kamu tidak mampu! " jawabnya enteng, lalu pergi meninggalkanku yang masih mematung. Menahan cairan panas dari sudut mata.

Benar saja, setelah resmi bercerai, aku pulang ke rumah orang tuaku. Tanpa mendapatkan Gono- gini, sepeserpun.

"Mengharap Gono - gini? Hutang - hutang ayahmu ku anggap lunas saja harusnya kamu sujud syukur!" ucap mas Surya, yang sampai kapanpun akan ku ingat jelas.

____

"Mbak, berasnya habis. Bagi duit donk!" aku tersadar dari bayang cerita masa lalu yang ku jalani. Adikku Raka menengadahkan tangannya. Meminta uang untuk membeli beras.

"Mbak gak punya uang Raka, sabar ya biar mbak utang dulu ke warung Mpok ayu" jawabku seperti biasa.

Aku sudah tidak punya uang sama sekali, puluhan kali melamar kerja juga belum ada panggilan. Hanya ada cincin pernikahan, yang sepertinya mas Surya lupa untuk memintanya kembali dariku saat itu.

"Mungkin ada baiknya ku jual saja. Lumayan bisa buat biaya makan, aku Raka dan ayah, untuk seminggu kedepan. Sementara aku belum dapat kerjaan" gumamku dalam hati.

"Lagipula, kamu tidak mungkin ku pakai lagi. Jadi sebaiknya, kamu ku jual saja ya.. supaya masih bisa bermanfaat" ucapku mengamati cincin yang tampak berkilau itu.

Ku Kisar harga cincin itu pasti masih sejutaan lebih, lumayan buat bertahan hidup.

Sudah setahun berlalu, sejak aku keluar dari rumah mas Surya dan menjadi janda muda. Kini aku kembali tinggal bersama ayah dan juga adikku Raka.

"Awaaas aaayaamm.." teriak ayah dari pintu belakang menabrakku.

"Eh ayam eh ayam" reflek aku mengikuti suara ayah, hingga tak terasa cincin ditangan ku terlempar.

"Ayaaaah..!!" Teriakku sebal, pada pria tua penyakitan tapi masih tampak segar bugar itu.

"Apa sih Zahra?" Tanya ayah sambil celingukan, mencari ayamnya yang tadi kabur.

"Gara - gara ayah, Zahra kaget sampai cincinnya jatuh" sebalku pada ayah.

"Duh dimana ya?" Aku coba mencarinya di bawah kursi dan meja.

"Cincin apa? Mending kamu ikut ayah ngejar ayam, lumayan nanti kalau tertangkap bisa kita jual, buat belanja sayur sama beras" ajak ayah, menarik lengan bajuku.

"Ogah, cari aja sendiri. Zahra mau cari cincin" sewotku, sambil meraba - raba dibagian bawah kolong.

"Eladalah..! punya anak cewek pemalas banget. Disuruh bantuin gini aja gak mau. Rakaa bantuin ayah donk!" Teriak ayah memanggil adikku. Lanjut berlari, keluar rumah mengejar ayamnya.

Ayah memang punya kandang khusus untuk ayam kampung, dibelakang rumah kami. Walaupun tidak membuat kami kaya, namun hasil ternak ayah, lumayan membantu untuk biaya makan kami.

Sayangnya ayah mempunyai penyakit jantung, yang kalau kambuh membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Itulah juga alasannya, sehingga dulu kami bisa terjerat hutang dengan rentenir bernama pak Sugondo yaitu ayahnya mas Surya.

Karena tidak bisa membayar hutang dan bunganya yang semakin menggunung, akhirnya pak Sugondo meminta aku menjadi menantu sebagai gantinya.

_____

Setelah beberapa puluh menit mencari, akhirnya ketemu juga cincin itu. Ada dibawah kolong kursi paling pojok.

"Akhirnya,ketemu juga kan kamu" gerutuku pada cincin itu.

Segera aku bersiap untuk menjualnya ditoko perhiasan. kebetulan aku tidak punya nota pembeliannya, jadi ku pikir dibeli berapa pun akan ku berikan. Yang penting punya pegangan uang, sebelum aku dapat pekerjaan.

"Maaf kak, ini sepertinya bukan emas biasa, Ini berlian. Kakak bisa menjualnya di dalam mall ujung jalan itu, kalau kakak mau" ucap seorang pegawai toko emas, di depan pasar baru.

"Masa sih mbak? Coba cek lagi. Gak mungkin itu berlian" tanyaku, tak percaya.

"Betul kak, saya tau betul mana yang emas atau berlian. Karena sebelum bekerja disini, saya dulu pegang toko berlian" Jawabnya.

Tanpa berpikir panjang, aku pergi ke mall yang dimaksud oleh si pelayan toko itu. Setelah diteliti lumayan lama oleh salah satu karyawannya, mereka membayar tiga puluh dua juta padaku.

Aku tercengang melihat uang sebanyak itu. Banyak rencana bergelayut, salah satunya aku ingin membuka usaha kecil-kecilan dari uang itu, supaya ada pemasukan setiap hari. Lumayan bisa untuk membantu biaya pendidikan Raka. Agar ayah bisa istirahat, dan melanjutkan pengobatan jantungnya.

Bergegas aku pulang, ingin segera memberi kabar bahagia ini kepada ayah dan juga adikku. Panas terik sama sekali  tak ku hiraukan, ku lajukan motor butut ayah dengan kecepatan maksimal. Tak lupa mampir untuk membeli beras dan belanja semua kebutuhan rumah.

"Basonya pakai yang urat atau kecil - kecil aja teh?" Tanya mang awis penjual baso langgananku. aku sengaja mampir untuk membeli tiga bungkus baso. untuk aku, Raka adikku dan juga ayahku.

"Pakai yang urat mang, sama es jeruk tiga ya.." jawabku. Mang awis pun segera membuatkan pesananku.

"Ayah sama Raka pasti suka, sudah lama kami tidak makan bareng diwarung baso mang awis. Padahal dulu sebelum ibu meninggal, ayah sering mengajak kami kesini" gumamku dalam hati. Tak terasa motorku sudah memasuki halaman rumah sederhana milik ayah.

"Mbak, lama banget sih!" Teriak raka. Matanya merah, suaranya bergetar seperti habis menangis. Adikku yang kini berada di akhir semester, kelas 3 SMA itu tampak marah. Mungkin aku kelamaan pergi, pikirku.

"Kenapa dek? Mbak beli beras, tadi kan kamu bilang beras kita habis" jawabku mencoba tenang.

"Ayah kamu, harus segera dibawa ke rumah sakit dek zahra. Sakit jantungnya kambuh. Saya sudah menelpon ambulance, sebentar lagi akan segera sampai" ucap Bu nur bidan, dari teras rumahku.

"Ayaaah..!" Teriakku, berurai air mata.

Rasanya, jantung ku mau copot. Tulang belulang ku, seperti lolos dari tempat persendiannya. Bahagia yang bergelayut di angan - angan, seketika menghilang. Musnah bersama kabar yang ku terima.

Aku berlari masuk, mencari keberadaan ayah. Sudah tak ada yang ku pikirkan lagi, selain bagaimana keadaan ayahku. Ini kali ketiga ayah seperti ini. Dulu waktu ibu meninggal ayah langsung pingsan, sampai berhari - hari dirawat dirumah sakit. Yang ke dua, waktu aku lulus sekolah SMA. Dan saat ini..

"Ayaaah, bangun yah..! Zahra sudah bawain uang buat ayah! Bangun yah..!" Tangisku meraung.

Pria yang paling ku cintai itu, kini terbaring lemas. Wajahnya pucat pasi, matanya terus tertutup. "Ayahku masih hidup kan Bu?" Tanyaku beruraian air mata. Hanya ayah orang tua yang ku miliki saat ini. Aku sungguh takut Tuhan mengambilnya dari ku.

Suara sirine ambulance, datang mendekat. Beberapa tetangga, membantu mengangkat tubuh ayahku yang kurus. Aku dan Raka menemani ayah di bagian belakang ambulance. Sementara Bu nur bidan, dan pak RT duduk di kursi depan, sebelah kemudi.

"Kalau sampai ayah kita meninggal gimana mbak?" Tanya Raka, dengan suara terbata - bata bercampur tangisan.

"Do'akan yang baik - baik dek. Insyaallah, ayah pasti sembuh" ku peluk erat tubuh adik semata wayangku itu.

Aku tahu, Raka pasti sangat takut kehilangan ayah. Kami bahkan belum lupa rasa perihnya kehilangan ibu. Saat itu, Raka masih terlalu kecil untuk menjadi seorang piatu.

---

Setelah tiga puluh menit membelah kemacetan jakarta, mobil ambulance yang kami tumpangi sampai juga dirumah sakit.

"Tolong lakukan yang terbaik untuk ayah saya dokter" ucapku, masih sesenggukan. saat ayah hendak ditangani dokter jaga dan beberapa petugas medis, di ruangan unit gawat darurat.

"Baik mbak, silahkan anda tunggu diluar. Biar pasien, kami periksa dulu ya.." kata seorang perawat. Tak membiarkanku menemani ayah di dalam.

Kami pun keluar, menunggu dikursi tunggu. Hanya kami berdua, tanpa seorangpun mendampingi.

Bu nur, pegawai kesehatan dikampung kami tadinya ikut mengantar namun beliau harus pergi karena ada pasien yang akan melahirkan dikliniknya. Dengan menyelipkan beberapa lembar uang lima puluhan ribu, Bu nur pamit dan minta maaf harus segera pulang sebelum tahu hasil pemeriksaan bapak.

"Terimakasih banyak Bu, maaf sudah merepotkan ibu. Tapi kami tidak bisa menerima ini

" ucapku pada Bu nur.

"Sudahlah dek zahra, ini buat pegangan dulu kalau nanti kalian mau beli makan. kalian harus kuat ya demi kesembuhan ayah" pesannya, lalu pergi. Bu nur memang selalu baik pada keluargaku. Aku berkali - kali mengulang ucapan terimakasihku sebelum akhirnya Bu nur benar - benar pulang, di antar oleh pak RT.

"Keluarga pasien, atas nama bapak Sobirin" panggilan dari petugas medis, didepan pintu ruang UGD.

"Saya suster, ada apa ya?" aku dan Raka sama - sama mendekat.

"Begini mbak, mas, dokter menunggu didalam. Mari ikuti saya, ada beberapa yang harus dokter jelaskan mengenai ayah kalian" ucap sang perawat

"Baik sus" ucapku hampir berbarengan dengan raka.

kami pun mengekor, masuk ke ruangan UGD. Disitu ada ayah, dan juga seorang dokter muda bernama dada, Aditya hermawan. Umurnya terlihat hanya beberapa tahun diatasku. "Dia terlalu tampan untuk menjadi dokter" gumam hatiku.

"Saya hanya ingin memberitahukan kalau, ayah anda ini harus segera dioperasi. Ada kebocoran yang cukup besar, pada jantungnya. Silahkan mbak selesaikan administrasi, supaya operasi bisa segera dilaksanakan. Dimana ibu anda? Beliau harus menanda tangani surat persetujuan tindakan operasi ini" dokter tampan tapi bermuka masam itu menjelaskan panjang kali lebar.

"Biar saya saja, yang tanda tangan surat persetujuannya dok. Ibu kami sudah di surga" ucapku, tak ingin membuang waktu. Adikku Raka pun manggut - manggut, setuju.

Dokter Aditya menghentikan jarinya, yang sejak tadi menulis sesuatu dibuku catatan miliknya. Mata tajamnya menatapku, hingga tanpa sengaja netra kami pun bertemu. membuat suatu getaran aneh, didalam dadaku.

"Baiklah, kalau begitu" jawabnya.

"Suster, tolong antarkan mbak ini ke bagian administrasi. Kalau semuanya sudah beres, segera konfirmasi ke ruangan saya" perintahnya pada sang asisten.

"Baik dok.."

"Mari mbak..!" perawat langsung mengantarku, ke ruang administrasi. Sementara Raka, ku suruh ia duduk diluar ruang UGD. takut, ayah tiba - tiba sadar dan mencari kami.

____

Mataku terbelalak, melihat nominal yang harus ku bayarkan untuk operasi ayah. SERATUS JUTA RUPIAH!!! Jelas uang yang ku punya tidak cukup untuk membayarnya.

"Kenapa mbak..?" Tanya petugas administrasinitu sopan. aku memang  tidak segera menandatangani berkas yang disodorkannya padaku.

"Maaf, tapi uang saya kurang sus. Apa boleh saya bayar tiga puluh juta dulu? Saya janji akan mencari sisanya. Tolong operasi ayah saya secepatnya sus!" suaraku gemetar. Dadaku naik turun menahan tangis yang rasanya tak lagi bisa ku tahan.

"Kemana harus mencari uang segitu banyaknya?" Gumamku dalam hati.

Setahuku, ayah tidak mempunyai saudara dekat dikota ini. Hanya ada sepupu ayah yang bernama om darman. Itupun aku jarang sekali bertemu dengannya, karena ayah sering berpesan untuk tidak merepotkan saudara apapun yang terjadi.

"Saya tanyakan ke atasan saya dulu ya. Silahkan tunggu sebentar"ucapnya. Memercikkan harapan dihatiku. Aku pun mengangguk. Apapun yang harus ku lakukan, asal ayah bisa diselamatkan.

Hampir sepuluh menit aku menunggu dikursi antri. Hingga wanita itu memanggilku kembali.

"Maaf mbak, tapi untuk biaya operasi memang harus dibayar diawal. Setelah itu, baru bisa dilakukan tindakan" tampak sesal diraut wajahnya.

"Apa tidak ada cara lain lagi sus? Saya mohon, bantu ayah saya sekali ini saja" ucapku, sedikit memaksa.

"Mohon maaf banget mbak, kita cuma menjalankan prosedur yang berlaku"

"Baiklah, Kalau begitu saya permisi dulu ya mbak. Nanti kalau sudah dapat uangnya, saya akan kesini lagi" ucapku padanya. Menelungkupkan  kedua tanganku di dada.

___

"Aku harus mendapatkan uang untuk ayah. Apapun yang terjadi. Ayah harus sembuh" tekadku dalam hati. Berjalan, menyusuri lorong rumah sakit.

Dengan ojek, aku pergi ke rumah om darman. Mendung dan gerimis menemani sepanjang jalan. seolah tahu isi hatiku.

Om darman pasti bisa bantu aku. Menurut yang ku dengar, dia sekarang kaya raya. Awalnya hanya pegawai pajak, namun berjalannya waktu,  om Darwan mempunyai banyak bisnis.

"Mau bertemu siapa neng?" Tanya bapak - bapak security yang ada dirumah om darman.

"Om darman ada pak? Saya keponakannya. Anaknya pak Sobirin" dengan wajah pucat dan perut keroncongan aku berdiri didepan pintu gerbang rumah mewah itu.

"Oh, bapak ada neng. Kebetulan baru pulang dari dinas luar kota. Mari saya antar ke dalam" dengan ramah security itu mangantarku ke ruang tamu yang sangat luas dan mewah bagiku.

"Silahkan tunggu neng, saya sudah memberitahu beliau kalau ada tamu" ucap security, lalu kembali ke area kerjanya.

Duk..Duk..Duk..

Suara langkah sepatu seseorang, terdengar menuruni anak tangga. Ku melihat, seorang lelaki hampir seumuran ayah namun masih nampak gagah dan rapi turun dari sana.

Ia tersenyum aneh saat menatapmu, membuat aku celingukan salah tingkah. Entah dimana semua penghuni rumah ini. Kenapa rumah sebesar ini sepi sekali. Dadaku jadi deg - degan menciut, semoga ini hanya pikiranku saja.

BERSAMBUNG..

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 9

    "kita nikah aja Ra..ehmmm" racaunya, melumat bibirku.Secepat kilat tangannya melucuti pakaianku membuangnya sembarangan dilantai. Dikungkungnya aku dibawah dada bidangnya. Kali ini tak seperti semalam, mas Adit sangat tampan dibawah cahaya lampu yang terang. Keringatnya membasahi wajah, membuatnya semakin mempesona. Ya tuhan, aku pasti sudah gila. Bagaimana mengakhiri permainan ini, hawa nafsu merasuki pikiran kami.Setelah puas mencari kenikmatannya, mas Adit mempercepat permainan. Lenguhan demi lenguhan terdengar bagai nyanyian merdu dimalam penuh kesunyian. Bersamaan kami mendaki puncaknya, menyemburkan benih tepat dilubang rahimku.Aku terkulai lemas, sementara mas Adit masih menciumiku. Memainkan dua gundukan dibagian dadaku."Sudah mas, nanti Arsya bangun" ku tepis tangan nakalnya."Oeekk..oeekk..oeekk" benar saja, terdengar tangisan Arsya dari kamar sebelah. Mas Adit segera memakai pakaiannya, berlari ke kamar Arsya. Sementara aku masuk ke kamar mandi milik mas Adit.Rasa baha

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 8

    "Tante mau kan membujuk Aditya supaya segera menikahi aku. Kan kasihan Tan, dia kesepian dan terus meratapi istrinya yang sudah meninggal itu. Tante sih, dari dulu sudah ku bilang, jangan biarkan Aditya nikah sama cewek penyakitan itu. Sekarang kaya gini deh jadinya" Silvia mendesis bak ular hendak mengeluarkan bisanya."Jadi, kamu nyalahin Tante?" Ine nyalang menatap Silvia. Walaupun tampak kalem dan anggun, tapi Ine type perempuan yang open minded. Sikapnya lebih terbuka, tanpa basa - basi."Eh anu bukan Tante, bukan begitu maksud Silvia. Maaf Silvia salah bicara. Jadi gimana, Tante mau kan bujuk Adit kali ini" masih berusaha, mencari simpati ine. tak mau menyerah sudah kepalang tanggung baginya untuk mundur.Tampak berpikir, Ine menyedekap tangannya didepan dada. Ingin mengungkap kalau Aditya sudah punya Arsya, tapi sudah terlanjur berjanji pada sang anak untuk merahasiakan ini dari siapapun. Kalau Silvia tahu Aditya sudah punya anak, kira - kira bagaimana reaksinya.Hanya orang tu

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 7

    Tokk..tokk.."Zahra, apa boleh aku berpamitan dengan Arsya sebentar?" Dokter Adit berdiri didepan pintu kamar.Aku bingung harus bersikap. Harusnya kejadian semalam bisa ku hindari. Dokter Adit bahkan sudah berteriak untuk aku jangan masuk ke kamar mandi. Dia pasti sedang terkena obat atau sejenisnya.Sepulang dari acara temannya, ku lihat ia membuka pintu apartemen dengan kasar. Saat itu aku sedang minum di dekat dapur. Ia bahkan berlari melewati ku, tanpa memakai baju. Hanya celana kain yang membalut bagian bawah.Hampir satu jam, ku dengar suara gemericik air. Tapi dokter aditya tak juga keluar. Takut terjadi sesuatu padanya, ku paksa masuk ke kamar mandi untuk menolongnya. Namun nahas, yang terjadi justru aku menjadi mangsanya. Harusnya aku bisa melawan, namun entah kenapa aku begitu lemah dihadapannya. Perasaanku ingin sekali menyelamatkannya dari rasa yang menyiksa.Kalaupun ini sebuah dosa, biarlah aku mati didalamnya. Rasa hangat itu tak pernah ku temui sebelumnya. Pernikahank

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 6

    Setelah mereka dewasa, Wina tetap merasa kedua orang tuanya lebih mencintai Arya. Saat wisuda, kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena alasan kerja. Ia bahkan harus minta tolong sopirnya untuk berpura - pura menjadi orang tuanya, dan membawakannya bucket bunga. Wina hidup berkecukupan namun hatinya masih saja merasa sendirian.AAAAAAAAA!!PRAAANKKK..PRAAANKKK ...Berteriak histeris Wina membuang semua barang nya ke lantai. Pecahan kaca berserakan dimana - mana. Padahal dia selalu berusaha keras untuk bisa dicintai dan dibanggakan. Bahkan diuniversitas, dia lulus dengan nilai terbaik. Namun kenapa dirinya selalu merasa sendirian.Tokk..tokkk..tokk"Wina.."Tokk..tokk..tokkk"Wina, ini ibu. Kamu baik - baik saja win? Tolong buka pintunya" panggil ibunya yang baru saja datang dari luar. Ada pertemuan ibu - ibu istri pengusaha yang harus ia hadiri.Ceklekkk!!"Ya allah..ada apa wina? Kenapa semuanya berantakan seperti ini. Apa ada masalah dengan wisudanya? Bukannya kamu sudah minta tol

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 5

    Rasa panas menjalar dibagikan dadaku. Apakah ini efek Obat yang ku minum tadi. Sudah dua kali aku meminumnya, kurang satu kali. Rasanya dua gundukan didadsku mulai mengencang, seperti ada rasa lain. Coba ku periksa dan ku pijit pelan, ada setetes yang keluar dari sana."Oeeek..oeeekk.." Arsya menangis kecil setelah ku mandikan. Apakah dia lapar, ingin makan atau susu ya. Ku coba membuatkannya bubur bayi yang ada. Padahal anak seumuran ini bukannya harus makan yang alami - alami ya setahuku. Dokter Adit kan seorang cowok jadi wajar kalau tidak begitu tahu. Setelah ku suapi, Arsya tampak lebih tenang. Matanya pun lambat Laun memejam."Anak yang pintar" bisikku. Masih ku gendong dan enggan untuk ku kembalikan kedalam box. Semua sudah ku bersihkan. Makanan juga sudah siap jaga - jaga kalau dokter Aditya datang.Ceklek!!Benar saja seperti dugaanku, papanya Arsya datang. Ya tuhan ku bayangkan, andai ini keluarga kecilku. Merawat bayi dan menunggu suamiku pulang kerja. Geli rasanya hatiku.

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 4

    Hari berganti hari semenjak kepergian ayah. Rasanya begitu sepi. Nanti malam adalah tahlil untuk tujuh harian ayah, kami mengundang santri binaan ustadz Arifin untuk datang kerumah. Makanya hari ini aku sedikit sibuk mempersiapkan hidangan untuk mereka.Aku jadi teringat telpon dari dokter Adit kemarin. Ia mengabarkan kalau ternyata panggilan polisi terhadapku waktu malam itu. Yang katanya kasus pencurian dirumah Tante Ela. Ternyata saat pengacara dokter Aditya hendak mengurusnya ke kantor polisi, tidak ada laporan semacam itu disana. Sungguh aneh. Apakah polisi malam itu adalah polisi gadungan? Kalau iya, kenapa mereka bersikeras untuk membawaku malam itu. Merinding sekali kalau diingat. Tunggu, apakah ini ulah om darman? Kemarin waktu ayah meninggal, om darman sekeluarga juga tak nampak sama sekali. Padahal dikota ini, dialah satu - satunya keluarga ayah."Mbak, ini ada kiriman roti" Raka membawa satu dus roti dari merk ternama."Dari siapa Raka?" Tanyaku."Dari dokter Adit mbak. Ta

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status